
[Kampus]
Darren sudah berada di kampus. Saat ini Darren bersama ketujuh sahabatnya berada di perpustakaan.
"Kenapa telat?" tanya Axel.
"Nggak biasanya," ucap Jerry.
"Ada masalah di rumah," jawab Darren.
Mendengar jawaban dari Darren, ketujuh sahabatnya langsung menatap Darren dengan banyak pertanyaan di otak mereka masing-masing.
"Masalah apa, Ren?" tanya Qenan.
"Nggak ribut lagikan?" tanya Willy.
"Masalahnya nggak seriuskan?" tanya Jerry.
"Mereka nggak nyakitin kamu lagikan?" Axel.
"Mere...." perkataan Dylan terpotong karena Darren langsung bersuara.
"Semuanya baik-baik saja. Masalah yang aku maksud bukan keluargaku yang kembali menyakitiku. Ini masalah lain. Dan masalah itu terjadi di rumahku."
Darren menjawab pertanyaan dari keempat sahabatnya itu. Darren tahu bagaimana sikap sahabat-sahabatnya itu jika keluarganya kembali menyakitinya. Sahabat-sahabatnya itu begitu menyayanginya dan juga peduli padanya. Sahabat-sahabatnya itu tidak ingin dirinya terluka dan tersakiti lagi.
Mendengar jawaban dari Darren membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel merasakan kelegaan di hatinya. Mereka sempat khawatir dan takut jika sahabat kelincinya itu kembali tersakiti lagi.
"Sekarang, ceritakan pada kami. Masalahnya apa?" tanya Darel.
"Ada sepuluh orang datang ke rumahku pagi-pagi. Mereka marah-marah dan berteriak memanggil Adrian dan Mathew," ucap Darren.
"Memangnya mereka itu siapa? Dan kenapa mereka mencari Adrian dan Mathew?" tanya Rehan.
"Mereka orang tua dari teman-temannya Adrian dan Mathew di sekolah. Mereka datang mencari Adrian dan Mathew karena Adrian dan Mathew sudah membuat putra-putra mereka terbaring di rumah sakit," jawab Darren.
"Hah!" Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel terkejut.
"Pasti terjadi sesuatu nih. Adrian dan Mathew tidak akan menghajar teman-teman sekolahnya kalau tidak ada sebab," sahut Dylan.
"Hm." Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, dan Axel berdehem dan menganggukkan kepalanya.
"Apa Adrian dan Mathew sudah cerita, Ren?" tanya Jerry.
"Belum sempat. Karena kita semua pergi keluar untuk menemui para orang tua dari teman-teman sekolahnya Adrian dan Mathew. Beberapa menit kemudian, aku dapat kiriman video dari Vicky. Dari video itulah aku tahu pokok permasalahannya," jawab Darren.
"Boleh kita lihat videonya?" tanya Rehan.
Darren langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah itu, Darren memberikan ponselnya kepada Rehan.
Rehan mengambil ponselnya Darren. Kemudian membuka WhatsApp milik Darren. Dan disana terlihat pesan video masuk dari Vicky. Rehan kemudian menekan video tersebut.
Melihat video itu membuat Rehan, Qenan Willy, Darel, Jerry, Dylan dan Axel marah.
"Bisa-bisanya mereka bicara seperti kepada Adrian dan Mathew," ucap Axel.
"Ya, wajarlah jika Adrian dan Mathew marah. Secara mereka telah menghina ibu mereka," ujar Willy.
Setelah melihat video itu, Rehan mengembalikan ponsel Darren. Mereka semua menatap wajah Darren yang terlihat sedih saat ini.
"Ren," ucap Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel bersamaan.
"Aku pikir dengan Samuel berubah menjadi orang baik, Gustavo yang masuk penjara, hancurnya Helena dan keluarganya. Masalah tidak akan ada lagi menghampiri keluargaku. Tapi ternyata aku salah." Darren berbicara dengan suara yang terdengar lirih.
__ADS_1
"Kamu yang sabar ya. Kamu nggak sendiri. Ada kita-kita di samping kamu," ucap Qenan.
"Ya, Ren! Kamu nggak sendiri. Ada kita-kita di samping kamu," sela Darel.
"Aku nggak masalah jika aku harus menghadapi setiap masalah yang datang. Dengan adanya masalah, itu akan membuat kita semakin kuat dan semangat menjalani kehidupan. Bagaimana pun selama kita hidup, masalah tidak akan pernah berhenti menghampiri kita. Yang membuat aku bingung dan menjadi beban pikiran, kenapa orang-orang diluar sana selalu saja mengusik kedua orang tuaku, terutama Mama Agneta. Bahkan mereka menyebut Mama Agneta sebagai biang hancurnya rumah tangga Papaku dan Mamaku."
