KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kemarahan Pria Misterius


__ADS_3

Chico, dua tangan kanannya dan para anggota mafioso sudah berada di rumah sakit. Dan sekarang Erland sudah ditangani oleh Dokter lain. Kebetulan Dokter Celsea tidak masuk.


Setelah menunggu beberapa menit, keluarnya seorang Dokter dari ruang Unit Gawat Darurat.


"Bagaimana kondisi Paman saya, Dokter?" tanya Chico.


"Untuk saat ini semuanya baik-baik saja. Tapi saya belum bisa memastikan semua. Kita harus menunggu pasien sadar dulu."


"Ach, baiklah."


"Anda bisa melihat pasien setelah dipindahkan ke ruang rawat."


"Terima kasih, Dokter."


Setelah itu, Dokter itu pergi. Sementara Chico dan kedua tangan kanannya menuju ruang rawat Erland.


^^^


Kini Chico dan dua tangan kanannya yaitu Zidan dan Dirga sudah berada di ruang rawat Erland.


Chico, Zidan dan Dirga menatap wajah sedikit pucat Erland.


"King, apa sebaiknya kita menghubungi keluarga Smith dan mengatakan kepada mereka bahwa kita sudah membawa tuan Erland ke rumah sakit," ucap Dirga.


"Jangan dulu. Kita tunggu Paman Erland sadar dulu dan melihat apa yang terjadi. Apa benar kecurigaan kamu jika Paman Erland akan mengalami Amnesia," sahut Chico.


"Hubungi saja dulu Ziggy, Noe, Enzo dan Devian. Suruh mereka kesini."


"Baik, King."


Setelah itu, Zidan dan Dirga menghubungi keempat ketua mafia lainnya dan memberitahu tentang Erland.


***


Keesokan harinya anggota keluarga Smith tengah melakukan sarapan pagi bersama. Ini adalah sarapan pagi yang ke sepuluh tanpa suami/ayah/Paman/kakak laki-laki kesayangan mereka. Mereka menatap sedih bangku kosong itu.


Mereka menggumam nama ayah, nama suami, nama Paman dan nama kakak laki-lakinya di dalam hati masing-masing.


"Ren," panggil Davin.


"Iya, kakak Davin."


"Kamu yakin mau kuliah hari ini?"


"Yakin, kakak Davin. Sudah tiga hari aku tidak masuk kuliah," jawab Darren.


"Tapi khawatir sama kamu. Wajah kamu saja masih terlihat pucat," ucap Davin.


"Aku baik-baik saja, kakak! Jika aku di rumah terus, bisa-bisa sakitku makin parah. Kakak Davin tahu sendiri bagaimana aku yang nggak bisa diam saja. Aku orang yang suka melakukan ini dan itu."


Mendengar ucapan dan jawaban dari Darren membuat mereka semua hanya menghela nafasnya.


"Kakak Davin izinkan kami ke kampus. Tapi kamu harus janji sama kakak. Kami harus baik-baik saja," ucap Davin menatap memohon pada adik laki-lakinya itu.

__ADS_1


"Iya, aku janji sama kakak Davin. Aku akan baik-baik saja. Dan aku juga janji nggak akan terlalu menguras tenaga selama di kampus," ucap Darren bersungguh-sungguh.


Davin seketika tersenyum mendengar perkataan dari Darren. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Ya, sudah! Sekarang kamu habiskan sarapannya. Dan jangan ada yang tersisa," sela Agneta kepada Darren.


"Baik, Mama!"


"Kalian juga," ucap Agneta kepada putra-putranya yang lainnya.


"Baik, Mama!"


***


Bugh! Bugh!


Duagh!


Seorang pemuda memberikan pukulan serta tendangan kepada semua anak buahnya karena gagal menjaga Erland. Berkat kebodohan dan kelalaian semua anak buahnya, Erland berhasil dibawa pergi.


"Tidak ada yang becus dan tidak bisa diandalkan kalian semua. Menjaga satu orang saja kalian tidak bisa!" bentak pemuda itu.


"Maafkan kami, Bos! Orang-orang yang membawa tuan Erland bukan orang sembarangan."


"Apa maksud kamu, hah?!" tanya pemuda itu dengan suara dikeraskan.


