
Di kediaman Dustine terlihat seorang pemuda tengah berkutat dengan laptopnya. Pemuda itu adalah Darel.
Darel saat ini tengah memeriksa atau mengecek keperluan dan perlengkapan untuk acara Pameran Lukisan yang diadakan di Galeri milik sahabat kelincinya.
Ketika Darel tengah fokus menatap layar ponselnya, tiba-tiba kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya datang. Mereka langsung duduk di sofa.
"Lagi sibuk nih putra bungsunya Mama." Bella memulai pembicaraan.
Mendengar suara ibunya, Darel seketika langsung melihat kearah ibunya. Dan dapat Darel lihat kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya sudah duduk anteng di sofa sambil tersenyum menatap dirinya.
"Nggak, Ma. Aku hanya mengecek persiapan untuk acara Pameran Lukisan dua hari lagi," sahut Darel.
"Sudah sampai dimana persiapannya?" tanya Ardy, kakak laki-laki tertua Darel.
"Sudah siap semuanya, kakak Ardy. Aku hanya mengeceknya saja, takut ada kelupaan." Darel menjawab pertanyaan dari kakak laki-lakinya itu.
"Yakin? Apa perlu kakak Rama bantu?" tanya Rama.
"Yakin, kakak Rama. Semuanya sudah siap. Lagian bukan aku aja yang mempersiapkan semua ini. Rehan dan Darren juga. Kemungkinan mereka berdua juga sama sepertiku sekarang ini," ucap Darel.
Mendengar jawaban demi jawaban dari Darel membuat Dellano, Bella, Ardy dan Rama tersenyum bangga. Mereka tahu bahwa Darel sangat bertanggung jawab akan pekerjaannya.
"Oh iya! Bagaimana dengan perusahaan kamu? Apa baik-baik saja?" tanya Dellano kepada putra bungsunya.
"Semuanya baik-baik saja, Papa! Dua hari yang lalu aku habis dari sana untuk memantaunya. Dan ditambah lagi laporan-laporan dari enam tangan kananku yang aku percayai untuk mengawasi gerak-gerik semua karyawan di perusahaan."
"Syukurlah kalau begitu," jawab Dellano.
Ketujuh sahabat-sahabatnya Darren juga memiliki perusahaan sendiri. Perusahaan ketujuh sahabat-sahabatnya Darren juga setara dengan perusahaan Accenture milik Darren. Secara mereka bersama-sama membangun perusahaan tersebut. Mereka sama-sama merintis perusahaan itu sejak mereka masih duduk di bangku SMP. Hanya saja, perusahaan Darren yang terlebih dahulu berdiri.
Setelah enam bulan berjalan, barulah menyusul tujuh perusahaan milik ketujuh sahabat-sahabatnya itu.
Jika Darren dibantu oleh ketujuh sahabat-sahabatnya ketika membangun perusahaan Accenture dan sedikit bantuan dari para orang tua dari sahabatnya itu.
Sementara ketujuh sahabat-sahabatnya, para anggota keluarga masing-masing yang membantu mendirikan sebuah perusahaan. Walaupun begitu, Darren juga ikut serta dalam membangun perusahaan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Seperti itu juga dengan usaha-usaha Darren yang lainnya. Semua itu tak lepas dari bantuan dan dukungan dari ketujuh sahabat-sahabatnya.
***
Di kediaman Zordy, Rehan saat ini tengah mengecek semua lukisan yang ada di ruang kerjanya. Ada sekitar 20 lukisan yang akan diikut sertakan dalam Pameran Lukisan dua hari lagi.
Setelah merasa aman dan terlihat memuaskan. Rehan pun memutuskan untuk keluar dari ruang kerjanya menuju lantai bawah.
Kenapa semua lukisan ada di rumah Rehan. Darren memberikan kepercayaan kepada Rehan untuk menyiapkan 20 lukisan untuk diikut sertakan dalam Pameran Lukisan itu, karena memang itulah tugas utama Rehan.
Walaupun semua lukisan yang dibuat oleh Darren semuanya bagus dan indah. Rehan akan memilih lukisan yang lebih bagus dari sekian banyak lukisan Darren.
Ketika Rehan telah sampai dibawah. Dirinya dikejutkan dengan panggilan dari ayahnya yang kebetulan lewat.
"Rehan."
Rehan melihat kearah ayahnya yang saat ini tengah tersenyum karena melihat dirinya terkejut.
"Aish! Papa kebiasaan sekali," ucap Rehan kesal.
Melihat wajah kesal putra bungsunya itu membuat Valeo makin melebarkan senyumannya.
