
Keesokkannya di sebuah cafe dimana Darren, Darel dan Rehan berada saat ini. Ketiganya baru saja selesai bertemu dengan empat pengusaha yang membeli sepuluh lukisan.
Selesai melakukan transaksi pembelian ke sepuluh lukisan itu, Darren mengajak Rehan dan Darel makan siang di cafe sebelum kembali ke galeri lagi.
"Apa keputusan kamu sudah yakin untuk mencari pengganti kami, Ren?" tanya Darel sambil menyesap minumannya.
"Kami nggak keberatan untuk terus bantuin kamu di galeri. Yang lain juga gitu. Mereka pasti nggak akan mau ninggalin kamu," ucap Rehan.
Darren meminta ketujuh sahabat-sahabatnya untuk kembali ke perusahaan masing-masing. Bagaimana pun ketujuh sahabat-sahabatnya itu memiliki tanggung jawab besar disana.
Darren tidak ingin ketujuh sahabat-sahabatnya itu terlalu lama mengandalkan keempat tangan kanannya untuk memimpin perusahaan-perusahaannya.
Sementara mereka harus bekerja keras di Perusahaan, Galeri dan Showroom miliknya.
"Aku tahu kalian tulus membantuku di perusahaan, galeri dan showroom. Tapi bagaimana pun kalian memiliki tanggung jawab di perusahaan kalian masing-masing. Sampai kapan kalian akan memberikan kepercayaan dan tanggung jawab perusahaan kepada keempat tangan kanan kalian? Apa kalian tidak kasihan dengan mereka? Waktu mereka habis untuk bekerja. Dan mereka tidak punya waktu untuk diri mereka sendiri."
"Dengan kalian kembali ke perusahaan kalian dan mulai memimpin perusahaan kalian kembali. Setidaknya beban yang ditanggung keempat tangan kanan kalian berkurang. Dengan adanya kalian di perusahaan, bisa saling bekerja sama. Sama seperti kita bertiga ketika di Galeri. Kita saling bekerja sama, bukan? Seperti itu juga aku, Qenan, Willy, Axel, Dylan dan Jerry ketika di perusahaan Accenture dan Showroom."
"Kita tidak bisa terus menerus bergantung kepada tangan kanan kita. Perusahaan itu milik kita. Kita yang harus berada di depan. Kita adalah pemimpinnya."
Mendengar ucapan dari Darren membuat Darel dan Rehan menganggukkan kepalanya. Di dalam hati Darel dan Rehan membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren.
"Baiklah. Kami akan kembali memimpin perusahaan kami," ucap Rehan.
"Tapi sebelum itu biarkan kami mencari orang yang tepat untuk menggantikan kami di Galeri," ucap Darel.
Rehan mengangguk tanda setuju atas apa yang dikatakan oleh Darel.
"Eemm. Baiklah!" Darren menyetujui usul Darel.
Darel melihat jam yang ada di tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang.
"Sudah siang nih. Kita langsung ke Galeri saja. Nggak usah singgah kemana-mana lagi," sahut Darel.
"Ya, udah. Yuk!"
Rehan langsung berdiri dari duduknya. Dan diikuti oleh Darren dan Darel.
***
Dendra baru selesai dengan pekerjaannya di kantor. Dia saat ini sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Niat Dendra setiba di rumah bersih-bersih, setelah itu dia ingin merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya barang sejenak.
Ketika Dendra tengah fokus mengendarai mobilnya. Matanya tak sengaja melihat sosok perempuan yang sangat dihormati dan dicintainya.
"Mama," ucap Dendra.
Dendra langsung menghentikan mobilnya. Setelah mobilnya berhenti, Dendra langsung keluar dari dalam mobilnya.
Dendra berlari menghampiri ibunya. Dia dapat melihat ibunya yang juga tengah berlari sembari sesekali melihat ke belakang.
Setelah berada di dekat ibunya, Dendra langsung memeluk tubuh ibunya sehingga membuat ibunya menjerit ketakutan.
"Jangan sakiti saya. Lepaskan saya!" teriak Yocelyn.
"Mama, tenanglah. Ini aku, Dendra!"
