
[Mall Europa Passage]
Di sebuah Mall terlihat beberapa pemuda yang mana pemuda-pemuda tersebut adalah seorang CEO. Mereka saat ini tengah menikmati makan siang di sebuah cafe yang ada di Mall tersebut. Pemuda-pemuda tersebut berjumlah 5 orang dan tengah membicarakan sesuatu.
"Bagaimana perkembangan perusahaan musik kalian?" tanya pemuda satu kepada teman-temannya.
"Semakin meningkat," jawab pemuda kedua.
"Dan semakin berjaya," sahut pemuda ketiga.
"Terus, sampai kapan kita akan berteman dengan dua manusia itu?" tanya pemuda keempat.
"Dzaky dan Adnan?" tanya pemuda yang kelima.
"Iya, siapa lagi!" jawab pemuda keempat.
"Selama mereka berdua masih terus berjaya," pungkas pemuda kelima.
"Selama mereka bisa mendatangkan keuntungan untuk perusahaan-perusahaan kita," ucap pemuda ketiga.
"Bukankah perusahaan kita semakin berkembang sejak berkerjasama dengan perusahaan mereka berdua? Jadi manfaatkanlah," sahut pemuda pertama.
"Selama inikan kita tidak benar-benar serius berteman dengan mereka berdua. Jadi untuk apa kita pikirkan mereka. Mau mereka susah bahkan bangkrut sekali pun itu bukan urusan kita," ucap pemuda kedua.
"Ya, benar. Ngapain juga kita repot-repot mikirin mereka. Mending kita pikirkan diri kita sendiri. Itu lebih baik," ucap pemuda ketiga.
"Dan jangan lupa. Sabtu depan kita akan mengadakan makan malam besar-besaran. Seperti biasa, kita buat kedua kakak adik itu yang membayar semuanya. Kita tidak perlu mengeluarkan sepeser pun uang untuk membayar semua makanan tersebut," ucap pemuda keempat.
"Kita akan menyewa satu hotel yang terkenal di kota Hamburg. Bahkan hotel tersebut sangat menjaga ketertiban dan kenyamanan. Hotel itu juga tidak menerima adanya keributan. Dan hotel itu juga tidak akan membiarkan pengunjungnya pergi sebelum membayar semua tagihan atau pesanan yang ada di hotel itu!" seru pemuda kelima.
"Bagus itu. Aku setuju," ucap pemuda kedua.
"Sekalian kita ajak pacar-pacar kita," usul pemuda pertama.
"Wah! Ide bagus tuh. Kalau kita ajak pacar-pacar kita. Aku sangat yakin jika kedua kakak adik itu belum punya pacar dan aku juga yakin kalau mereka datang hanya berdua tanpa pasangan!" seru pemuda ketiga.
"Setuju!" seru mereka bersamaan.
Setelah mengatakan itu, mereka semua kemudian mengangkat gelas masing-masing ke atas. Kemudian mereka saling bersulang sembari tertawa.
***
[Rumah Sakit Ludwig Maximilian]
Semuanya berada di ruang rawat Nandito dan ditambah dengan Darren. Dan keduanya sama-sama terbaring di tempat tidur.
Darren seketika jatuh tak sadarkan diri ketika merasakan sakit dan sesak di bagian dada kirinya. Sakit yang dirasakan oleh Darren sakit yang luar biasa sehingga tidak bisa ditahan oleh Darren dan berakhir pingsan
Kondisi Nandito sudah ada perubahan. Luka di bagian kepalanya sudah mengering dan menunggu proses penyembuhan. Kini Nandito dalam posisi duduk di tempat tidur dengan tatapan matanya menatap kearah Darren.
"Ren," panggil Nandito.
Mendengar panggilan dari Nandito membuat Darren langsung melihat kearah Nandito. Dan dapat dilihat oleh Darren bahwa Nandito menatap dirinya khawatir.
Darren seketika tersenyum. "Gue baik-baik saja, Dito! Lo tenang, oke!"
"Yakin?"
"Iya, yakin!"
"Lo nggak bohongin gue kan?"
"Nggak. Lo harus percaya sama gue."
Darren menatap kearah sahabat-sahabatnya dengan tatapan sama seperti Nandito menatap dirinya.
Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan yang mengerti akan tatapan mata Darren seketika tersenyum. Mereka tahu bahwa Darren menatapnya dengan tatapan khawatir.
"Kita baik-baik juga, Ren!" seru Qenan dan Willy.
"Kita semua sudah diperiksa oleh dokter," sahut Rehan dan Darel.
"Tidak ada luka serius dan semuanya aman!" seru Axel, Dylan dan Jerry.
Mendengar ucapan ucapan sekaligus penjelasan dari ketujuh sahabat-sahabatnya membuat hati Darren menjadi tenang.
"Yang lainnya bagaimana?" tanya Darren menatap kearah kelima kakak mafianya.
"Semuanya aman, Ren!" seru Chico.
"Gilang, Darka, Brenda, ketujuh sahabat-sahabatnya dan anggota-anggota Organisasi Kampus kamu, mereka semua baik-baik saja." Devian menjawab pertanyaan dari Darren.
