KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Keegoisan Davin Dan Andra


__ADS_3

Darren dan sahabat-sahabatnya, kecuali Axel sedang berada di lobi depan. Tiba-tiba saja Darren mengeluh sakit di kepalanya. Melihat hal itu, ketujuh sahabatnya khawatir. Lalu Axel pun berlari masuk kembali ke dalam untuk mencari Ibunya.


"Ren. Apa masih sakit?" tanya Dylan.


"Ma-sih," lirih Darren.


"Kita langsung ke rumah sakit aja ya! Kelamaan nunggu Bibi Celsea," ujar Jerry.


"Aku tidak mau ke rumah sakit, Jer! Aku mau pulang," ucap Darren pelan.


Tak butuh waktu lama, Axel datang bersama ibunya. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Astaga, sayang!" Agneta langsung mendekati Darren, namun Darren sudah terlebih dahulu bersuara.


"Menjauhlah dariku!" bentak Darren.


Mendapatkan penolakan dari Darren membuat Agneta sedih dan terluka.


"Sayang," panggil Erland.


"Aku tidak apa-apa, sayang." Agneta berusaha untuk tetap tersenyum.


Agneta tidak marah akan ucapan ketus putranya, karena dirinya sadar alasan putranya bersikap kasar padanya.


Celsea mendekati Darren, lalu duduk di sampingnya.


"Apa yang sakit, sayang?" tanya Celsea.


"Kepalaku sakit, Bibi! Gak tahu kenapa. Sakitnya tiba-tiba. Padahal tadi baik-baik saja. Dan ini pertama kalinya," jawab Darren dengan suara lirihnya.


"Baiklah. Bibi akan periksa sebentar," jawab Celsea.


"Jangan bawa aku ke rumah sakit," cicit Darren memohon pada Celsea.


Baik Celsea maupun yang lainnya hanya tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala mendengar ucapan dari Darren. Segitu takutkah seorang Darren terhadap rumah sakit.


"Iya, ya! Bibi tidak akan membawamu ke rumah sakit. Takut amat sih," goda Celsea.


"Aku lebih takut rumah sakit dari pada rumah hantu, Bibi." Darren menjawab perkataan dari Celsea.


"Aish, kau ini!" ucap Celsea.


Mereka semua hanya bisa tersenyum dengan ucapan dari Darren.


Celsea pun akhirnya selesai memeriksa Darren. Celsea selalu membawa alat kedokterannya kemana pun dirinya pergi. Dan semua perlengkapannya itu ada di bagasi mobilnya.


"Bagaimana Celsea?" tanya Erland.


"Ach, tidak apa-apa! Darren hanya kelelahan, makanya dia sakit kepala." Celsea menjawab pertanyaan dari Erland.


"Ach, syukurlah!" seru mereka semua.


Darren bangkit dari duduknya. Setelah itu, Darren menatap satu persatu wajah sahabatnya itu.


"Kalian antar aku pulang, ya!"


"Baiklah," jawab mereka kompak.


Ketika Darren dan sahabat-sahabatnya hendak pergi, tiba-tiba Davin memegang tangan Darren. Hal itu sukses membuat Darren dan yang lainnya terkejut.


"Kakak ingin kamu pulang ke rumah. Bukan pulang ke rumah kamu, Darren!" seru Davin.


"Cih! Memangnya kau siapa, hah?! Kau itu bukan siapa-siapaku. Kita tidak memiliki hubungan apapun lagi. Jadi kau tidak berhak mengaturku hidupku," ucap ketus Darren.


Setelah mengatakan kata itu di hadapan Davin. Darren langsung menarik kuat tangannya. Ketika tangannya terlepas, Darren melangkah pergi meninggalkan mereka semua.

__ADS_1


Davin dan Andra ingin mengejar Darren. Namun dihalangi oleh Jerry, Axel dan Rehan.


"Kami mohon kak Davin, kak Andra. Jangan ganggu Darren. Biarkan Darren pulang ke rumahnya sendiri," ucap Rehan.


"Minggir kalian. Jangan ikut campur!" bentak Andra.


"Kami bukannya ingin ikut campur, tapi kami disini hanya ingin menjaganya dan melindunginya," sela Jerry.


