
Keesokan harinya anggota keluarga Smith sudah dalam keadaan rapi. Mereka tetap melakukan aktifitas seperti biasa, walau pikiran mereka tetap memikirkan suami, ayah, paman dan kakak laki-lakinya. Mereka terus berharap dan berdoa agar orang yang mereka sayangi kembali dengan selamat.
Kini mereka sudah berada di meja makan untuk melaksanakan sarapan pagi bersama.
Sarapan pagi kali ini mereka tidak bersama dengan seorang yang begitu disayangi. Terlihat oleh mereka satu kursi kosong tanpa penghuninya.
Mereka menatap kursi kosong itu dengan lekat. Dan tanpa diminta, air mata mereka jatuh membasahi wajah masingmasing.
"Papa." Melvin tiba-tiba menyebut ayahnya.
Agneta, Darren dan yang lainnya langsung mengalihkan perhatiannya menatap wajah Melvin.
"Melvin rindu Papa."
Mendengar perkataan dari Melvin membuat dada mereka sesak. Bukan hanya Melvin saja yang begitu merindukan Erland. Mereka semua juga sangat merindukan Erland, terutama Darren.
"Aku juga sangat merindukan Papa. Ini adalah hari kelima dimana Papa mengalami kecelakaan pesawat," ucap Ivan.
Mereka semua hanya bisa diam sembari tatapan matanya menatap kearah kursi kosong yang biasa di duduki oleh Erland. Di tambah lagi, mereka mengingat setiap momen ketika sarapan pagi bersama Erland.
"Kakak Erland. Aku berharap kakak selamat dalam kecelakaan pesawat itu. Semoga ada orang baik yang menolong kakak Erland," batin Carissa.
"Sayang. Semoga kamu baik-baik saja. Semoga kamu selamat dan berada di suatu tempat. Tuhan, lindungi suamiku jika suami selamat atas kecelakaan yang menimpanya."
"Papa," lirih Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew dan Nathan.
"Kakak Erland," lirih Evan
"Paman," lirih Daffa, Tristan dan Davian.
Sementara Darren tidak berucap kata apapun. Matanya masih menatap kearah kursi kosong tersebut dengan tatapan matanya yang sedikit merah.
Sedangkan untuk Erica. Saat ini Erica berada di rumah keluarga Willy. Kedua orang tua Willy membawa Erica untuk sementara waktu tinggal bersama mereka agar Darren dan anggota keluarganya fokus dalam pencarian Erland dan dibantu oleh para ayah dari ketujuh sahabatnya Darren, kelima kakak-kakak mafia Darren, keluarga Radmilo dan yang lainnya.
Bukan hanya keluarga Willy saja yang ikut menjaga Erica, melainkan keluarga dari Qenan, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel juga ikut menjaga Erica. Serta keluarga dari Brenda dan ketujuh sahabatnya.
"Papa! Adrian rindu Papa. Jika Papa selamat dalam kecelakaan itu, segeralah pulang. Kami disini merindukan Papa. Kami semua menunggu Papa pulang." Adrian berucap dengan suara bergetarnya.
Terdengar bunyi kursi yang didorong ke belakang dengan bersamaan Darren yang berdiri dari duduknya.
Mereka semua menatap kearah Darren. Dapat mereka lihat jika Darren berusaha untuk tegar. Bahkan Darren berusaha untuk menahan tangisnya. Terlihat jelas di tatapan matanya yang memerah.
"Ren," ucap mereka bersamaan.
__ADS_1
"Kakak Darren," ucap Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
"Aku sudah selesai. Aku langsung berangkat ke kampus," ucap Darren.
Setelah itu, Darren pergi meninggalkan meja makan dengan wajah sedihnya.
Dan tanpa diketahui oleh anggota keluarganya, Darren menangis. Air matanya yang sejak tadi dia tahan, akhirnya lepas kendali.
Melihat kepergian Darren membuat Agneta dan yang lainnya tampak khawatir. Mereka takut kondisi kesehatan Darren akan terganggu sehingga mengakibatkan jantungnya kambuh.
"Aku memikirkan kondisi Darren. Beberapa hari ini aku lihat Darren banyak diam, makannya kurang. Begitu juga dengan waktu istirahatnya. Diantara kita, Darren yang terlihat terpukul atas kejadian yang menimpa ayahnya." Daffa berbicara sembari menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.
Mereka yang mendengar perkataan dari Daffa. Evan dan Carissa membenarkan apa yang dikatakan oleh Daffa. Disini memang Darren yang sangat terpukul atas kecelakaan yang menimpa ayahnya. Carissa dan Evan tidak ingin Darren kembali kambuh.
"Davin, Andra. Kalian adalah saudara yang paling tua. Paman berharap kalian harus bisa menjadi penguat untuk keluarga kalian, terutama untuk Darren. Jangan lengah!" seru Evan.
"Paman kalian benar. Kalian harus kuat. Menangis dan bersedih boleh saja. Dan itu adalah hak kalian sebagai seorang anak yang merindukan ayahnya. Tapi kalian jangan lupa diri. Bagaimana pun kalian harus saling merangkul. Jika yang satunya nangis. Yang lainnya menghibur. Jika semuanya menangis dan bersedih, siapa yang akan menjadi penghibur?" Carissa juga ikut memberikan semangat kepada para keponakan-keponakannya.
