
[DI PERJALANAN]
Helena dalam perjalanan pulang ke rumah. Dirinya menggunakan mobil baru yang diberikan oleh Darren kepadanya. Saat ini Helena sangat bahagia karena rencananya berjalan lancar. Dirinya benar-benar tidak menyangka jika Darren akan memberikan sebuah mobil mewah yang selama ini jadi incarannya kepadanya secara cuma-cuma.
"Darren. Kau terlalu bodoh sehingga dengan mudahnya percaya padaku. Ini baru permulaan, Darrendra Smith. Kita lihat saja nanti, kau akan menuruti semua keinginanku." Helena berucap dengan penuh bangga dan percaya diri. Dan jangan lupa senyuman manisnya tercetak jelas di bibirnya.
Helena makin mempercepat laju mobilnya. Dia ingin segera sampai di rumah. Pikirannya saat ini tertuju pada ibunya. Dirinya benar-benar khawatir akan ibunya saat ini.
Beberapa meter lagi tiba ditikungan, Helena berlahan menginjak rem. namun sayangnya, rem tersebut tidak bisa diinjak sama sekali. Apa yang dirasakan oleh Darren saat diuji coba mobilnya, itu juga yang dirasakan oleh Helena. Helena benar-benar tidak bisa menginjak rem itu. Rem itu benar-benar keras, sementara mobil makin melaju kencang.
"Kenapa rem nya tidak bisa dipijak sama sekali? Bahkan rem benar-benar keras dan susah untuk diinjak. Apa yang terjadi?" gumam Helena.
Disisi lain, dimana Darren, Jerry, Axel dan Dylan sedang menonton Helena yang kini sedang berjuang menghadapi kematiannya. Ach, lebih tepatnya berjuang untuk meloloskan diri dari kematian. Mereka tersenyum puas saat menonton adegan tersebut. Bagi mereka tontonan itu adalah hal yang sangat menarik untuk dilewatkan.
Mobil yang dikendarai oleh Helena sudah dipasang kamera pengintai dan juga alat penyadap oleh Darren. Darren ingin menyaksikan adegan demi adegan saat Helena mengalami kecelakaan di jalan raya.
Helena berusaha untuk mengendalikan mobilnya, walau mobilnya melaju sangat cepat. Dia tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Dia berulang kali menginjak rem itu, namun hasilnya sama saja. Rem itu benar-benar keras.
"Aku tidak mau mati dengan cara seperti ini. Aku masih ingin hidup," ucap Helena.
Helena saat ini benar-benar ketakutan. Dirinya tidak ingin mati. Dirinya ingin selamat.
Ketika mobilnya telah mendekati tikungan, Helena kembali menginjak rem mobilnya. Dia berharap usaha terakhirnya kali ini membuahkan hasil. Namun sayangnya, dewi fortuna belum memihak padanya.
Sehingga.....
BRAAKKK
GEDEBAK
BAGH
BUGH
Mobil yang dikendarai oleh Helena terbalik saat di tikungan. Mobil itu menghantam tiang listrik sehingga membuat mobil itu hancur. Dan bisa dipastikan tubuh Helena terhimpit, terutama bagian kakinya.
***
[KEDIAMAN ORLANDO]
Riana Orlando saat ini hanya bisa menangis atas apa yang telah menimpa keluarganya. Suaminya yang ditikam dan sekarang dirinya mendapatkan kabar bahwa Perusahaan RM'Ol milik suaminya telah bangkrut. Suaminya terbukti bersalah atas beberapa kejahatan yang selama ini dilakukannya.
Mulai dari penipuan, penggelapan dan pencucian uang, korupsi dan penyuapan. Semuanya terbongkar dan diketahui oleh para pengusaha-pengusaha terkenal yang ada di beberapa negara dan juga beberapa kota besar.
Semua pemegang saham, para investor dan juga rekan kerjanya yang selama ini menjalin hubungan kerja sama dengan Perusahaannya memutuskan untuk menarik saham dan dana mereka dari Perusahaan RM'Ol. Mereka semua memutuskan kerja samanya. Mereka juga meminta ganti rugi yang sangat besar kepada Ramoz Orlando dengan jaminan rumah dan dua butik yang dimiliki oleh Riana Orlando.
Para pemegang saham dan para investor tersebut memberikan waktu selama enam bulan untuk mereka melunasi semuanya. Jika lewat dari enam bulan, maka keluarga Orlando akan ditendang dari rumah mewah yang mereka tempati dan juga dua Butik tersebut.
Niat awalnya, Darren meminta kepada kakak-kakak mafianya untuk menjatuhkan dan menghancurkan keluarga Orlando dengan cara menjebak atau memfitnahnya.
__ADS_1
Namun siapa sangka. Jika seorang Ramoz Orlando memang benar-benar melakukan hal itu semua untuk menaikkan ketenaran, kesuksesan dan kejayaannya dimata semua orang. Dewi fortuna memang memihak kepada Darren dan orang-orang terdekatnya.
"Kenapa semua ini terjadi pada keluargaku? Apa salah keluargaku? Ramoz, kenapa kau melakukan semua ini? Kau mendapatkan semua kekayaan dengan cara licik. Kau memberikan makan keluargamu dengan uang yang tidak halal," ucap Riana.
