
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dan waktunya anggota keluarga Smith untuk melaksanakan makan malam bersama.
Semuanya sudah berada di meja makan. Hanya Darren yang masih di dalam kamarnya. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani untuk menuju kamar Darren. Mereka masih takut dan ingat dengan perkataan dan ancaman Darren beberapa hari yang lalu. Mereka saling melirik satu sama lain.
"Papa. Bagaimana ini? Darren jangan sampai gak ikut makan malam," ucap Darka.
"Ya, Papa! Ditambah lagi Darren pulang sudah kesorean. Takutnya Darren gak sempat atau lupa makan dulu di luar," ucap Gilang menambahkan.
"Kalau begitu biar kakak saja yang ke kamar Darren!" seru Andra dan langsung berdiri dari duduknya.
Mendengar perkataan Andra. Erland dan yang lainnya berteriak, terutama Gilang dan Darka. Mereka berdua yang paling kencang.
"Jangan!" teriak mereka semua.
Andra langsung terkejut ketika mendengar teriakan dari anggota keluarganya.
"Yak! Kenapa kalian berteriak?" Andra menatap kesal anggota keluarganya.
"Kakak Andra gak amnesia kan? Kakak Andra ingatkan bagaimana hubungan Kakak dengan Darren?" tanya Gilang.
"Darren belum memaafkan kesalahan kakak Andra. Jadi jangan cari ribut dengan Darren," ucap Darka.
Seketika Andra menduduki kembali pantatnya di kursi ketika mendengar perkataan Gilang dan Darka. Mereka yang melihatnya hanya tersenyum.
"Darka, Gilang." Carissa memanggil kedua keponakannya.
Darka dan Gilang melihat kearah Carissa sang Bibi. "Ada apa, Bibi?"
"Salah satu dari kalian saja yang ke kamarnya Darren," sahut Carissa.
Mendengar perkataan Carissa. Darka dan Gilang saling lirik. Setelah itu, keduanya kembali melihat kearah Carissa.
"Tapi Bibi..." perkataan Gilang dan Darka bersamaan terpotong.
"Kalian tidak perlu khawatir. Bibi yakin. Bahkan keyakinan Bibi ini 100%. Adik kalian tidak akan marah dengan kalian berdua." Carissa berbicara sembari memberikan keyakinan kepada kedua keponakannya itu. Carissa tahu apa yang serang dipikirkan oleh keduanya.
"Adik kalian itu mengancam kita agar kita tidak masuk ke kamarnya tanpa seizinnya. Kalian cukup ketuk pintu kamarnya saja. Gak perlu masuk juga." Evan ikut memberikan keyakinan kepada Darka dan Gilang.
Gilang dan Darka kembali saling melirik. Keduanya memberikan kode. Setelah itu, Darka berdiri dari duduknya.
"Baiklah. Aku ke kamar Darren!" seru Darka.
Darka pun melangkah pergi meninggalkan meja makan untuk menuju kamar adiknya yang berada di lantai dua.
Kini Darka sudah berada di depan pintu kamar adiknya. Tiba-tiba Darka sedikit ragu untuk mengetuk pintu kamar adiknya. Ketika mendengar perkataan dari Paman dan Bibinya, Darka pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu itu.
TOK!
TOK!
TOK!
__ADS_1
"Darren, ini kakak Darka. Makan malam yuk. Semuanya udah nungguin kamu di meja makan. Ditambah lagi kamu harus makan. Kakak tidak ingin kamu jatuh sakit!"
TOK!
TOK!
TOK!
"Darr..." ucapan Darre terhenti ketika mendengar suara pintu kamar adiknya di buka.
CKLEK!
Pintu kamar Darren terbuka dan terlihat Darren yang sudah berdiri di depan pintu dengan pakaian santainya. Atasan kaos putih lengan pendek dan celana sebatas lutut.
"Kakak Darka," ucap Darren.
Mendengar ucapan manis dan lembut dari adik laki-lakinya membuat hati Darka menghangat. Tangannya terangkat untuk membelai rambutnya.
"Kita makan malam bersama ya," ucap Darka lembut. Darren tersenyum.
"Baiklah."
Darka tersenyum bahagia ketika adiknya tidak menolaknya.
"Ya, sudah. Yuk!"
Darka langsung menggandeng tangan adik laki-lakinya dan membawanya ke lantai bawah.
"Yak! Kak Darka gak gini juga kali. Aku bisa jalan sendiri. Kak Darka gak perlu menggandeng tanganku," protes Darren.
