
Kathleen sudah kembali pulang ke rumah keluarga Radmilo. Kembalinya Kathleen ke keluarga Radmilo disambut hangat dan kejutan besar yang dibuat oleh semua anggota keluarga.
"Ini adalah sarapan pagi pertamaku lengkap dengan keluarga kandungku," ucap Kathleen disela makannya.
Mendengar perkataan dari Kathleen. Mita, Atalaric dan anggota keluarga Radmilo lainnya tersenyum bahagia.
Bukan hanya Kathleen, mereka juga merasakan hal yang sama yaitu bahagia karena anggota keluarganya sudah lengkap. Sekarang si kembar keluarga Radmilo telah kembali.
"Apa rencana kamu selanjutnya, Alin?" tanya Nuel.
"Yang jelas untuk saat ini aku masih fokus sama pekerjaan aku di perusahaan Er'Lnd sebagai Manager Keuangan, kakak Nuel!" Kathleen menjawab pertanyaan dari Nuel.
"Apa kamu nggak melanjutkan kuliah lagi?" tanya Elzaro.
Elzaro sudah mengetahui semua tentang kehidupan saudari kembarnya itu. Elzaro mengetahui dari orang-orang suruhannya.
Mendengar pertanyaan dari Elzaro. Atalaric, Mita, Danesh dan anggota keluarga lainnya menatap kearah Kathleen.
"Jadi kamu berhenti kuliah sayang?" tanya Mita menatap sedih putrinya.
"Bukan berhenti Mom. Aku cuti dulu kuliahnya," jawab Kathleen.
"Berapa lama?" tanya Danesh.
"Eemm... Setahun," jawab Kathleen.
"Kalau misalnya masa cuti kuliah kamu habis. Apa kamu mau melanjutkan kuliahnya?" tanya Atalaric.
"Tentu. Bagaimana pun aku harus menyelesaikan kuliahku. Sayangkan jika aku berhenti ditengah-tengah. Ditambah lagi aku sudah berada di semester akhir," jawab Kathleen.
"Terus pekerjaan kamu, bagaimana?" tanya Arkana.
"Ya, lanjut dong. Nggak ada alasan buat aku berhenti dari perusahaan Er'Lnd. Aku juga sudah nyaman bekerja disana. Tuan Erland dan kedua putranya begitu baik dan ramah kepada semua karyawannya. Bahkan mereka akan bertindak tegas jika ada karyawan-karyawan yang melakukan tindak kejahatan.
"Moto perusahaan tuan Erland itu adalah saling menghargai, saling menghormati dan kerja sama. Baik itu karyawan yang jabatan tinggi maupun karyawan biasa."
"Jika kedapatan karyawan yang melukai atau menyakiti karyawan lain, maka akan langsung dipecat secara tidak terhormat. Sekali pun karyawan tersebut adalah karyawa pintar, cerdas, cekatan, rajin, ulet, pekerjaan rapi dan disiplin. Jika kelakuan minus dan tutur kata tidak sopan. Maka akan langsung ditindak."
Mendengar perkataan dari Kathleen membuat seluruh anggota keluarga Radmilo penasaran dengan si pemilik perusahaan tersebut.
"Kalau Daddy boleh tahu. Siapa nama dari pemilik perusahaan tempat kamu bekerja itu sayang?" tanya Atalaric.
"Erland Faith Smith, Dad!" jawab Kathleen.
Mendengar nama keluarga Smith membuat Robert terkejut. Begitu juga dengan anak-anaknya. Mereka tidak menyangka jika Kathleen bekerja di perusahaan milik keluarga Smith.
Melihat keterkejutan kakeknya, kedua orang tuanya, Paman dan Bibinya membuat Kathleen dan Elzaro menatap dengan tatapan bingung. Begitu juga dengan saudara dan saudari sepupunya.
"Kakek, ada apa? Kenapa kakek terkejut ketika mendengar nama keluarga Smith?" tanya Elzaro langsung.
Alasan Elzaro bertanya seperti itu adalah dia tidak ingin ada masalah nantinya dalam hubungan asmara Kathleen dan Darka.
"Nama keluarga Smith mengingatkan kakek dengan keponakan perempuan kakek yang bernama Belva Carlise Garcia."
"Belva itu putri sulung dari Belinda Radmilo yang tak lain adalah adik perempuan kakek kalian," ucap Deliana.
"Eehhem!" Gerald berdehem.
Mendengar deheman dari Gerald. Mereka semua melihat kearah Gerald.
"Lebih baik kita selesaikan dulu sarapannya. Setelah ini, baru kita akan membahas masalah ini lagi!"
__ADS_1
Mendengar perkataan dari Gerald, mereka semua pun menganggukkan kepalanya.
Dan setelah itu, mereka semua melanjutkan sarapannya sampai selesai.
***
Darren masih belum diizinkan untuk kuliah dulu oleh anggota keluarganya, terutama Erland.
Saat ini Darren berada di kamar sedang sibuk melakukan sesuatu. Sesuatu yang dikerjakan oleh Darren itu adalah Darren tengah memantau para karyawannya melalui laptopnya.
Darren memasang beberapa kamera pengintai dan alat pelacak di setiap sudut perusahaan miliknya. Baik diluar maupun diluar perusahaan.
Ketika Darren tengah fokus menatap layar laptopnya, tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara pintu dibuka.
Darren langsung melihat kearah pintu itu. Dan dapat Darren lihat, kedua kakaknya melangkah masuk ke dalam kamarnya. Mereka adalah Dzaky dan Adnan.
"Katanya mau istirahat setelah selesai sarapan pagi? Ini kok malah kerja sih," ucap dan tanya Dzaky.
