KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Lelang Lukisan


__ADS_3

[KEDIAMAN KELUARGA ORLANDO]


Di sebuah kamar terlihat seorang gadis cantik yang tengah duduk di sofa sembari memegang gelas yang berisi wine. Gadis itu adalah Helena Orlando.


Helena memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya dan tinggal beberapa hari di rumah disana.


"Darren. Aku tidak peduli kau menolakku. Aku akan melakukan apapun untuk bisa menjeratmu kembali. Kau harus menjadi milikku," ucap Helena memikirkan dan membayangkan wajah tampan Darren.


Disaat Helena sedang bahagia memikirkan Darren, tiba-tiba ponselnya berbunyi yang menandakan panggilan masuk.


Helena mengambil ponselnya yang ada di sampingnya. Kemudian melihat nomor yang tidak dikenal. Dikarenakan rasa penasarannya, Helena akhirnya pun menjawab panggilan tersebut.


"Hallo."


"Hallo, Helena."


Saat mendengar suara yang sangat dikenal olehnya. Akhirnya Helena tahu siapa yang sudah mengganggunya.


"Ada apa?"


"Cih! Ternyata kau dari dulu tidak pernah berubah. Kau selalu ketus setiap berbicara padaku."


"Langsung saja, Samuel."


"Hahahaha. Jadi kau sudah tidak sabaran ya! Eeemm... Baiklah! Apa Perusahaan Ayahmu menerima undangan Pameran Lelang Lukisan itu?"


"Iya. Sebentar lagi aku dan kedua orang tua akan berangkat kesana."


"Lakukan rencana itu. Kau tahu bagaimana hubungan mantanmu itu dengan keluarganya?"


"Ya, aku tahu. Kau tenang saja. Aku sudah memikirkannya. Aku akan memulai permainannya saat diacara penutupannya."


"Bagus. Aku tidak terima kata gagal."


"Tenang saja. Aku tidak akan gagal."


"Aku pegang kata-katamu."


Setelah mengatakan hal itu, Samuel langsung mematikan panggilan tersebut.


"Dasar pria brengsek. Seenaknya saja mengancamku. Niatku mendekati Darren untuk menguasai kekayaannya dan juga membuat dia membantu Perusahaan Ayahku serta menuruti semua kemauanku. Tapi pria brengsek itu menggagalkan rencanaku dan harus menggunakan rencananya," ucap Helena marah.


Saat Helena sedang marah. Dirinya dikejutkan dengan suara teriakan dari ibunya.


"Helena. Apa kau sudah selesai?" teriak ibunya


"Iya, Ma! Aku sudah siap. Sebentar lagi aku turun!" Helena balik berteriak.


"Buruan dan jangan lama-lama. Kita akan segera berangkat!"


"Baiklah, Ma!"


Setelah itu, Helena pun bersiap-siap. Helena bersiap-siap dengan alat make upnya. Sedang untuk pakaiannya, Helena sudah rapi sedari tadi.

__ADS_1


Sepuluh menit merias wajahnya, Helena pun langsung pergi meninggalkan kamarnya.


***


[KEDIAMAN KELUARGA SMITH]


Seluruh anggota keluarga Smith telah dalam keadaan rapi. Mereka saat ini sedang sarapan. Setelah selesai sarapan, mereka akan bersiap-siap untuk pergi ke Acara Pameran Lelang Lukisan.


Sementara Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Mereka tetap berangkat ke sekolah. Mereka tidak diizinkan untuk libur sekolah.


"Pokoknya setelah acara itu selesai, aku akan membawa Darren pulang ke rumah. Aku tidak akan membiarkan Darren untuk pulang ke rumahnya!" seru Davin sambil mengunyah makanannya.


Darka dan Gilang menatap tajam kearah Davin. Mereka tidak suka akan sikap egois dan keras kepala kakak tertua mereka itu.


"Kau tidak bisa melakukan hal itu, kak Davin. Itu sama saja kau menyakiti Darren," sahut Darka.


"Aku sarankan, tolong pertimbangkan lagi ide gilamu itu, kak Davin. Darren masih belum memaafkan kesalahanmu dan kita. Kau jangan menambah masalah baru," ujar Gilang.


"Kalian salah jika berpikiran seperti itu tentang kakak. Kakak melakukan hal ini justru kakak sayang dengan Darren. Rumah ini juga milik Darren. Kita akan tinggal bersama disini. Bagaimana bisa, kita tinggal bersama di rumah besar ini. Sementara Darren tinggal sendirian diluar sana. Meski Darren punya rumah sendiri!" seru Davin.


"Tapi caramu salah, kak. Kau tidak bisa memaksa kehendakmu untuk Darren tinggal disini lagi. Pikirkan juga kesehatan Darren," balas Darka dengan tatapan tajamnya.


"Kakak setuju apa yang dikatakan kak Davin. Darren harus tinggal lagi di rumah ini. Rumah ini milik kita bersama. Kita adalah keluarga. Jadi kita akan tinggal bersama di rumah ini, termasuk Darren!" seru Andra menambahkan.


"Cih! Dasar menjijikkan. Terserah! Lakukan apa yang ingin kalian lakukan. Aku akan tetap membela dan mendukung Darren. Tapi ingat kataku baik-baik. Jika terjadi sesuatu terhadap Darren. Aku Lian Darka Smith tidak akan pernah memaafkan kalian berdua. Awalnya hanya Darren yang membenci kalian, tapi nanti aku yang akan membenci kalian. Dan kemungkinan akan ada satu orang lagi yang bakal keluar dari rumah ini!" Darka berbicara lantang dengan matanya yang menatap penuh amarah kedua kakak tertuanya itu.