"Intinya, kalian semua harus tetap semangat. Kalian tidak sendirian. Ada Paman, Bibi, Daffa, Tristan dan Davian. Kami akan selalu ada untuk kalian semua," ucap Evan.
"Dan untuk kak Agneta. Kak Agneta juga harus tegar dan kuat untuk semua putra-putranya kak Agneta. Mereka membutuhkan kak Agneta, terutama Darren!"
"Ingat, kak Agneta! Darren sudah kehilangan kak Belva, ibu kandungnya. Dan sekarang kakak Erland mengalami kecelakaan pesawat sehingga membuat keberadaan kakak Erland belum diketahui sampai saat ini. Jika misalkan kakak Erland dinyatakan meninggal. Sudah bisa dipastikan gairah hidup Darren tidak akan ada lagi. Dan berakhir kesehatan Darren akan menurun, terutama jantungnya."
Carissa berbicara dengan tatapan matanya menatap kearah saudari iparnya dan keponakan-keponakannya.
Carissa berbicara seperti itu bertujuan agar saudari iparnya dan keponakan-keponakannya tidak lepas kendali ketika tengah bersedih sehingga melupakan orang-orang di sekitarnya.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Carissa membuat Agneta dan putra-putranya sadar, terutama Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Carissa.
***
Darren saat ini berada di dalam perjalanan menuju kampusnya. Namun baru beberapa menit mengendarai mobil mewahnya, tiba-tiba Darren menghentikan laju mobilnya.
Darren seketika termenung di dalam mobilnya. Dan detik kemudian, Darren terisak.
"Papa."
Air matanya berlomba-lomba keluar membasahi wajahnya. Isak tangisnya tak terbendung lagi.
"Papa, aku merindukanmu. Papa dimana. Papa berhasil selamatkan dalam kecelakaan itu? Aku berharap sekali jika Papa berhasil menyelamatkan diri."
"Papa, aku mohon jangan tinggalkan aku. Papa sudah berjanji kepadaku untuk terus bersamaku. Aku sudah kehilangan Mama Belva. Dan aku belum siap dan tidak akan pernah siap harus kehilangan Papa juga."
__ADS_1
Darren meluapkan semua kesedihan dan kerinduannya terhadap ayahnya disertai dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Ketika berada di rumah dan ketika berkumpul bersama orang-orang terdekatnya, Darren tidak menunjukkan sisi lemahnya. Darren lebih banyak diam dan melamun.
Namun ketika diluar rumah. Barulah Darren melepaskan semua bebannya dan juga kesedihannya. Dengan begitu tidak ada yang mengetahui bahwa dia habis menangis.
Setelah puas melepaskan kesedihan dan kerinduannya, Darren kembali melanjutkan perjalanannya menuju kampus. Dia tidak ingin terlambat sampai di kampus.
***
Di kampus ketujuh sahabatnya, Brenda dan ketujuh sahabatnya sudah menunggu kedatangannya. Mereka sangat tahu bahwa sahabat kelincinya/kekasihnya itu dalam suasana yang tak baik-baik saja.
Mereka juga tidak ingin Darren kembali kambuh hanya karena terus memikirkan ayahnya. Bagaimana pun Darren tetap harus menjaga kesehatannya.
Ketika mereka tengah menunggu kedatangan Darren, tiba-tiba salah satu dari mereka yaitu Milly melihat kedatangan kedua kakaknya Darren.
"Itu kakak Gilang dan Kakak Darka!"
Mendengar seruan dari Milly. Mereka semua langsung melihat kearah Gilang dan Darka.
"Kakak Gilang, kakak Darka!" panggil Jerry dan Rehan bersamaan.
Gilang dan Darka yang mendengar seseorang memanggil mereka langsung melihat keasal suara. Dan keduanya melihat ketujuh sahabat-sahabatnya Darren, kekasihnya Darren dan ketujuh sahabatnya dari kekasihnya Darren.
Setelah itu, Gilang dan Darka berjalan menghampiri mereka semua.
"Darren nya mana? Kenapa tidak bersama kalian?" tanya Darka yang tidak melihat keberadaan adik laki-lakinya.
"Justru itu kita memanggil kakak Gilang dan kakak Darka. Kami ingin menanyakan Darren," jawab Willy.
"Kami bahkan sudah berulang kali menghubungi Darren. Tapi panggilan kami tidak diangkat sama sekali oleh Darren," ucap Qenan.
"Ini adalah pertama kalinya panggilan dari kami tidak diangkat oleh Darren," ucap Darel.
"Tapi Darren sudah pergi duluan sebelum kita berdua," ujar Gilang.
"Bahkan kepergian Darren sudah dua puluh menit sebelum kami berdua memutuskan untuk berangkat ke kampus," sela Darka.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Gilang dan Darka membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, dan Darel terkejut. Mereka mulai mengkhawatirkan Darren. Begitu juga dengan Brenda dan ketujuh sahabatnya.
"Kakak Gilang akan mencoba menghubungi Darren. Siapa tahu kali ini Darren menjawabnya," ucap Gilang.
Mereka yang mendengar perkataan dari Gilang langsung menganggukkan kepalanya. Mereka semua berharap jika Darren mau menjawab panggilan dari salah satu kakak laki-lakinya.
__ADS_1