"Gara-gara perbuatanmu, dua butikku menjadi korbannya. Ramoz, aku benar-benar kecewa padamu." Riana berucap lirih dan juga menangis.
Riana mencoba menghubungi putrinya, Helena. Putrinya belum juga kembali setelah dirinya menghubunginya beberapa jam yang lalu.
Ketika Riana ingin menekan nama putrinya, tiba-tiba ponselnya terlebih dahulu berbunyi menandakan panggilan masuk.
Riana melihat nomor yang tidak dikenal di layar ponselnya. Riana yang penasaran langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo."
"Hallo, apa benar ini dari keluarga nona Helena?"
"Ya, benar. Saya ibunya. Anda siapa? Dan dari mana?"
"Begini, Nyonya. Saya dari rumah sakit PLADYS HOSPITAL ingin mengabari bahwa putri nyonya mengalami kecelakaan. Putri Nyonya saat ini berada di ruang operasi. Keadaan sangat tidak baik ketika dibawa ke rumah sakit."
Bagaimana dihantam palu besar, Riana begitu terkejut mendengar berita kecelakaan yang menimpa putrinya. Lagi-lagi air matanya mengalir membasahi wajah cantiknya.
"Baiklah. Saya akan segera kesana."
Setelah mengatakan hal itu, Riana pun mematikan panggilan tersebut.
***
[KEDIAMAN KELUARGA SMITH]
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Semua anggota keluarga Smith tengah berkumpul di ruang tengah. Erland, Davin dan Andra sedang mempersiapkan sebuah materi dan makalah untuk kerja sama besok pagi.
"Huufff." Erland tiba-tiba membuang nafasnya secara kasar sambil menghempaskan punggungnya kesandaran sofa.
Mereka semua melihat kearah Erland dan menatap wajah Erland khawatir.
Davin yang duduk di samping Ayahnya berusaha untuk menghiburnya.
"Papa, kenapa? Apa Papa masih takut akan kerja sama dan proyek besok?"
"Papa tidak tahu Davin. Tapi perasaan Papa benar-benar tidak enak saat Papa masih berada di kantor siang tadi," jawab Erland.
"Apa aku harus mengatakan pada putra-putraku masalah ini?" batin Erland.
Erland memikirkan kejadian di kantornya tadi siang saat dirinya baru pulang dari pertemuan dengan kliennya.
Melihat Erland yang melamun membuat Agneta, Davin dan adik-adiknya, Carissa, Evan dan ketiga putranya menjadi khawatir.
PUK
__ADS_1
"Papa." Davin menyadarkan sang Ayah dari lamunannya dengan memukul pelan bahunya.
"Ach, iya." Erland seketika terkejut.
"Ada apa, Papa? Kenapa Papa seperti ini? Jangan buat kami semua khawatir," ucap Andra.
"Jika ada masalah atau kakak Erland tengah memikirkan sesuatu, katakan pada kami. Jangan dipendam sendiri," sela Evan.
"Iya, Papa. Paman Evan benar. Ada apa? Katakan pada kami, Pa!" seru Dzaky.
"Tidak ada apa-apa. Papa baik-baik saja. Mungkin Papa hanya takut saja memikirkan kerja sama besok," jawab Erland.
Setelah mengatakan hal itu, Erland langsung berdiri dan pergi menuju kamarnya dan meninggalkan anggota keluarganya.
"Pasti ada yang Papa sembunyikan. Kalau tidak, Papa tidak akan seperti ini!" seru Adnan.
"Aku setuju dengan kakak Adnan. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Paman Erland," ucap Davian.
"Hanya ada satu orang yang bisa membuat Papa kalian mau bercerita." tiba-tiba Carissa bersuara.
"Kakak Darren!" seru Melvin.
"Iya. Melvin benar. Hanya Darren yang bisa membuat Papa kalian mau bercerita," ucap Carissa membenarkan ucapan Melvin.
"Ya, sudah! Aku akan menghubungi Darren!" seru Andra.
Mereka semua menatap Andra. Andra yang merasa ditatap pun kembali menatap anggota keluarganya.
"Apa?" tanya Andra.
"Apa kau yakin ingin ingin menghubungi Darren?" tanya Carissa sembari meledek Andra.
"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah jika aku menghubungi adikku sendiri," jawab Andra.
"Apa anda amnesia, saudara Diandra Smith. Anda dan saudara Darren itu belum berdamai. Status kalian saat ini masih antara tikus dan kucing. Kau tikusnya. Sementara Darren itu kucingnya. Setiap kalian bertemu pasti ada saja hawa panas disekitar kalian, ditambah lagi tatapan Darren saat melihatmu. Seakan-akan ingin mencakarmu dan memakanmu hidup-hidup," ucap Carissa dengan nada bicaranya mengejek Andra.
"Aish!" Andra benar-benar kesal mendengar ucapan dari Bibinya itu.
Mereka semua tersenyum gemas melihat wajah kesal Andra.
"Kak Davin. Hubungi Gilang atau Darka saja," usul Tristan.
"Baiklah," jawab Davin.
Davin lmengambil ponselnya. Setelah ponselnya di tangannya. Davin pun langsung menekan nama Darka.
"Jangan lupa di loundspeaker panggilannya, kak Davin!" seru Adnan.
"Hm." Davin menjawab dengan deheman dan anggukan kepala.
__ADS_1