Setelah mengatakan hal itu, Darka berdiri dan pergi meninggalkan meja makan. Sementara anggota keluarga yang lainnya hanya bisa diam. Mereka bingung dan tidak tahu harus mengatakan apa.


Pada akhirnya mereka semua sarapan dengan hening dan tanpa bersuara.


***


Emiten Investor Relation menggelar pameran bertajuk The Essence of Gold Exhibition di Pusat Seni Radium, Seoul. Pameran menghadirkan lukisan emas 24 karat karya pelukis-pelukis terkenal di Korea Selatan.


Sekitar 50 lukisan dari 25 pelukis terkenal yang datang dari beberapa kota di negara Jerman yang diboyong kesana.


Para tamu undangan pun semuanya sudah hadir dan langsung menempati tempat duduk masing-masing sesuai nomor undangan yang diterima, termasuk Darren, para sahabatnya dan para anggota keluarga.


Darren, para sahabatnya dan para anggota keluarga duduk di meja yang berbeda.


Pameran dibuka oleh Wakil Direktur Christopher Emiten Investor Relation mengatakan ajang pameran yang hanya berlangsung satu hari untuk merayakan hubungan bisnis dan kebudayaan sesama warga Jerman.


Pameran juga bertujuan menggalang dana kemanusian untuk donasi bencana longsor dan yayasan sosial.


"Dalam pameran kami menggelar kegiatan the Essence of Gold for Humanity. Setiap lukisan yang terjual, dananya akan disisihkan juga untuk yayasan sosial " ucap Christopher.


"Baiklah, semuanya. Kali ini saya mau menawarkan lukisan yang bagus. Di samping saya ini ada 10 lukisan. Sepuluh lukisan ini dibuat oleh pelukis yang terkenal. Mereka adalah Darrendra Garcia, Girardo, Yosept Arta, Lunbe Aiwa, Dairus Sastra dan Dimiko Dio!" seru Christopher.


Mendengar nama Darren disebut oleh pembawa acara membuat anggota keluarganya tersenyum bahagia. Mereka melihat dengan jelas lukisan yang terpampang di depan. 


Senyum mereka seketika memudar ketika mendengar pembawa acara menyebut nama panjang Darren menggunakan marga Garcia, bukan marga Smith. Tapi mereka semua memaklumi hal itu. Mereka sama sekali tidak marah Darren menggunakn marga Garcia. Bagaimana oun marga Garcia itu adalah marga dari istrinya/kakaknya/ibunya.


"Lukisan Darren bagus sekali," puji Gilang.

__ADS_1


"Ya, Gilang. Lukisan adik kita bagus sekali." Darka ikut memuji lukisan milik Darren.


"Belva, apa kau sedang melihat dari atas sana? Kau pasti banggakan pada putra bungsu kita. Kau lihatlah, lukisan putra bungsu kita sangat bagus," batin Erland. Erland menangis saat melihat lukisan putranya.


"Bagi para undangan yang berminat ingin membeli lukisan-lukisan ini. Kami membuka harga dimulai 6 miliar untuk semua lukisan tersebut."


"6,2 miliar," meja nomor 10.


"6,7 miliar," meja nomor 9.


"7 miliar," meja nomor 20.


Harga tersebut terus naik hingga sampai kepuncaknya.


"15 miliar," meja nomor 25.


Penawaran itu langsung membuat gaduh seisi ruangan. Siapa yang berani menawar 10 lukisan tersebut. Itu adalah jumlah yang fantastis. Tidak mungkin orang sembarangan yang menawarnya.


"Ada lagi?" tanya pembawa acara.


Hening.. tidak ada yang menawar lagi.


"Dikarenakan tidak ada yang menawar lagi. Maka kesepuluh lukisan ini menjadi milik tamu undangan nomor 25 yaitu keluarga Carlo."


Mereka semua bertepuk tangan untuk keluarga Carlo.


"Aish!" Darren merengut kesal.


"Kau kenapa, Ren?" tanya Darel. Mereka semua melihat wajah kesal Darren.


"Tanyakan saja pada sikurus di sampingmu itu," jawab Darren sembari melirik Dylan.


Darel yang mengerti langsung melihat kearah Dylan. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Kenapa kalian menatapku?" tanya Dylan. "Dan kau kelinci sialan. Kenapa dengan wajahmu itu? Apa kau lagi pms, ya?"


"Kenapa kau tidak bilang jika Papamu akan ikut dalam penawaran lukisan itu?" Darren balik bertanya.


"Hahahaha. Jadi gara-gara itu wajahmu menjadi kecut begitu. Yaelah, Ren! Kau sudah berapa lama mengenal Papaku. Papaku itu maniak lukisan," sahut Dylan dengan santainya.


"Kalau itu aku tahu. Tapi gak disaat ada lukisanku. Papamu seharusnya menawar lukisan yang lain saja," sela Darren.


"Yeeeyy! Kenapa kau marah padaku? Noh, orangnya!" Dylan berucap sambil menunjuk kearah dimana keluarganya duduk.


Dylan yang berniat menjahili Darren, dirinya pun berteriak memanggil sang Ayah. Saat Dylan ingin membuka mulutnya ingin memanggil ayahnya. Darren langsung membekap mulutnya.


"Berani berteriak dan memanggil Papamu. Aku akan pecat kau tanpa gaji dan aku juga akan pecat kau jadi sahabatku," ucap Darren sembari memberikan ancam kepada Dylan.


"Bisanya ngancam mulu," gumam Willy dan Qenan bersamaan.


"Apa kalian mau juga?" tanya Darren yang mendengar gumaman Willy dan Qenan.


Baik Dylan, Willy maupun Qenan langsung mengatup mulut mereka masing-masing.

__ADS_1


Sementara Jerry, Darel dan Rehan tersenyum gemas melihat keempat sahabatnya.


__ADS_2