
Satu bulan telah berlalu. Sejak kejadian dimana Erland yang tidak mengingat putra kesayangannya yaitu Darrendra Smith, sejak perdebatan antara Darren dan keenam kakaknya, kelima kakak mafianya, ketujuh sahabatnya beserta anggota keluargannya hingga berakhir munculnya sosok lain dalam diri Darren yaitu Rendra. Sejak itulah Darren menghilang begitu saja.
Kelima kakak mafianya, ketujuh sahabatnya beserta anggota keluarganya, keenam kakaknya. Bahkan anggota keluarga Radmilo mengerahkan orang-orangnya untuk mencari keberadaan Darren.
Namun pencarian mereka semua membuahkan kegagalan. Tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil menemukan keberadaan Darren. Bahkan mereka juga tidak bisa melacak keberadaan Darren sama sekali. Darren bak hilang ditelan bumi.
Baik keenam kakaknya, ketiga saudara sepupunya, Paman dan Bibinya maupun kelima kakak mafianya, ketujuh sahabatnya beserta anggota keluarganya dan anggota keluarga Radmilo sangat mengkhawatirkan Darren. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Darren. Apalagi saat ini Darren dalam kuasanya Rendra.
Saat ini keenam kakaknya, ketiga saudara sepupunya, kelima kakak mafianya, ketujuh sahabatnya beserta anggota keluarganya dan anggota keluarga Radmilo berada di rumah milik Darren. Untuk Agneta, kelima putranya, Evan, Carissa dan ketiga putranya berada di rumah menjaga Erland.
"Ini sudah satu bulan Darren menghilang. Dan kita semua tidak ada yang tahu dimana dia sekarang," ucapĀ Qenan dengan wajah sedihnya.
"Kita harus cari dimana lagi? Semua tempat yang Darren kunjungi sudah kita datangi. Tapi tetap saja kita tidak menemukan keberadaan Darren," ucap Rehan.
"Darren, kamu dimana? Pulanglah! Kakak merindukan kamu," batin Darka.
"Darren, sayang!" batin Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang.
"Aku takut hal yang tidak diinginkan terjadi. Apalagi saat ini tubuh Darren diambil alih oleh sosok Rendra. Dia sangat kejam terhadap musuh-musuhnya. Tidak ada kata maaf untuk orang yang sudah berani mengusiknya," ucap Jerry.
"Kini Darren dan Rendra telah bersatu, maka bisa dipastikan siapa saja yang mencari masalah dengan mereka. Mereka semua akan mati," pungkas Darel.
"Apa separah itu, nak Darel?" tanya Robert, kakeknya Elzaro.
"Iya, kakek Robert! Apa yang tidak pernah dilakukan oleh Darren, maka sosok Rendra akan melakukannya. Apa yang tidak disukai oleh Darren, maka itu yang disukai oleh sosok Rendra." Darel menjelaskan sedikit mengenai sosok Rendra.
"Selama ini sosok Rendra jarang muncul. Sekarang dia sudah muncul dan pasti akan melakukan apa yang dia inginkan selama ini," pungkas Dylan.
Mereka semua terdiam dengan pikiran yang kalut dan juga khawatir. Mereka semua memikirkan Darren. Mereka semua mengkhawatirkan Darren.
"Oh iya! Aku baru menyadari sesuatu!" seru Enzo.
Mendengar seruan dari Enzo. Mereka semua melihat kearah Enzo. Mereka penasaran akan perkataan Enzo barusan.
"Apa itu Enzo? Katakanlah," sahut Dellano.
"Menurutku ini sedikit aneh dimana Paman Erland yang melupakan Darren. Sementara untuk Bibi Agneta dan putra-putranya yang lainnya, Paman Erland mengingat semuanya. Darren, Bibi Carissa, Paman Evan dan ketiga keponakannya justru dilupakan oleh Papa Erland."
"Atau jangan-jangan orang itu sudah memanipulasi semuanya di hadapan Paman Erland," sela Noe.
