KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Keusilan Agneta


__ADS_3

Keesokkan harinya dimana semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah, termasuk Brian, Delia serta ketiga anaknya. Begitu juga dengan Darren. Erica saat ini duduk di pangkuan sang Omanya yaitu Carissa.


"Mau cerita sama Paman, hum!" ucap Brian yang tangan membelai kepala belakang Darren.


"Apa yang ingin Paman ketahui dariku?" tanya Darren.


"Apa yang tidak Paman ketahui tentang kamu selama beberapa tahun ini." Brian menjawab pertanyaan dari Darren sembari tersenyum.


"Yang buruknya apa yang baik-baiknya?" tanya Darren.


Erland, Agneta, keenam kakaknya, kelima adiknya, Evan, Carissa, Delia, Daffa, Tristan, Davian, Risya, Mishel dan Nandito tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Darren.


"Keduanya boleh. Salah satunya juga boleh," jawab Brian yang juga ikut tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari keponakan kesayangannya itu.


"Yang jelas selama ini aku memiliki Altar Ego. Altar Ego aku itu sering dipanggil Rendra."


"Kapan kamu memiliki Altar Ego itu sayang?"


"Ketika aku berusia 6 tahun. Altar Ego itu muncul ketika aku dibully oleh teman-teman sekolahku. Saat itu aku belum memiliki teman dan juga sahabat."


"Apa kamu diam saja ketika dibully?"


"Iya."


"Kenapa? Seharusnya kamu balas dong mereka."


"Bukan aku tidak mau balas mereka. Jika aku balas mereka, maka masalah akan panjang. Mereka hanya bisa main keroyokan. Jika satu lawan satu, kemungkinan mereka udah masuk rumah sakit. Tapi aku memilih diam dan membiarkan mereka membully. Dan pada akhirnya, sesuatu dalam diriku bergerak untuk melawan mereka semua. Sejak itulah aku mengetahui bahwa aku memilih Altar Ego."


"Ren," panggil Davin.


Darren melihat kearah kakak sulungnya itu yang tersenyum menatap dirinya. Dan Darren pun membalas senyuman kakaknya itu.


"Iya, kak!"


"Saat kejadian dimana kita ribut itu sehingga kamu memutuskan pergi meninggalkan kita semua, apa kamu dalam kuasanya Rendra?"


"Tidak. Jika saat itu aku dikuasai oleh Rendra, maka kakak Davin tidak akan bisa memukuliku. Dan aku juga bisa menyakiti kalian semua. Bahkan aku juga akan membalas memukul Papa ketika Papa menamparku. Rendra bisa saja menguasai tubuhku dan merubahku menjadi kejam terhadap kalian, tapi Rendra tidak melakukannya karena Rendra begitu menghormati kalian dan sudah menganggap kalian keluarganya."


"Saat itu Rendra jarang muncul. Dia akan muncul ketika keadaan benar-benar sudah genting."


"Waktu di Showroom itu. Apa itu kamu atau..." perkataan Daffa terpotong karena Darren langsung menjawabnya.

__ADS_1


"Yang pertama melakukannya adalah aku. Yang keduanya baru Rendra mengambil alih tubuhku, namun hanya sebentar. Setelah itu barulah giliran Jerry."


"Rendra akan muncul disaat keadaan yang genting saja, ditambah ketika aku tidak tega untuk melakukannya, Rendra akan mengambil alih tugas tersebut. Pantang bagi Rendra membiarkan musuhnya hidup."


"Apa yang terjadi ketika terakhir kali kamu dan kedua sahabat kamu bertarung melawan laki-laki bernama Nicko Dilbara?" tanya Brian.


"Pada saat kejadian dimana Willy ditikam dari belakang oleh anak buahnya Nicko Dilbara, pada saat itu juga Rendra mengambil alih tubuhku dan menggunakan semua tenagaku untuk melawan Nicko Dilbara. Tembakan demi tembakan mengenai tubuhku, tapi aku tidak merasakan sakit apapun. Dan pada akhirnya Nicko Dilbara mati di tangan Rendra."


Tes..


Seketika air mata Darren jatuh membasahi pipinya seketika teringat ketika Rendra yang dalam keadaan luka parah.


"Hiks," isak Darren seketika.