TES!
Seketika air mata Darren jatuh membasahi wajahnya ketika mengingat bagaimana ibunya itu selalu disalahkan karena menikah dengan ayahnya yang tak lain adalah kakak iparnya sendiri.
Mendengar perkataan dari Darren membuat hati Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel sakit. Mereka juga menangis melihat Darren yang menangis.
Axel yang kebetulan duduk di dekat Darren langsung menepuk pelan bahunya dan juga mengusap-ngusap pelan bahunya itu.
"Masalah video itu, kamu jangan pernah memikirkannya. Lupakan saja. Orang-orang diluar sana hanya iri dengan keluargamu. Keluargamu keluarga baik-baik, keluarga terpandang, keluarga terhormat dan keluarga yang penuh dengan kebahagiaan. Sementara mereka, siapa tahu keluarga mereka tak seperti keluarga kamu." Willy berbicara sembari menghibur Darren.
"Apa yang dikatakan oleh Willy benar, Ren? Jadi lupakan para sampah-sampah itu. Jangan dipikirkan lagi," hibur Dylan.
"Sudahlah. Kenapa kita membahas para sampah-sampah itu? Bukankah kita ke perpustakaan untuk membahas masalah kegiatan organisasi kampus kita!" seru Darel yang mengalihkan pikiran Darren.
"Ach, iya! Kita kesini kan ingin memberikan apa yang lo minta kemarin, Ren!" seru Rehan.
Mendengar perkataan dari sahabat-sahabatnya. Seketika Darren tersenyum.
Setelah itu, mereka pun memulai membahas kegiatan organisasi kampusnya. Untuk saat ini mereka tengah menata nama-nama mahasiswa dan mahasiswi dari daftar nama yang sudah dibuat oleh Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel.
Ketika Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel sedang fokus dengan diskusinya. Brenda dan ketujuh sahabatnya datang.
"Maaf, kita terlambat!" seru Brenda.
Mendengar suara Brenda. Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel langsung melihat kearah Brenda dan ketujuh sahabatnya.
"Yah! Siperusak suasana datang," sahut Willy.
"Para spesies pengganggu datang," ucap Qenan.
Baik Qenan maupun Willy dan Dylan berbicara sembari matanya fokus menatap layar laptop masing-masing.
Semenyara Brenda dan ketujuh sahabatnya mendengus kesal mendengar perkataan dari Qenan, Willy dan Dylan.
Bagaimana dengan Darren, Axel, Jerry, Rehan dan Darel hanya tersenyum mendengar perkataan dari Qenan, Willy dan Dylan. Serta melihat wajah kesal Brenda dan ketujuh sahabatnya.
Brenda dan ketujuh sahabatnya langsung menduduki pantatnya di bangku yang kosong. Sedangkan Brenda duduk di samping bebebnya.
"Sebentar lagi bakalan ada drama romance dari pasangan bucin," batin Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel.
Brenda melihat ke samping sekedar untuk menatap wajah kekasihnya. Namun seketika Brenda terkejut ketika melihat ada sisa air mata di wajah Darren.
Brenda langsung melihat kearah Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel. Brenda memberikan tatapan yang dibuat semengerikan mungkin agar Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel takut padanya.
"Yak! Kalian apakan bebeb gue, hah?!" teriak Brenda.
"Mulai deh," batin Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel.
"Kita nggak ngapa-ngapain bebeb lo, nyet!" seru Dylan.
"Nggak usah norak deh, nenek peyot!" seru Willy.
"Ini bukan di hutan. Ini perpustakaan. Nggak usah teriak-teriak," ucap Qenan.
"Nggak usah drama lu," ucap Axel.
"Diam dan pasang telinga. Sudah cukup!" ucap Jerry.
__ADS_1
"Ketika tiba giliran ditanya. Baru lo boleh buka mulut. Begitu juga dengan para anak bebek lo itu," ucap Rehan.
"Hm." Darel berdehem sambil menganggukkan kepalanya setuju dengan perkataan Rehan.
Darren hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala ketika mendengar ucapan demi ucapan Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel yang ditujukan untuk Brenda dan ketujuh sahabatnya.
Sementara Brenda dan ketujuh sahabatnya mengumpat kesal mendengar perkataan dari Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel.
