
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Darren yang berada di kamarnya tengah bersiap-siap untuk keluar.
Malam ini Darren, ketujuh sabahatnya dan para kakak-kakak mafianya beserta para tangan kanannya kakak-kakak mafianya akan membuat kekacauan di Perusahaan utama keluarga Frederick. Perusahaan yang dibangun oleh ayahnya Samuel Frederick yaitu Delon Frederick
Mereka bagi tugas. Darren dan Qenan akan mendatangi Perusahaan utama keluarga Frederick. Darren akan dibantu oleh tangan kanannya Ziggy yaitu Caleb, Ruby, Tory, Billy dan Mark. Dan 20 anggotanya.
Willy dan Rehan akan mendatangi Perusahaan milik Samuel Frederick. Dan yang akan membantu dan melindungi mereka adalah tangan kanannya Enzo yaitu Justin, Tommy, Zee, Lian dan Jason. Dan 20 anggotanya.
Untuk Axel, Dylan, Jerry dan Darel akan menuju Perusahaan milik Gustavo Frederick, pamannya Samuel. Yang ikut dengan mereka adalah para tangan kanannya Devian yaitu Dorris, Marco, Carly, Leo dan Yohanes. Dan 20 anggotanya.
Rencana Darren, ketujuh sahabatnya dan para kakak-kakak mafianya malam ini adalah meretas semua sistem keamanan, data Perusahaan, data keuangan Perusahaan milik Samuel dan Perusahaan milik Gustavo.
Bukan itu saja. Baik Darren, ketujuh sahabatnya dan para kakak-kakak mafianya juga akan membuka semua tabir kecurangan yang dilakukan oleh Samuel dan Gustavo.
Setelah dirinya dalam keadaan rapi dan sudah siap. Darren pun keluar dari kamarnya. Darren menuruni anak tangga secara berlahan.
Ketika Darren tiba di bawah. Dirinya dikejutkan oleh kedua kakak tertuanya yaitu Davin dan Andra.
"Darren," panggil Davin dan Andra bersamaan.
Darren hanya menatap kedua kakaknya itu dengan dingin dan datar.
Darren melangkah melewati Davin dan Andra menuju pintu utama. Dirinya tidak peduli dengan kedua kakaknya itu.
"Darren. Kamu mau kemana?" tanya Davin.
"Ini sudah malam, Darren!" seru Andra.
Darren tidak mempedulikan pertanyaan dari Davin dan perkataan dari Andra. Kakinya tetap melangkah menuju pintu utama. Urusannya lebih penting dari pada meladeni dua makhluk yang tak ada hubungan dengannya. Itu menurutnya!
Melihat adiknya yang tidak menjawab pertanyaan darinya dan perkataan dari Andra membuat Davin langsung mengejarnya. Dan diikuti oleh Andra di belakang.
Davin berdiri menghalangi pintu utama sehingga Darren tidak bisa keluar. Darren yang melihat hal itu menatap tajam Davin. Darren benar-benar marah akan sikap Davin yang menghalangi jalannya.
"Minggir!" Darren berucap dengan kasar.
"Kakak tidak izinkan kamu keluar. Ini sudah malam, Ren! Kakak tidak ingin kamu sakit," sahut Davin.
"Kau bukan siapa-siapaku. Jadi jangan mencampuri urusanku. Sekarang minggir," jawab Darren dengan menatap tajam Davin.
TES!
Setetes air mata Davin jatuh membasahi wajah tampannya. Davin menangis ketika mendengar perkataan kejam dari adiknya.
"Darren. Sampai kapan kamu akan membenci kakak? Apa tidak ada kesempatan untuk kakak memperbaiki semuanya?" Davin menangis menatap wajahnya.
"Darren, ayolah! Jangan seperti ini. Kasih kami kesempatan untuk memperbaiki semuanya," sahut Andra.
Tangan Andra terangkat ingin menyentuh wajah tampan adiknya. Namun dengan gesitnya, Darren langsung menepis kasar tangan Andra.
"Jangan coba-coba menyentuhku," ucap Darren dingin.