^^^
Darren dan Darka sudah berada di meja makan. Ketika keduanya sampai di meja makan. Erland dan yang lainnya tersenyum bahagia ketika melihat Darka dan Darren, terutama Darren. Mereka semua tersenyum ketika melihat wajah kesal Darren akan kelakuan Darka.
"Bagaimana hari-hari kamu sayang?" tanya Erland kepada putranya Darren.
Darren melihat wajah ayahnya, lalu memberikan senyuman manisnya kepada ayahnya.
"Baik, Papa! Semuanya berjalan lancar."
Erland tersenyum dan juga bersyukur ketika mendengar jawaban dari putranya itu.
"Ach, syukurlah! Papa turut bahagia sayang. Sukses selalu untuk kamu."
"Terima kasih Papa. Untuk Papa juga," jawab Darren.
Mendengar ucapan manis dari Darren. Erland menatap bangga dan juga kagum serta senyuman manis di bibirnya wajah tampan putranya. Dirinya sampai detik ini masih tidak percaya dan tidak menyangka jika putra bungsunya dari perempuan yang sangat dicintainya sudah menjadi anak yang sukses. Putranya itu memiliki dua Perusahaan, memiliki Galeri Lukisan yang sudah terkenal sampai luar negeri, memiliki SHOWROOM mobil mewah yang begitu luas, memiliki rumah mewah. Dan juga putranya itu memiliki beberapa kendaraan mewah baik mobil maupun motor sport yang didapat dari usahanya sendiri selama ini.
Darren yang menyadari bahwa sedari tadi ayahnya menatapnya langsung menatap balik ayahnya.
"Kenapa Papa menatapku seperti itu?" tanya Darren.
__ADS_1
Erland seketika terkejut kala dirinya ketahuan oleh putra bungsunya itu. Erland hanya memperlihatkan senyuman manisnya.
"Papa bangga padamu sayang. Papa benar-benar tidak menyangka diusiamu yang ke 21 tahun sudah berhasil menjadi CEO yang terkenal. Maafkan Papa yang tidak ada di sampingmu dan tidak membantumu selama ini." Erland berucap dengan tulus.
Mendengar ucapan manis dari ayahnya membuat Darren kembali teringat kejadian tersebut. Kejadian-kejadian dimana dirinya tidak mendapatkan kasih sayang, perhatian dari ayah dan keenam kakak-kakaknya. Dan tanpa sadar air matanya jatuh membasahi wajah tampannya.
Melihat Darren yang tiba-tiba menangis membuat mereka menjadi tidak tega. Carissa langsung memberikan tatapan tajamnya kepada Kakak laki-lakinya.
"Kakak Erland," panggil Carissa.
Erland langsung melihat kearah adik perempuannya. Dan dapat dilihat oleh Erland bahwa adik perempuannya itu menatap marah padanya.
"Kenapa kak Erland mengungkit masalah itu lagi? Kak Erland lihat. Pasti Darren kembali teringat akan perlakuan Kakak dan kalian semua," tutur Carissa.
Erland melihat kearah putranya. Dan setelah itu, Erland langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri putranya itu.
GREP!
Erland memeluk tubuh putranya dari belakang dan memberikan beberapa ciuman di kepala putranya. Dan seketika isak tangis Darren pun pecah.
Darren menangis terisak ketika mendapatkan pelukan dari ayahnya.
Mereka yang mendengar isak tangis Darren merasakan sesak di dada mereka, terutama Darka dan Gilang. Sementara Erland makin mengeratkan pelukannya.
"Maafkan Papa sayang," ucap Erland yang sudah menangis terisak.
"Papa banyak salah padaku. Papa telah gagal menjadi orang tua untukku. Papa tidak pernah memberikan perhatian padaku. Papa selalu pilih kasih terhadap putra-putra Papa. Papa mengistimewakan putra-putra yang lainnya. Sementara aku, Papa melupakan aku. Papa tidak pernah punya waktu untukku. Papa tidak pernah menganggapku ada. Tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu karena perempuan itu selalu ada untukku. Dia sudah menggantikan semua tugas Papa dengan memberikan kasih sayang dan perhatian lebih padaku. Tapi... Tapi itu semua tidaklah cukup. Bagaimana pun aku masih tetap membutuhkan Papa. Aku butuh pelukan Papa dan juga kecupan sayang di keningku, aku butuh kasih sayang Papa, aku butuh perhatian Papa. Tapi aku tidak mendapatkan semua itu dari Papa." Darren mengeluarkan semua kesedihan, keinginan, kerinduan dan juga kekecewaannya terhadap ayahnya. Dan jangan lupa air matanya yang masih setia mengalir membasahi wajahnya.
