KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
26. Membasmi Para Tikus


__ADS_3

[PERUSAHAAN ACCENTURE]


Qenan, Willy dan kelima sahabatnya telah sampai di Perusahaan. Mereka sekarang sudah berada di ruangan kerja Darren.


Dan detik kemudian, ponsel milik Willy berbunyi. Mendengar bunyi ponselnya, Willy langsung mengambil ponselnya di saku celananya.


"Darren," batin Willy.


"Siapa?" tanya Rehan.


"Darren," jawab Willy.


"Angkat," ucap Qenan.


Willy langsung menjawab panggilan video call dari Darren.


"Hallo, Ren. "


"Bagaimana? Kalian udah di ruangan kerjaku?"


"Sudah, Ren."


"Sekarang tekan bagian samping kanan bingkai foto itu."


"Baik," Qenan menekan bagian samping kanan bingkai foto itu.


"Buka Qenan."


Qenan pun membukanya. Dan terlihat beberapa tombol angka dan huruf.


"Tekan Dr97ok."


Qenan pun menekan sandi tersebut. Setelah sandi itu dimasukkan, seketika sebuah pintu didepan mereka terbuka. Mereka semua melangkah masuk.


"SELAMAT DATANG, BOS." suara dari server. Suara server tersebut suara perempuan.


"Apa yang kalian lihat?"


"Ada banyak komputer disini, Ren!" seru Willy.


"Itu tempat kendali Perusahaan."


"Ren.Kenapa kita berdua tidak tahu yang beginian?" tanya Qenan.


"Namanya juga rahasia. Udah nanyanya nanti aja. Gak keburu."


"Ach, baiklah!" pasrah Willy dan Qenan.


"Jerry, Axel. Kalian berdua cek situasi diluar dan pastikan para karyawan tidak ada yang diluar Perusahaan. Dan pastikan juga pintu Perusahaan sudah ditutup."


"Baik, Ren."


"Selanjutnya apa yang harus kami lakukan, Ren?" tanya Qenan.


"Arahkan wajahku ke layar komputer."


Willy pun langsung mengarahkan wajah Darren ke layar komputer.


"HALLO, BOS."


"HALLO, JANE."


"Ada yang bisa saya bantu, Bos?"


"Perlihatkan cctv pintu masuk utama Perusahaan."


Setelah mendapatkan perintah dari Darren, server komputer tersebut memperlihatkan cctv pintu masuk utama Perusahaan.


"Hmm. Ternyata mereka benar-benar licik. Melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang diinginkan," sahut Dylan.

__ADS_1


"Mereka berjumlah 50 orang. Nah, sedangkan kita hanya bertujuh. Bisa bonyok kita. Sehebat apapun Ilmu Bela Diri kita. Kalau melawan 50 orang, bakalan kalah juga," kata Darel.


"Kalian tenang aja. Lagian kalian gak perlu buang-buang tenaga kalian untuk melawan mereka semua."


CKLEK!


Pintu ruang kerja dibuka. Dan masuklah Axel serta Jerry. Saat keduanya masuk, mereka melihat kearah cctv ada 50 orang diluar Perusahaan.


"Gila!" seru Axel dan Jerry bersamaan.


"Setelah ini selesai. Kalian cari pengkhianat itu."


"Apa? Pengkhianat?" Qenan dan Willy terkejut.


"Iya! Tapi itu nanti saja diurus."


"Baik," jawab mereka.


"Jane. Aktifkan laser yang ada di depan pintu utama Perusahaan."


"Baik, Bos."


"Sudah diaktifkan, Jane?"


"Sudah, Bos."


Baik Qenan maupun yang lainnya dapat melihat para kelompok tersebut mengamuk, berteriak bahkan memukul dan menendang pintu utama Perusahaan.


"Keluar kalian semua. Jangan bersembunyi didalam!"


"Kalau kalian tidak keluar juga. Kami akan hancurkan tempat ini!"


"Keluar kalian semua!"


"Dasar sampah," umpat Rehan.


"Jane. Serang dan tembaki mereka semua. Bunuh mereka."


Server tersebut menyerang semua kelompok yang saat ini sedang mengamuk dan berteriak dengan laser. Dan dapat dilihat dari cctv, tubuh para kelompok itu hancur, karena laser itu tepat mengenai anggota tubuh mereka. Para kelompok itu tidak dapat menghindar atau menyelamatkan diri.


"Busyet dah. Sadis bener," sahut Darel.


Tubuh Darel merinding saat melihat tubuh para kelompok itu terpotong-potong oleh laser.


"Gila.. Gila!" ucap Axel.


"Kita udah kayak psikopat aja," kata Jerry.


Mereka semua bergidik ngeri saat melihat laser itu memotong-motong tubuh para kelompok tersebut.


"Udah jangan pada lebay gitu. Kalian pilih mana? Kalian dan para karyawan yang mati ditangan mereka. Atau mereka yang mati oleh laser itu? Lagian mereka juga yang salah. Berani datang kesini dan ingin menghancurkan Perusahaan Accenture."


Mereka semua membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren. Jika bukan mereka yang mati. Pasti mereka dan karyawan yang akan mati.


