
Darren saat ini sudah berada di rumah sakit. Dia datang bersama Gilang dan Darka. Di rumah sakit tersebut sudah hadir anggota keluarga dari Brenda dan ketujuh sahabatnya. Begitu juga dengan ketujuh sahabat Darren dan kedua kakak mafianya yaitu Chico dan Enzo.
Mereka semua saat ini berada di depan ruang Unit Gawat Darurat, menunggu orang-orang yang mereka sayangi tengah diperiksa di dalam.
Sementara untuk teman-teman kampusnya, Dosen dan sang sopir sudah diantar pulang ke rumah masing-masing.
Liana yang tak sengaja tatapan matanya menatap kearah Darren. Dan dia begitu terkejut ketika melihat wajah Darren yang terlihat sedikit pucat.
"Darren," panggil Liana.
Darren langsung melihat kearah Liana. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Iya, Bibi!"
"Apa kamu sakit, Nak?"
"Tidak. Aku baik-baik saja."
"Tapi kenapa wajah kamu pucat?"
Mendengar pertanyaan dari Liana yang mengatakan bahwa wajah Darren pucat. Mereka semua menatap kearah Darren.
Dan benar, wajah Darren memang benar pucat. Gilang dan Darka langsung ketakutan ketika melihat wajah pucat adik laki-lakinya itu.
"Ren, apa kepalanya kambuh lagi sakitnya?" tanya Gilang.
"Aku nggak apa-apa, kakak Gilang!"
Mendengar jawaban dari adik laki-lakinya membuat Gilang hanya bisa menghela nafasnya. Begitu juga dengan Darka dan yang lainnya.
Cklek!
Terdengar pintu ruang Unit Gawat Darurat dibuka. Semua yang ada di depan pintu itu langsung melihat kearah pintu tersebut.
Dari dalam ruangan itu keluarlah dokter cantik yang tak lain adalah Celsea.
Mereka semua menatap kearah Celsea untuk mengetahui kondisi kesayangannya yang masih di dalam.
"Bagaimana keadaan putri saya dan sahabat-sahabatnya, Dokter?" tanya Ibunya Lenny.
"Semuanya dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab Celsea.
Mendengar jawaban dari Celsea, mereka semua tersenyum bahagia. Rasa khawatir mereka semuanya hilang seketika.
"Apa kami boleh melihat putri kami, Dokter?" tanya Ibunya Milly.
"Oh, boleh! Silahkan," jawab Celsea.
Setelah mendapatkan izin dari sang Dokter. Para orang tua dari Brenda, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania, Felisa dan Elsa langsung melangkah masuk ke dalam ruang Unit Gawat Darurat.
Darren tiba-tiba menghempaskan tubuhnya ke dinding, tangannya meremat rambutnya. Rasa sakit di kepalanya kembali menyerangnya.
"Darren!" teriak Darka yang menyadari adik laki-lakinya kesakitan.
Mendengar teriakkan dari Darren. Ketujuh sahabatnya, Chico, Enzo dan Celsea langsung melihat kearah Darren.
"Darren!" seru mereka dengan tatapan khawatirnya.
Darren makin meremat kuat rambutnya dengan posisi kepala menunduk ke bawah.
Gilang dan Darka sudah menangis melihat adik laki-lakinya kembali merasakan sakit di kepalanya.
"Darren," Isak Gilang dan Darka.
"Ren," lirih Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.
Bruk!
Seketika tubuh Darren terjatuh ke depan tepat di hadapan Gilang dan Darka.
"Darren!" teriak mereka semua.
Dengan gerakan cepat Gilang dan Darka dibantu oleh Willy dan Jerry menahan bobot tubuh Darren.
Darren jatuh tak sadarkan diri di pelukan Gilang dan Darka. Keduanya menangis melihat adik laki-lakinya yang tidak sadarkan diri.
"Angkat Darren. Dan bawa dia ke ruangan Bibi." seru Celsea.
"Baik, Bibi!"
"Angkat dan letakkan tubuh Darren di atas punggungku," ucap Willy.
"Baiklah!"
Setelah itu, Jerry dan dibantu oleh Qenan serta Enzo mengangkat tubuh Darren dan meletakkannya di atas punggung Willy.
Setelah Darren berada di punggung Willy. Willy pun pergi membawa Darren menuju ruangan Celsea. Diikuti oleh Darka, Qenan, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.