Melihat air mata Darren dan mendengar isakannya membuat mereka semua ikut merasakan kesedihan yang mendalam.


Grep..


Brian menarik tubuh keponakannya itu dan membawanya ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap-usap lembut punggungnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Brian.


"Dia pergi," lirih Darren.


"Iya. Sosok yang selalu ada dalam diriku sekarang sudah pergi. Aku tidak tahu kapan dia akan kembali lagi."


"Apa dia mengatakan sesuatu sebelum pergi, hum?"


"Ada."


"Apa?"


"Dia mengatakan kepadaku bahwa dia hanya pergi sebentar. Dia juga mengatakan kepadaku bahwa dia akan kembali."


"Kalau Rendra mengatakan seperti itu berarti kamu harus mempercayainya. Paman percaya jika Rendra akan kembali ke tubuhmu."


"Bagaimana jika dia....?"


"Kamu harus percaya jika Rendra akan kembali."


"Paman."

__ADS_1


"Ada apa, hum?"


"Jangan kembali ke Amerika. Menetap disini aja."


Mendengar ucapan sekaligus permintaan dari Darren membuat Brian tersenyum. Begitu juga dengan Delia serta yang lainnya.


Disini hanya Darren yang belum mengetahui bahwa Brian beserta istri dan ketiga anaknya akan menetap di kota Hamburg. Lebih tepatnya, mereka akan menempati kediaman utama Garcia.


Tidak mendapatkan jawaban dari Pamannya membuat Darren langsung melepaskan pelukannya. Kemudian tatapan matanya menatap kearah Pamannya itu.


"Paman, kenapa diam saja? Nggak mau ya?"


Brian seketika tersenyum ketika mendengar pertanyaan serta wajah sedih Darren.


"Kita nggak akan balik ke Amerika lagi kok, Ren!" seru Nandito.


Mendengar penuturan dari Nandito sepupunya itu, Darren langsung melihat kearah sepupunya itu. Dan dapat dilihat oleh Darren bahwa sepupunya itu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.. Begitu juga dengan kedua kakak sepupunya dan Bibinya.


Darren seketika langsung melihat kearah Pamannya. Dirinya ingin mendapatkan jawaban pasti dari Pamannya itu.


"Paman."


Brian seketika mengacak-acak rambut keponakannya itu gemas. Apalagi ketika melihat wajah keponakannya itu berubah seperti anak kecil berusia 5 tahun.


"Iya, sayang. Paman, Bibi kamu dan ketiga sepupu kamu akan menetap di negara ini. Dan kita akan menempati kediaman utama keluarga Garcia."


"Kenapa aku tidak tahu?"


"Siapa suruh kamu mengurung diri di kamar seharian setelah keluar dari rumah sakit. Jadi kamu ketinggalan banyak informasi mengenai Paman Brian," ledek Adnan sembari tersenyum.


"Aish!" kesal Darren.


Mereka semua tersenyum melihat wajah kesal Darren.


"Sudah tidak sedih lagi, hum?" tanya Brian.


"Aku sudah baikan. Itu berkat Paman. Ditambah lagi ketika mendengar kabar bahagia bahwa Paman memutuskan untuk menetap di kota Hamburg dan menempati kediaman keluarga Garcia. Rumah itu sudah terlalu lama kosong. Kakak perempuan Paman sudah tidak pernah lagi melihat rumah orang tuanya."


Agneta yang tiba-tiba menjadi korban fitnah seketika membelalakkan matanya melihat kearah Darren.


"Eh, enak aja kalau ngomong ya. Justru Mama yang sering mengunjungi rumah orang tua Mama. Kamu nya aja yang tidak pernah kesana. Kamu bahkan lebih betah di rumah kamu sendiri. Jangankan rumah nenek dan kakek kamu. Rumah kedua orang tua kamu saja, kadang-kadang kamu bilang bosan!" Agneta berucap panjang lebar sembari menjahili putranya itu.

__ADS_1


"Ih, Mama! Aku kan ngomongnya sedikit. Kok Mama ngomongnya panjang lebar gitu? Mama nggak asyik. Kenapa nggak ngalah aja sama anak sendiri?"


Mendengar ucapan serta melihat wajah kesal Darren membuat Agneta tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka saat ini benar-benar bahagia melihat Darren sudah kembali cerita dan tidak sedih lagi.


__ADS_2