"Maksudnya?" tanya mereka semua secara bersamaan.
"Begini, pertama kali yang menemukan lokasi jatuhnya pesawat yang ditumpangi oleh Paman Erland adalah Paman David. Setelah itu Paman David memberitahu kepada yang lainnya. Dan berakhir membahasnya kepada kami. Dari sanalah kami mulai melakukan pencarian terhadap Paman Erland." Noe berucap sembari menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya.
"Kami mengutus masing-masing dua tangan kanan kami dan beberapa anggota mafioso untuk pergi ke lokasi itu. Hasilnya, mereka berhasil menemukan keberadaan Paman Erland. Namun sayangnya, ketika mereka tiba ditempat dimana Paman Erland berada. Tempat itu kosong. Orang itu dan orang-orangnya membawa pergi Paman Erland. Dan kemungkinan besar, orang itu merencanakan sesuatu untuk memulai permainannya." Devian ikut bersuara.
"Kecurigaanku disini adalah kemungkinan orang itu sudah mengatakan sesuatu kepada Paman Erland tentang siapa saja anggota keluargannya. Secara Paman Erland dalam kondisi Amnesia," sela Enzo.
"Kalau misalkan orang itu benar mengatakan siapa saja anggota keluarga dari Erland. Seharusnya Erland mengingat semua anggota keluarganya. Namun justru sebaliknya, Erland melupakan Darren, Carissa, Evan, Daffa, Tristan, dan Davian. Satu putra dilupakan oleh Erland," sahut Eric.
"Nah, itu dia yang membuatku menyadari keanehan terhadap Amnesia nya Paman Erland. Aku berpikir bahwa orang itu hanya memberitahu kepada Paman Erland tentang Bibi Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan, dan Melvin. Sementara yang lainnya tidak. Termasuk Darren. Dan kemungkinan kecurigaanku bahwa orang itu menyebut nama-nama anggota keluarga Smith kepada Paman Erland disertai sebuah foto keluarga. Dan di dalam foto itu tidak ada Darren, Bibi Carissa, Paman Evan, Carissa, Daffa, Tristan dan Davian."
Mendengar ucapan dari Enzo membuat mereka semua langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka semua baru menyadari akan hal itu.
"Terus apa maksud dari perkataan Erland yang mengatakan bahwa dia tidak melupakan Darren. Bahkan Erland mengatakan bahwa Darren berada di Amerika," ucap dan tanya Dario.
"Mungkin orang itu sudah memperlihatkan foto seorang pemuda kepada Paman Erland dan mengatakan bahwa pemuda itu adalah Darren," jawab Chico.
Mendengar jawaban dari Chico membuat Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, dan Darka marah.
"Brengsek! Berani sekali dia menipu Papa. Dan membuat adikku dilupakan," ucap Darka dengan tatapan amarahnya.
"Darka," ucap Adnan yang langsung memeluk tubuh adiknya itu.
"Ziggy, Chico, Enzo, Noe, Devian! Apa kalian tahu siapa orang itu?" tanya Hendy.
"Kami belum tahu. Tapi kami mencurigai satu orang yang menjadi dalangnya," jawab Devian.
__ADS_1
"Siapa?" tanya mereka semua bersamaan.
"Rolando Santa!" Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico menjawab bersamaan pula.
Mendengar jawaban kompak dari kelima kakak mafianya membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, dan Darel terkejut. Mereka langsung menatap kearah Ziggy, Enzo, Devian, Noe dan Chico.
"Apa itu itu benar?" tanya Willy, Qenan dan Axel bersamaan.
"Apa bajingan itu dalangnya?" tanya Dylan, Jerry, Rehan, dan Darel bersamaan.