Sementara untuk Gilang, Enzo dan Chico tinggal. Mereka masih berbicara dengan Celsea
"Dan untuk kalian berdua. Siapa kamar VVIP untuk pasien Darren," perintah Celsea kepada dua perawatnya.
__ADS_1
"Baik, Dokter!"
Setelah mengatakan itu, dua perawat itu langsung pergi untuk menjalankan apa yang diperintahkan oleh Celsea.
"Mau tidak mau, Darren harus dirawat. Kita tidak bisa menundanya lagi. Takutnya terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan," ucap Celsea dengan menatap wajah Gilang.
"Baik, Bibi! Aku sebagai kakak laki-laknya Darren percayakan semuanya pada Bibi. Bibi yang lebih tahu apa yang terbaik untuk Darren," ucap Gilang.
"Ya, sudah. Bibi akan kembali ke ruangan Bibi untuk memeriksa keadaan Darren. Kalian langsung saja ke ruang VVIP. Setelah selesai Bibi memeriksa Darren. Darren akan dibawa kesana."
"Baik," jawab Gilang, Enzo dan Chico bersamaan.
Setelah itu, Celsea pun pergi meninggalkan Gilang, Enzo dan Chico. Sementara Gilang, Enzo dan Chico langsung menuju ruang VVIP.
"Gilang. Lebih baik kamu kabari keluarga kamu!" usul Chico.
"Baiklah."
Gilang langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah ponselnya di tangannya. Gilang mencari kontak kakak laki-laki tertuanya, mendapatkan nomor kontak kakak laki-laki tertuanya. Gilang pun meredialnya.
Beberapa detik kemudian...
"Hallo, Gil! Kenapa?"
"Kakak Davin, Darren!"
***
Davin yang mendengar nada lirih dan nada yang terdengar seperti tengah menahan tangis dari Gilang, seketika rasa takutnya menjalar ke seluruh tubuhnya. Ditambah adik laki-lakinya itu menyebut nama adik laki-lakinya yang lain.
"Gilang, kenapa? Ada apa dengan Darren? Darren baik-baik saja, kan?"
"Sakit kepala Darren kambuh lagi sehingga membuat Darren pingsan. Bibi Celsea mengatakan bahwa Darren harus dirawat."
Seketika air mata jatuh membasahi wajah tampannya ketika mendengar perkataan dari Gilang tentang kondisi Darren. Hatinya sakit, hancur dan terluka.
"Tuhan, kenapa kau memberikan rasa sakit yang teramat banyak kepada adik laki-laki kesayanganku. Tidak cukupnya satu sakit saja yang dirasakan oleh adik laki-lakiku yaitu sakit jantungnya? Kenapa harus diberikan sakit yang lain?"
"Tuhan, aku mohon padamu! Angkatlah segala rasa sakit yang dirasakan oleh adik laki-lakiku itu. Sudah cukup dia menanggung rasa sakit selama ini. Sudah waktunya adik laki-lakiku itu hidup bahagia."
Davin menangis membayangkan kehidupan adik laki-lakinya itu dari usia satu tahun sampai adik laki-lakinya itu tumbuh dewasa.
"Kakak Davin."
Gilang yang berada di seberang telepon memanggil namanya dikarenakan Gilang tidak mendapatkan jawaban apapun darinya.
"Iya, Gilang! Baiklah, kakak mengerti. Kakak akan sampai kepada Papa dan anggota keluarga lainnya. Kamu dan Darka jaga Darren disana."
Setelah itu, baik Gilang maupun Davin sama-sama mematikan panggilannya.
Setelah Davin selesai berbicara dengan Gilang. Dan ketika Davin hendak melangkah menuju ruang tengah dimana saat ini Davin berada di dapur, tiba-tiba Davin dikejutkan oleh ibunya sehingga membuat Davin terkejut.
"Aish, Mama!"
Agneta yang melihat keterkejutan putranya itu hanya memperlihatkan senyuman manisnya.
"Kamu habis bicara sama siapa? Oh, jangan-jangan....."
"Apaan sih, Mama! Nggak lucu tahu," ucap Davin kesal akan kelakuan ibunya lalu pergi menuju ruang tengah.
"Davin, tadi Mama dengar kamu nyebut nama Darren! Kenapa dengan Darren?!" teriak Agneta lalu menyusul putranya ke ruang tengah.
