
"Papa!" Erica berteriak sembari berlari memanggil ayahnya ketika yang lainnya sudah selesai melepaskan rindu terhadap ayahnya itu.
Darren tersenyum lalu kemudian menyamakan tinggi dengan putrinya sembari merentangkan kedua tangannya.
Grep..
Erica masuk ke dalam pelukan ayahnya itu dan memeluk tubuh ayahnya itu erat.
"Papa, Erica rindu Papa!"
"Terima kasih Erica sudah merindukan Papa. Sekarang Papa sudah kembali. Apa Erica bahagia?"
"Bahagia Pa. Erica bahagia sekali Papa kembali."
Erica kemudian melepaskan pelukannya lalu menatap wajah tampan ayahnya itu.
"Bagaimana dengan Papa-Papa Erica yang lainnya, Pa?"
"Papa-Papa Erica yang lainnya juga sama seperti Papa. Mereka semua baik-baik saja. Papa dan Papa-Papa Erica yang lainnya serta Paman Nandito bisa pulang itu berkat doa Erica dan doa semuanya."
Darren berdiri dari posisi jongkoknya dengan membimbing tangan Erica di samping kirinya. Tatapan matanya menatap kearah tiga orang tamu yang sejak tadi setia menjadi penonton.
Darren kemudian melangkah menghampiri ketiga tamu itu dan diikuti oleh anggota keluarga lainnya. Begitu juga dengan Daksa dan Marcel.
Kini Darren sudah berdiri di hadapan ketiga tamu tersebut dengan tatapan dinginnya.
"Ada apa?" tanya Darren.
"Kami kesini ingin menagih janji anda," jawab pria itu.
"Janji? Janji apa?" tanya Darren yang berpura-pura tidak mengetahui apapun.
"Anda mengatakan kepada kami untuk datang kesini lagi setelah satu minggu. Dan anda juga mengatakan akan membahas pernikahan putriku dengan kakak anda yang bernama Andra," jawab pria itu.
"Ini sudah lewat satu minggu dari janji anda," sela wanita tersebut.
"Begitukah?" tanya Darren.
"Iya," jawab wanita itu.
"Eemm... Sebelum kita membahas masalah pernikahan. Aku tanya sekali lagi. Apa anda benar-benar yakin ingin menikahkan putri anda dengan kakak saya?"
"Yakin karena putri saya hamil anak dari kakak anda itu." pria itu menjawab dengan lantang.
"Baiklah kalau begitu. Mari kita masuk ke dalam. Kita akan membahas pernikahan putri anda dengan kakak saya. Dan beberapa persyaratan, perjanjian dan beberapa hal lain sebelum pernikahan itu terjadi."
Setelah mengatakan itu, Darren pun langsung melangkah masuk ke dalam rumah, diikuti anggota keluarganya serta Daksa dan Marcel. Kemudian disusul oleh ketiga tamu tersebut.
"Ren, kakak....,"
Darren tersenyum mendengar ucapan kakaknya itu. Apalagi ketika melihat wajah tak bahagia sang kakak.
"Kakak tenang, oke! Kakak tidak perlu khawatir. Kakak serahkan saja semuanya padaku," bisik Darren di telinga Andra.
^^^
Kini semuanya sudah berkumpul di ruang tamu. Semuanya menatap kearah sepasang suami istri itu dan anak perempuannya terutama Andra. Tatapan mata Andra menunjukkan tatapan penuh dendam.
"Apa kalian yakin pernikahan ini terjadi?" tanya Darren dengan wajah datar dan dingin.
"Sejak pertama kali kami datang kesini. Sejak itulah keyakinan kami untuk menikahkan anak perempuan kami dengan Andra," jawab pria itu.
"Begini saja. Bagaimana kalau kalian menunjukkan bukti-bukti lengkap jika memang kakakku yang telah menghamili anak perempuan kalian," sahut Darren.
"Bukankah kemarin aku sudah memberikan bukti padamu. Bahkan kau mempercayai bukti itu dari pada kakakmu sendiri," sela perempuan tersebut.
__ADS_1
"Tentang foto yang kau tunjukkan itu, siapa pun pasti akan percaya. Bukan aku saja. Disini ini bukti yang aku maksud adalah bukti kedekatanmu dengan kakakku. Kapan kalian berkenalan, sudah berapa lama kalian bertemu dan pergi jalan keluar. Dan kemana saja kalian pergi berkencan sehingga berakhir kau hamil." Darren berbicara dengan sorot mata yang tajam kearah perempuan itu.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren membuat perempuan itu seketika diam. Dirinya tidak tahu harus menjawab apa.
