
Prok!
Prok!
Prok!
"Waw... Waw!"
Terdengar suara tepukan tangan dan juga suara seseorang yang melangkah memasuki ruang tengah.
Liana, Maura, Rangga, Barra, Brenda, Riana dan Raya melihat keasal suara. Begitu juga dengan Charlie dan Soraya.
Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya tersenyum ketika melihat kedatangan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Begitu juga dengan Liana, putra dan putrinya yang lain.
"Apakah kedatangan kami mengganggu reuni anda, tuan Charlie?" tanya Darren dengan menatap meremehkan kearah Charlie.
"Siapa kau? Kenapa kau ada disini, hah?!" bentak Charlie.
"Siapa? Aku? Eemmm..." Darren berucap sambil menunjuk dirinya sendiri.
Darren melihat kearah ketujuh sahabat-sahabatnya. Dan berkata, "Hey, kalian! Kalian kenal aku tidak? Apakah kalian tahu siapa namaku?" tanya Darren.
Mendengar pertanyaan dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan langsung mengangkat kedua bahunya.
Sementara Liana, Maura, Rangga, Barra, Brenda, Riana, Raya dan ketujuh sahabat-sahabatnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Darren mempoutkan bibirnya ketika mendapatkan jawaban dari ketujuh sahabat-sahabatnya itu.
Darren kembali melihat kearah Charlie dan Soraya dengan wajah sedihnya yang dibuat-buat.
"Anda lihat, tuan Charlie! Mereka tidak mengenalku. Bahkan mereka tidak tahu namaku. Jadi aku minta maaf pada anda jika aku tidak bisa memberitahu anda siapa aku. Aku saja tidak tahu namaku," ucap Darren dengan tersenyum manis di hadapan Charlie dan Soraya.
Brak!
Charlie menggebrak meja dengan kuat sembari matanya menatap nyalang wajah Darren.
"Brengsek. Jangan bermain-main denganku. Kau belum tahu siapa aku. Aku bisa menghancurkanmu!" bentak Charlie sembari menunjuk kearah Darren dengan jari telunjuknya.
Mendengar teriakan dan bentakkan dari Charlie. Darren seketika menutup mulutnya seakan-akan dirinya takut akan teriakan dan bentakkan tersebut.
"Oopst!"
Charlie dan Soraya menatap penuh amarah kearah Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan.
"Lebih baik kau pergi dari sini. Dan bawa para sampahmu itu dari rumah ini!" bentak Soraya.
Mendengar ucapan dan teriakan dari Soraya. Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan menatap tajam kearah Soraya.
"Kalau aku dan ketujuh sahabat-sahabatku masih mau disini. Kau mau apa, hah?! Apa yang bisa kau lakukan untuk mengusirku dan ketujuh sahabat-sahabatku dari rumah ini?" tanya Darren dengan tatapan matanya menatap marah Soraya.
Mendengar ucapan dari Darren membuat Charlie dan Soraya marah. Mereka tidak menyangka jika orang yang baru pertama kali mereka lihat sudah berani melawannya.
"Kalau kau dan para sampahmu itu tidak pergi dari rumah ini. Maka aku yang akan menyeret kalian semua dari rumah ini," jawab Soraya dengan menantang Darren.
"Oh, iya! Caranya bagaimana? Coba tunjukkan padaku dan ketujuh sahabat-sahabatku," tantang Darren dengan tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Oh. Jadi kau menantangku, hum! Baiklah!" seru Soraya dengan senyuman di sudut bibirnya.
Soraya berdiri dari duduknya, lalu menghadap kearah dimana nantinya masuk 40 anak buah suaminya.
"Kalian semua, masuklah!" teriak Soraya memanggil anak buah suaminya.
Namun orang-orang yang dipanggil olehnya tak kunjung menampakkan dirinya.
Sementara Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan tersenyum meremehkan menatap Soraya.
"Kalian semua, masuklah!" teriak Soraya lagi ketika tidak mendapati anak buah suaminya menampakkan diri.
Anak buahnya berjumlah 40 orang yang dibawa oleh Charlie dan Soraya yang awalnya disuruh menunggu di beberapa tempat di sekitar rumah keluarga Wilson. Mereka bersiap-siap di tempat masing-masing, plus dengan senjata di tangan.
Jadi ketika mereka dipanggil oleh kedua bos nya, mereka akan langsung keluar dan menghadap kedua bos nya itu. Sebelum mendapatkan perintah dari kedua bos nya itu, mereka tetap berada di tempat masing-masing.
Masing-masing dari mereka memakai alat di telinga agar bisa mendengar panggilan dari kedua bos nya itu.
"Anda memanggil siapa, nyonya?" tanya Darel.
"Diam kau!" bentak Soraya.
"Ops!" Darel langsung mengatup bibirnya.
Soraya menatap penuh amarah kearah dimana orang-orangnya akan masuk. Di dalam hatinya berkata 'kenapa mereka tidak masuk juga. Padahal aku sudah memanggil mereka berulang kali?'.
Charlie yang juga melihat kearah tatapan mata istrinya juga tengah berpikir tentang 40 anak buahnya yang tak kunjung menampakkan dirinya.
"Sudahlah, nyonya! Kenapa anda berteriak-teriak di dalam rumah?" ucap dan tanya Rehan.
"Anda pikirkan saja sendiri kenapa kami semua bisa masuk kesini, hum?" ucap Axel dengan tersenyum di sudut bibirnya.
"Asal kalian tahu tuan Charlie, nyonya Soraya. Ketika kami masuk ke rumah ini. Kami tidak melihat siapa pun diluar. Keadaan diluar sangat-sangat aman," ucap Dylan.