__ADS_1
Lagi-lagi Darren tersenyum dan merasakan kelegaan di hatinya ketika mendengar kabar baik untuk semua orang yang ikut dalam kegiatan Touring tersebut.
"Lalu bagaimana aku dengan Nandito? Mau sampai kapan kita disini?" tanya Darren.
Mendapatkan pertanyaan tersebut seketika membuat kelima ketua mafia dan ketujuh sahabat-sahabatnya langsung saling memberikan tatapan masing-masing.
Setelah itu, mereka semua kembali menatap kearah Darren dan Nandito yang saat ini keduanya tengah memberikan tatapan masing-masing.
"Kita berdua sudah dalam keadaan baik-baik saja!" seru Darren dan Nandito bersamaan.
"Dan kita berdua ingin pulang!" Darren dan Nandito kembali berucap.
Mendengar ucapan kompak dari Darren dan Nandito membuat Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Chico, Enzo, Noe, Ziggy dan Devian hanya bisa menghela nafas pasrahnya masing-masing.
"Baiklah. Hari ini juga kita kembali ke kota Hamburg!" seru Ziggy dan Noe bersamaan.
***
[Kediaman Smith]
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Terlihat suasana ramai di kediaman keluarga Smith dimana Brian, Delia dan kedua putrinya sudah datang ke kediaman Smith setelah selesai dengan pekerjaan masing-masing diluar. Ditambah dengan Carissa, Evan dan ketiga putranya. Mereka juga sudah di rumah.
Kini semuanya berkumpul di ruang tengah lengkap dengan Erica yang saat ini di pangkuan Gilang dan di sampingnya duduk Darka. Mereka sengaja berkumpul untuk sekedar menghabiskan waktu bersama sembari membahas tentang kesayangannya yaitu Darren dan Nandito.
"Paman Gilang, Papa-Papa Erica kapan pulangnya? Erica sudah sangat-sangat rindu."
Gilang mengusap-usap lembut kepala belakang Erica. Hatinya seketika sakit ketika mendengar pertanyaan dari Erica tentang kerinduannya terhadap Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Erica juga rindu sama Paman Dito," ucap Erica lagi.
Mereka seketika berubah sedih. Mereka juga merindukan kedua kesayangannya itu.
Ketika mereka semua tengah bersedih dikarenakan rasa rindunya terhadap Darren dan Nandito, seketika mereka dikejutkan dengan kedatangan seorang pelayan.
"Tuan, Nyonya!"
"Iya, Bi?"
"Itu diluar keluarga itu datang lagi untuk menemui tuan muda Andra!"
Mendengar jawaban dari sang pelayan tersebut membuat Andra langsung mengepal kuat tangannya.
"Benar-benar tidak tahu diri dan tidak tahu malu," ucap Andra dengan wajah marahnya.
"Suruh mereka masuk," ucap Erland.
"Baik, tuan!"
Setelah itu, pelayan itu pergi menuju ruang tamu untuk mempersilahkan tamunya untuk masuk.
^^^
Kini Erland, Agneta dan anggota keluarga lainnya sudah berada di ruang tamu. Dan mereka semua sudah duduk di sofa dengan tatapan matanya menatap tak suka kearah tiga manusia yang ada di hadapannya.
"Ada apa kalian datang kemari?" tanya Erland.
"Apa begini anda menyambut tamu?!" bentak pria itu.
Brak..
Brian seketika menggebrak meja dengan keras sehingga membuat semua terkejut.
"Kakak ipar saya bertanya dengan nada lembut dan anda menjawabnya dengan nada membentak! Anda pikir anda itu siapa?! Anda disini seorang tamu. Bersikaplah sebagai tamu yang baik!" Brian berucap dengan penuh emosi.
"Sayang," ucap Delia lembut sembari tangannya mengusap-usap lembut pergelangan tangan suaminya.
"Kami datang kesini kar......," perkataan pria itu terpotong karena Evan langsung bersuara.
"Kami tahu maksud kedatangan anda, istri anda dan anak perempuan anda kesini. Tapi tidak bisakah anda datang dengan cara memberitahu kami terlebih dahulu. Kami sedang dalam masalah. Kami sedang bersedih. Jadi tolong mengertilah kedaaan kami."
"Bukankah salah satu penjaga rumah kami yang mana dia sudah diamanahkan oleh putra kami yaitu Darren mengatakan kepada kalian untuk menunggu kabar darinya. Tapi kenapa kalian datang tanpa diberi kabar terlebih dahulu?" ucap dan tanya Agneta.
"Iya, kami tahu itu. Tapi sampai kapan? Kami tidak bisa terlalu lama menunggu. Bagaimana pun pergi anak perempuan saya akan semakin membesar. Bagaimana kata orang-orang nanti saat mengetahui bahwa anak perempuan saya hamil sebelum menikah," ucap wanita paruh baya itu.
"Itu urusan kalian. Bukan urusanku!" bentak Andra.
Mendengar ucapan serta bentakan dari Andra membuat sepasang suami istri dan anak perempuannya itu terkejut.
"Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu, Andra? Ini anak kamu. Setidaknya pikirkan anak kamu jika kamu tidak ingin menikah denganku," ucap perempuan tersebut.
"Aku belum sepenuhnya yakin jika bayi itu anakku. Dan aku juga tidak yakin kalau kau itu benar-benar hamil," sahut Andra.
__ADS_1
"Tutup mulutmu!" bentak pria paruh baya itu dengan menunjuk kearah Andra.
Tiba-tiba Jonathan datang. Kemudian Jonathan menghampiri Erland lalu membisikkan sesuatu di telinga Erland.
Seketika Erland membelalakkan matanya dengan disertai senyuman manis di bibirnya. Kemudian Erland menatap wajah Jonathan dan dibalas anggukan oleh Jonathan.
Erland seketika berdiri dari duduknya dan langsung pergi begitu saja menuju pintu keluar. Dirinya tidak peduli dengan panggilan-panggilan dari istri dan putra-putranya.
Melihat suaminya/ayahnya/Pamannya/kakak iparnya/kakak laki-lakinya pergi begitu saja keluar rumah membuat mereka semua langsung berdiri. Dan mereka semua menyusul Erland.
^^^
Darren dan Nandito sudah tiba di perkarangan rumah kediaman Smith dengan dikawal oleh Daksa dan Marcel tangan kanannya Chico. Kepulangan keduanya disambut hangat oleh beberapa penjaga yang berjaga-jaga di kediaman Smith termasuk Jonathan.
Ketika Darren dan Nandito melangkahkan kakinya menuju pintu utama, tiba-tiba seseorang berlari menghampiri kedua dan langsung memeluknya.
Grep..
"Papa bahagia kamu pulang, nak!"
Darren seketika tersenyum mendapatkan pelukan hangat dari ayahnya.
Setelah beberapa detik memeluk tubuh putranya, Erland kemudian melepaskan pelukannya, lalu tatapan matanya beralih ke sebelah yang mana keponakannya berdiri.
Grep..
Erland memeluk tubuh keponakannya itu dengan hangat sama seperti dirinya memeluk putranya.
"Paman juga bahagia melihat kamu pulang, sayang!"
"Terima kasih Paman. Aku juga bahagia bisa kembali pulang ke rumah," jawab Nandito.
Erland kemudian melepaskan pelukannya, lalu Erland memberikan ciuman di masing-masing kening Darren dan Nandito.
"Darren!"
"Nandito!"
Semua anggota keluarganya berlari menuju arahnya dengan menangis bahagia.
Grep..
Mereka secara bergantian memeluk Darren dan Nandito. Mereka semua menangis melihat kedua kesayangannya kembali dengan selamat. Bahkan mereka secara bergantian memberikan ciuman di seluruh wajah kedua kesayangannya itu.
"Papi bahagia kamu pulang," ucap Brian.
Brian melihat kearah Darren, kemudian tangannya mengusap lembut kepala Darren.
"Paman juga bahagia kamu pulang, Ren!"
"Ini semua berkat doa kalian semua," ucap Darren.
Grep..
Andra kembali memberikan pelukan kepada Darren. Dan kali ini pelukannya begitu erat seolah-olah tidak ingin melepaskan adiknya itu.
Melihat kakak pucatnya yang begitu erat memeluknya membuat Darren terkejut. Tatapan matanya menatap kearah ayahnya untuk meminta penjelasan.
"Kakakmu dan kita semua sudah tahu bahwa kamu berpura-pura tidak mempercayai kakak kamu dan lebih memilih percaya terhadap orang lain," sahut Erland.
"Kak," ucap Darren lembut.
Setelah itu, Andra pun melepaskan pelukannya. Tatapan matanya menatap teduh wajah tampan adiknya itu.
"Terima kasih atas kepercayaan kamu terhadap kakak."
Ketika Darren hendak menjawab perkataan kakak pucatnya itu, tiba-tiba matanya tak sengaja melihat tiga orang yang dia kenal sebagai penghancur kehidupan kakak pucatnya itu.
Flashback On
Darren saat ini berada di dalam tenda. Dia sedang sibuk memeriksa email yang dikirim oleh Steven beberapa detik yang lalu di laptop miliknya.
Ketika Darren sibuk dengan membaca email tersebut, tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi yang masuk melalui pesan WhatsApp.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Darren pun membuka notifikasi tersebut dan melihatnya. Dirinya penasaran apa yang dikirimkan oleh tangan kanannya itu.
Detik kemudian...
Terukir senyuman manis di bibir Darren ketika melihat isi yang ada di pesan WhatsApp miliknya itu. Pesan WhatsApp yang berhubungan dengan kakak pucatnya.
"Tunggu kejutan dariku. Aku bersumpah akan membuat hidup kalian hancur," batin Darren.
__ADS_1
Flashback Off.
Sementara anggota keluarganya yang melihat tatapan mata Darren membuat mereka semua langsung melihat kearah tatapan mata tersebut. Mereka semua melihat bahwa ketiga orang yang sudah menghancurkan kehidupan Andra beberapa hari ini telah berdiri di hadapan mereka semua.