Melihat keterdiaman perempuan tersebut seketika terukir senyuman manis Daren, Andra, Erland, Davin, Dzaky, Adnan dan semua anggota keluarga termasuk Daksa dan Marcel tangan kanan Chico.
"Bagaimana? Apa bisa kalian memberikan semua bukti-bukti itu padaku?" tanya Darren. "Bisa saja kalian membohongi kakakku, terutama putri kalian itu!"
"Jadi kau menuduh putriku?!" bentak pria itu.
"Ada tiga kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, putrimu menjebak kakakku. Kedua, putrimu hamil dengan laki-laki lain, tapi kakakku yang jadi kambing hitamnya. Dan yang ketiga pura-pura hamil agar bisa menikah dengan kakakku yang mana kakakku adalah putra kedua dari Erland Faith Smith. Semua orang tahu siapa itu keluarga Smith."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren membuat pria itu marah. Begitu juga dengan istrinya. Keduanya tidak terima akan sikap Darren terhadap mereka.
Braakkk..
Seketika pria itu menggebrak meja dengan keras bersamaan dirinya beranjak dari duduknya. Tatapan matanya menatap nyalang kearah Darren dengan menunjuk kearah Darren.
Sreekk..
Bunyi suara senjata api terdengar lalu senjata api itu mengarah kearah pria tersebut.
"Turunkan tangan anda dari wajah tuan Darren!"
Sepasang suami istri itu dan anak perempuannya seketika ketakutan ketika melihat dua pemuda yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya tiba-tiba mengarahkan senjatanya kearahnya.
Brian, Delia dan ketiga anaknya seketika terkejut dan syok melihatnya. Erland yang berada di dekat Brian langsung membisikkan kedua pemuda tersebut di telinga Brian.
"Dua pemuda itu tangan kanannya dari kelima kakak mafia Darren."
"Jadi maksud kak Erland kalau Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico itu adalah seorang ketua Mafia?" tanya Brian dengan suara pelan dan berbisik.
"Iya. Mereka sudah banyak membantu dan melindungi keluarga kita. Jadi intinya! Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico sudah menganggap Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya sebagai adik-adik mereka. Apapun akan mereka lakukan untuk adik-adik mereka. Mereka akan melindungi orang-orang yang disayangi oleh Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya."
"Silahkan anda duduk kembali," ucap Marcel dengan tatapan tajamnya.
Daksa melangkah sedikit mendekati Evan karena Evan duduk tak jauh dari dirinya dan Marcel berdiri. Kemudian Daksa membisikkan sesuatu ke telinga Evan.
"Tuan Evan, anda lebih baik duduk di samping Darren. Sosok Rendra sudah kembali. Jangan sampai sosok Rendra muncul dan mengambil alih tubuh Darren."
"Baiklah," jawab Evan.
Evan kemudian berdiri dari duduknya lalu berpindah duduk di samping Darren.
Darren melihat ke samping. Dan dapat dilihat olehnya suami dari Bibi kesayangannya tersenyum menatap dirinya.
Puk..
Evan menepuk pelan bahu Darren. "Kamu harus sabar, oke! Jangan terlalu emosi. Sebisa mungkin kamu harus tahan emosi kamu."
Darren tersenyum. "Aku mengerti. Paman tidak perlu khawatir."
Erland, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka menatap penuh selidik kearah Evan. Apalagi ketika mendengar ucapan Evan untuk Darren.
"Apa ini ada hubungannya dengan sosok Rendra? Apa sosok Rendra sudah kembali?" batin Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka.
Darren kembali menatap kearah sepasang suami istri itu dan anak perempuannya.
"Aku Darrendra Smith memutuskan tidak ada pernikahan sama sekali! Aku selaku adik kandung dari Diandra Smith tidak merestui kakakku dengan putrimu! Sekarang silahkan kalian pergi dari sini!"
Seketika sepasang suami isteri itu terkejut. Mereka tidak menyangka jika Darren mengingkari janjinya untuk menikahkan kakaknya dengan anak perempuannya.
"Tidak! Andra, kamu harus tanggung jawab. Jangan seenaknya saja kamu. Kamu sudah menikmati tubuhku, sekarang kamu mau lari tanggung jawab. Jangan jadi laki-laki pengecut kamu, Andra!" bentak perempuan tersebut.
Braakk..
__ADS_1
Darren memukul kuat meja bersamaan dirinya beranjak dari duduknya.
"Brengsek!"
"Darren!"
Mereka semua berdiri ketika melihat Darren yang tiba-tiba berteriak dan marah. Evan mengusap-usap bahu keponakannya itu agar tidak terlalu emosi.
