KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kediaman Penuh Darah


__ADS_3

Darren sudah berada di kediamannya. Ketika sampai disana, Darren melihat banyak mayat berserakan. Darren bisa pastikan telah terjadi pertarungan besar-besaran.


Darren masih bisa sedikit bersyukur karena mayat-mayat itu adalah mayat-mayat dari para kelompok mafia yang Darren tidak tahu dari kelompok mafia mana.


Darren melangkahkan kakinya untuk memasuki rumahnya. Ketika kakinya sedikit lagi memasuki rumah, tiba-tiba terdengar suara beberapa orang yang memanggilnya.


"Darren!"


Darren melihat ke belakang. Dan dapat dilihat olehnya kedua kakak laki-lakinya, Elzaro, kelima sahabat Elzaro, ketujuh sahabatnya dan dua tangan kanannya dari Devian yaitu Carly dan Leo.


Mereka melangkah menghampiri Darren yang saat ini masih dalam keadaan tak baik-baik saja. Bahkan mereka juga dapat melihat begitu banyak mayat-mayat berserakan di halaman rumah mewah Darren.


Beberapa menit melihat kedua kakak laki-lakinya, ketujuh sahabatnya, Elzaro dan kelima sahabatnya dan kedua tangan kanan dari Devian. Darren kembali melangkah masuk ke dalam rumah.


Melihat Darren yang masuk ke dalam tanpa mengucapkan apa-apa membuat mereka hanya bisa pasrah. Mereka tidak marah akan sikap Darren.


Justru mereka tahu, jika mood Darren saat ini sedang dalam keadaan buruk. Mereka juga tahu jika Darren tengah ketakutan terhadap orang-orang yang selama ini bekerja di rumahnya.


"Prince!"


Seseorang datang memanggil Carly dan Leo.


Carly dan Leo langsung melihat kearah orang yang memanggilnya. Begitu juga ketujuh sahabat Darren, Elzaro dan kelima sahabatnya. Sedangkan Darka dan Gilang sudah berada di dalam rumah mengikuti Darren.


"Ada apa?"


"Disana, Prince!"


Anggota mafioso itu menunjuk kearah samping rumah Darren.


Mereka semua pergi menuju kearah samping rumah Darren. Setiba disana, mereka semua melihat bahwa dua pelayan wanita dalam keadaan terluka, salah satunya terluka parah.


"Bibi Rima!" Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel terkejut ketika melihat kondisi pelayan wanita itu.


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel tahu bahwa pelayan wanita itu adalah pelayan yang sudah lama bekerja di rumah Darren. Jika usia rumah Darren itu sudah sepuluh tahun. Berarti selama sepuluh tahun pula pelayan wanita itu mengabdi kepada Darren. Dan Darren begitu menyayangi dan menghormati pelayan itu.


Pelayan itu seumuran dengan ibunya. Dan pelayan itu selalu ada untuk Darren ketika Darren berada di rumahnya.


Untuk pelayan yang wanita yang satunya lagi itu adalah pelayan baru yang diperkerjakan oleh Darren empat tahun lalu.


Tujuan Darren mempekerjakan pelayan wanita itu adalah untuk membantu pelayan wanita yang bernama Rima. Darren tidak tega melihat pelayan Rima bekerja membersihkan rumah Darren yang begitu besar dan luas.


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel langsung mendekati kedua pelayan wanita itu.


"Bibi Dayu, Bibi Rima!"


"Tu-tuan," ucap perempuan yang bernama Dayu dengan suara lirihnya.


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel menatap sedih keadaan pelayan Dayu dan pelayan Rima, terutama pelayan Rima.


"Tuan, keadaan kak Rima sangat mengkhawatirkan. Kak Rima mengalami banyak luka tusuk di perut dan juga luka tembak karena berusaha untuk melindungi kami semua serta rumah ini," ucap pelayan Dayu.


Mendengar penuturan dari pelayan Dayu membuat ketujuh sahabat Darren, Elzaro, kelima sahabatnya, Carly dan Leo terkejut. Mereka marah atas perlakukan keji kelompok mafia itu.


