
Darren tengah duduk di sofa ruang tengah. Darren tidak sendirian, melainkan bersama kedua orang tuanya, keenam kakak-kakaknya dan kelima adiknya.
"Ren," panggil Darka.
"Iya, kakak Darka."
"Apa kamu sudah mendapatkan identitas dari orang yang sudah mengadu domba kelompok kamu dengan kelompok Vagos?" tanya Darka.
"Belum. Masih dalam penyelidikan, kakak Darka."
"Semoga cepat ketahuan siapa orang itu," sahut Dzaky.
"Aku juga berharap begitu, kakak Dzaky!" Darren berucap.
"Jika nanti kamu dan yang lainnya sudah tahu tentang orang itu. Apa yang akan kamu lakukan, Ren?" tanya Gilang.
Gilang dan yang lainnya menatap wajah Darren. Begitu juga dengan Darren. Mereka saling memberikan tatapan.
"Hal pertama yang akan aku lakukan adalah aku akan menemui ketua geng motor Vagos. Aku akan memberitahu tentang orang itu kepadanya. Aku juga bakal nunjukin bukti kedia," jawab Darren.
"Alasannya?" tanya Adnan.
"Kakak Adnan tahu sendiri lah selama ini geng motor Vagos selalu mencari masalah dengan geng motorku. Ditambah lagi ketua dari geng motor Vagos menuduhku dan geng motorku yang telah membunuh ketua pertama mereka. Dengan aku memberitahu kebenaran itu kepada mereka. Setidaknya permusuhan selesai. Dan kemungkinan kita bisa kerjasama untuk membalas orang itu."
Mendengar penjelasan dari Darren membuat mereka semua menganggukkan kepalanya. Mereka membenarkan apa yang dikatakan Darren.
"Papa doakan semoga masalah cepat terselesaikan dengan baik," ucap Erland.
"Terima kasih, Papa!"
Setelah beberapa menit berkumpul bersama dengan anggota keluarganya. Darren memutuskan untuk ke kampus.
***
"Kalo sekali lagi gue liat lo bully dia. Lo habis sama gue?!" bentak Darren.
Darren dan ketujuh sahabatnya baru sampai di kampusnya. Setelah mereka memarkirkan motor sportnya. Mereka langsung melangkah menuju kelasnya.
Namun seketika langkah mereka terhenti ketika tiba di tengah lapangan. Darren dan ketujuh sahabatnya melihat seorang gadis berkaca mata tebal terduduk di lapangan dengan buku-buku yang berserakan. Serta keadaan gadis itu sedang menangis.
Melihat kejadian itu Darren pun menolong gadis tersebut.
__ADS_1
"Ampun-ampun , gue gak akan ganggu dia lagi kok."
Semua orang yang berada di tempat kejadian hanya asik menonton acara yang setiap harinya selalu heboh dan menggemparkan kampus ini.
Pembullyan.
Perkelahian.
Penyelamatan.
Banyak sekali kejadian yang selalu membuat kampus heboh.
Dimulai dari berita terkecil hingga berita terbesar yang viral di media sosial khusus Kampus National Jarman.
Sedetik tidak heboh. Jangan sebut mereka warga Kampus National Jerman. Tidak ada yang tidak akan membuat mereka diam. Mereka selalu update berita terkini setiap hari. Entah itu tentang pembullyan, aksi heroin sang penyelamat, atau aksi berantai perkelahian.
"Pergi sana! Kalo sampe gue liat muka lo lagi. Gue pastiin lo bakal digantung hidup-hidup di tiang listrik," ancam Dylan tegas dengan tangan tergerak mengambil ancang-ancang akan melempar sepatu kepada lelaki itu.
Gadis yang terbully masih setia menunduk sambil menangis. Dia merasa malu karena sudah dibuat jatuh oleh lelaki itu. Semua buku miliknya bahkan kini sudah tergeletak berantakan di tanah. Tidak ada satupun dari mereka di sana yang berniat untuk membantu, walau sekedar membereskan buku saja. Mereka hanya sibuk memotret dan mengabadikan kejadian itu lewat ponsel.
"Ayo, bangun! Jangan cengeng. Lo harus kuat. Lo anak baru ya?" tanya Axel mengulurkan tangan membantu gadis itu berdiri.
"Iya," jawabnya gadis sambil tertunduk takut.