"Kau!" tunjuk Darren kearah perempuan yang mengaku hamil anak Andra dengan tatapan nyalang. "Kau memang sedang hamil saat ini, tapi bayi itu bukan bayi kakakku. Justru bayi laki-laki lain!" bentak Darren.
Deg..
Semua anggota keluarga Smith terkejut ketika mendengar ucapan dari Darren. Begitu juga dengan sepasang suami istri itu dan anak perempuannya, namun ketiganya berusaha untuk tetap bersikap biasa saja.
"Jangan asal menuduh kau! Bayi ini adalah bayinya Andra!" bentak perempuan itu.
"Apa begini keturunan keluarga Smith memperlakukan seorang perempuan?!" bentak wanita paruh baya itu.
"Tolong jaga sikap anda, nyonya!" bentak Davin.
"Kenapa? Mau marah? Saya benarkan? Buktinya salah satu dari kalian sudah melakukan hal keji terhadap anak gadis orang, tapi tidak mau bertanggung jawab!" bentak wanita itu menantang.
"Untuk anda tuan Erland. Seharusnya anda malu memiliki putra bejat seperti putra anda yang bernama Andra. Seharusnya anda bisa memberikan contoh yang baik kepada putra-putra anda bukan melindunginya!" bentak pria itu dengan tangannya menunjuk kearah Erland dan Andra bergantian.
Jleb..
"Aakkhh!" teriak tiba-tiba pria itu
Darren mengambil pisau lipatnya dari saku jaket lalu melempari pisau itu tepat mengenai pergelangan tangan pria dimana pria itu menunjuk kearah ayah dan kakaknya. Pisau itu menembus cukup dalam.
"Sayang!"
"Papa!"
Semuanya seketika terkejut dan syok atas apa yang mereka lihat. Kejadiannya begitu cepat dan merata tidak menyadari hal tersebut.
Namun tidak dengan Daksa dan Marcel. Keduanya memperhatikan Darren sejak tadi.
Darren melangkahkan kakinya mendekati pria tersebut. Setelah berada di dekat pria itu, Darren kemudian menyentuh pisau yang menancap sangat dalam di pergelangan tangan pria itu.
Sreekk..
"Aakkhhh!" pria itu berteriak keras ketika pisau itu dicabut paksa oleh Darren. Darah menyembur keluar dari lubang luka tersebut.
Darren membersihkan pisau lipatnya itu dengan menggunakan baju pria itu sembari tersenyum di sudut bibirnya.
"Itu hukuman untuk orang yang sudah berani bersikap kasar kepada ayahku. Dan juga hukuman untuk orang yang tidak mau mendengarkan perkataanku. Aku sudah menyuruh kalian pergi dari sini dan berhenti mengganggu kakakku. Tapi kalian tetap melawanku."
Darren berbicara dengan tatapan matanya menatap kearah pisau lipat miliknya. Darren masih mengelap pisau itu dengan menggunakan baju pria itu.
Sedangkan pria itu, istrinya dan anak perempuannya saat ini sudah ketakutan. Mereka tidak menyangka jika adik dari Andra berubah menjadi sosok iblis.
Darren menatap tajam kearah pria itu. Begitu juga dengan istri dan anak perempuannya secara bergantian.
"Aku katakan kepada kalian bertiga. Aku sudah mengetahui niat busuk kalian untuk masuk ke dalam keluargaku. Kalian rela melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginan kalian itu."
"Dan untuk kau perempuan busuk! Aku sudah tahu bahwa kau hamil dengan laki-laki lain dan aku juga tahu siapa laki-laki itu. Aku beri kau kesempatan. Menjauhlah dari kakakku. Jangan lagi kau mengganggunya. Jika kau masih saja mengganggu kakakku, maka aku pastikan kau dan seluruh anggota keluargamu termasuk keluarga dari pihak ayah dan ibumu hancur. Dengan kata lain, kalian semua akan kehilangan kekayaan yang kalian miliki selama ini. Cam kan itu!"
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan ruang tamu. Dirinya ingin menuju kamarnya untuk istirahat. Dirinya benar-benar lelah sekarang ini.
Melihat kepergian Darren membuat Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka dan anggota keluarga lainnya khawatir.
"Sekarang kalian pergi dari sini!" bentak Marcel dan langsung menarik kasar tubuh pria itu lalu mendorongnya keluar. Begitu juga dengan Daksa yang menarik kuat tangan wanita paruh baya itu dan anak perempuannya untuk keluar.
Setibanya diluar Daksa memerintahkan beberapa penjaga untuk menyuruh ketiganya pergi meninggalkan kediaman Smith.
__ADS_1