KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Ancaman Elzaro


__ADS_3

Keesokkan paginya Darren sudah berada di kampus. Darren pergi ke kampus bersama Gilang dengan menggunakan mobil milik Gilang.


Sejak malam dimana Darren dan anggota keluarga Smith mendapatkan kabar tentang Darka yang masuk ke rumah sakit akibat di tusuk oleh orang yang tidak dikenal dan berakhir jantung Darren yang sempat kambuh.


Sejak malam itulah membuat Gilang tidak memberikan izin Darren membawa kendaraan sendiri.


Kini Darren berada di kantin bersama dengan ketujuh sahabatnya. Setiap pagi mereka selalu ke kantin sebelum masuk ke kelas.


"Aku dengar dari Elzaro kalau kakak Darka masuk rumah sakit tadi malam!" seru Axel menatap wajah Darren.


"Iya," jawab Darren singkat.


"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Jerry.


"Kakak Darka udah melewati masa kritisnya karena mendapatkan tiga kantong darah dari kakak Davin, kakak Andra dan kakak Dzaky."


Mendengar jawaban dari Darren membuat Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Jerry dan Axel terkejut.


"Separah itukah?" tanya Willy.


"Luka tusuk yang dialami kakak Darka sangat dalam. Dan sedikit terlambat ketika dibawa ke rumah sakit sehingga kakak Darka kehilangan banyak darah," jawab Darren dengan wajah sedihnya.


Darren memikirkan perkataan dari Enzo yang mengatakan bahwa ayah dan kedua kakak laki-laki Kathy yang telah membayar pria-pria itu untuk melukai Darka. Mereka melakukan hal itu karena tidak terima atas apa yang dilakukan oleh Darren dan ketujuh sahabatnya


Darren dan ketujuh sahabatnya mendatangi kediaman keluarga Kathy dan memberikan ancaman kepada Kathy. Hal itulah yang membuat ayah dan kedua kakak laki-laki Kathy marah.


Darren mengepalkan kuat tangannya ketika teringat pembicaraannya dengan Enzo di telepon tadi malam.


Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Jerry dan Axel melihat kearah tangan Darren. Mereka melihat Darren yang mengepal kuat tangannya.


Bukan hanya tangannya saja yang mengepal. Namun tatapan mata Darren tersirat amarah yang begitu besar. Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Jerry dan Axel meyakini jika mengetahui pelaku penusukkan itu.


"Tunggu pembalasan dariku, Kathy! Aku akan menghancurkanmu dan seluruh anggota keluargamu. Keluargamu sudah berani mengusik keluargaku," batin Darren.


Tidak tahan melihat Darren yang masih melamun. Rehan pun langsung menepuk pelan bahu Darren untuk menyadarkan lamunannya.


Mendapatkan pukulan pelan di bahunya membuat Darren tersadar. Darren menatap satu persatu wajah ketujuh sahabatnya. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya yang juga menatapnya.


"Ada apa?" tanya Dylan.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Darel.


"Banyak yang aku pikirkan. Salah satunya ulang tahun perusahaan Accenture! Acaranya dua hari lagi," ucap Darren.


"Bukannya semuanya sudah dipersiapkan?" tanya Qenan.


"Dan kita hanya menunggu waktu acara itu tiba," sela Willy.


"Itulah masalah yang sedang aku pikirkan Willy," ujar Darren menatap sendu wajah Willy.


"Kenapa? Apa ada yang terlewatkan?" tanya Willy.


"Kakak Darka," jawab Darren.


"Kakak Darka!" seru Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Jerry dan Axel bersamaan.


"Di acara ulang tahun perusahaan Accenture kita mengundang banya kolega-kolega bisnis. Termasuk keluargaku dan juga keluarga kalian."

__ADS_1


"Iya, terus?" tanya Jerry, Axel dan Dylan.


"Letak masalahnya dimana?" tanya Qenan, Willy, Rehan dan Darel bersamaan.


"Kakak Darka tidak akan bisa menghadiri acara ulang tahun perusahaan Accenture."


Mendengar ucapan dari Darren seketika membuat Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Jerry dan Axel paham.


"Kenapa harus ada kejadian seperti ini? Dan kenapa kejadiannya terjadi tepat tiga hari lagi acara ulang tahun perusahaan Accenture?"


"Ini bukan pertama kalinya seperti ini. Dulu ketika kita akan mengadakan touring. Lusa kita akan berangkat, hari Seninnya kakak Darka dan Melvin mengalami musibah penusukkan sehingga berakhir aku pergi meninggalkan keluargaku. Dan acara touring kita gagal."


"Bukan itu saja," ucap Darren dengan tatapan matanya menatap ketujuh sahabatnya. "Apa kalian masih ingat ketika Papaku hilang beberapa hari. Tidak ada kabar sama sekali darinya?"


"Iya. Kami ingat!" seru Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Jerry dan Axel  bersamaan.


"Saat hilangnya Paman Erland. Disaat itu juga perusahaan kamu dan perusahaan milik kita diundang perusahaan besar di Amerika," ucap Rehan.


"Dan kita batal berangkat ke Amerika demi mencari Paman Erland," sela Darel.


"Awalnya hanya Darren saja yang batal berangkat. Sekali pun saat itu Darren tengah bermusuhan dengan keluarganya. Bagaimana pun Darren sangat menyayangi Paman Erland. Hanya Paman Erland orang tua kandungnya yang tersisa," sahut Jerry.


"Dikarenakan kita memiliki perasaan yang kuat, rasa setia kawan dan rasa peduli satu sama lain. Kita memutuskan untuk tidak jadi berangkat ke Amerika," tutur Axel.


