KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Amarah Darren Yang Mengerikan


__ADS_3

Ketujuh sahabat-sahabatnya Darren saat ini berada di kantin. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda. Sementara Darren dan Brenda tidak bersama sahabat-sahabatnya.


Baik Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan maupun Alice, Elsa, Milly, Vania, Felisa, Lenny dan Tania sudah mencari keberadaan Darren dan Brenda. Namun mereka tidak menemukan keduanya. Bahkan ponsel Darren dan Brenda tidak aktif.


"Maafkan aku. Seharusnya aku tidak berbicara seperti itu terhadap Darren. Dan seharusnya aku tahu bagaimana sensitifnya dia," sahut Axel menyesal karena sudah memarahi Darren.


Mendengar ucapan dari Axel membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan menjadi tidak tega.


Puk!


Jerry menepuk pelan bahu Axel hanya sekedar untuk menenangkan sahabatnya itu.


"Sudahlah, Xel! Kamu jangan nyalahin diri kamu sendiri. Ini sepenuhnya bukan salah kamu. Kamu seperti ini karena kamu nggak mau Darren berbicara yang tidak-tidak tentang dirinya sendiri," ucap Jerry.


"Iya, Xel! Jerry benar. Sekarang berhenti nyalahin diri kamu sendiri. Nggak ada gunanya. Aku sangat yakin jika Darren kelepasan saat berbicara seperti itu tadi di kelas. Darren nggak benar-benar serius. Sekali pun Darren berbicara seperti itu. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Darren." Dylan berbicara sembari menghibur Axel.


"Sekarang yang kita pikirkan adalah dimana Darren? Kita harus cari dia. Pasti saat ini Darren sedang sedih. Dan aku sangat yakin bahwa Darren masih memikirkan perkataan Axel dan juga teriakan Axel saat di kelas. Ini adalah pertama kalinya bagi Darren melihat salah satu sahabatnya yang begitu marah padanya." Qenan berbicara sembari mencairkan suasana yang sedari tadi tampak tegang.


Alice, Elsa, Milly, Vania, Felisa, Lenny dan Tania sudah tahu permasalahan yang dihadapi Axel. Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan sudah menceritakan semuanya kepada mereka.


Mendengar cerita dari Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan membuat Alice, Elsa, Milly, Vania, Felisa, Lenny dan Tania terkejut.


Baik Alice, Elsa, Milly maupun Vania, Felisa, Lenny dan Tania berdoa semoga tidak terjadi sesuatu terhadap Darren.


"Kalian sudah mendapatkan kabar dari Brenda?" tanya Willy menatap wajah Alice, Elsa, Milly, Vania, Felisa, Lenny dan Tania.


"Belum," jawab Alice, Elsa, Milly, Vania, Felisa, Lenny dan Tania bersamaan.


"Kalian tidak ada masalahkan?" tanya Darel.


"Tidak. Kami baik-baik saja. Terakhir Brenda izin ke toilet," jawab Milly.


"Brenda ngirim pesan padaku katanya dia nggak akan balik lagi ke kelas. Brenda bilang dia nggak enak badan. Dan dia mau langsung pulang. Itu pesannya," kata Elsa.


"Ponselnya Brenda nggak aktif lagi," ucap Tania.


"Ponselnya Darren juga. Aku berulang kali mencoba menghubunginya. Namun sampai detik masih sama," ujar Rehan.


Ketika mereka semua tengah memikirkan Darren dan Brenda, tiba-tiba seorang mahasiswa yang tak lain adalah mantan anggota organisasi datang menghampiri mereka dengan nafas ngos-ngosan.


"Maaf mengganggu," ucap mahasiswa itu.


Melihat salah satu mantan anggota organisasinya. Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan melihat dengan tatapan iba.


"Tenangkan diri kamu dulu. Tarik nafas, lalu buang pelan-pelan." Jerry memberikan arahan kepada mantan anggota organisasinya itu.


Mahasiswa itu adalah salah satu anggota ditimnya Jerry ketika masih menjabat sebagai penanggung jawab dibawah kepemimpinan Darren.


"Bagaimana? Sudah?" tanya Jerry.


"Sudah, Jer."


"Katakan ada apa?" tanya Jerry.


"Ach, begini! Itu di halaman kampus ada keributan."


"Keributan?" tanya Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan bersamaan.


"Nggak ada waktu buat jelasin. Lebih baik kalian kesana sekarang. Darren ada disana."