Mendengar nama putra sulungnya dan juga suaranya. Yocelyn langsung melihat wajah putranya.
Seketika air matanya jatuh membasahi wajahnya. "Den-dendra." Yocelyn berucap gugup.
"Mama kenapa? Apa yang terjadi? Dan kenapa Mama sendirian? Mana pak Pandy?"
__ADS_1
Yocelyn ingin menceritakan kejadian yang menimpanya dan sopirnya Pandy.
Namun ketika Yocelyn hendak membuka mulutnya hendak menjelaskan kepada putra sulungnya, tiba-tiba terdengar suara teriakan beberapa orang mengarah kearahnya dan putranya.
"Itu dia!" seru salah satu laki-laki menunjuk kearah Yocelyn dan Dendra.
Yocelyn seketika langsung ketakutan. "Dendra, ayo kita pergi. Mereka ingin menyakiti Mama."
Dendra menatap kearah beberapa laki-laki yang berlari kearahnya dan ibunya.
"Siapa mereka, Ma? Kenapa mereka mengejar Mama?" tanya Dendra sembari membawa ibunya dari sana.
"Mama tidak tahu Dendra. Ketika Mama selesai berbelanja. Dan Mama hendak memasukkan barang-barang belanjaan Mama dibantu sama pak Pandy. Mereka tiba-tiba datang menghampiri Mama dan pak Pandy. Awalnya Mama berpikir jika mereka butuh uang. Ketika Mama memberikan uang, salah satunya langsung melukai tangan Mama."
Mendengar penjelasan dari ibunya, Dendra melihat kearah tangan kanan ibunya. Dan benar saja, tangan ibunya terluka.
"Dan ketika salah satu dari mereka ingin melukai Mama. Pandy melindungi Mama. Pandy melawan orang-orang itu sendirian. Saat perkelahian itu berlangsung, Pandy menyuruh Mama pergi."
Deg!
Dendra terkejut ketika ibunya mengatakan bahwa mereka hendak membunuh ibunya. Dan Pandy menjadikan tubuhnya untuk melindungi ibunya.
"Siapa mereka? Kenapa mereka ingin membunuh Mama?" batin Dendra.
Dendra menuntun ibunya untuk masuk ke dalam mobilnya. Dia juga berusaha untuk menenangkan ibunya yang masih tampak ketakutan.
"Mama masuk ke dalam mobil dan tunggu disini saja. Jangan keluar, apapun yang terjadi. Mama mengerti. Kunci mobilnya. Untuk kaca mobilnya, Mama tidak perlu khawatir. Sekeras apapun mereka memukulnya. Kaca mobilnya tidak akan pecah. Jadi Mama aman di dalam mobil."
"Tapi sayang. Kamu bagaimana? Mama takut, Nak!"
"Aku akan baik-baik saja. Percayalah!"
"Terus Pandy, bagaimana? Mama benar-benar mengkhawatirkan dia."
"Sekarang masuklah dan kunci mobilnya!"
Yocelyn pun menuruti perintah dari putra sulungnya itu. Kini Yocelyn sudah berada di dalam mobil dengan keadaan mobil terkunci dari dalam.
Yocelyn menangis melihat putranya bertarung sendirian menghadapi lima belas orang laki-laki.
"Tuhan, lindungi putraku. Jangan sampai putraku kenapa-kenapa? Selamatkan juga Pandy. Lindungi Pandy. Semoga dia tidak kenapa-kenapa disana."
"Dendra," lirih Yocelyn yang melihat putranya bertarung sendirian diluar.
"Aku harus bagaimana? Aku ingin keluar, tapi aku tidak ingin membuat putraku marah dan kecewa. Tapi aku tidak tega melihat putraku bertarung sendirian," ucap Yocelyn.
"Apa aku harus hubungi Satria dan Jerry? Bagaimana kalau mereka sibuk?"
"Tidak ada salahnya aku coba. Lebih baik aku hubungi Satria dulu."
Yocelyn mencari nama kontak putra keduanya. Setelah menemukan nama kontak putranya itu, Yocelyn pun langsung meredial nomor tersebut.