"Masa kita bersenang-senang di Amerika. Sementara satu sahabat kita sedang menghadapi masalahnya sendiri," ucap Dylan.


"Huft" Darren menghembuskan nafas kasarnya.


Mendengar Darren yang menghembuskan nafas kasarnya membuat Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Jerry dan Axel menatap tak tega.


Darren langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya. Setelah ponselnya berada di tangannya. Darren melihat nama 'Kakak Enzo' di layar ponselnya.


Tanpa membuang-buang waktu, Darren langsung menjawab panggilan dari Enzo.


"Hallo, kakak Enzo."


"Hallo, Darren. Kakak sudah menangkap keluarga Kathy, termasuk dengan Kathy."


"Wah! Benarkah kakak Enzo?"


"Iya. Mereka ada di ruang penyiksaan. Penyiksaan akan dilakukan setelah kau dan ketujuh sahabatmu datang."


"Baiklah. Selesai urusan di kampus aku akan segera kesana."


"Baik. Kakak Enzo tunggu kalian di markas!"


Tutt!


Tutt!


Enzo langsung mematikan panggilan.


"Apa yang dikatakan Kakak Enzo?" tanya Qenan.


"Sepulang dari kampus. Kakak Enzo meminta kita datang ke markas," jawab Darren.


"Ada apa?" tanya Willy.

__ADS_1


Darren tersenyum. "Setiba disana kalian akan tahu sendiri."


Darren berdiri dari duduknya. "Lebih baik kita ke kelas. Sebentar lagi bell materi pertama berbunyi," sahut Darren.


Mendengar perkataan dari Darren. Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Jerry dan Axel langsung berdiri dari duduknya. Dan setelah itu, mereka pergi meninggalkan kantin untuk menuju kelas.


***


Dikediaman Radmilo terlihat ramai dimana seluruh anggota keluarga Radmilo tengah berkumpul di ruang keluarga.


Sepulang dari rumah sakit, Elzaro tampak bahagia. Senyuman itu tak pernah pudar di bibirnya. Bahkan anggota keluarganya terutama Atalaric, Mita, Danesh dan Nuel menatapnya dengan tatapan bingung.


Setelah mereka bertanya apa yang membuat seorang Elzaro tersenyum lepas. Akhirnya rasa penasaran mereka semua terbalaskan. Bahkan kini mereka tertular senyuman dari Elzaro.


"Lino, apa Alin sudah tahu kalau kamu kakak kembarnya?" tanya Chandra kepada sepupunya.


"Belum kakak Chandra," jawab Elzaro.


"Kenapa? Apa kamu tidak langsung memberitahu Alin?" tanya Robert sang kakek.


"Karena waktunya tidak tepat Kakek," jawab Elzaro.


"Kenapa?" tanya Nuel.


"Darka yang tak lain adalah kekasihnya Alin kena tusuk di perutnya," ucap Elzaro.


Mendengar penuturan dari Elzaro membuat semua anggota keluarga Radmilo terkejut.


"Kenapa bisa? Memangnya mereka ada dimana saat kejadian itu?" tanya Atalaric.


"Di Mall Papi. Darka dan Kathleen sedang berkencan malam itu. Dan pulangnya mereka membeli sedikit makanan dan beberapa barang. Namun setiba di parkiran, ada sekitar 12 pria datang menghampiri Darka dan Kathleen. Dan berakhir perkelahian itu. Darka lengah sehingga salah satu pria itu berhasil melukainya."


"Oh, Tuhan! Kasihan Darka," ucap Mita.


"Dan Kathleen pasti syok melihat orang yang dicintai terluka di depan matanya," ucap Damian.


"Paman Damian benar. Kathleen syok melihat Darka terluka. Bahkan Kathleen tidak berhenti menangis ketika sudah berada di rumah sakit." Elzaro berucap sembari membayangkan wajah syok dan wajah sedih Kathleen.


"Oh iya, Lino! Kalau kakak boleh tahu. Berasal dari keluarga mana kekasihnya Alin itu?" tanya Arkana.


Mendengar pertanyaan dari Arkana, kakak sepupu laki-laki tertuanya. Elzaro menatap lekat wajahnya.


"Kenapa kakak Arkana bertanya seperti itu? Apa kakak Arkana akan menentang hubungan Alin dan Darka jika Darka berasal dari keluarga miskin?" tanya Elzaro.


Arkana yang mendengar ucapan dari Elzaro hanya diam, namun matanya menatap wajah Elzaro.


"Jika kakak Arkana memiliki niat seperti itu, maka aku tidak akan membiarkan Alin kembali ke rumah ini. Bahkan aku akan pergi meninggalkan rumah ini dan tinggal bersama Alin," ucap Elzaro dengan penuh ancaman.


Mendengar ucapan dan juga ancaman dari Elzaro membuat semuanya terkejut. Mereka tidak menyangka jika Elzaro akan berbicara seperti itu.


"Lino," lirih Mita.


"Berlaku untuk kalian juga. Jangan coba-coba untuk memisahkan hubungan Darka dan Alin. Jika kalian memiliki niat seperti itu, maka aku yang akan berdiri di depan untuk membela mereka berdua."


Elzaro sengaja tidak memberitahu siapa Darka dan siapa keluarganya. Elzaro hanya ingin melihat bagaimana reaksi anggota keluarganya terhadap hubungan asmara Alin dan Darka. Apa keluarganya memberikan restu atau menentangnya.


Elzaro tahu bagaimana watak anggota keluarganya. Anggota keluarganya tidak ingin keturunan-keturunan dari keluarga Radmilo salah dalam pergaulan, salah memilih pasangan.

__ADS_1


__ADS_2