KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Rasa Percaya Diri Helena


__ADS_3

Lima menit kepergian Darren. Helena pun berdiri. Helena melangkahkan kakinya menuju kursi kebesaran Darren, lalu kemudian Helena menduduki pantatnya di kursi tersebut.


"Hahahaha. Aku berhasil. Bajing*n itu dengan mudahnya masuk ke dalam pelukanku. Aku tidak menyangka, jika bajing*n sialan itu tergila-gila padaku. Sebentar lagi, Helena! Sebentar lagi semua milik bajing*n itu akan menjadi milikmu," ucap Helena dengan lantangnya.


"Darren. Kau sudah berani melukai Papaku. Jadi, tunggu saja apa yang akan aku lakukan padamu."


Setelah puas duduk di kursi kebesaran milik Darren. Helena pun kembali menuju sofa dan duduk disana. Dirinya tidak ingin diketahui oleh seseorang atau pun Darren karena telah berani duduk di kursi itu.


Namun sayangnya tanpa diketahui olehnya, baik Darren maupun ketujuh sahabatnya telah menyaksikan apa yang dilakukannya di ruangan tersebut.


***


[PERUSAHAAN BMWX]


Jerry, Dylan dan Axel berada di Perusahaan utama BMWX milik Darren. Sementara yang berada di SHOOWROOM dipercayai kepada masing-masing tangan kanan mereka.


Saat ini Jerry, Axel dan Dylan sedang fokus dengan sebuah laptop di hadapan mereka. Mereka sedang menyaksikan sebuah video dimana di dalam video itu terlihat Helena yang sedang berusaha menghibur dan merayu Darren. Bahkan saat Darren keluar meninggalkan ruang kerjanya, mereka melihat dan mendengar semua apa yang dilakukan oleh Helena di ruangan itu.


"Dasar menjijikkan," ucap Axel.


"Kalau bukan untuk balas dendam, ogah kali Darren ama modelan kayak elu," kata Dylan.


"Dasar murah*n," umpat Jerry.


"Yang bodoh itu elu, kampret. Bukan sahabat gue," kesal Dylan.


Ketika mereka tengah kesal melihat apa yang dilakukan Helena di ruang kerja Darren, tiba-tiba ponsel milik Axel berbunyi. Axel langsung mengambil ponselnya. Dapat dilihat oleh Axel panggilan grup video WA.


Axel yang melihat hal itu, langsung menjawab panggilan video itu. Pertama yang terdengar adalah suara Qenan.


"Xel, kau ada dimana?"


Axel tidak langsung menjawabnya. Justru Axel mengarahkan ponselnya ke sekitar ruangan. Qenan, Willy, Rehan dan Darel langsung tahu ruangan tersebut.


"Apa kau sendirian disana?" kini Rehan yang bertanya.


Lagi-lagi Axel menggunakan ponselnya dengan memperlihatkan wajah Jerry dan Dylan sehingga membuat Qenan, Willy, Rehan dan Darel melihatnya.


"Yak! Axel sialan! Sejak kapan kau menjadi bisu, hah?!" teriak keempatnya.


"Kami bertanya kepadamu, namun seenaknya kau memberikan jawaban dengan cara merubah posisi ponselmu!" teriak Willy.


Axel yang mendengar teriakan dari keempat sahabatnya langsung meletakkan ponselnya dengan memposisikan ponselnya berdiri di hadapannya dan juga di hadapan Jerry dan Dylan.


"Jangan marah-marah. Ntar kalian semua cepat tua," sahut Dylan sembari matanya fokus melihat ke layar laptop.


"Apa kalian sedang menonton pertunjukan drama yang dimainkan oleh sijal*ng itu?" tanya Darel.


Axel ingin kembali merubah posisi ponselnya, namun usahanya gagal. Saat tangannya hampir menyentuh ponselnya, terdengar teriakan dari keempatnya.


"Jangan coba-coba kau merubah posisi ponselmu lagi, Yonantan Axel Immanuel!" teriak Qenan.


"Biarkan seperti itu," sahut Willy.


"Kau bisa menjawabnya dengan menggunakan mulutmu," sahut Rehan.


"Kau masih bisa bicarakan?" tanya Darel dengan wajah kesalnya.


Seketika tangan Axel terhenti dan disertai dengan kekehannya.

__ADS_1


"Hehehehe.. ketahuan. Aku, Dylan dan Jerry sedang menonton drama dari wanita murah*n itu," ucap Axel.


"Benar-benar menjijikkan!" seru Rehan.


"Sampai kapan kita akan melakukan rencana ini. Kita tidak akan mungkin kan membiarkan Darren terlalu lama berdekatan dengan wanita jal*ng itu," ucap dan tanya Qenan.


"Ntahlah," jawab Dylan.


"Kita tunggu kabar dari Darren. Seperti yang sudah Darren beritahu kekalian. Sebelum kalian mendapatkan kabar atau informasi apapun dari Darren, kalian berempat jangan ada yang kabur dari kandang. Mengerti!" seru Jerry


Mendengar ucapan Jerry membuat Qenan, Willy, Rehan dan Darel mendengus kesal.


"Yak! Jerry sialan, kampret! Kau pikir kami ini hewan, hah!" teriak keempatnya.


Jerry yang mendengar teriakan keempat sahabatnya hanya mengangkat bahunya acuh.


"Dasar sialan," umpat Qenan.


"Dasar idi*t," umpat Rehan.


"Dasar tikus got," umpat Darel.


"Jika aku ada disana. Aku akan potong-potong tubuhmu lalu aku jadikan sate." Willy berucap kesal.


