KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Informasi Dari Willy


__ADS_3

Di kediaman keluarga Almero terlihat semua anggota keluarga telah berkumpul di meja makan, kecuali satu orang yaitu Alice.


Ketika mereka hendak memulai sarapannya, salah satunya menyadari bahwa ada yang kurang diantara mereka.


"Tunggu!"


Tuan Almero yaitu Felix Almero, nyonya Almero yaitu Tasma Almero, putra pertamanya yaitu Jayden Almero melihat kearah Zeyn Almero.


"Ada apa, sayang?" tanya Tasma.


"Apa kita akan sarapan pagi tanpa Alice?" tanya Zeyn.


Mendengar pertanyaan dari Zeyn. Seketika Felix, Tasma dan Jayden melihat ke kursi dimana Alice duduk. Dan benar, putrinya/adik perempuannya belum bergabung.


"Aish! Kenapa kita bisa melupakannya sih," ucap Jayden.


"Sudah, sudah! Biarkan Mami yang ke kamar Alice untuk membangunkannya," sela Tasma.


Ketika Tasma hendak berdiri, tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan yang berasal dari kesayangannya.


"Pagi Mami, pagi Papi, pagi kakakku yang tampan." Alice menyapa anggota keluarganya sambil mencium pipi kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya.


Setelah itu, Alice langsung duduk di kursi sebelah kakak laki-lakinya yaitu Zeyn.


"Semangat sekali pagi ini. Oh, kakak tahu mungkin karena semalam kamu pulang digendong sama Willy," goda Zeyn kepada adik perempuannya.


Mendengar perkataan Zeyn. Seketika pipi Alice langsung panas seperti kepiting rebus yang baru masak.


Alice tidak menyadari bahwa ketika pulang jalan-jalan bersama dengan sahabat-sahabatnya dirinya tertidur.


Yang Alice ingat malam itu, mereka sempat berganti kendaraan dari motor ke mobil dikarenakan dirinya yang membawa boneka besar. Dan setelah itu, dirinya tertidur di dalam mobil.


Seketika terukir senyuman manis di bibirnya ketika kakak keduanya itu mengatakan bahwa Willy menggendongnya sampai ke kamar.


Melihat senyuman manis Alice. Felix dan Tasma ikut merasakan kebahagiaan di hatinya. Begitu juga dengan Jayden dan Zeyn.


Zeyn yang memang tengah menjahili adik perempuannya itu kembali mengulanginya.


"Kenapa senyum-senyum?"


"Apaan sih, kakak Zeyn. Resek banget jadi kakak," jawab Alice sewot.


Dan setelah itu, Alice langsung mengolesi roti tawarnya dengan selai bluberry kesukaannya.


"Tapi kok pipi kamu seperti mau meledak," goda Zeyn lagi sambil mencubit pipi chubby Alice.


"Apaan sih, kakak Zeyn. Sakit tahu, kakak. Mami, lihatlah kakak Zeyn." Alice merengek di depan ibunya.


Melihat kelakuan Zeyn dan Alice membuat Tasma dan Felix tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Zeyn, sudah hentikan. Jangan menggoda adik perempuanmu terus. Apa kamu nggak lihat tuh pipinya sudah memerah. Nanti jika meledak beneran, bisa bahaya."


Mendengar perkataan dari ibunya. Seketika Zeyn tertawa. Dan disusul oleh Felix dan Jayden. Mereka tertawa bersama.


Sementara Alice seketika mempoutkan bibirnya kesal akan perkataan ibunya.


Niat dirinya merengek di hadapan ibunya agar kakak laki-lakinya itu dimarahi. Tapi berbanding terbalik. Justru ibunya itu ikut menggodanya.


"Kalian benar-benar menyebalkan," ucap Alice sembari memakan rotinya dengan kasar.


***


Di perusahaan ABR'Ham Grup terlihat seorang wanita paruh baya yang kini tengah duduk di kursi kebesarannya dengan menatap setumpuk berkas di atas meja kerjanya.


Wanita paruh baya itu adalah Liana Wilson.

__ADS_1


Liana saat ini tengah mengecek satu persatu berkas yang ada di atas meja sebelum dirinya menandatangani berkas-berkas itu.


Ketika Liana mengecek dan membaca isi dari berkas kelima. Seketika Liana tersenyum.


"Noberto Grup," ucap Liana ketika membaca nama perusahaan yang tertera disana.


Liana menekan nomor asistennya. Setelah terdengar suara, Liana pun langsung berbicara.


"Ke ruangan saya, sekarang!"


Setelah selesai, Liana pun mematikannya. Matanya kembali menatap berkas yang ada di hadapannya.


Tok!


Tok!


"Masuk!"


Cklek!


Mendengar suara pintu dibuka. Liana langsung melihat kearah pintu. Dan dapat dilihat oleh Liana, tangan kanannya melangkah masuk.


"Ada apa, bos?"


"Kamu kembalikan berkas ini kepada pemiliknya. Katakan kepadanya bahwa perusahan ABR'Ham Grup membatalkan kerja sama." Liana berbicara sambil memberikan map tersebut kepada asistennya.