"Orang-orang yang membawa tuan Erland pergi itu menggunakan topeng. Dan topeng yang mereka pakai itu berlambangkan topeng mafia. Mereka berasal dari kelompok mafia, Bos!"


Mendengar ucapan demi ucapan dari tiga anak buahnya membuat pemuda itu terkejut dan tak percaya atas apa yang didengar olehnya.


"Siapa sebenarnya Darren dan ketujuh sahabatnya beserta anggota keluarganya? Kenapa kelima kelompok mafia yang terkenal kejam nomor satu di dunia membantu mereka?" tanya pemuda itu di dalam hatinya.


"Mulai sekarang aku harus berhati-hati. Dan jangan sampai aku melakukan kesalahan," batin pemuda itu lagi.


***


Darren sudah berada di kampus. Darren ke kampus bersama dengan Gilang dan Darka dengan menggunakan mobil Darka.


Setiba di kampus, Darren langsung pamit kepada kedua kakaknya untuk menuju kelasnya.


Ketika Darren tiba di kelas, ketujuh sahabatnya menyambut kedatangannya.


Darren yang melihat ketujuh sahabatnya yang menyambut kedatangannya hanya tersenyum.


Darren menduduki pantatnya di kursi di sebelah Willy.


"Bagaimana? Udah mendingan?" tanya Willy.


"Udah," jawab Darren.


"Yakin?x tanya Jerry.


"Nggak usah bawel deh. Sejak kapan kalian berubah jadi ibu-ibu yang menasehati anaknya," ucap Darren kesal.

__ADS_1


"Kita seperti ini karena......." perkataan Rehan terpotong.


"Iya, aku tahu. Jadi nggak perlu diperjelas lagi," potong Darren.


Mendengar ucapan dan jawaban dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel menatap kesal kearah Darren.


"Dasar keras kepala," ucap Axel.


"Siapa suruh mau berteman sama orang yang memiliki keras kepala sepertiku?"


Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka semua membuang nafasnya secara kasar.


^^^


Setelah mengikuti materi kuliah selama tiga jam. Kini Darren, ketujuh sahabatnya, Brenda beserta ketujuh sahabatnya saat ini mereka berada di kantin.


Di kantin mereka memesan banyak makanan dan minuman sehingga membuat para pengunjung kantin menatap dengan melongo kearah meja Darren, ketujuh sahabatnya, Brenda beserta ketujuh sahabatnya.


"Nan, Wil. Bagaimana masalah perusahaan Accenture? Semuanya baik-baik sajakan?"


"Semuanya baik-baik saja. Kamu nggak perlu khawatir," jawab Qenan.


"Aku dan Qenan sudah menyelesaikan masalah di perusahaan Accenture,"ujar Willy.


"Syukurlah," ucap Darren.


Renan dan Darel menatap wajah Darren. "Ren," panggil keduanya.


Darren balik menatap Rehan dan Darel. "Iya. Ada apa Han, Rel?


"Bagaimana pencarian terhadap Paman Erland? Apa salah satu tangan kanan kita ada memberikan informasi?" tanya Rehan.


"Satu pun belum ada yang menghubungiku dan memberitahuku tentang Papa," jawab Darren.


"Aku berharap mendapatkan kabar bahagia dari Papa. Ini sudah hari ke sepuluh," ucap Darren.


Puk!


Axel yang duduk di samping kanan Darren menepuk pelan bahu Darren. Dia tahu bahwa sahabat kelincinya ini tengah merindukan ayahnya.


"Kita berdoa saja semoga ada kabar baik tentang Paman Erland."


Darren seketika tersenyum mendengar ucapan dari Axel. "Aku berharap begitu. Aku ingin Papa kembali dalam keadaan baik-baik saja."


"Udah selesaikan acara sedih-sedihnya, kan? Ini semua makanan dan minuman sedari minta dihabiskan," celetuk Dylan.


Mendengar perkataan dari Dylan, seketika tatapan mata mereka menatap makanan dan minuman yang tertata di atas meja.


Mereka semua saling memberikan tatapan satu sama lainnya. Dan setelah itu, mereka semua tertawa.


"Hahahaha!"


Setelah itu, mereka semua pun menyantap semua makanan dan minuman yang sudah mereka pesan itu dengan lahap.

__ADS_1


__ADS_2