"Maka dari itulah kami semua bisa masuk ke dalam rumah ini," sahut Willy.
"Jadi lebih baik berhentilah berteriak dan berhentilah memanggil mereka. Mereka semua tidak akan datang," ucap Qenan dengan tersenyum manis.
Mendengar ucapan demi ucapan dari orang-orang yang ada di hadapannya membuat Charlie dan Soraya mengepal kuat kedua tangannya. Dan juga matanya menatap marah wajah Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan.
"Brengsek! Kalian pikir semudah itu menang dari kami, hah! Walaupun kalian berhasil masuk ke dalam rumah ini. Bukan berarti kalian menang dan kami kalah. Bagaimana pun kami yang memenangkan permainan ini?!" bentak Soraya dengan menunjuk satu persatu wajah-wajah orang yang ada di hadapannya.
Soraya melangkah mendekati Darren. Dirinya benar-benar marah dengan apa yang diperbuat oleh Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Melihat Soraya yang ingin mendekati Darren. Baik Darren, Qenan, Willy, Axel maupun Dylan, Jerry, Darel dan Rehan tersenyum di sudut bibirnya masing-masing.
"Jika anda maju selangkah lagi untuk mendekatiku. Dan berniat menyakitiku. Maka ucapkan selamat tinggal dengan ketiga putrimu," ucap Darren dengan tersenyum manis. Lebih tepatnya senyuman iblisnya.
Mendengar penuturan dari Darren. Seketika Soraya menghentikan langkahnya.
"Kau pikir aku takut padamu. Apalagi percaya akan ucapanmu barusan! Jangan mimpi!" bentak Soraya.
Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan saling melirik satu sama lainnya. Setelah itu, mereka kembali menatap wajah Soraya dan juga Charlie.
"Wah, nyonya! Anda meremehkan kami ya?" ejek Qenan.
__ADS_1
"Baiklah. Jika itu yang anda inginkan," ucap Willy.
"Ren," ucap Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan bersamaan.
Mendengar ucapan dari ketujuh sahabat-sahabatnya. Darren pun mengerti. Setelah itu, Darren memerintah anggota dari Zoya yang memang sudah berada di kamar Brenda, Maura dan Raya untuk membawa turun ketiga putrinya Charlie dan Soraya.
Kenapa anggota mafiosonya Zoya ada di dalam kamar Brenda, Maura dan Raya. Mereka berada di dalam kamar ketiganya bersamaan dengan masuknya Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan ke dalam rumah.
Jadi, Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan masuk ke dalam rumah. Sementara masing-masing dua anggota mafiosonya Zoya masuk ke kamar Brenda, Maura dan Raya melalui balkon kamar mereka dengan cara menaiki balkon kamar tersebut.
Baik balkon kamarnya Brenda maupun balkon kamarnya Maura dan Raya sama-sama menghadap ke paviliun belakang rumahnya. Masing-masing dua anggotanya Zoya masuk melalui balkon kamarnya Brenda, kamarnya Maura dan kamarnya Raya.
Darren menyentuh earphone di telinganya, lalu berucap. "Bawa mereka turun. Sekarang!"
Dan tak butuh lama, mereka semua yang ada di ruang tengah mendengar suara langkah kaki menuruni anak tangga.
Soraya dan Charlie seketika membelalakkan kedua matanya ketika melihat ketiga putrinya di todong dengan senjata di kepalanya.
"Papi, Mami!" teriak ketiga putrinya.
"Naftali, Dafni, Lucy." Soraya memanggil ketiga putrinya yang saat ini tengah ketakutan.
Sementara Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan tersenyum penuh kemenangan. Mereka menatap dengan raut kebahagiaan saat melihat wajah takut Charlie dan Soraya.
"Bagaimana nyonya, tuan? Masih ingin bermain-main denganku dan ketujuh sahabat-sahabatku, hum?" tanya Darren dengan tersenyum evil.
"Brengsek! Lepaskan ketiga putriku! Mereka tidak ada hubungannya dengan masalah ini!" bentak Charlie.
Darren meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sebagai isyarat agar Charlie menutup mulutnya.
"Sekarang ini aku dan ketujuh sahabat-sahabatku yang mengambil permainan ini tuan, nyonya!" Darren tersenyum bak iblis.
Darren menatap kearah Rangga dan Barra sembari memberikan kode kepada keduanya.
Rangga dan Barra yang melihat tatapan mata dan juga kode dari Darren. Seketika tersenyum. Mereka tahu akan tatapan dan kode dari Darren tersebut.
"Apa kakak Rangga dan kakak Barra siap masuk ke dalam permainan ini?" tanya Darren.
"Sudah sangat siap, Ren!" seru Rangga dan Barra.
"Ayo, bergabunglah denganku dan ketujuh sahabat-sahabatku!" Darren berucap dengan penuh penekanan.
Setelah itu, Rangga dan Barra berdiri dari duduknya. Keduanya berjalan menghampiri Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Darren kini menatap kearah Maura, Riana, Brenda dan Raya. Serta ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda.
"Dan untuk kalian para gadis! Apa kalian juga ingin bermain?" tanya Darren.
"Tentu!" Maura, Riana, Brenda, Raya dan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda menjawab dengan kompak.
"Kalau begitu. Bermainlah dengan mereka," sahut Darren dengan menunjuk kearah Naftali, Dafni dan Lucy.
Mendengar ucapan dari Darren. Seketika terukir senyuman di sudut bibir Maura, Riana, Brenda, Raya dan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda.
Setelah itu, Maura dan ketiga adik perempuannya memulai permainannya dengan cara membully ketiga putrinya Soraya dan Charlie. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda.
__ADS_1