"Baik, Bos."


Setelah itu, asistennya itu pergi jauh ruang kerja atasannya sembari membawa map tersebut.


"Aku tidak sudi bekerja sama dengan orang yang sudah menghina salah satu putriku," batin Liana.


"Kita lihat. Apa yang terjadi setelah ini?" batin Liana lagi.


***


"Ren," panggil Dzaky yang melangkah menuju ruang tengah bersama dengan ketiga sepupunya yaitu Daffa, Tristan dan Davian.


Mendengar namanya dipanggil, Darren langsung melihat ke asal suara. Dan dapat Darren lihat kakak laki-lakinya dan ketiga kakak sepupunya sudah duduk cantik di sofa.


"Nggak kuliah?" tanya Daffa yang melihat adik sepupunya masih berkutat dengan laptopnya.


"Kuliah. Tapi nanti sekitar pukul 11 siang. Ini baru pukul 9 pagi," jawab Darren.


"Kamu sedang apa sih?" tanya Davian.


Darren menatap satu persatu wajah keempat kakak-kakaknya itu.


"Aku sedang menyelidiki masalah perusahaan Papa satu tahun lalu yang saat itu masih dipegang oleh Manager Keuangan yang lama," jawab Darren.


"Apa kamu sudah mendapatkannya?" tanya Dzaky.


"Sebagian. Tinggal sebagian lagi. Nanti jika sudah mendapatkan semuanya. Aku akan bahas dengan Papa, kakak Davin dan kakak Andra." Darren berbicara dengan menatap wajah kakaknya itu.


Mendengar jawaban dari adik laki-lakinya itu, seketika Dzaky tersenyum. Dirinya benar-benar bangga akan kepintaran, kejeniusan dan tindakannya itu.


Ketika Darren tengah berbicara dengan kakaknya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Mendengar ponselnya berbunyi, Darren langsung mengalihkan perhatiannya menatap ke samping dimana ponselnya berada. Darren melihat nama 'Willy' di layar ponselnya itu.


Tanpa membuang waktu lama, Darren pun segera menjawab panggilan dari sahabatnya itu.


"Hallo, Wil?"


"Kau ada dimana sekarang?"

__ADS_1


"Di rumah. Kenapa?"


"Aku ada kabar untukmu."


"Baik atau buruk?"


"Menurutmu?"


"Sepertinya kabar baik."


"Ya, kau benar. Apa kau ingin tahu?"


"Katakan."


"Kau tahukan perusahan ABR'Ham Grup?"


"Iya. Itukan perusahaan milik bibi Liana. Kenapa memangnya?"


"Bibi Liana membatalkan kerja samanya dengan perusahaan Noberto Grup. Kau tahu perusahaan itu milik siapa?"


Mendengar perkataan dari Willy. Seketika Darren tersenyum.


"Iya, aku tahu perusahaan itu."


"Dan kau pasti sudah bisa menebak apa alasan bibi Liana tiba-tiba membatalkan kerja samanya dengan perusahaan Noberto?"


"Eemm. Hanya satu alasannya."


"Apa?"


"Pasti keluarga itu sudah mengusik keluarga bibi Liana."


"Ya, kau benar. Keluarga Noberto sudah mengusik keluarga bibi Liana. Aku dengar kemarin dari salah satu anak buah kita. Katanya keluarga itu mendatangi kediaman keluarga Wilson."


Mendengar ucapan dari Willy. Seketika Darren terkejut.


"Apa yang dilakukan keluarga itu terhadap bibi Liana dan keluarganya?"


"Mereka meminta bibi Liana untuk menyuruh Brenda menjauhimu. Mereka juga mengatakan bahwa Brenda telah merebutmu dan juga menggodamu sehingga membuatmu berpaling dari putrinya."


Mendengar perkataan dari Willy membuat Darren marah. Dirinya benar-benar tidak menyangka jika keluarga itu berani mengusik keluarga dari kekasihnya.


"Kalian sudah melampaui batas. Tunggu saja apa yang sedang mendatangi kalian," batin Darren.


"Apa hanya itu?"


"Eemm. Ada satu lagi."


"Apa?"


"Sebelumnya, nyonya Noberto juga telah mendatangi kampus dan bertemu dengan Brenda. Kau tahu sendiri apa yang terjadi?"


"Eemm... Iya!"


"Terus apa yang akan kau lakukan?"


"Untuk saat ini aku tidak akan melakukan apapun dulu."


"Maksud kamu?"


"Kita biarkan saja keluarga Brenda yang melakukannya. Pertama, bibi Liana sudah bertindak. Tinggal kita menunggu dari kakak Rangga dan kakak Barra. Bukankah mereka berdua yang memegang Perusahaan Paman Antonio yang ada disini?"


Mendengar perkataan dari Darren membuat Willy langsung paham.


"Aku mengerti. Ya, sudah kalau begitu! Aku tutup teleponnya."

__ADS_1


"Hm."


Setelah itu, baik Darren maupun Willy sama-sama mematikan panggilannya.


__ADS_2