"Buktinya saat ini kau tidak ada disini, tiang listrik. Jadi, enyahlah niat kotormu itu." Jerry menjawab perkataan dari Willy.


Sementara Axel dan Dylan tersenyum mendengar perdebatan sahabat-sahabatnya.


"Dari pada ribut-ribut, lebih baik sekarang kalian pergi ke kamar mandi, cuci kaki lalu pergi tidur. Besok kalian kan sekolah. Ntar bisa terlambat ke sekolahnya," ucap Jerry lagi.


Dan pada akhirnya tawa Axel dan Dylan pun pecah.


"Sialan kalian," umpat keempatnya bersamaan.


Setelah mengatakan hal itu Qenan, Willy, Rehan dan Darel mematikan panggilan video mereka.


***


[PERUSAHAAN ACCENTURE]


Darren tengah berjalan menuju ruangannya sembari berbicara dengan seseorang di telepon. Orang itu adalah salah satu kakak mafianya yaitu Enzo.


"Ya, kak Enzo. Ada apa?"


"Kau pasti akan senang dengan kabar yang akan kakak sampaikan ini."


"Apa itu, kak Enzo? Katakan padaku. Jangan buat aku penasaran."


"Keinginanmu untuk membuat keluarga Ramoz Orlando hancur."


Mendengar jawaban dari Enzo seketika terukir senyuman manis di bibir Darren.


"Apa semuanya berjalan sesuai yang aku inginkan, kakĀ  Enzo?"


"Tentu. Apa yang tidak bisa kami lakukan? Saat ini Perusahaannya benar-benar telah hancur. Tidak ada yang mau bekerja sama dengan Perusahaan itu. Bahkan seluruh anggota keluarga Orlando masuk ke daftar hitam Perusahaan-perusahaan terkenal di dunia. Untuk lebih jelasnya lagi, silahkan kau lihat internet. Disana ada berita tentang kehancuran seluruh anggota keluarga Orlando, termasuk dua Butik terkenal di Jerman milik Ibu dari si wanita murah*n itu."


Darren sangat puas. Puas sekali mendengar kabar yang disampaikan oleh Enzo. Inilah yang diinginkannya.


"Selesaikan tugasmu dengan wanita murah*n itu. Jangan terlalu lama berakting. Bisa-bisa kau kembali jatuh cinta padanya," ledek Enzo.

__ADS_1


"Pasti. Untuk apa juga aku harus berlama-lama berakting di depannya, jika rencana pertama sudah berhasil. Tapi sebelum aku mengakhiri sandiwara ini, aku ingin memberikan kejutan padanya."


"Silahkan. Kalau perlu kau harus berikan kejutan yang tidak bisa dilupakan seumur hidup olehnya. Tunjukkan padanya, siapa itu Darrendra Smith!"


"Tentu."


"Ya, sudah kalau begitu. Kakak tutup dulu teleponnya. Jika ada hal-hal penting lainnya, Kakak akan kabari."


TUTT!


TUTT!


Setelah selesai berbicara dengan Enzo. Darren memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Setelah itu Darren pun masuk ke dalam ruang kerjanya.


CKLEK!


Darren sudah berada di ruang kerjanya. Saat tiba di ruang kerjanya, Darren melihat Helena yang sedang duduk di sofa sembari bermain ponsel.


Helena yang menyadari kedatangan Darren langsung menghentikan acara bermain ponselnya.


"Kenapa lama sekali, sayang?" tanya Helena.


"Maafkan aku, sayang. Aku lupa membeli makanan. Saat aku ingin keluar, aku melihat karangan bunga didepan. Dan tiba-tiba saja pikiranku langsung tertuju pada keempat sahabat-sahabatku yang telah pergi. Lalu aku masuk lagi."


Helena mengusap-usap lengan Darren. "Sabar, oke! Aku ada disini."


Sementara di tempat lain, ketujuh sahabatnya yang melihat adegan tersebut seakan-akan ingin muntah melihat Drama Queen yang dilakukan oleh seorang Helena Orlando. Kemungkinan saat ini mereka semua sedang mengumpat akan kekesalan dan kemarahan mereka terhadap Helena.


"Oh iya. Sebagai gantinya. Bagaimana kalau kau ikut aku ke SHOOWROOM BMWX milikku," tawar Darren.


Mendengar Darren yang ingin mengajaknya ke SHOOWROOM BMWX yang mewah dan besar itu membuat hati Helena bersorak gembira. Inilah yang ditunggu-tunggu olehnya.


"Be.. benarkah?" tanya Helena.


"Eemmm." Darren mengangguk.


"Ayo," ajak Darren.


Saat Darren ingin menggandeng tangan Helena, tiba-tiba Helena pamit ke kamar mandi.


"Sebentar sayang. Aku mau ke kamar mandi dulu." Darren mengangguk.


Setelah memastikan Helena masuk ke dalam kamar mandi, Darren menghubungi Dylan.


"Hallo, Ren."


"Hallo, Dylan. Aku akan ke SHOOWROOM BMWX sekarang. Aku akan datang bersama wanita murah*n itu. Persiapkan rencana selanjutnya."


"Baik, Ren."


Setelah mengatakan hal itu, Darren langsung mematikan teleponnya, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


Beberapa detik kemudian, Helena pun keluar dari kamar mandi.


"Sudah?" tanya Darren.


"Sudah," jawab Helena.


"Kalau begitu, mari kita pergi!"

__ADS_1


Darren dan Helena pun pergi meninggalkan Perusahaan ACCENTURE untuk menuju SHOOWROOM BMWX.


__ADS_2