Brenda ingin menjawab perkataan dari sahabat-sahabatnya Darren. Dirinya tak terima dikeroyok. Brenda benar-benar kesal saat ini.
Ketika Brenda ingin membuka mulutnya hendak meneriaki Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel. Darren dengan sigap langsung membekap mulutnya Brenda.
Brenda yang melihat Darren tiba-tiba membekap mulutnya seketika membelalakkan matanya.
Brenda menatap wajah Darren dengan matanya yang melotot. Darren melihat itu tak kalah memberikan pelototannya kepada Brenda.
Brenda seketika langsung ciut ketika melihat Darren yang melotot padanya.
"Aku lepasin. Tapi kamu diem dan duduk tenang. Bisa?"
Brenda langsung mengangguk-anggukan kepalanya patuh.
Melihat kepatuhan dari Brenda. Darren tersenyum. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan, Axel, Alice, Elsa, Lenny, Felisa, Tania, Milly dan Vania.
Setelah itu, Darren melepaskan bekapan mulut Brenda. Dan kembali pada topik awal.
***
[Di Rumah Darren]
Adrian dan Mathew di rumah bersama ibu, ayahnya dan kedua kakaknya yaitu Davin dan Andra. Baik Erland, Agneta maupun Davin dan Andra masih berada di rumah. Sekitar pukul 10 nanti Agneta, Erland, Davin dan Andra pergi ke tempat kerja mereka masing-masing. Agneta akan pergi ke toko perhiasan miliknya untuk mengecek para karyawannya. Sementara Erland, Davin dan Andra akan pergi ke perusahaannya.
Kini Erland, Agneta, Davin, Andra, Adrian dan Mathew sedang berada di ruang tengah.
"Adrian, Mathew. Katakan pada Papa. Apa yang terjadi? Walaupun kakak Darren kamu sudah tahu. Papa, Mama dan kedua kakak kalian berhak tahu," ucap dan tanya Erland.
Adrian dan Mathew saling lirik. Sejujurnya mereka tidak ingin membahas masalah ini kepada kedua orang tuanya. Ditambah lagi, beberapa jam yang lalu, Darren mengirim pesan kepada keduanya untuk tidak membahas masalah itu didepan kedua orang tuanya.
Melihat keterdiaman Adrian dan Mathew membuat Erland, Agneta, Davin dan Andra menyakini bahwa mereka mendapatkan masalah besar sehingga kedua nekat menyakiti teman sekolahnya.
"Maafkan kami Papa, Mama. Bukan Adrian tidak mau cerita. Tapi Adrian dan Mathew sudah dilarang sama kakak Darren untuk tidak menceritakan kepada Papa dan Mama. Apalagi sama Mama," ucap Adrian.
"Kenapa sayang? Kenapa kakak Darren kalian itu melarang kalian untuk cerita?" tanya Agneta.
"Itu... Itu juga demi kebaikan Mama. Jika nanti Mama tahu. Pasti Mama bakal syok," jawab Mathew.
"Bukan hanya syok. Mama juga bakal tertekan. Bahkan Mama bakal nyalahin diri Mama sendiri. Dan berakhir kita semua akan sedih," ucap Adrian.
"Jadi aku mohon. Mama dan juga Papa jangan paksa kami untuk cerita," ucap Adrian lagi.
"Percayalah! Ini demi kebaikan kita semua, terutama Mama," ucap Mathew.
Mathew langsung memeluk tubuh ibunya dengan erat. "Kita semua sayang sama Mama. Apalagi kakak Darren. Jadi aku mohon sama Mama. Lupakan masalah yang terjadi padaku dan kakak Adrian dengan para orang tua dari teman-teman sekolah kami. Mama nggak perlu tahu. Lakukan demi kakak Darren," sahut Mathew.
Mendengar perkataan Mathew, Agneta tersenyum dan juga bangga. Agneta memeluk erat tubuh putra keduanya itu.
"Baiklah sayang. Mama tidak akan tanya-tanya lagi," ucap Agneta.
"Semuanya akan baik-baik saja selama kita selalu bersama-sama," ucap Mathew.
"Ya, sayang. Kamu benar. Selama kita selalu bersama-sama. Masalah apapun pasti bisa kita hadapi," jawab Agneta. Dan setelah itu, Agneta memberikan ciuman di pucuk kepala putranya itu.
Sementara Erland, Davin dan Andra tersenyum mendengar perkataan bijak kedua putra/adik laki-lakinya dengan istrinya/ibunya.
__ADS_1