Tidak jauh beda dengan para sahabat-sahabatnya Darren. Para karyawan yang melihat dari dalam juga merasakan hal yang sama seperti Bos mereka. Mereka semua bergidik ngeri saat melihat tubuh para kelompok itu hancur dan terpotong-potong.


"Jane. Coba perlihatkan seluruh cctv diperusahaan ini."


"Baik, Bos."


Server tersebut memperlihatkan cctv untuk seluruh sudut Perusahaan. Dan dapat mereka lihat semuanya dalam keadaan aman. Hanya bagian pintu utama Perusahaan saja yang dalam keadaan kacau.


"Jane. Nonaktifkan kembali laser itu."


"Baik, Bos."


Server tersebut menonaktifkan kembali laser tersebut.


"Baiklah. Pekerjaan beres."

__ADS_1


"Hei, Ren. Yang benar saja. Beres katamu," protes Rehan.


"Lalu mayat-mayat itu, bagaimana?" Qenan juga ikut mengajukan protes pada Darren.


"Itu tugas kalian. Tugasku kan sudah selesai yaitu membasmi para tikus-tikus itu. Nah! Sekarang lakukan tugas kalian."


"Aish!" kesal Willy.


Saat Qenan ingin menjawab perkataan dari Darren. Darren sudah terlebih dahulu mematikan panggilan tersebut. Dan hal itu sukses membuat Qenan mengedumel kesal akan sikap sahabat kelincinya itu.


"Dasar siluman kelinci sialan."


"Sudah. Percuma saja marah-marah. Toh, orangnya gak ada disini." Dylan berucap.


"Buang-buang energi aja, lu." Darel juga ikut bersuara.


"Mending kita bersihkan mayat para tikus-tikus itu," sela Jerry.


Setelah selesai berperang mulut. Akhirnya mereka semua keluar dari ruangan kerja Darren. Dan tak lupa mereka menutup kembali ruang rahasia tersebut seperti semula.


^^^


Sesampainya mereka diluar. Mereka semua melihat ada sebuah truk besar telah terparkir didepan Perusahaan.


"Kalian siapa?" tanya Willy.


"Kami diperintahkan untuk membersihkan mayat-mayat ini," jawab orang itu.


Baik Qenan maupun yang lainnya saling melirik satu sama lainnya. Mereka berpikiran kalau yang menyuruh orang-orang itu adalah Darren.


Qenan kembali mengalihkan pandangannya melihat kearah salah satu pria itu.


"Apa teman kami yang telah menyuruh kalian?" tanya Qenan.


"Siapa?" tanya orang itu balik.


"Teman kami bernama Darren, " jawab Willy.


"Kami tidak tahu namanya. Tapi Bos kami mendapatkan panggilan dari seseorang. Dan orang itu memberikan tugas pada kami untuk membersihkan mayat-mayat yang ada di Perusahaan Accenture. Dan orang itu juga memberikan bayaran yang lumayan besar," jawab pria itu yang tetap dengan pekerjaannya.


"Setelah kalian membawa mayat-mayat ini. Lalu apa yang akan kalian lakukan lagi?" tanya Jerry.


"Kami akan membersihkan tempat ini seperti sedia kala. Tanpa meninggalkan aroma bau amis disini," kata pria itu.


"Baiklah. Terima kasih," ucap Willy.


"Tidak perlu berterima kasih, Tuan. Kami melakukan ini karena ini memang pekerjaan kami dan kami juga dibayar. Jadi kami harus melakukannya dengan baik agar Bos dan juga pelanggan kami tidak kecewa," jawab pria.


Qenan, Willy, Axel, Jerry, Rehan, Darel dan Dylan tersenyum bangga pada pria-pria itu.


"Baiklah kalau begitu. Nanti setelah tugas kalian selesai. Kau temuilah kami di dalam. Ada sesuatu yang akan kami berikan padamu dan rekan-rekanmu," ucap Qenan.


"Baik, tuan." pria itu menjawabnya.


***


[KEDIAMAN KELUARGA SMITH]


Keesokkan paginya Darren yang berada di kamarnya sudah bersiap-siap untuk pergi ke Perusahaan. Dirinya tidak peduli dengan kondisi tubuhnya yang saat ini masih sedikit demam dan juga rasa nyeri di dadanya masih sedikit terasa. Darren hanya ingin mengecek kondisi Perusahaannya saat kemarin diserang.


Disisi lain dimana anggota keluarganya sudah berada di meja makan. Davin selaku saudara tertua saat ini tengah menyiapkan sarapan pagi untuk adik manisnya. Dirinya tidak peduli jika adiknya itu akan menolaknya. Yang jelas saat ini, Davin ingin memanjakan adiknya dan menjadi kakak yang baik untuk sang adik.


"Kalian makanlah dulu. Aku akan membawakan sarapan ini untuk Darren,' kata Davin.


"Semoga berhasil sayang."


"Terima kasih, Ma."


"Semangat kak Davin. Semoga kali ini Darren gak menolaknya kakak lagi, " sahut Davian.

__ADS_1


"Hm." Davin mengangguk mantap.


__ADS_2