Hati Andra benar sakit mendengar perkataan dari Darren. Dirinya tidak menyangka jika Darren akan berbicara seperti itu padanya.
__ADS_1
Darren menatap tajam Davin dan Andra. "Menjauhlah dari kehidupanku. Sejak kejadian dimana kalian memukulku, memakiku, membentakku, menuduhku dan menyebutku anak yang tak tahu diri. Dan ditambah lagi perlakuan kalian padaku setelah acara pameran lukisan itu selesai sehingga berakhir aku terbaring di rumah sakit selama beberapa hari. Semenjak itulah aku sudah menghapus kalian dalam hidupku. Kalian bukan lagi kakak-kakakku. Dan aku bukan lagi adik laki-laki kalian!"
DEG!
Davin dan Andra benar-benar terkejut dan syok mendengar penuturan dari Darren. Mereka tidak habis pikir jika adik mereka dengan kejamnya berucap hal seperti itu.
"Darren," lirih Davin dan Andra. Dan seketika air mata mereka jatuh membasahi wajah tampannya.
Sementara Darren sama sekali tidak peduli. Darren langsung mendorong tubuh Davin ke samping. Setelah itu, Darren membuka pintu rumah tersebut. Darren ingin segera pergi untuk menjalankan rencananya bersama ketujuh sahabatnya dan kelima kakak-kakak mafianya.
Setelah kepergian Darren. Tangis keduanya pecah. Baik Davin maupun Andra, hatinya benar-benar hancur akan sikap dan penolakan adiknya. Apalagi ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut adiknya itu. Keduanya tidak menyangka apa yang sudah mereka lakukan beberapa bulan yang lalu akan membuahkan hasil menyedihkan seperti ini.
***
Darren sudah berada di lokasi yaitu Perusahaan utama milik keluarga Frederick. Ketika Darren datang. Dirinya disambut oleh Qenan dan para tangan dari Ziggy.
"Maaf aku terlambat. Ada sedikit hambatan ketika mau berangkat kesini," sahut Darren.
"Apa ada masalah?" tangan Qenan.
"Ya. Ada dua singa yang hampir saja menerkamku," jawab Darren.
"Singa?" Qenan dan para tangan kanannya Ziggy saling lirik dan menatap bingung ketika mendengar ucapan dari Darren.
Darren yang melihat wajah bingung Qenan dan para tangan kanannya Ziggy hanya bisa tersenyum. Dan detik kemudian, Darren pergi meninggalkan mereka semua sembari berucap.
"Sudah. Jangan terlalu dipikirkan. Wajah kalian jelek tahu ketika dalam mode berpikir dan mode bingung gitu!"
Mendengar perkataan dari Darren membuat Qenan, Caleb, Ruby, Tory, Billy dan Mark mendengus kesal.
^^^
Kini Darren, Qenan dan para tangannya Ziggy sudah berada di dalam Perusahaan utama milik keluarga Frederick. Mereka membagi tugas untuk mengacak-acak isi Perusahaan tersebut.
Setelah berada di tempat masing-masing. Mereka pun mulai beraksi. Mereka meretas sistem keamanan, membobol rekening Perusahaan, meretas data Perusahaan dan menghancurkan semua file-file penting Perusahaan tersebut, merusak dan menghancurkan sistem jaringan sehingga Perusahaan tersebut tidak bisa berkomunikasi lagi dengan Perusahaan mana pun, Membackup data dan pencurian identitas
Dua jam kemudian, baik Darren, Qenan maupun para tangannya Ziggy selesai dalan pekerjaan mereka masing-masing.
Darren, Qenan dan para tangannya Ziggy keluar dari ruangan mereka masing-masing dan berjalan secara bersamaan menuju pintu keluar dengan senyuman manis mengembang di bibir masing-masing.
Mereka tersenyum bahagia akan pekerjaan mereka malam ini. Mereka tidak sabaran ketika melihat kemarahan dari Samuel dan Gustavo.