"Apa kalian pikir kami tidak bisa menjaga dan melindungi adik kami sendiri, hah?!" bentak Davin.


"Kalau kalian selama ini menjaga dan melindunginya dengan baik. Mana mungkin adik kalian itu akan pergi dari rumah dan meninggalkan kalian semua!" teriak Axel.


Mendengar ucapan dan teriakan dari Axel membuat Davin dan Andra terdiam sesaat. Di dalam hati mereka membenarkan ucapan Axel.


Namun hal itu tidak membuat Davin dan Andra mundur. Mereka tetap bersikeras untuk membawa Darren pulang.


"Kami akan tetap membawanya pulang. Dia adik kami dan harus tinggal bersama kami!" bentak Davin.


"Kakak Davin, cukup! Biarkan Darren pulang ke rumahnya!" teriak Darka.


"Diam kau, Darka. Jangan ikut campur!" bentak Andra.


"Apa yang dikatakan Darka benar Davin, Andra? Biarkan Darren pulang ke rumahnya sendiri." kini Carissa yang berbicara.


"Kami bilang tidak ya tidak. Darren harus pulang bersama kita," jawab Davin.


"Kami tidak akan membiarkan kalian menyakiti Darren," sahut Jerry.


Jerry, Axel dan Rehan masih terus menahan Andra dan Davin.


"Minggir. Jangan sampai kami main kekerasan dengan kalian," ucap Davin dan Andra dengan nada mengancam.


"Kami tidak takut. Apapun akan kami lakukan demi Darren. Darren itu bukan hanya sahabat kami, tapi saudara kami." Rehan berbicara dengan menatap jijik Davin dan Andra.


"Kalau kak Davin dan kak Andra ingin bertarung dengan kami. Ayo, lawan kami sekarang! Kami sangat yakin jika kalian berdua belum tentu bisa mengalahkan kami. Jangankan mengalahkan kami. Mengalahkan Darren saja kalian belum tentu menang." Qenan berbicara dengan menatap remeh kearah Davin dan Andra.


Mendengar perkataan dari Qenan membuat Davin dan Andra terdiam sesaat. Mereka memikirkan apa yang dikatakan oleh Qenan barusan, terutama Davin. Di dalam hati Davin membenarkan apa yang dikatakan oleh Qenan bahwa ilmu bela diri adik bungsunya benar-benar hebat dan dia tidak bisa menandingi adiknya itu.


Sementara Andra menggeram marah, lalu tangannya terangkat ingin memukul wajah Axel. Namun terhenti karena sebuah suara.


"Jika kau berani menyentuh saudaraku. Aku akan buat perhitungan denganmu saudara Diandra Smith!" teriak Darren.


Darren berjalan kearah mereka semua dengan tatapan marahnya.


Kini Darren sudah berdiri tepat dihadapan Davin dan Andra.


"Kenapa? Mau membawaku pulang ke rumah? Coba saja jika kalian bisa. Kalian berdua harus melawanku terlebih dahulu. Jika kalian berhasil mengalahkanku, baru kalian bisa membawaku pulang ke rumah." Darren berucap dengan menatap tajam Davin dan Andra.


"Darren," ucap mereka, kecuali Davin dan Andra.


Davin dan Andra tidak menjawab. Mereka hanya diam sembari menatap wajah Darren yang sedikit pucat.


Melihat keterdiaman Davin dan Andra. Darre tersenyum sinis. "Jika kalian tidak berani. Enyahlah kalian dalam kehidupanku dan jangan pernah mengusik kehidupanku lagi."


Setelah mengatakan hal itu, Darren pun melangkah pergi meninggalkan mereka semua. Disusul oleh para sahabatnya. Namun tanpa Darren sadari, Davin mengejarnya dan berhasil mencekal tangannya.


"Kakak Davin!" teriak Darka dan Gilang.


"Kau harus ikut pulang dengan kakak, Darren!" seru Davin sembari menarik tangan adiknya.


"Lepaskan tanganku, brengsek!" bentak Darren sambil menarik tangannya.


"Tidak. Kau harus pulang bersama kakak!" Davin terus menarik tangan Darren menuju mobil.


"Kakak Davin. Lepaskan Darren. Kau bisa menyakitinya!" teriak Darka.