"Awal mula kami mulai mencurigai kalau orang itu adalah Rolando Santa adalah ketika kami melihat kiriman video dari salah satu anggota Justin. Ada dua kiriman video, salah satunya adalah video penyelamatan Paman Erland. Dari video itu kamu melihat seorang pemuda memakai masker. Hanya dia sendiri yang memakai masker. Kami menatap tepat di matanya. Dan dari sanalah kami mencurigai bahwa dia adalah Rolando Santa!" Noe berucap panjang lebar.
"Jika benar dia adalah Rolando Santa, maka bisa dipastikan akan terjadi perang lagi. Dan kemungkinan besar perang kali ini berbeda dengan perang ketika melawan Samuel," sahut Jerry.
Ketika mereka tengah membahas masalah Rolando Santa dan tengah memikirkan Darren, tiba-tiba ponsel milik Enzo berbunyi.
Enzo yang mendengar suara ponselnya langsung mengambil ponselnya itu di dalam saku celananya.
Enzo melihat nama 'Jason' di layar ponselnya. Tanpa membuang waktu lagi, Enzo langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Jason. Informasi apa yang ingin kau sampaikan padaku?"
"King, saya sudah menemukan keberadaan tuan Darren!"
"Benarkah? Dimana dia sekarang?"
"Tuan Darren saat ini berada di Bar yang terkenal di Jerman. Dan kondisi benar-benar tidak baik saat ini."
"Baiklah. Aku dan yang lainnya akan kesana. Kau awasi dia. Jangan sampai dia hilang lagi."
"Baik, King!"
Setelah itu, Enzo langsung mematikan panggilannya. Dirinya bisa sedikit tersenyum karena salah satu tangan kanannya berhasil menemukan keberadaan Darren.
"Enzo, ada apa?"
Mendengar jawaban dari Enzo membuat mereka semua tersenyum bahagia, terutama Davin dan kelima adik laki-lakinya.
"Ya, sudah. Tunggu apa lagi. Buruan kita kesana jemput Darren!" seru Dylan.
Dylan langsung berdiri dari duduknya dan diikuti oleh Qenan, Willy, Axel, Jerry, Rehan dan Darel.
Dan detik kemudian disusul oleh Ziggy, Devian, Enzo, Chico dan Noe.
"Kami ikut!" seru Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, dan, Darka.
"Maaf jika tersinggung. Ada baiknya untuk kalian tidak usah ikut," sela Chico.
"Kenapa? Kami juga ingin melihat adik kami. Kami sudah sangat merindukannya," ucap Gilang tak terima.
"Apa yang dikatakan oleh Chico benar. Lebih baik kalian disini saja bersama para orang tua dari sahabat-sahabatnya Darren dan anggota keluarga Radmilo. Jika kalian ikuti bersama kami itu akan menambah keadaan menjadi makin buruk. Disini Darren belum mau bertemu dengan kalian semua. Secara Darren saat ini masih bersedih. Orang yang begitu dia hormati, dia sayangi dan menjadi penguat hidupnya melupakan dia. Dia ingin marah, dia ingin protes. Tapi tidak bisa. Jika Darren melihat kalian, pasti Darren akan meluapkan kekecewaan dan kesedihannya kepada kalian. Kalian tidak mau hal itu terjadi, kan?"
Ziggy berbicara dengan lembut sembari memberikan nasehat kepada keenam kakaknya Darren.
"Paman setuju apa yang dikatakan oleh Chico dan Ziggy. Kalian disini saja, tidak usah ikut. Biarkan saja Ziggy, Noe, Enzo, dan Devian serta ketujuh sahabatnya Darren yang pergi." Aldez bersuara.
"Kami juga setujui dengan Chico dan Ziggy. Kalian disini saja bersama kami," ucap Gerald.
"Baiklah. Kami akan tetap disini. Tapi tolong, bawa pulang adikku." Davin menangis ketika mengatakan itu di hadapan kelima kakak-kakak mafia Darren dan ketujuh sahabatnya Darren.
"Kami akan membawa Darren pulang. Bagaimana Darren juga adik kami. Kami semua menyayanginya," sahut Noe.