"Lalu siapa yang sudah menghabisi mereka semua?" tanya Dylan.

__ADS_1


"Saya tidak tahu siapa mereka tuan. Mereka tiba-tiba datang lalu membunuh semua orang-orang yang menyerang rumah tuan Darren," jawab pelayan Dayu.


"Yang membawa bibi Dayu dan bibi Rima disini, siapa?" tanya Rehan.


"Tuan Fito," jawab pelayan Dayu.


Mendengar nama Fito yang disebut oleh pelayan Dayu seketika membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel tersadar. Sedari tadi mereka tidak melihat keberadaan Fito, tangan kanan mereka dan juga tangan kanannya Darren.


"Kita tidak melihat Fito. Dimana Fito?" Jerry berucap khawatir.


"Setelah membawa kami bersembunyi disini. Tuan Fito pergi kearah sana, tuan Jerry sembari berbicara dengan tuan Darren di telepon. Namun beberapa menit kemudian terdengar suara tembakkan dari arah dimana tuan Fito berada."


Mendengar perkataan dari pelayan Dayu. Seketika Jerry dan Darel berlari kearah dimana Fito.


"Kalian, bawa nyonya Dayu dan nyonya Rima ke rumah sakit. Pastikan mereka segera mendapatkan perawatan!" perintah Carly kepada para anggota mafiosonya.


"Baik Prince!"


Setelah itu, beberapa anggota mafioso itu membawa pelayan Dayu dan pelayan Rima ke rumah sakit.


"Terus, bagaimana dengan lima pelayan wanita di dalam tuan. Mereka juga dalam kondisi tak baik-baik saja. Belum lagi para security dan tiga sopir


"Bibi Dayu tidak perlu khawatir. Kami semua sudah ada disini," jawab Willy.


Setelah itu, para anggota mafioso itu membawa kedua pelayan wanita itu ke rumah sakit.


^^^


Darren yang saat ini berada di dalam rumahnya sudah tidak bisa membendung tangisannya. Darren menangis bahkan marah ketika melihat mayat dari pelayannya dan juga tiga sopirnya.


Bruk..


Darren berteriak. Dan seketika tubuhnya jatuh bersimpuh di lantai. Tatapan matanya menatap kearah dimana mayat-mayat lima pelayan wanita dan tiga sopirnya terbujur kaku dengan memandikan darah.


"Ren," panggil Axel.


Setelah urusan diluar selesai. Qenan, Willy, Axel, Dylan dan Rehan beserta Carly dan Leo masuk ke dalam rumah. Mereka ingin mengetahui kondisi di dalam rumah.


Dan ketika mereka tiba di dalam rumah. Sontak membuat mereka semua terkejut. Apa yang mereka lihat diluar. Itu juga yang mereka lihat di dalam.


"Ren. Bibi Dayu dan Bibi Rima sudah dibawa ke rumah sakit!" seru Qenan.


Mendengar nama dua pelayan disebut oleh Qenan. Darren seketika langsung melihat kearah Qenan. Darren berdiri dari terjatuhnya.


Darren melihat Qenan datang bersama kedua tangan kanannya Devian. Sementara Jerry dan Darel diluar bersama Elzaro dan kelima sahabatnya.


"Bagaimana keadaan mereka berdua, Nan?" tanya Darren.


"Untuk bibi Dayu, hanya mengalami luka-luka ringan. Tapi untuk bibi Rima, bibi Dayu bilang jika bibi Rima mengalami banyak luka serius." Qenan menjawab pertanyaan dari Darren.


"Fito! Fito mana? Kalian melihat Fito?" tanya Darren.


"Jerry dan Darel sedang mencari Fito. Mereka dibantu oleh Elzaro dan kelima sahabatnya," jawab Willy.


Darren menatap wajah kedua tangan kanannya dari Devian. Tatapan matanya mengisyaratkan kemarahan.


"Kakak Carly, kakak Leo. Aku mau kalian mencari tahu dari kelompok mafia mana yang sudah menyerang kediamanku dan membunuh semua orang-orangku."