"Oh iya! Satu lagi. Lo nggak usah takut dibully. Dan lo jangan lemah dan jangan pernah takut pada saat dibully. Harus lo lawan mereka. Ingat! Jangan pernah biarin siapa pun dari mereka semakin ngelunjak buat jatuhin harga diri lo. Lawan mereka selagi lo nggak salah. Kalau perlu bunuh mereka!"
Darren berbicara dengan penuh penekanan dan juga dengan suara yang mengintimidasi untuk orang-orang yang suka membully.
Sementara semua mahasiswa dan mahasiswi, terutama yang suka membully seketika merinding. Tubuh mereka bergetar ketakutan ketika mendengar ucapan dari Darren.
"Jika lo diam tanpa perlawanan. Maka mereka akan semakin menjadi-jadi. Cara buat bungkam mulut mereka dan cara buat menghentikan mereka adalah kita yang memberikan perlawanan. Balas setiap perlakuan mereka ke kamu. Mengerti!"
"Satu lagi! Lo nggak perlu takut jika ada yang ngelaporin lo ke polisi ketika lo berani membalas para pembully itu sampai mati," ucap Darren dengan menatap beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang berstatus tersangka pembullyan.
"Baik. Terima kasih!"
Setelah mengatakan itu, Darren dan ketujuh sahabatnya pergi untuk menuju kelasnya.
^^^
Brenda dan ketujuh sahabatnya berada di kelasnya. Mereka saat ini tengah membahas masalah Brenda yang pergi menyusul Darren dan ketujuh sahabatnya bertarung dengan kampus MifTa.
__ADS_1
"Lo nekad banget, Brenda!" ucap Vania.
"Iya, nih! Bahkan nih anak udah nipu kita yang bilang mau ke toilet," sahut Elsa kesal.
"Pasti Darren marah banget sama lo, Brenda! Gue yakin itu," ucap Tania.
Mendengar perkataan dari Tania. Mereka langsung menatap wajah Brenda.
"Apa benar yang dikatakan Tania, Brenda?" tanya Milly.
"Iya. Tania benar. Darren marah banget sama gue ketika melihat gue ada di tempat kejadian itu," jawab Brenda.
Seketika bayangan Darren yang marah ketika di rumah sakit berputar-putar di kepalanya.
"Jelaslah Darren marah sama lo. Secara lo itu pacarnya. Cowok mana sih yang rela dan bakal diam aja ketika melihat ceweknya disakiti bahkan ditampar di depan dia," ucap Felisa.
"Gue kalau diposisi Darren juga bakal ngelakuin hal itu," sela Lenny.
Brenda yang mendengar ucapan demi ucapan dari sahabatnya hanya bisa diam. Dirinya juga tidak berniat untuk protes atau sekedar membela diri.
Sejujurnya Brenda juga mengakui kesalahannya. Coba saja saat itu dirinya tidak nekad mengikuti Darren dan ketujuh sahabatnya, maka dirinya tidak akan disakiti dan juga ditampar. Bahkan dia juga tidak akan masuk rumah sakiti. Dan Darren juga tidak akan marah padanya.
Melihat keterdiaman Brenda membuat mereka semua menjadi tidak tega. Mereka pun akhirnya memeluk Brenda dengan tujuan memberikan ketenangan padanya.
"Maafkan kami."
"Kami tidak bermaksud untuk menyalahkan kamu."
"Kami seperti ini karena kami sayang sama kamu."
"Kamu jangan salah paham ke kita."
"Kita sayang kamu."
"Kamu sahabat kita."
"Dan kamu saudari kita."
Mendengar ucapan demi ucapan dari ketujuh sahabatnya membuat Brenda tersenyum penuh kebahagiaan. Dirinya benar-benar bahagia dan juga bersyukur memiliki sahabat seperti ketujuh sahabatnya ini.
Sama halnya hubungan persahabatan Darren dan ketujuh sahabatnya. Brenda dan ketujuh sahabatnya sudah terjalin sejak duduk di kelas 1 SMP hingga sekarang. Bahkan hubungan mereka makin kesini makin harmonis, langgeng, rukun, solid dan tulus.
__ADS_1
Selama mereka bersahabat jarang mereka bertengkar atau bermusuhan. Walaupun mereka pernah bertengkar, itu pun hanya setengah hari. Setelah itu mereka kembali bermaafan.
"Terima kasih atas semuanya. Aku juga menyayangi kalian," ucap Brenda.