Mendengar rentetan kesedihan, kerinduan, keinginan dan kekecewaan yang keluar dari mulut Darren membuat Erland merasakan sakit di hatinya. Begitu juga dengan Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka. Mereka juga telah melakukan kesalahan besar terhadap adik bungsunya. Apa yang telah dilakukan oleh ayahnya. Hal itu juga yang dilakukan oleh mereka terhadap adiknya. Mereka telah pilih kasih terhadap adiknya itu selama ini.
Erland melepaskan pelukannya, kemudian Erland menarik pelan tubuh putranya itu agar dirinya bisa melihat wajah tampannya.
Erland berlutut di hadapan putranya dengan lutut sebagai tumpuannya. Tangannya menghapus air mata putranya itu, lalu memberikan kecupan sayang di keningnya.
Erland menggenggam erat kedua tangan putranya itu. Sesekali menciumi punggung tangannya.
"Maafkan Papa yang telah melukai perasaanmu dan juga hatimu selama ini. Papa adalah Papa yang paling buruk untukmu. Papa telah durhaka padamu. Papa berjanji pada diri Papa sendiri dan Papa juga berjanji pada mendiang Mamamu. Selama Papa masih bernafas. Selama Papa masih bernyawa. Selama itulah Papa akan menjadi Papa yang terbaik untukmu. Papa akan menggantikan semua kesedihanmu dan menyembuhkan luka di hatimu." Erland berbicara dengan linangan air mata dan tangannya mengusap-ngusap lembut pipi putranya.
Darren menatap lekat tepat di manik ayahnya. "Papa tidak akan melukaiku lagi kan? Papa tidak akan pilih kasih lagi kan? Papa akan selalu ada untukku kan? Papa akan memberikan perhatian lebih untukku kan? Dan Papa tidak akan pernah pergi meninggalkanku kan seperti Mama?" tanya Darren dengan kembali menangis.
Mendengar banyak pertanyaan yang diberikan oleh putranya. Erland langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak akan sayang. Papa tidak akan melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya. Papa akan membuktikan semua itu."
"Dan aku katakan satu hal pada Papa. Ini adalah kesempatan terakhir Papa untuk membuktikan kalau Papa bisa menjadi Papa yang terbaik untukku. Jika Papa gagal. Jika Papa kembali menyakitiku. Maka aku benar-benar akan membenci Papa seumur hidupku. Aku tidak akan pernah memberikan kata maaf untuk Papa. Dan aku juga tidak akan mau menganggap Papa sebagai Papaku lagi, sekali pun Papa menangis sembari memohon di hadapanku."
Mendengar ucapan dari putranya, Erland langsung memeluk tubuh putranya. "Terima kasih sayang. Papa berusaha menjadi Papa yang baik untukmu. Dan Papa berjanji akan Menjadi Papa yang adil untuk semua putra-putra Papa."
"Aku percaya. Aku tidak peduli jika orang lain membenciku. Asal Papa selalu ada untukku apapun yang terjadi dalam hidupku, itu sudah lebih dari cukup buatku. Papa adalah kebahagiaanku dan semangatku. Dan aku tidak butuh yang lainnya."
Mendengar ucapan manis dari putranya membuat Erland menangis. Di dalam hatinya, Erland merutuki kebodohannya karena telah melukai perasaan dan hati putranya yang memilik hati bak malaikat.
"Belva. Aku berjanji padamu. Kali ini aku akan benar-benar menjaga putra bungsu kita. Aku tidak akan membuatnya menangis. Aku akan berusaha membuatnya selalu tersenyum. Doakan aku Belva." Erland berbicara di dalam hatinya.
__ADS_1
Setelah puas memeluk putranya. Erland pun melepaskannya. Erland menatap wajah tampan putranya itu, lalu detik kemudian, Erland memberikan ciuman-ciuman sayang di seluruh wajah tampan putranya itu sehingga membuat Darren hanya bisa menghela nafas pasrahnya.
Sementara anggota keluarganya yang sedari tadi memperhatikan keduanya tersenyum bahagia. Mereka ikut menangis ketika mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Darren dan Erland. Mereka juga ikut tersenyum ketika melihat wajah pasrah Darren yang mendapatkan serangan berupa ciuman dari ayahnya secara bertubi-tubi di seluruh wajahnya.