KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Plan B


__ADS_3

Agneta sudah berada di kamar Darren. Dirinya juga sudah mengobati luka di tangan putranya. Agneta membelai rambut Darren dan tak lupa memberikan ciuman di keningnya.


"Hiks... Hiks... sayang... Hiks." Erland tidak bisa menahan kesedihannya.


"Mama... aku merindukanmu... kembalilah.. jemput aku," igau Darren.


Mereka semua terkejut saat mendengar igauan Darren. Mereka saling melirik, lalu kembali menatap wajah pucat Darren.


"Darren," lirih mereka semua.


"Papa. Ini yang kedua kalinya Darren menyebut nama Mama dan mengucapkan kata-kata itu," sahut Darka.


"Iya, Papa. Itu benar," sela Gilang.


"Kapan pertama kali kalian mendengar Darren mengucapkan kata-kata itu?" tanya Davin.


"Kemarin saat kami dalam perjalanan pulang ke rumah. Ketika itu Darren juga sedang demam," jawab Gilang.


"Papa." Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka menatap sang Ayah.


"Apa Darren sudah tahu tentang Belva? Tapi kalau iya. Dari mana Darren mengetahuinya?" batin Erland.


"Kak Erland. Lebih baik bawa Darren ke tempat tidurnya," sahut Evan.


Mendengar ucapan Evan. Erland langsung mengangkat tubuh putranya itu ke tempat tidur.


Setelah berada di atas tempat tidur, Erland menyelimuti tubuh putranya. Dan tak lupa mengecup keningnya.


"Papa," igau Darren.


Erland yang mendengar igauan putranya yang memanggil namanya langsung meneteskan air matanya.


"Hiks... Papa disini, sayang. Maafkan Papa, Nak.. hiks." Erland menggenggam tangan kirinya.


Darren berlahan membalas genggaman tangan Erland. Erland yang merasakan genggaman tangan putranya tersenyum bahagia. Kemudian Erland mencium telapak tangan putranya itu.


"Papa.. jangan tinggalkan aku. Jangan membenciku. Jangan mengabaikanku," igau Darren lagi.


"Hiks.. Tidak akan sayang. Papa tidak akan pergi meninggalkanmu. Papa tidak akan membencimu. Papa tidak akan mengabaikanmu. Kau putra Papa.. putra kebanggaan Papa." Erland berucap sambil mencium telapak tangan putranya dan setelah itu tangannya membelai lembut rambutnya.


"Ya, sudah! Lebih baik kita keluar. Biarkan Darren istirahat. Ini sudah pukul 9 Pagi. Kita biarkan Darren istirahat sampai pukul 12 siang," sela Evan.


Erland melepaskan genggaman tangannya, lalu mengecup kening Darren. Setelah itu Erland pun menjauh dari ranjang Darren dan memberikan ruang untuk Agneta istrinya.


Agneta mendekat ke ranjang Darren. Tangannya menggenggam tangan Darren erat.


"Sampai kapan pun kau adalah putra Mama, sayang. Walau bukan Mama yang melahirkanmu, tapi kau adalah kehidupan Mama. Kau adalah keponakan Mama. Putra bungsu dari kakak perempuan Mama. Mama berjanji. Selama Mama masih bernafas, selama itulah Mama akan selalu ada untukmu. Mama akan menggantikan semua kesedihanmu selama ini. Maafkan Mama yang telah mengingkari janji Mama pada Mama kandungmu." Agneta berucap sembari memberikan mencium kening dan kedua pipi putranya.


"Kak Belva, maafkan aku yang telah melanggar janjiku padamu. Tapi aku berjanji padamu, kak! Aku akan membuat putra bungsumu bahagia dan tersenyum," batin Agneta berjanji.


Setelah Agneta selesai. Kini giliran Carissa, Evan dan ketiga putranya yaitu Daffa, Tristan dan Davian. Serta para kakak-kakaknyanya dan kelima adik-adiknya.

__ADS_1


Mereka memberikan ciuman di kening dan di kedua pipi Darren secara bergantian. Dan tak lupa dengan kata-kata manis untuk Darren.


Setelah selesai dengan kegiatan mereka. Mereka semua pun pergi meninggalkan kamar Darren dan membiarkan Darren istirahat.


***


[PERUSAHAAN SF CORP]


Di sebuah ruangan terlihat seorang pemuda yang tengah duduk di kursi kerjanya sembari memainkan ponselnya. Pemuda itu adalah Samuel Frederick.


Samuel sedang memikirkan perkataan dari orang kepercayaannya. Orang kepercayaannya itu mengatakan bahwa tugas yang diberikan olehnya gagal dikerjakan oleh anak buahnya.


"Bos, maaf. Kami gagal masuk ke dalam Perusahaan Accenture. Semua anak buah kita mati dengan sangat mengerikan. Tubuh mereka hancur terpotong-potong."


"Ach, sial! Kalau begini caranya aku tidak akan bisa menghancurkan milik bajingan itu. Jangankan untuk merebutnya. Menyentuh saja tidak bisa," ucap Samuel kesal dan marah.


"Darren. Aku salut padamu. Kau benar-benar pemuda jenius. Kau sudah mengantisipasi semuanya. Bahkan kau sudah melindungi semua milikmu. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja, Darren! Suatu saat nanti aku pasti bisa mengalahkanmu dan membuatmu hancur," monolog Samuel.