^^^
"Kita ke rumah sakit, sekarang!" seru Davin setelah menduduki pantatnya di sofa.
Mendengar seruan dari Davin membuat Erland dan yang lainnya langsung menatap kearah Davin.
"Ada apa, Davin? Siapa yang sakit?" tanya Carissa.
"Darren."
"Apa?! Darren?!"
"Davin. Kenapa dengan adik laki-lakimu?" tanya Erland.
"Gilang menghubungiku katanya, sakit di kepalanya Darren kambuh sehingga berakhir Darren jatuh pingsan. Bibi Celsea menyarankan Darren untuk dirawat di rumah sakit," jawab Davin menjelaskan kembali yang dia dengar dari Gilang kepada anggota keluarganya.
"Oh, Tuhan! Darren, sayang!"
Erland, Agneta, Carissa dan Evan seketika menangis ketika mendengar penjelasan dari Davin mengenai kondisi Darren. Begitu juga dengan kelima adik laki-lakinya dan ketiga saudara sepupunya.
"Ya, sudah kalau begitu. Kita ke rumah sakit, sekarang!" seru Evan.
Setelah mengatakan itu, mereka semua bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.
***
Di ruang Unit Gawat Darurat dimana Brenda dan ketujuh sahabatnya berada bersama para orang tua dan para saudara dan saudarinya.
Para orang tua dan para saudara dan saudarinya menatap dengan wajah yang bahagia kondisi putrinya/adik perempuan/kakak perempuannya.
__ADS_1
Baik ayah, ibu maupun saudara dan saudarinya secara bergantian memberikan ciuman di kening kesayangannya.
Setelah puas memberikan ciuman di kening kesayangannya. Mereka semua pun memutuskan untuk pergi meninggalkan ruang Unit Gawat Darurat karena kondisi putrinya/adik perempuannya/kakak perempuannya dalam keadaan baik-baik saja.
Disaat mereka semua tiba diluar. Para orang tua, para saudara dan saudarinya Brenda, Elsa, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania dan Felisa tidak melihat keberadaan Darren, ketujuh sahabatnya dan juga yang lainnya. Begitu juga dengan para anggota Enzo dan Chico. Mereka langsung membungkukkan sedikit badannya untuk memberikan hormat kepada Brenda dan yang lainnya.
Sementara para orang tua jadi bertanya di dalam hati masing-masing, kemana perginya mereka semua. Dan kenapa hanya ada beberapa laki-laki berpakaian hitam yang mereka tahu bahwa beberapa laki-laki itu adalah anak buah dari dua pemuda yang telah menolong putrinya/adik perempuannya/kakak perempuannya.
Dua dari anggota Enzo dan Chico langsung memberitahu keberadaan ketua mereka, Darren dan ketujuh sahabatnya.
"Maaf nyonya, tuan! Pasti kalian mencari keberadaan yang lainnya?"
"Iya, benar! Dimana mereka? Kenapa hanya ada kalian disini?" tanya kakak laki-laki Felisa.
"Beberapa menit yang lalu ada sedikit kejadian disini. Tuan Darren tiba-tiba merasakan sakit di kepalanya sehingga berakhir pingsan."
Mendengar ucapan dari salah satu laki-laki di hadapan mereka membuat mereka terkejut terutama Brenda.
"Te-terus dimana Darren sekarang? Bagaimana keadaannya?" tanya Brenda yang sudah menangis.
"Sayang," ucap Liana lalu mengusap punggung putrinya itu. Begitu juga dengan saudara dan saudarinya.
"Aku khawatir dengan Darren, Mama! Aku tahu kondisi Darren yang sebenarnya. Darren tidak baik-baik saja. Ditambah lagi beberapa minggu ini aku tidak ada di sampingnya. Aku tidak tahu bagaimana kondisi Darren sekarang." Brenda berucap lirih dengan air matanya yang mengalir membasahi wajahnya.
Brenda menatap wajah para anggota mafioso Enzo dan Chico. "Dimana mereka sekarang?"
"Tuan Darren saat ini berada di ruang VVIP. Nyonya Celsea memutuskan agar tuan Darren dirawat di rumah sakit untuk pemeriksaan selanjutnya."
"Mari nyonya, tuan, nona. Kami akan antarkan ke ruangan tuan Darren."
Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan ruang Unit Gawat Darurat untuk menuju ruangan VVIP tempat Darren dirawat.