"Kan benar! Panggilannya sibuk."
"Jerry! Aku akan hubungi Jerry."
Yocelyn kembali mencari nomor kontak putranya. Dan kali ini nomor kontak putra bungsunya.
Ketika nomornya tersambung, tapi tidak diangkat oleh putranya itu.
"Kenapa tidak diangkat oleh Jerry? Padahal tersambung. Apa Jerry sedang ada kelas. Sementara ponselnya berada dalam mode hening," ucap Yocelyn.
__ADS_1
Yocelyn menatap keluar jendela. Dia melihat putra sulungnya itu masih bertarung melawan laki-laki itu.
Namun kini sisa laki-laki itu tinggal sepuluh dari lima belas. Putranya itu berhasil mengalahkan lima laki-laki itu.
Seketika Yocelyn tiba-tiba kepikiran Darren. Dan detik kemudian, Yocelyn langsung menghubungi Darren.
***
Darren, Darel dan Rehan saat ini berada di perjalanan untuk menuju Galeri. Hari ini ketiganya di sibuk kan dengan urusan beberapa lukisan sehingga mereka izin tidak masuk kuliah selama dua hari.
Darel satu mobil dengan Rehan. Sementara Darren sendirian. Baik Darel maupun Darren membawa mobilnya dengan kecepatan sedang.
Darren yang awalnya asyik dan jiga fokus menatap ke depan, tiba-tiba dikejutkan dengan suara ponselnya.
Darren melirik ke samping dimana ponselnya berada. Darren melihat nama 'Bibi Yocelyn' di layar ponselnya.
Seketika Darren langsung menghentikan laju mobilnya guna untuk menjawab panggilan dari ibunya Jerry.
Mobil yang ditumpangi Darel dan Rehan yang posisinya berada di belakang mobilnya Darren, otomatis juga berhenti ketika melihat mobil Darren yang tiba-tiba berhenti.
"Kenapa Darren berhenti?" tanya Rehan.
Tin.. Tin..
Darel membunyikan klaksonnya bermaksud bertanya.
Darren membuka kaca mobilnya lalu mengeluarkan kepalanya kemudian melihat ke belakang. Begitu juga dengan Darel.
"Ada apa?" tanya Darel.
"Bibi Yocelyn menghubungiku," jawab Darren.
"Ya, sudah angkat! Siapa tahu penting!" seru Darel.
Setelah itu, Darren pun langsung menjawab panggilan dari ibunya Jerry.
"Hallo, Bibi Yocelyn. Ada apa?"
"Ha-hallo Darren. Tolong Bibi, Nak!"
"Bibi kenapa? Apa terjadi sesuatu?"
Mendengar pertanyaan dan suara panik Darren membuat Darel dan Rehan langsung keluar dari dalam mobil. Mereka menghampiri mobil Darren.
"Ada beberapa laki-laki yang ingin melukai Bibi. Bahkan orang-orang itu sudah berhasil melukai Pandy, sopirnya Bibi! Dan sekarang ini Dendra sedang bertarung melawan mereka, Nak! Mereka berjumlah lima belas orang. Bibi takut terjadi sesuatu terhadap Dendra."
"Apa?!" teriak Darren terkejut ketika mendengar penjelasan dari ibunya Jerry. "Sekarang Bibi ada dimana? Kirimkan aku lokasinya. Aku, Darel dan Rehan akan kesana!"
"Baik, Nak!"
Tutt.. Tutt..
Panggilan dimatikan oleh Yocelyn. Dan beberapa detik kemudian..
Ting..
Bunyi notifikasi masuk ke ponsel Darren. Darren langsung melihatnya. Pesan dari ibunya Jerry yang mengirim lokasinya saat ini.
"Darel, Rehan. Kita ke jalan ini sekarang!" Darren memperlihatkan layar ponselnya kearah Rehan dan Darel.
Rehan dan Darel melihatnya, kemudian langsung menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Rehan dan Darel kembali ke mobilnya dan masuk ke dalam. Begitu juga dengan Darren.
Setelah itu, ketiganya langsung bergegas menuju lokasi yang dikirimkan oleh Yocelyn.