Mendengar nama Darren disebut. Seketika membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan terkejut.


Tanpa pikir panjang lagi. Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan langsung berdiri dari duduknya dan berlari meninggalkan kantin. Dan diikuti oleh Alice, Elsa, Milly, Vania, Felisa, Lenny dan Tania. Mereka berlari menyusul Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan.


^^^


Darren saat ini berada di halaman besar kampus. Awalnya Darren ingin kembali ke kelas setelah berada di ruang latihan selama satu setengah jam.


Namun ketika Darren melangkahkan kakinya menuju kelas. Salah satu mahasiswi datang menghampiri dan memberitahu dirinya bahwa keluarga Jessica datang ke kampus untuk bertemu dengannya.


"Mau apa kalian menemuiku?" tanya Darren dengan menatap tajam orang-orang yang ada di hadapannya.


"Lepaskan putriku dari penjara," ucap lantang ayah dari Jessica.


Mendengar perkataan dari pria yang ada di hadapannya. Seketika Darren tertawa.


"Hahahaha. Kau pikir kau itu siapa, hah?! Enak saja memerintahku," jawab Darren dengan menatap tajam kearah ayahnya Jessica.


"Brengsek! Kau yang sudah memasukkan putriku ke penjara. Dan sekarang seenaknya saja kau lepas tangan!" teriak ayahnya Jessica.


"Salah putrimu sendiri karena sudah berani ingin membunuh gadisku," balas Darren.

__ADS_1


"Jika putrimu tidak mengganggu milikku, maka aku juga tidak akan mengganggu putrimu itu." Darren menatap nyalang ayahnya Jessica.


Kedua orang tuanya Jessica, kedua paman Jessica yaitu adik laki-laki pertama dari kedua orang tuanya Jessica menatap penuh amarah Darren.


"Dasar anak tidak tahu diri. Apa begini cara kedua orang tuamu mendidikmu, hah?!" bentak ibunya Jessica.


"Ini nggak ada hubungannya dengan mereka. Jadi jangan bawa-bawa mereka dalam masalah ini!" bentak Darren tak terima jika keluarga Jessica membawa kedua orang tuanya.


"Kenapa? Apa kau marah? Jadi benar kedua orang tuamu itu tidak becus mendidikmu? Wah, pantas saja kelakuanmu itu sangat menjijikkan. Ternyata kedua orang tuamu tak jauh beda denganmu. Sama-sama menjijikkan."


Ibunya Jessica berbicara dengan angkuhnya sembari matanya menatap jijik kearah Darren.


Sedang ayahnya Jessica dan kedua paman nya tertawa mengejek menatap wajah Darren.


"Apa jangan-jangan ibumu itu seorang wanita murahan yang menjajakan tubuhnya kesetiap laki-laki diluar sana. Dan sementara ayahmu seorang laki-laki yang suka tidur dengan banyak perempuan. Dan pekerjaan kedua orang tuamu itu adalah pekerja ***. Aku benar bukan?"


"Hahahahaha."


Mereka tertawa dengan sangat keras dengan menatap temen Darren. Sementara Darren mengepal kedua tangannya ketika mendengar keluarga Jessica menghina kedua orang tuanya.


Bagaimana dengan mahasiswa dan mahasiswi yang melihat dan mendengar hal itu. Mereka sama seperti Darren. Marah?


Para mahasiswa dan para mahasiswi yang sedari tadi melihat dan mendengar perkataan dari keluarga Jessica menatap jijik keluarga Jessica. Mereka semua berpikir jika sikap kasar dan perlakuan buruk Jessica selama ini didapat dari kedua orang tuanya dan keluarga besarnya.


Darren berlahan melangkah mendekati ibunya Jessica. Dan jangan lupakan tatapan amarahnya menatap ibunya Jessica.


Kini Darren sudah berdiri di hadapan ibunya Jessica. Darren menatap penuh amarah wajah ibunya Jessica.


"Tarik kembali kata-katamu barusan tentang kedua orang tuaku." Darren masih berbicara lembut kepada ibunya Jessica.


"Kenapa? Apa yang akan kau lakukan padaku jika aku tidak mau melakukan apa yang kau minta, hah?!" ibunya Jessica menantang Darren dengan menepuk-nepuk pipi Darren.


"Palingan laki-laki bodoh ini akan menangis sembari bersimpuh di kakimu, sayang!" seru ayahnya Jessica.


"Hahahahaha."