Rehan melangkahkan kakinya menuju ruang tengah dan diikuti oleh ayahnya di belakangnya.
"Bagaimana persiapan untuk dua hari lagi?" tanya Valeo.
"Persiapan apa?" tanya Rehan pura-pura tidak mengetahui pertanyaan dari ayahnya itu.
Mendengar jawaban dari putra bungsunya itu membuat Valeo mendengus.
"Mau jadi anak durhaka, hum!" celetuk Valeo yang melihat wajah putranya yang masih masam.
"Apaan sih, Papa! Nggak lucu tahu," sahut Rehan.
Valeo tersenyum. "Kalau gitu jawab pertanyaan Papa yang barusan!"
"Apa perlu?" tanya Rehan.
"Ayolah, sayang!" mohon Valeo di hadapan putranya.
Rehan seketika tersenyum ketika melihat wajah memohon ayahnya. "Persiapan untuk Pameran Lukisan dua hari lagi sudah siap semuanya. Aku baru saja mengecek lukisan-lukisan itu."
__ADS_1
Disaat Rehan dan ayahnya tengah mengobrol. Tanpa disadari keduanya ada tiga pasang mata yang melihat dan mendengar obrolan keduanya.
Setelah puas melihat dan mendengar obrolan Rehan dan ayahnya. Ketiga pasang mata itu pun menghampiri keduanya di ruang tengah.
"Asyik nih ngobrolnya!" seru Revina menatap suami dan putra bungsunya dengan melangkah menuju ruang tengah.
Mendengar suara ibunya/istrinya. Rehan dan Valeo bersamaan langsung melihat kearahnya.
"Mama, kakak Cakra, kakak Rendy."
"Sayang, Cakra, Rendy."
Revina, Cakra dan Rendy menduduki pantatnya di sofa.
"Serius amat ayah dan anak ngobrolnya. Lagi ngobrol apa sih?" tanya Revina.
Mendapatkan pertanyaan dari ibunya. Seketika terlintas ide jahil di otaknya Rehan.
Rehan tersenyum evil dengan menatap kearah ayahnya.
Valeo yang melihat senyuman dari putra bungsunya membuat Valeo menatap curiga.
"Kenapa Rehan tersenyum seperti itu?" batin Valeo.
"Mama mau tahu kita berdua bicara apa tadi?" tanya Rehan.
"Apa, sayang? Kamu dan Papa kamu bicara apa saja?" tanya Revina antusias.
"Tadi tuh Papa," ucap Rehan dengan melirik kearah ayahnya. Setelah itu kembali menatap ibunya. "Papa katanya mau nikah lagi."
Mendengar perkataan dari Rehan. Seketika Valeo membelalakkan matanya.
Sementara Revina sudah memberikan pelototan kepada suaminya.
Bagaimana dengan Rehan?
Rehan saat ini sudah tersenyum melihat wajah kesal bercampur takut terhadap ibunya.
Sedangkan Cakra dan Rendy hanya geleng-geleng kepala akan kelakuan adik laki-lakinya yang menjahili ayahnya.
"Valeo... Eemmm!" Revina menatap geram suaminya.
Mendengar perkataan dari ayahnya membuat Rehan makin melebarkan senyumannya. Dirinya benar-benar puas melihat wajah takut ayahnya ketika berurusan dengan ibunya.
"Mama harus percaya padaku. Papa sendiri yang bilang begitu. Papa katanya mau nikah lagi. Dan Papa memintaku untuk menjadi pendukungnya," ucap Rehan yang memanas-manasi ibunya.
Seketika Valeo membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan dari putra bungsunya.
"Rehan, Papa tidak pernah bicara hal itu." Valeo menatap tajam putra bungsunya.
"Valeo," panggil Revina dengan suara marahnya.
Valeo langsung melihat wajah istrinya. "Tidak, sayang. Itu tidak benar," bela Valeo.
Tanpa disadari oleh Valeo. Rehan telah berdiri dari duduknya dan sudah sedikit menjauh dari ruang tengah.
Cakra dan Rendy hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala akan kelakuan adik laki-lakinya yang menjahili ayahnya.
"Mama, jangan percaya sama Papa. Papa itu tukang ngibul. Di depan Mama sok berlagak romantis. Tapi di belakang Mama. Papa justru jelek-jelekkin Mama."
Mendengar perkataan dari putra bungsunya itu membuat Valeo mendengus. Valeo menatap kearah putranya dan ingin menjitak kepala putranya itu.