__ADS_1


"Baik, Ren!" seru Carly dan Leo bersamaan.


"Kamu tidak perlu khawatir. Tanpa kamu memintanya. Kita berdua sudah menyelidiki masalah ini. Kita hanya menunggu kabar saja," ucap Leo.


"Dan kita akan membalas perbuatan mereka. Kita akan melakukan apa yang telah mereka lakukan kepadamu dan orang-orangmu," ucap Carly.


"Nyawa dibayar nyawa!" Darren berucap dengan penuh amarah.


"Bos!"


Fito datang bersama Jerry dan Darel. Dan diikuti oleh beberapa orang di belakang Jerry, Darel dan Fito termasuk Elzaro dan kelima sahabatnya.


Mendengar suara Fito. Darren dan yang lainnya langsung melihat ke asal suara.


Seketika terukir senyuman di bibir Darren ketika melihat Fito dalam keadaan baik-baik saja.


"Apa kamu baik-baik saja, Fito?"


"Saya baik-baik saja, Bos!"


"Terus, suara tembakkan itu?"


"Itu saya yang melakukannya tuan Darren. Saya mengarahkan peluru itu ke seseorang yang hendak melukai tuan Fito," jawab seorang laki-laki yang berdiri di samping Fito.


Darren melihat kearah laki-laki yang terlihat tidak muda lagi. Darren baru pertama kali melihatnya. Begitu juga dengan Gilang, Darka, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Carly dan Leo. Serta Elzaro dan kelima sahabatnya. Mereka penasaran terhadap laki-laki itu.


"Siapa anda? Dan kenapa anda bisa tepat waktu kesini dan menghabisi mereka semua?" tanya Darren.


"Saya tangan kanannya tuan besar Erland, tuan Darren!"


Mendengar jawaban dari laki-laki itu membuat mereka terkejut. Begitu juga dengan Darren, Gilang dan Darka.


"Jadi anda adalah Marcel?" tanya Darren.


"Benar, tuan! Saya Marcel. Saya melacak ponsel tuan. Setelah mendapatkan posisi tuan yang tengah dalam perjalanan menuju rumah pribadi tuan. Saya langsung memerintahkan beberapa anggota saya untuk datang kesana."


"Dan tepat kedatangan kami, para kelompok mafia itu sudah melukai orang-orangnya tuan. Baik di luar maupun di dalan rumah. Kami sedikit terlambat. Maafkan saya dan anggota saya, tuan!"


Mendengar jawaban dan perkataan dari Marcel membuat Darren dan yang lainnya tersenyum. Mereka tidak marah apalagi kecewa. Bahkan mereka berterima kasih terhadap Marcel dan anggotanya.


"Tidak, tuan. Tuan tidak salah. Tuan dan anggota tuan sudah melakukan tugasnya dengan baik, walau mereka berhasil melukai beberapa pelayanku, tiga sopirku dan sepuluh anggota dari Fito."


"Terima kasih, tuan! Lalu apa rencana tuan setelah ini?" tanya Marcel.


"Tentu akan ada pembalasannya, bukan?!" tanya Darren dengan tersenyum menyeringai.


"Ya, tuan. Saya akan ikut membantu tuan dalam pembalasan ini," ucap Marcel.


"Sepertinya aku punya pekerjaan yang cocok untuk anda, tuan!"


"Apa itu, tuan?" tanya Marcel.


"Bermain-main dengan anggota keluarga yang sudah membayar para kelompok mafia itu. Setelah selesai bermain-main dengan keluarga itu. Bawa mereka ke markas Latin King. Dan aku yang akan menyelesaikan tugas terakhir."


"Baik, tuan Darren! Saya dan anggota saya akan melaksanakan tugas itu," jawab Marcel dan diangguki oleh anggotanya.


Baik Darren, ketujuh sahabatnya maupun yang lainnya tersenyum menyeringai. Mereka semua tidak sabaran untuk rencana pembalasan itu.

__ADS_1


__ADS_2