Setelah mengatakan itu, mereka pun pergi meninggalkan rumah mewah milik Darren untuk menuju Bar yang dikunjungi oleh Darren.
***
Jason masih terus mengawasi Darren yang saat ini tengah berada di kursi Bar. Di hadapannya sudah tersusun dua puluh botol minuman beralkohol yang tandas.
__ADS_1
Jason menatap khawatir kearah Darren yang saat ini tampak tidak baik-baik saja. Di tambah lagi wajah Darren yang benar-benar pucat.
Jason berada tak jauh dari Darren. Dan pandangannya tak pernah lepas dan selalu memperhatikan Darren.
Sementara untuk para anggotanya berada di luar sembari berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Darren pergi.
"Bos," sapa para anggota Jason yang berada di luar.
"Mana Jason?" tanya Enzo.
"Bos Jason ada di dalam mengawasi tuan Darren, Bos!"
"Baiklah."
Setelah itu, Enzo dan yang lainnya masuk ke dalam Bar. Ini adalah untuk pertama kalinya mereka menginjakkan kakinya memasuki sebuah Bar.
Mereka semua terus melangkah memasuki Bar. Banyak pasang mata yang menatap kearah mereka. Namun mereka hanya bersifat acuh dan cuek. Yang ada di pikiran mereka saat ini adalah Darren. Dan mereka ingin segera membawa pergi Darren dari tempat laknat ini.
"Itu kakak Jason!" seru Dylan menunjuk kearah Jason berada.
Mendengar seruan dari Dylan mereka langsung melihat kearah tunjuk Dylan.
Dan mereka semua pun melangkah menghampiri Jason yang saat ini masih terus memperhatikan Darren.
"Jason," panggil Enzo.
"Bos, anda sudah datang."
Ziggy, Noe, Enzo, dan Devian menatap sedih kearah Darren. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel Dylan Jerry Rehan dan Darel.
"Ren," lirih Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, dan Darel bersamaan.
"Itu Darren apa sosok Rendra?" tanya Rehan.
Ketika mereka tengah sibuk memikirkan apakah yang di hadapan mereka itu Darren atau sosok Rendra? Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan ucapan Darren.
"Papa."
Mendengar ucapan dari Darren membuat mereka semua tersenyum. Dan pada akhirnya, jawaban dari pertanyaan mereka barusan terjawab sudah.
Setelah itu, mereka menghampiri Darren yang saat ini dalam pengaruh alkohol. Mereka dapat melihat wajah Darren yang benar-benar pucat.
"Papa," ucap Darren lagi.
Mereka semua menangis melihat kondisi Darren saat ini. Hati mereka benar-benar hancur.
"Ren, kita pulang yuk!" Axel menyentuh kepala Darren.
Darren seketika membuka kedua matanya dan menatap wajah Axel yang saat ini duduk di hadapannya.
"Pergi. Jangan ganggu gue!"
Mendapatkan penolakan dari Darren membuat hati Axel sakit. Namun Axel tidak marah. Justru Axel mengerti keadaan Darren saat ini.
Darren beranjak dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan Axel dan yang lainnya.
Namun ketika kakinya hendak menginjak lantai, tiba-tiba tubuhnya jatuh dan untungnya Ziggy dan Enzo yang berdiri didekat Darren langsung menahan tubuhnya.
Ziggy dan Enzo seketika membelalakkan matanya ketika merasakan hawa panas di sekujur tubuh Darren.
"Suhu badan Darren panas sekali!" seru Enzo.
Dan detik kemudian, Darren tak sadarkan diri dalam dekapan Enzo dan Ziggy.
"Darren!" teriak mereka semua.
"Lebih baik kita pulang sekarang!" seru Noe.
__ADS_1
Setelah itu, mereka semua pergi meninggalkan Bar itu untuk menuju rumah milik Darren. Mereka saat ini benar-benar khawatir akan kondisi Darren. Di tambah lagi suhu badan Darren begitu panas. Panasnya dibatas normal.