^^^
Erland, Agnes, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Evan, Carissa, Daffa, Tristan dan Davian serta Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin sudah berada di ruang rawat Darren. Mereka semua menangis melihat kondisi Darren saat ini. Wajah Darren yang tampak pucat.
"Sayang," ucap Erland terisak.
Erland memberikan bertubi-tubi kecupan sayang di pipi dan kening putranya. Hati benar-benar hancur melihat putranya yang harus kembali terbaring di rumah sakit.
Tak jauh beda dengan Agneta, Carissa dan Evan. Ketiganya juga merasakan apa yang Erland rasakan. Di dalam hati mereka berkata 'kenapa pemuda sebaik Darren harus menanggung sakit yang luar biasa seperti ini'.
"Putranya Mama," ucap Agneta terisak.
"Darren, sayangnya Bibi!" Carissa menangis melihat keponakan kesayangannya kembali masuk rumah sakit.
"Darren, sayang!" Evan berucap dengan berurai air mata.
"Ren," lirih Daffa , Tristan, dan Davian bersamaan.
"Kakak Darren." Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin menangis menatap wajah pucat kakak laki-laki kesayangannya.
Cklek!
Terdengar suara pintu dibuka. Mereka yang berada di dalam langsung melihat kearah pintu.
Mereka semua melihat kearah pintu. Dan mereka semua melihat Brenda, ketujuh sahabatnya beserta anggota keluarganya melangkah memasuki ruang rawat Darren.
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel tersenyum bahagia melihat kekasihnya dalam keadaan baik-baik saja.
Brenda melangkah mendekati ranjang Darren dan diikuti dengan yang lainnya di belakang.
Sedangkan anggota keluarga Smith sudah berpindah ke tempat lain guna memberikan ruang untuk Brenda.
Seketika isak tangis Brenda pecah ketika sudah berdiri di samping ranjang Darren. Hatinya benar-benar hancur ketika melihat kekasihnya yang terbaring lemah di tempat tidur.
Bukan hanya Brenda saja yang menangis. Anggota keluarga Brenda dan ketujuh sahabat Brenda beserta anggotanya juga ikut menangis melihat kondisi Darren saat ini.
"Ren, ini aku. Maafkan aku yang tidak ada di samping kamu. Pasti beberapa minggu ini kamu mengalami hari-hari yang buruk. Pasti kamu merasakan sakit beberapa minggu ini. Maafkan aku karena tidak menemani kamu. Seharusnya... Seharusnya...."
Brenda tak kuasa menahan tangisannya. Brenda menangis terisak di hadapan Darren.
Agneta mendekati Brenda. Dan setelah itu, Agneta memeluk tubuh bergetar Brenda. Dan seketika isak tangis Brenda makin kencang di pelukan Agneta.
"Bibi, maafkan aku. Maafkan aku yang tidak menepati janjiku untuk selalu berada di samping Darren. Seharusnya aku selalu ada di samping Darren."
Agneta mengusap-usap dengan lembut punggung Brenda. Dia tahu bahwa saat ini keadaan Brenda benar-benar hancur ketika melihat orang yang begitu dicintainya kembali terbaring di tempat tidur rumah sakit. Ditambah lagi Brenda yang menyalahkan dirinya yang tidak bersama Darren ketika Darren membutuhkannya.
"Kamu tidak salah, sayang. Kamu pergi bukan kemauan kamu. Kamu pergi demi tugas kampus kamu. Bahkan Darren telah mengizinkan kamu pergi, bukan? Dan Darren tahu hal itu," hibur Agneta.
"Jadi, Bibi minta sama kamu untuk tidak menyalahkan kamu. Kalau sampai Darren dengar kata-kata kamu barusan. Darren pasti akan marah sama kamu. Apa kamu mau Darren memarahimu, hum?"
Brenda langsung melepaskan pelukan Agneta dan menatap wajah cantik Agneta.
"Tidak, Bibi! Aku tidak mau Darren marah padaku. Bibi tahu sendirikan bagaimana kalau Darren sudah dalam keadaan marah. Mengerikan!"
Mendengar ucapan dari Brenda ditambah lagi dengan ekspresi wajah Brenda membuat Agneta dan yang lainnya tersenyum gemas.
"Kalau begitu jangan buat Darren marah dengan mendengar kata-kata yang tidak dia sukai," ucap Agneta.
"Baik, Bibi."
__ADS_1