
Setelah mengatakan hal itu, Darren langsung mematikan panggilannya itu. Paling tidak Darren bisa sedikit bernafas lega, dikarenakan dirinya sudah mengetahui dalang dibalik penyerangan kedua saudaranya dan keluarga Axel.
"Ren," panggil Axel.
Darren menolehkan wajahnya melihat ke arah Axel.
"Ya, Xel."
"Jadi yang kita dengar tadi benar suara Samuel Frederick? Dan dia dalang semua ini?" tanya Axel.
"Ya," jawab Darren.
"Apa kau yakin kalau suara barusan adalah suara Samuel, Ren?" tanya Jerry.
"Aku sangat yakin, Jerry. Dari suaranya saja aku sudah hafal. Apalagi saat dia memintaku agar aku menyerahkan apa yang sudah aku raih selama ini kepadanya. Seperti yang kalian dengar barusan, saat aku bicara padanya, dia tidak mengelak sama sekali. Bahkan dia menjadi gugup saat aku menyebut namanya."
Ketujuh sahabatnya mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren.
"Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Ren?" tanya Darel.
"Tidak ada. Untuk saat ini kita bisa sedikit tenang. Aku yakin, bajingan itu tidak akan berbuat macam-macam kali ini," jawab Darren.
"Tapi kalau ternyata dia tetap...." ucapan Qenan terpotong.
"Kau tidak perlu khawatir, Nan. Aku yakin, bajingan itu tidak akan berani lagi untuk mengusik keluarga kita. Karena bajingan itu sama seperti kita. Memiliki titik kelemahan yang sama seperti kita yaitu keluarga. Bajingan itu juga sangat menyayangi anggota keluarganya, terutama ibu dan kedua adiknya. Samuel sangat menyayangi ibu dan kedua adiknya. Sejak ayahnya meninggal, Samuel lah yang menjadi tulang punggung untuk ibu dan kedua adiknya."
"Kedua adiknya itu dua-duanya perempuan. Bajingan itu sangat-sangat over protektif terhadap kedua adik perempuannya," ucap Darren.
"Dari mana kau mengetahui semuanya itu, Ren?" tanya Dylan.
"Saat bajingan itu menyerangku. Keesokkan harinya aku meminta bantuan dari kelompok Black Guerrilla untuk menyelidiki latar belakang dari bajingan itu. Dan juga mencari titik kelemahannya. Kelompok Black Guerrilla berhasil mendapatkannya. Dan aku juga meminta mereka untuk selalu mengawasi keluarga bajingan itu," jawab Darren.
"Ach, syukurlah kalau begitu. Paling tidak satu masalah terselesaikan. Dan kita bisa fokus dengan kegiatan Baksos kita," sela Willy.
"Yah. Kau benar, Will! Paling gak kita bisa sedikit bernafas lega," ujar Axel.
"Ya, sudah. Rapat selesai sampai disini. Jangan lupa persiapkan semuanya dengan baik," ucap Darren.
"Baik," jawab mereka semua dengan kompak.
Setelah itu, mereka semua pun bersiap-siap untuk menuju kelas masing-masing untuk mengikuti materi kuliah mereka.
Saat Darren hendak keluar ruangan, Darka terlebih dahulu mencekal tangannya.
"Darren," panggil Darka.
"Ada apa?" tanya Darren tanpa melihat ke arah Darka.
"Terima kasih," ucap Darka.
__ADS_1
"Terima kasih? Untuk apa?" tanya Darren.
"Untuk semua yang kamu lakukan. Untuk Kakak dan untuk keluarga kita," jawab Darka.
"Aku melakukan itu hanya untuk membayar semua hutang-hutangku pada keluargamu itu. Karena bagaimana pun keluarga itu yang telah menjagaku dan merawatku selama ini. Setelah semua masalah ini benar-benar selesai dan tidak ada lagi yang mengganggu keluarga itu, maka aku akan pergi dan menjauh dari keluargamu." Darren menjawab perkataan Darka dengan wajah dingin dan datarnya.
Darren menarik kasar tangannya yang dipegang oleh Darka, Lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Darka yang mendengar penuturan dari Darren merasakan kesedihan yang teramat dalam. Tanpa diminta, air matanya mengalir begitu saja membasahi wajah tampannya.
"Darka." Gilang mengusap lembut punggung Darka. "Jangan diambil hati dari setiap ucapan Darren, ya! Anggap saja angin lalu."
"Mau sampai kapan Darren membenci kita, Gil? Mau sampai kapan Darren menganggap kita orang lain? Aku ingin Darren yang dulu."
"Darren akan kembali pada kita, Darka Percayalah!" Gilang berusaha menghibur Darka.