__ADS_1


Darka berlari mengejar Davin dan Darren. Darka ingin menolong adiknya itu. Darka tidak ingin adiknya kenapa-kenapa.


Melihat Darka yang berlari, Gilang pun ikut mengejar Darka. Begitu juga dengan yang lainnya.


^^^


Davin dan Darren sudah berada di parkiran. Saat ini Davin sedang memaksa Darren untuk masuk ke dalam mobil. Darka pun datang dan menahan tangan Darren.


"Lepaskan Darren, kak! Kau tidak bisa melakukan hal ini terhadap Darren!" bentak Darka.


Darka berhasil melepaskan tangan Darren dari pegangan tangan Davin, kemudian Darka membawa Darren menjauh dari Davin.


"Kau jangan ikut campur, Darka!" bentak Davin.


"Ikut campur katamu? Apa kau lupa, Davin Aldan Smith? Aku juga kakak kandung dari Darrendra Smith. Bukan kau saja. Jadi aku juga berhak untuk melindungi adikku!" bentak Darka dengan menatap penuh amarah kearah Davin.


"Tapi kakak ingin membawa Darren pulang ke rumah. Seharusnya kau mendukung kakak."


"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Aku tetap mendukung Darren dan aku berada dipihaknya. Jadi siapa pun yang ingin menyakitinya, maka lawan aku! Jika kau berhasil menyakitiku. Bahkan lebih tepatnya berhasil melukaiku. Kau boleh membawa pulang Darren," jawab Darka dengan menantang Davin.


Mendengar ucapan dan tantangan dari Darka membuat Davin terkejut. Dirinya benar-benar tidak menyangka jika adiknya akan berbicara seperti itu. Tadi adik bungsunya. Sekarang adik kelimanya yang berbicara seperti itu.


"Darka. Biarkan kami membawa Darren pulang," ucap Andra yang tiba-tiba datang bersama yang lainnya.


"Davin, Andra. Sudah, hentikan! Jika Darren tidak mau pulang bersama kita. Biarkan saja dan jangan dipaksa. Kasihan Darren," tutur Erland.


"Papa," ucap Davin dan Andra bersamaan tak terima.


"Darren. Jika Darren ingin pulang ke rumah Darren sendiri. Pergilah! Kakak selalu mendukungmu," ucap Darka lembut sembari mengelus pipi putih adik bungsunya.


"Darka!" teriak Davin dan Andra.


Gilang berlari menuju Darja dan Darren. "Pergilah Darren. Jangan dengarkan kakak Davin dan kakak Andra. Kamu berhak untuk bahagia. Kamu berhak menentukan kebahagiaanmu sendiri," sahut Gilang yang juga mengelus lembut pipi putih adik bungsunya.


Seketika air mata Darren mengalir membasahi wajah tampannya. Hal itu sukses membuat Darka dan Gilang menjadi khawatir. Lalu detik kemudian, tiba-tiba rasa sakit itu kembali muncul.


"Aaakkkhhh." Darren meringis kesakitan sembari meremat dada kirinya.


"Darren," lirih Darka, Gilang dan Davin.


Gilang dan Darka menjadi khawatir melihat adiknya yang kesakitan. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua menghampiri Darren, Darka, Gilang dan Davin.


"Darren," lirih Erland dan Agneta.


"Aaakkkkhhhh."


Darren berteriak kesakitan. Seketika tubuh Darren terjatuh.


Gilang dan Darka berhasil menahan tubuh adiknya sehingga tidak mengenai aspal.


"Darren," isak Darka dan Gilang.


Darka memeluk tubuh Darren dan menangis disana. Darka benar-benar takut saat ini.


"Ka-kak Dar-ka," lirih Darren.


Setelah mengucapkan kata itu, kesadaran mengambil alih tubuhnya.


Celsea yang sudah berada didekat Darren dan memeriksa keadaannya terlihat panik.


"Lebih baik kita bawa Darren ke rumah sakit, sekarang!" ucap Celsea mutlak.


"Naikkan Darren ke punggungku!" seru Radeva Immanuel, kakak tertua Axel.


Lalu mereka pun mengangkat tubuh Darren dan meletakkannya di atas punggung Radeva. Dan mereka semua pergi meninggalkan lokasi Pameran untuk menuju rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2