Adik laki-laki dari kedua orang tuanya Jessica tertawa ketika mendengar perkataan dari ayahnya Jessica.


"Sekali lagi aku katakan padamu. Tarik kata-katamu mengenai orang tuaku!" bentak Darren tepat di wajah ibunya Jessica.


Baik ayahnya Jessica, ibunya Jessica maupun kedua paman nya Jessica tidak mengetahui atau pun melihat bahwa tangan kiri Darren menelusup di belakang kemeja yang dikenakan oleh Darren. Darren mengambil pisau lipat miliknya yang disimpan di saku celananya.


Setelah mendapatkan pisau itu, berlahan Darren membuka lipatan pisau itu dengan menekan tombol yang ada di ganggangnya.


Para mahasiswa dan mahasiswi terkejut mendengarnya. Bahkan mereka semua menatap kasihan akan nyawa ibunya Jessica.


Darren menarik kuat rambut ibunya Jessica sehingga membuat ibunya Jessica berteriak kesakitan. Bahkan kepala ibunya Jessica mendongak ke atas akibat tarikan kuat dari Darren.


"Aakkhhh!"


"Brengsek! Lepaskan istriku!" bentak ayahnya Jessica.


Ayahnya Jessica menyerang Darren dengan cara memukul Darren dari arah samping. Dengan gerakan cepat, Darren memberikan tendangan kuat tepat di perut ayahnya Jessica.


Duagh!


Bruk!


Mendapatkan tendangan kuat dari Darren membuat tubuh ayahnya Jessica terhempas ke belakang dan punggungnya menghantam tiang besi yang berada tak jauh dari ayahnya Jessica berdiri.


Darren menatap penuh amarah kearah ibunya Jessica. Dan jangan lupakan pisau yang digenggam kuat di tangan kirinya.


"Kau sudah berani menghina kedua orang tuaku. Padahal mereka tidak bersalah dalam hal ini. Dan sekarang terimalah hukumanmu!" teriak Darren murka.


Srett!


Dengan penuh amarah, Darren menyayat leher ibunya Jessica sangat panjang dan juga dalam sehingga darah menyebur keluar dan mengotori wajah dan pakaiannya.


Setelah itu, Darren mendorong kuat tubuh ibunya Jessica sampai tersungkur di halaman kampus. Tubuh ibunya Jessica kejang-kejang dengan darah yang terus menyembur keluar dari lehernya.


Para mahasiswa dan mahasiswi berteriak histeris ketika melihat kejadian dimana Darren dengan kejamnya menyayat leher ibunya Jessica.


"Itu akibat dari perkataanmu," ucap Darren.


"Brengsek! Apa yang kau lakukan pada kakak perempuanku?!" teriak adik laki-laki dari ibunya Jessica.


Kedua laki-laki yang berstatus adik laki-laki dari kedua orang tuanya Jessica melihat kearah beberapa anak buahnya, lalu mereka memerintahkan anak buahnya untuk menyerang dan membunuh Darren.


"Kalian. Serang bajingan ini. Bunuh dia!"


"Baik, Bos!"

__ADS_1


Dan terjadilah perkelahian tak seimbang antara Darren melawan sekitar 40 anak buah dari keluarga Jessica.


Ketika Darren sedang melawan ke 40 anak buahnya dari keluarga Jessica. Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan datang.


Baik Qenan, Willy, Rehan maupun Darel, Axel, Jerry dan Dylan terkejut ketika melihat Darren yang bertarung sendiri. Ditambah lagi ketika mereka melihat wajah dan pakaian Darren berlumuran darah.


Mereka semua menyakini bahwa Darren telah melakukan sesuatu yang extrem sebelum mereka datang.


"Sial."


Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan mengumpat di dalam hati masing-masing karena datang terlambat.


Pertarungan terjadi di tengah-tengah halaman kampus dimana delapan pemuda melawan 40 orang.


Bagh! Bugh!


Duagh!


Bruk!


Darren, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan memberikan pukulan dan tendang kuatnya ke wajah, perut dan pinggang para musuh-musuhnya sehingga membuat para musuhnya terkapar tak berdaya di halaman kampus.


Tak butuh waktu lama. Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan berhasil mengalahkan anak buahnya dari keluarga Jessica.


Sedangkan Darren saat ini tengah mencekik leher adik laki-laki dari ibunya Jessica. Dan jangan lupakan pisau yang digenggam kuat di tangan kiri Darren.