Namun seketika dirinya terkejut kala melihat putra bungsunya sudah berada di anak tangga.
"Mama harus percaya padaku. Papa itu tukang ngibul. Mama harus hati-hati terhadap Papa," ucap Rehan yang saat ini benar-benar puas melihat wajah kesal ayahnya.
"Rehan!" teriak kencang Valeo di ruang tengah.
"Hahahahahaha."
Seketika Rehan tertawa keras mendengar teriakan dari ayahnya sembari berlari menuju kamarnya.
"Dasar anak kurang ajar," ucap Valeo.
Mendengar perkataan dari Valeo membuat Cakra dan Rendy tersenyum. Begitu juga dengan Revina.
Sebenarnya Revina tidak mempercayai perkataan putra bungsunya. Justru Revina tahu bahwa putra bungsunya itu sengaja menjahili suaminya.
__ADS_1
Demi memperlancar usaha jahil putra bungsunya itu, Revina pun ikut menjahili suaminya dengan mempercayai perkataan putra bungsunya itu.
***
Darren saat ini berada di ruang tengah. Sejam yang lalu Darren baru saja mengecek empat laporan dari dua asistennya di perusahaan Micro Sinopec.
Keempat laporan itu berisi mengenai kerja sama, laporan keuangan, perkembangan perusahaan dan kinerja para karyawan.
Darren saat ini tengah mengecek data-data korban jiwa akibat kecelakaan beruntun di jalan raya yang menewaskan sekitar 40 orang. Dari data-data itulah nantinya Darren akan memberikan bantuan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Dari hasil laporan dari data-data korban kecelakaan itu rata-rata adalah berstatus sebagai seorang suami dan juga ayah. Mereka meninggal dengan meninggalkan istri dan anak.
Para korban kecelakaan tersebut adalah karyawan Darren sendiri yang bekerja di bagian pabrik.
Darren memiliki dua pabrik besar yang memproduksi barang sendiri. Barang-barang tersebut yang sering dibutuhkan dan digunakan oleh perusahaan Accenture, perusahaan Micro Sinopec dan Galeri.
Semua barang-barang hasil produksi dari pabrik milik Darren 50% dijual dan 50% dipakai sendiri.
Ketika Darren fokus menatap layar laptopnya, tiba-tiba Andra memanggilnya.
"Darren," panggil Andra.
Darren yang merasa dipanggil langsung menolehkan wajahnya menatap kakaknya itu.
"Iya, kakak Andra. Ada apa?"
Andra duduk di samping adik laki-lakinya itu dengan memberikan sebuah map kepadanya.
"Ini."
"Apa ini?"
"Buka saja."
Darren membuka map itu. Setelah itu, Darren membaca setiap tulisan yang ada di dalamnya.
Setelah beberapa detik selesai membacanya. Darren mengembalikan kembali map itu kepada kakak laki-lakinya itu.
"Bagaimana?"
"Itu sudah bagus. Jangan dirubah lagi. Biarkan seperti itu."
"Berarti kakak sudah bisa untuk menandatangani map ini?" tanya Andra.
"Iya. Tanda tangan saja. Tak masalah," jawab Darren.
"Baiklah."
Setelah mendapatkan jawaban dari adik laki-lakinya. Andra pun menandatangani berkas itu.
Selesai menandatangani berkas itu, Andra melirik ke layar laptop adiknya.
"Itukan data-data dari korban kecelakaan beruntun dua minggu yang lalu, Ren?"
"Iya, kakak Andra. Dan mereka semua adalah karyawan pabrikku."
Mendengar jawaban dari adik laki-lakinya membuat Andra terkejut.
"Yang benar, Ren?" tanya Andra.
"Iya, kakak Andra. Aku juga baru tahu masalah ini," jawab Darren.
"Jadi ini alasan kamu membuat acara Pameran Lukisan?"
"Hm."
Darren melihat wajah kakak laki-lakinya itu.
"Kakak Andra udah mau berangkat ke kantor?"
"Iya, Ren. Ketika kakak mau berangkat, kakak baru ingat jika ada berkas yang belum kakak tanda tangan. Dan seperti yang kamu bilang kemarin, jika ada yang memberikan berkas untuk ditanda tangani. Baik itu kakak, kakak Davin maupun Papa. Kita harus memperlihatkan terlebih dahulu berkas itu ke kamu."
"Iya."
"Karena sudah aman. Kakak langsung pergi ya."
"Baiklah. Kakak Andra hati-hati."
__ADS_1
"Hm."
Setelah itu, Andra pun pergi meninggalkan Darren untuk menuju perusahaan ER.