Sekarang mereka sudah berada di luar Perusahaan. Mereka memutuskan untuk kembali ke markas. Sementara Darren dan Qenan akan kembali pulang ke rumah.
Ketika mereka ingin melangkahkan kaki menuju mobil mereka, tiba-tiba Darren dikejutkan dengan ponselnya yang berdering. Menandakan panggilan masuk.
Darren langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah ponselnya ada di tangannya. Darren melihat nama salah satu tangan kanannya di layar ponselnya.
Tanpa membuang waktu lagi. Darren langsung menjawab panggilan dari tangan kanannya itu.
"Hallo, Dito. Ada apa?"
"Hallo, Bos. Ada berita buruk."
__ADS_1
Mendengar Dito mengatakan ada berita buruk seketika tubuh Darren menegang. Qenan dan kelima tangan kanannya Ziggy menatap khawatir Darren
"Ren," panggil Qenan.
"Berita buruk apa? Katakan!" bentak Darren.
"Be-begini Bos. Showroom BMWX..." perkataan Dito terpotong karena Darren sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Apa yang terjadi dengan Showroom BMWX milikku?! teriak Darren.
"Showroom BMWX ter-terbakar Bos. Semuanya habis tanpa sisa."
Seketika tubuh Darren terhuyung ke belakang ketika mendengar kabar dari Dito yang mengatakan bahwa Showroom BWWX miliknya hangus terbakar. Seketika air mata Darren mengalir membasahi wajahnya. Darren menggeleng-gelengkan kepalanya sembari berucap.
"Tidak... Tidak... Ini tidak mungkin. Showroom BMWX milikku masih ada."
"Ren. Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Qenan yang sedari tadi menatap khawatir Darren.
"Apa yang terjadi sebenarnya Dito? Kenapa bisa terbakar?" tanya Darren dengan suara bergetarnya.
"Dari hasil menyelidikkanku dan beberapa anggota lainnya. Ada yang sengaja membakarnya Bos. Sebelum Showroom hangus terbakar. Aku sempat melihat rekaman CCTV. Dan aku sudah menyalinnya."
"Baiklah. Aku kesana sekarang!"
PIP!
Darren langsung mematikan panggilannya. Air matanya makin deras jatuh membasahi wajahnya.
"Darren. Ada apa? Jangan buat kami khawatir." ucap dan tanya Tory.
Darren menatap satu persatu wajah kelima tangan kanannya Ziggy dan berakhir menatap wajah Qenan.
"Qenan... Showroom BMWX milikku," isak Darren.
"Kenapa dengan Showroom itu, Ren? Semuanya baik-baik sajakan? Katakan, Ren!"
"Showroom itu... Showroom itu terbakar. Dito bilang padaku Showroom itu hangus terbakar tanpa menyisakan satu pun yang ada di dalam Showroom itu."
Mendengar pengakuan Darren membuat Qenan dan kelima tangan kanannya Ziggy terkejut. Mereka tidak menyangka Showroom yang telah dibangun oleh Darren sejak Darren duduk dibangku SMP hangus terbakar.
"Kau sedang tidak berbohongkan, Ren?" Qenan masih tidak percaya apa yang didengar olehnya.
"Qenan. Dito yang memberitahuku masalah ini. Dari nada bicara Dito, dia sedang tidak bercanda."
"Qenan... hiks," isak Darren dengan menatap wajah Qenan.
GREP!
Qenan langsung memeluk tubuh bergetar Darren. Qenan berusaha untuk memberikan ketenangan dan kekuatan kepada sahabat kelincinya. Qenan tahu saat ini sahabatnya sangat terpukul dan juga hancur atas apa yang menimpa Showroom miliknya.
"Kita kesana sekarang." Qenan berucap lembut.
Setelah itu, Qenan dan Darren. Serta kelima tangan kanannya Ziggy pun pergi meninggalkan Perusahaan utama milik keluarga Frederick.
__ADS_1
Sementara Caleb dan Ruby memerintahkan para anggota tetap bersembunyi dan mematai sekitaran Perusahaan milik keluarga Frederick.