Darren menatap tajam kearah pria itu. Pria itu juga sempat menghina kedua orang tuanya. Untuk adik laki-laki dari ayahnya Jessica sudah terkapar tak sadarkan diri. Begitu juga dengan ayahnya Jessica. Kemungkinan besar ayahnya Jessica sudah tak bernyawa akibat tubuh terhantam tiang besi.


Ketika Darren ingin menyayat pisau itu ke leher adik laki-laki dari ibunya Jessica. Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan langsung berlari kearah Darren.


"Darren, jangan!" teriak Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan bersamaan.


Qenan dan Willy berhasil menahan tangan Darren sehingga pisau itu tidak mengenai leher laki-laki itu.


Sementara Axel dan Jerry memeluk tubuh Darren dari belakang agar Darren tidak melawan.


Bagaimana dengan Dylan, Rehan dan Darel. Mereka bertiga sudah menangis melihat kondisi Darren saat ini. Bagi mereka ini adalah kali pertamanya Darren seperti ini. Selama mereka mengenal dan bersahabat dengan Darren. Darren tidak pernah semarah ini. Bahkan Darren selalu mau mendengar kata-kata mereka dikala emosinya keluar.


Darren menatap tajam kearah Qenan dan Willy yang saat ini memegang tangannya. Dirinya saat ini benar-benar marah.


"Lepaskan aku!" bentak Darren dengan menatap marah Qenan dan Willy.


Mendengar teriakan dan tatapan amarah dari Darren membuat Qenan dan Willy mengerti. Keduanya tidak marah atau pun tersinggung akan perkataan dan bentakkan dari Darren. Keduanya tahu bahwa saat ini kondisi Darren masih dikuasai oleh amarah.


"Ren. Aku mohon jangan seperti ini," ucap Axel di belakang tubuh Darren.


Axel menangis. Dirinya benar-benar hancur ketika melihat kondisi Darren saat ini. Ini pertama bagi Axel melihat kemarahan dari Darren yang menurutnya sangat menakutkan. Ditambah lagi tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil membujuk Darren.


"Aku bilang, lepaskan aku!" teriak Darren.


Darren memberikan perlawanan dengan cara menarik tangannya dan melepaskan tubuhnya dari pelukan Jerry dan Axel.


"Darren, kami mohon padamu. Sadarlah," ucap Darel.


"Lepaskan aku. Biarkan aku membunuh bajingan ini. Dia sudah menghina kedua orang tuaku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah menghina kedua orang tuaku," ucap Darren dengan menatap tajam kearah pria yang berstatus pamannya Jessica.


"Jika kau bersikeras ingin membunuh pria itu. Maka kau harus membunuhku terlebih dahulu," ucap Axel dengan suara yang terdengar bergetar.


Seketika tubuh Darren menegang ketika mendengar perkataan dari Axel. Dan detik kemudian, air matanya mengalir membasahi wajah tampannya.


"Ini semua karena kesalahanku. Kau menjadi seperti ini karena kau marah padaku. Jika kau ingin membunuh pria itu, maka kau harus membunuhku terlebih dahulu," ucap Axel dengan berlinang air mata.


"Xel," ucap Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry dan Dylan bersamaan.


Seketika Darren menjatuhkan pisaunya. Dan hal itu langsung diambil oleh Rehan. Takutnya pisau itu diambil oleh musuhnya ketika mereka lengah. Darren juga melepaskan tarikan di rambut pria itu.


Melihat Darren yang sudah melepaskan tangannya dari rambut pria itu dan juga sudah melepaskan pisaunya. Qenan dan Willy langsung melepaskan tangan Darren.


Setelah itu, Jerry dan Axel membawa tubuh Darren menjauh dari pria itu.


Axel berjalan menghadap kearah Darren agar dirinya bisa menatap wajah penuh darah Darren.


Axel menghapus noda darah yang ada di wajah sahabat kelincinya itu, walau sudah terlihat mengering. Axel kembali menangis ketika menatap wajah sahabatnya itu. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry dan Dylan.


Grep!


Axel memberikan pelukannya kepada Darren. Dan pada akhirnya, tangis Axel pecah.


"Maafkan aku. Maafkan aku yang membentakmu," ucap Axel.


Darren tidak menjawab permintaan maaf dari Axel. Justru Darren menangis ketika mendengar permintaan maaf dari Axel.

__ADS_1


Apa yang dirasakan oleh Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan terhadap Darren. Itu juga yang dirasakan oleh Darren terhadap Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan. Mereka sama-sama hancur.


__ADS_2