KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Tiga Tamu Wanita


__ADS_3

Di kediaman Smith terlihat anggota keluarga sedang berkumpul di ruang tengah lengkap dengan Darren dan Erica. Bahkan Brian bersama istri dan ketiga anaknya juga berada di kediaman Smith.


Baik keluarga Erland/Agneta, keluarga Brian dan keluarga Evan/Carissa sengaja berkumpul untuk menghabiskan waktu kebersamaannya dengan semua anggota keluarganya.


"Bagaimana keadaan kamu, Ren?" tanya Brian kepada Darren.


"Aku baik-baik saja, Paman! Paman bagaimana?"


"Sama seperti kamu."


"Satu bulan yang lalu Paman berada di Singapura. Selama Paman disana, kamu dalam keadaan baik-baik saja kan? Jantung kamu tidak kambuh kan, Sayang?" Brian bertanya sembari menatap lekat keponakannya itu.


Darren seketika tersenyum ketika mendengar ucapan serta pertanyaan dari Pamannya itu. Dia tahu bahwa Pamannya itu memiliki kekhawatiran yang sangat besar padanya. Dan dia juga tahu bahwa Pamannya itu ingin dia baik-baik saja.


"Satu bulan ini semuanya baik-baik saja. Jantungku tidak pernah kambuh, sekalipun aku memforsir tenagaku baik di kantor, showroom, galeri dan Kampus."


"Kamu tidak bohong kan, Sayang?"


"Paman bisa bertanya pada Papa dan Mama."


Brian langsung melihat kearah Erland dan Agneta. Brian menatap keduanya secara bergantian.


"Kak."


"Itu benar, Brian! Semuanya baik-baik saja. Jantung Darren sehat. Satu bulan ini Darren tidak pernah merasakan kesakitan," sahut Erland.


Brian seketika tersenyum penuh kelegaan. Itu yang dia ingin dengar dari kedua kakaknya itu.


Brian kembali menatap wajah Darren. "Paman minta sama kamu, jangan ada rahasia apapun dari Paman. Jika kamu dalam keadaan sakit atau apapun. Tolong kasih tahu paman, sekalipun paman berada di luar negeri." Brian berucap sembari menatap penuh harap kearah Darren.


"Begitu juga dengan kalian," ucap Brian dengan mengalihkan pandangannya menatap satu persatu anggota keluarganya.


Darren tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Baiklah, Paman!"


"Baik!"


Darren dan semua anggota keluarga Smith termasuk Evan menjawab dan mengiyakan apa yang diinginkan oleh Brian.


Evan menatap kearah Darren lalu memanggilnya.


"Ren."


Mendengar namanya dipanggil oleh Evan, seketika Darren langsung melihat kearah Evan.


"Iya, Paman!"


"Apa kamu sudah bertemu dengan keponakan Paman?"


"Keponakan? Maksud Paman?"


Darren menatap Evan bingung. Begitu juga dengan Erland dan yang lainnya kecuali Carissa yang sudah tahu.


"Dia putri bungsunya Paman Fikry. Kamu tidak melupakan kakak laki-laki Paman itu kan?"


Mendengar pertanyaan dari Evan membuat Darren seketika berpikir. Begitu juga dengan Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka.

__ADS_1


Detik kemudian..


"Maksud Paman Evan, Paman Fikry yang menetap di Amerika itu?" tanya Darka.


"Iya, Sayang!" Evan langsung membenarkan sembari tersenyum.


"Ach, iya! Aku ingat sekarang. Siapa nama keponakan Paman itu?" ucap dan tanya Darren.


"Namanya Nindi. Nindi Liam Odelia," jawab Darren.


"Nindi Liam Odelia... Eemmm... Sepertinya keponakan Paman itu ada di Tim nya Axel karena jurusan yang diambil sama Nindi sama dengan jurusannya Axel."


Evan menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Kalau Paman boleh tahu. Bagaimana sikap Nindi selama menjadi mahasiswi baru di kampus kamu itu, Sayang?" tanya Evan.


"Untuk sikap dan lainnya, aku pribadi belum tahu. Begitu juga dengan sahabat-sahabat aku. Tapi..." Darren menghentikan sejenak ucapannya sehingga membuat Evan penasaran serta khawatir.


"Tapi apa, Sayang?" tanya Carissa.


"Aku, ketujuh sahabat-sahabatku, Brenda dan juga ketujuh sahabatnya dibuat frustasi dengan tingkah mahasiswa dan mahasiswi baru itu."


"Memangnya apa yang mereka lakukan, Sayang?" kini Erland yang bertanya.


"Mereka tidak mengerjakan dengan benar setiap tugas yang diberikan oleh para seniornya. Mereka banyak mainnya dan juga banyak bercanda. Padahal kami para senior sudah memberikan contoh setiap tugas yang kami berikan."


Mendengar jawaban dari Darren bahkan melihat mimik wajah Darren yang terlihat kecewa membuat mereka semua kasihan. Bahkan mereka langsung menyalahkan sikap para mahasiswa dan mahasiswi itu termasuk Evan.


"Apa semuanya yang melakukan itu, Ren?" tanya Davin.


"Tidak semuanya sih. Tapi itu cukup untuk menjadikan pembelajaran untuk yang lainnya. Dengan kata lain, mereka yang tidak salah ikut terkena imbasnya."