Samuel pun kemudian menghubungi orang kepercayaannya.


"Hallo, Bos."


"Lakukan rencana B."


"Baik, Bos."


Setelah mengatakan hal itu, Samuel langsung mematikan panggilannya.


***


[APARTEMEN]


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Namun di sebuah Apartemen masih terlihat seorang gadis yang masih terjaga.


Gadis itu duduk di ruang tengah. Ditambah lagi gadis itu tidak sendirian, dia ditemani oleh seorang laki-laki.


"Bos ingin kau melakukan rencana B," ucap laki-laki itu.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya gadis itu.


"Sebelumnya aku ingin bertanya padamu. Boleh?" ucap laki-laki itu.


"Silahkan. Kau mau bertanya apa padaku?" jawab gadis tersebut.


"Bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu? Apa kalian masih berhubungan?"


"Dulu aku mencintainya saat dia masih tinggal bersama keluarganya. Namun setelah dia memutuskan meninggalkan keluarganya, maka aku juga memutuskan meninggalkannya dan memilih mencari laki-laki lain," jawab gadis itu.


"Apa dia tahu kau mengkhianatinya?"


"Aku rasa tidak. Dia tidak tahu sama sekali."

__ADS_1


"Apa kau masih mencintainya?"


"Cinta? Hm, sebenarnya aku tidak benar-benar mencintainya. Baik dulu maupun sekarang. Aku hanya memanfaatkannya karena dia anak orang kaya. Begitu juga hubunganku dengan laki-laki lain. Aku tidak pernah benar-benar suka atau pun jatuh cinta kepada laki-laki manapun. Aku mendekati mereka hanya karena uang," jawab gadis itu.


"Apa kau tahu jika ladang uangmu sekarang ini hidupnya makin sukses? Bahkan kesuksesan melebihi keluarganya," sahut laki-laki itu sembari menatap wajah gadis itu.


"Apa? Benarkah?" tanya gadis itu antusias.


"Seperti itulah yang aku ketahui. Mantan kekasihmu itu memiliki 3 Perusahaan. Pertama Perusahaan Accenture, kedua Perusahaan mobil. Dia juga memiliki Shoowroom mobil yang begitu luas dan mewah. Ketiga dia memiliki galeri lukisan yang bernama Darren Galeri Of Art," jawab laki-laki itu.


Mendengar penuturan dari laki-laki yang ada dihadapannya, gadis itu tersenyum bahagia.


Melihat gadis itu tersenyum membuat laki-laki yang kini menatapnya sudah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadis tersebut.


"Sekarang katakan padaku. Apa yang diinginkan oleh Bosmu itu?" tanya gadis itu.


Mendengar ucapan dari gadis yang duduk di hadapannya itu, laki-laki itu pun mulai menjelaskan semua rencana yang diinginkan oleh sang Bos.


Laki-laki itu kemudian menjelaskan secara rinci dari awal sampai akhir. Sedangkan gadis itu fokus mendengarkannya.


"Bagaimana?" tanya laki-laki itu.


"Aku setuju. Baiklah," jawab gadis itu.


***


[KEDIAMAN KELUARGA SMITH]


Keesokkan paginya semua anggota keluarga sudah lengkap di meja makan, termasuk Darren. Darren berada di meja makan itu berkat bujukan dan rayuan ketiga kakak sepupunya. Jadi mau tidak mau Darren pun menuruti ketiganya.


Mereka memakan sarapan pagi dengan sedikit lelucon-lelucon kecil sehingga membuat suasana menjadi ramai.


Sedangkan Darren memilih diam. Dirinya tidak berniat masuk ke dalamnya.


Erland yang menyadari hal itu, berusaha untuk menyapa putranya.


"Darren, sayang." Erland memanggil lembut putranya.


Darren yang dipanggil pun menolehkan wajahnya melihat kearah sang Ayah.


Mereka semua melihat ke arah Darren yang menolehkan wajahnya melihat ke arah Ayahnya.


Setelah melihat wajah Ayahnya, Darren kembali menatap sarapannya.


"Hah!" Erland hanya bisa menghela nafasnya melihat sikap putra bungsunya dari istri pertamanya yaitu Belva masih bersikap dingin dan acuh padanya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka hanya bisa diam dan pasrah melihat sikap Darren.


Baik Erland mau pun yang lainnya tak mempermasalahkan akan sikap Darren. Mereka sangat tahu, sebenarnya di hati kecil Darren itu tidak menaruh benci pada mereka. Sebaliknya, Darren itu sangat menyayangi mereka. Hanya saja saat ini egonya yang lebih besar.


Erland sudah berjanji pada dirinya sendiri. Apapun yang terjadi, Erland akan selalu ada untuk putra bungsunya itu. Dirinya tidak ingin kehilangan lagi. Istrinya Belva sudah mengorbankan segalanya untuk memperjuangkan sang putra agar sang putra bungsu hidup bahagia bersamanya dan saudara-saudaranya.


Begitu juga sebaliknya dengan Davin, Andra, Dzkay, Adnan, Gilang dan Darka. Mereka berjanji akan selalu ada untuk adik mereka. Mereka berjanji akan menggantikan semua kesedihannya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2