"Nggak kerja kakak Dzaky. Aku hanya tengah memantau karyawan-karyawanku saja," jawab Darren.
Dzaky dan Adnan melihat ke layar laptop Darren. Terlihat disana sebuah penampakan perusahaan Darren dan para karyawannya yang sedang bekerja dan ada juga yang berlalu lalang.
"Kakak Dzaky dan kakak Adnan nggak ke kantor?"
"Nggak," jawab Dzaky dan Adnan bersamaan sembari tatapan matanya tetap fokus ke layar laptop milik Darren.
"Kenapa?"
"Males," jawab keduanya kembali kompak.
Mendengar jawaban kompak dari kedua kakaknya itu membuat Darren mendengus.
Dan pada akhirnya, Darren memutuskan untuk diam dan kembali menatap ke layar laptop miliknya.
***
Di markas milik Area Boy terlihat beberapa anggota mafioso tengah berkumpul di Aula. Mereka berada disana atas perintah dari dua tangan Chico yaitu Zidan dan Dirga.
"Bagaimana? Apa kalian sudah mengetahui dalang yang sudah membayar kelima belas pria yang ingin menculik ibu dan menyerang kakak laki-laki dari Jerry?" tanya Chico.
"Sudah, King!"
"Siapa?"
"Dia seorang wanita."
"Wanita?"
"Iya, King! Wanita itu adalah saingan bisnisnya ibunya tuan Jerry. Bukan itu saja, wanita itu sampai detik ini masih terobsesi untuk memiliki ayahnya tuan Jerry."
Mendengar perkataan terakhir dari salah satu anggota mafiosonya yang bertugas menyelidiki kasus yang dialami oleh ibu, kakak laki-laki Jerry dan Darren terkejut.
"Jadi maksud kamu....,"
"Wanita itu dari dulu tergila-gila kepada ayahnya tuan Jerry. Dan berambisi ingin menjadikan miliknya."
"Sejak kapan?" tanya Chico.
"Sejak ayahnya tuan Jerry dan wanita itu sama-sama masih kuliah dulu King!"
"Em. Jadi dengan kata lain, wanita itu ingin merebut kembali pujaan hatinya dari ibunya Jerry. Wanita itu tidak terima pujaan hatinya lebih memilih dan menikahi perempuan lain."
__ADS_1
"Benar, King!"
"Dan wanita itu juga iri melihat kebahagiaan dan kesuksesan ibunya tuan Jerry. Maka dari itulah kenapa wanita itu membayar kelima belas pria itu untuk menculik ibunya tuan Jerry."
"Baiklah. Nanti kirimkan semua bukti tentang kejahatan wanita itu padaku!"
"Baik, King!"
Setelah mengatakan itu, Chico pun pergi meninggalkan aula untuk membahas masalah ini dengan keluarga Antonius.
***
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan saat ini berada di kelas. Mereka saat tengah menyalin beberapa tugas dan juga catatan yang diberikan oleh dosennya.
Di kelas itu bukan hanya ada mereka. Melainkan teman-teman sekelasnya juga ada di dalam kelas tersebut.
Tidak ada suara, tidak ada keributan dan tidak ada yang membuat ulah atau sekedar kejahilan yang biasanya terjadi.
Ketika Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan serta teman-teman kampusnya tengah fokus sama buku mereka masing-masing, tiba-tiba terdengar suara seseorang di depan pintu.
"Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan!" panggil orang itu.
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan langsung melihat kearah pintu. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya.
"Ada apa?!" tanya Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan secara bersamaan.
"Itu... Itu ada demo di halaman kampus!"
Mendengar jawaban dari salah satu mahasiswa membuat teman-teman sekelasnya terkejut. Tapi tidak dengan Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan. Mereka saling memberikan tatapan, lalu mereka dengan kompak mengangkat bahu acuh.
"Terus, apa hubungannya dengan kami?" tanya Axel.
"Kenapa tidak langsung melapor kepada wakil rektor atau dekan? Kenapa melapor kepada kami?" tanya Qenan.
"Justru aku kesini karena perintah dari wakil rektor."
"Jadi dia sudah ada di halaman kampus?" tanya Rehan.
"Iya. Disana juga sudah ada Dekan dan para Dosen."
"Bagus dong. Terus kenapa juga wakil rektor itu memintamu datang kemari dan menyuruh kami kesana?"
"Seharusnya itukan tugas dia," ucap Dylan.
"Wakil rektor itu mengatakan bahwa tenaga dan bantuan kalian dibutuhkan disana."
Mendengar perkataan dari teman kampusnya itu membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan tertawa.
"Hahahahaha."
"Apa tidak salah seorang wakil rektor meminta bantuan kepada para mahasiswanya?" tanya Darel.
"Kami tidak mau!" seru Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan bersamaan.
"Katakan kepada pria itu untuk meminta bantuan kepada ke 64 mahasiswa dan mahasiswi yang orang tua mereka masing-masing memberikan pria itu uang setiap bulan," ucap Axel.
"Dan katakan juga kepada pria itu untuk menyuruh ke 64 mahasiswa dan mahasiswi kesayangannya itu menyelesaikan masalah demo tersebut. Bukankah demo itu terjadi atas ulah dari ke 64 mahasiswa dan mahasiswi itu," ucap Willy.
"Tapi....,"
"Pergi!" teriak Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan bersamaan.
__ADS_1
Seketika mahasiswa itu terkejut dan juga ketakutan ketika mendengar teriakan dari Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan.
Dan pada akhirnya, mahasiswa itu pun pergi meninggalkan kelas yang ditempati oleh Darren dan ketujuh sahabatnya.