Mereka yang masih berada di ruangan tersebut ikut merasakan kesedihan saat melihat Darka yang menangis. Mereka ingin sekali membantu untuk memperbaiki hubungan ketiga Smith bersaudara tersebut. Tapi mereka semua takut. Mereka takut jika Darren akan memusuhi mereka kalau mereka ikut campur.
^^^
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Saat ini baik Darka, Gilang dan para sahabatnya Darren sudah berada di parkiran.
"Darren mana?" tanya Dylan.
"Oh iya. Mana tuh bocah. Bukankah saat keluar dari kelas kita barengan," ujar Willy.
Sedangkan Darka dan Gilang sedari tadi sudah merasakan kekhawatiran terhadap adik mereka. Bahkan mereka sempat teringat saat melihat wajah pucat Darren ketika di ruangan pertemuan tersebut.
Lima menit mereka menunggu dan akhirnya salah satu dari mereka melihat kehadiran Darren.
"Nah, tu Darren!" seru Jerry sembari menunjuk ke arah Darren yang berjalan ke arah mereka.
"Eh, itu Darren kenapa? Lihatlah.. sedari tadi Darren memegang dada kirinya," sahut Rehan.
Darka dan Gilang tanpa pikir panjang lagi langsung berlari menghampiri Darren sang adik.
Melihat Darka dan Gilang berlari ke arah Darren. Qenan dan yang lainnya juga ikut menyusul Darka dan Gilang.
^^^
Darren melangkahkan kakinya menuju parkiran. Dirinya saat ini benar-benar lelah. Bukan lelah tubuh saja, tapi juga lelah akan pikirannya. Dan saat berada di dalam kelasnya, Darren berusaha menahan rasa pusing di kepalanya. Dan saat ini Darren juga merasakan nyeri di bagian dada kirinya.
"Aaakkkhhh!" rintihan kesakitan Darren sembari memegang dada kirinya. "Kenapa rasa sakit ini datang lagi? Ada apa sebenarnya?" tanya Darren pada dirinya sendiri.
Darren terus berjalan menuju parkiran dengan tangan kanannya memegang dada kirinya.
"Darren," panggil Gilang dan Darka.
Kini Darka dan Gilang sudah berada masing-masing di samping adiknya. Mereka memapah tubuh sang adik.
__ADS_1
"Lepaskan. Kalian pikir aku ini tidak berjalan sendiri," sahut Darren ketus.
Darka dan Gilang hanya bisa pasrah dan menurut. Mereka tidak ingin membuat adik mereka makin tertekan akan hubungan mereka yang belum membaik sampai saat ini.
"Ren," lirih keduanya.
"Ren. Kau tidak apa-apa?" tanya Willy.
Saat ini ketujuh sahabatnya sudah berada di dekatnya. Mereka semua tampak khawatir.
"Kalian tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja," jawab Darren.
"Tapi wajahmu pucat, Ren!" Jerry menyela.
"Mungkin aku kelelahan saja, Jerry. Kau tahu sendirikan tugasku banyak," jawab Darren.
"Aaakkkhhhh!" teriak Darren dengan tangannya meremas kuat dada kirinya.
Mendengar teriakan dari Darren membuat mereka semua khawatir dan panik. Begitu juga Darka dan Gilang.
"Darren," panggil Qenan.
"Darren." Darka dan Gilang langsung memeluk tubuh adiknya.
"Aahhh... Aahhh..." nafas Darren terengah-engah.
"Hiks... Hiks... Darren... Hiks! Kakak mohon jangan menolak Kakak untuk saat ini. Biarkan kakak memeluk, Ren! Biarkan Kakak ada di samping kamu," ucap Darka memohon sembari terisak.
Darren tidak mengindahkan perkataan Daria sang kakak. Saat ini Darren hanya merasakan sesak yang begitu menyakitkan di dada kirinya.
"Aahhh.. aahhh.. aahhh.. aahhh," bunyi nafas Darren.
Darka mengelus lembut kepala belakang Darrem. Saat ini Darren berada di dalam pelukan Darka dan Gilang.
"Kak Gilang, kak Darka. Sebaiknya kita membawa Darren ke rumah sakit!" seru Axel.
"Jangan membawaku kesana lagi. Aku tidak mau kesana," ucap Darren lirih.
"Tapi, Ren!" ucap para sahabatnya.
"Aku mohon. Jangan bawa aku kesana," mohon Darren.
"Ya, sudah! Kalau begitu kita pulang, ya," kata Gilang lembut.
"Ren, mana kunci mobilmu?" tanya Qenan.
"Ada di dalam tasku," jawab Darren dengan suara lirihnya.
Lalu Gilang memberikan tas Darren pada Qenan. Setelah itu, Gilang dan Darka membawa Darren untuk menuju mobil milik Gilang.
__ADS_1