"Sekitar 40 dari 100 mahasiswa dan mahasiswi yang mendaftar," jawab Darren.


"Itu banyak juga. Wah, benar-benar mereka!" ucap Dzaky dengan nada kesal.


"Mereka niat gak kuliah." Davian juga ikut kesal.


"Terus apa yang kamu dan sahabat-sahabat kamu itu lakukan?" tanya Andra.


"Disaat sahabat-sahabat aku yang yang sudah frustasi bahkan pasrah melihat kelakuan adik-adik kelasnya sehingga berakhir mereka memberikan keringanan kepada adik-adik kelasnya dengan membebaskan mereka dari hukuman. Melihat itu, aku langsung menghentikannya. Aku yang memberikan mereka hukuman."


"Hukuman apa yang kamu berikan kepada adik-adik kelas kamu yang nakal itu?" tanya Tristan.


"Aku menyuruh mereka untuk meminta tanda tangan semua anggota organisasi yang ada di kampus. Waktu yang aku berikan kepada mereka 1 bulan. Tanda tanda itu tidak boleh kurang. Jika jumlah semua anggota organisasi adalah 200 orang termasuk ketua, wakil, sekretaris dan bendahara. Maka mereka diperbolehkan untuk mendapatkan tanda tangan sebanyak 198."


"Jadi maksud kamu, kekurangannya hanya boleh dua saja?" tanya Adnan.


"Iya," jawab Darren.


"Lalu jika mereka semua gagal mendapatkan semua tanda tangan para anggota Organisasi, bagaimana? Kelompok Organisasi di Kampus banyak loh. Dan setiap kelompok beranggotakan sekitar 40?" tanya Darka dengan menatap wajah Darren.


"Ya, mau tidak mau mereka harus mengulang dari awal lagi. Selama mereka belum berhasil, mereka belum resmi menjadi mahasiswa atau mahasiswi di University Nastional Hamburg," jawab Darren.


Deg..


Mereka semua terkejut ketika mendengar jawaban dari Darren. Yang paling terkejut disini adalah Evan.

__ADS_1


Darren menatap kearah Evan yang terlihat terkejut akan perkataannya barusan.


Aku harap Paman Evan tidak marah atau kecewa padaku. Aku melakukan ini hanya semata-mata untuk mendisiplinkan mereka. Belum resmi saja, mereka sudah seperti itu apalagi kalau sudah resmi menjadi seorang mahasiswa dan mahasiswi. Aku tidak mau mereka bermalas-malasan. Justru sebaliknya, mereka harus serius ketika mengikuti kuliah mereka. Bukan sekedar hanya bermain-main saja."


Mendengar ucapan dari Darren membuat Erland dan anggota keluarga lainnya mengangguk kepalanya tanda setuju.


"Paman mengerti, Sayang! Paman tidak marah apalagi kecewa sama kamu. Justru Paman bangga sama kamu. Kamu melakukan hal itu untuk kebaikan mereka juga," ucap Evan lembut.


"Terima kasih Paman mengerti. Paman tidak perlu khawatir. Jika Nindi serius dan tidak main-main seperti teman-temannya, sekalipun nanti Nindi hanya mendapatkan sedikit tanda tangan dan tidak mencapai target. Nindi akan langsung aku loloskan. Disini aku hanya ingin melihat keseriusannya. Begitu juga dengan mahasiswa dan alumni baru yang lainnya."


Evan seketika tersenyum ketika mendengar ucapan dari Darren. Dia benar-benar bangga dan bahagia akan sikap bijak dan adil Darren.


"Untuk tugasnya Nindi, aku akan minta pada Axel untuk memberikannya padaku."


"Terima kasih, Sayang!"


"Sama-sama, Paman!"


Ketika semua anggota keluarga Smith tengah mengobrol sembari membahas masalah mahasiswa dan mahasiswi baru, tiba-tiba datang seorang pelayan menemui mereka.


"Maaf Tuan, Nyonya!"


Semuanya melihat kearah pelayan wanita itu.


"Iya, Bi! Ada apa?"


"Itu diluar ada tamu. Mereka wanita dan berjumlah tiga orang."


"Apa bibi ada bertanya kepada mereka mau mencari siapa?" tanya Gilang.


"Ada, Tuan muda Gilang. Mereka ingin bertemu dengan Tuan muda Darren."


"Mencari saya?" tanya Darren sembari menunjuk dirinya.


"Iya, Tuan muda."


Darren seketika berpikir tentang tamu yang mencari dirinya.


"Tiga wanita? Mencariku?" batin Darren.


Dan detik kemudian...


Terukir senyuman di sudut bibirnya ketika telah mengetahui siapa tiga wanita tersebut.


Melihat senyuman di sudut bibir Darren membuat semuanya meyakini bahwa Darren telah mengetahui tiga wanita itu.


Darren menatap kearah pelayan wanita itu.


"Dimana mereka sekarang?"


"Di luar, Tuan muda. Bibi tidak berani menyuruh mereka masuk karena ini untuk pertama kalinya mereka kesini."


"Tidak apa-apa. Sekarang Bibi kembali saja ke dapur."


"Baik, Tuan muda."


Setelah mengatakan itu, pelayan wanita itu langsung pergi meninggalkan para majikannya.

__ADS_1


Darren seketika berdiri dan diikuti oleh semua anggota keluarganya. Kemudian mereka semua pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju depan.


__ADS_2