KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Karyawan Yang Busuk Hati


__ADS_3

Brenda sudah berada di kampus. Saat ini Brenda sudah bergabung bersama dengan yang lainnya di Aula Pertemuan.


Ketika Brenda mamasuki Aula. Semua orang yang ada di dalam menatapnya. Mereka memberikan banyak pertanyaan kepada Brenda karena datang tidak sesuai jadwal.


Setelah mendengar cerita dari Brenda. Akhirnya mereka semua pun mengerti dan menyumpahi orang yang sudah menghalangi dan mengganggu Brenda.


"Kamu nggak diapa-apain sama dia?" tanya Darren dengan mengusap lembut kepala belakang Brenda.


"Aku nggak apa-apa, Ren." Brenda menjawab pertanyaan dari Darren.


"Untung aja anak kecil itu melihatnya dan langsung berteriak. Coba kalau nggak. Kemungkinan cewek sinting itu berhasil melukai Brenda," ucap Elsa.


"Kalau perempuan itu sampai berani nyentuh milik gue, maka dia tidak akan bisa menghirup udara di dunia ini lagi." Darren berbicara dengan wajah dinginnya.


Mendengar ucapan dari Darren membuat mereka yang ada di Aula tersebut seketika merinding, kecuali ketujuh sahabat-sahabatnya dan kedua kakaknya yaitu Gilang dan Darka.


Mereka semua tahu siapa Darren? Bagaimana cara Darren membalas musuh-musuhnya, mereka juga sudah melihat dengan mata kepala mereka sendiri?


"Sudah, Sudah! Kenapa malah membahas ini? Bukankah kita berkumpul disini untuk membahas data-data mahasiswa dan mahasiswi. Serta beberapa data lainnya!" seru Gilang yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


Setelah itu, mereka pun kembali ke topik awal.


"Ren, ini data-data yang lo minta!" Qenan dan Willy memberikan empat buku tebal ke hadapan Darren.


Darren mengambil empat buku tebal yang diberikan oleh Qenan dan Willy.


Tangannya membuka satu persatu kereta putih yang di buku tebal itu dengan matanya menatap secara seksama tulisan-tulisan itu.


Setelah selesai melihat dan membaca ke empat buku tebal itu. Darren tersenyum.


"Semua data-data yang aku baca ini kayaknya sama seperti data-data yang sudah kita bakar beberapa bulan lalu," sahut Darren.


Mendengar ucapan dari Darren. Qenan dan Willy melihat ke anggotanya masing-masing.


"Apa kalian...?" pertanyaan dari Qenan dan Willy terpotong.


"Maafkan kami Darren, Qenan, Willy!" seru anggota dari Qenan dan Willy.


"Ada apa? Katakan," ucap Darren.


"Begini. Saat kamu nyuruh kita semua membakar data-data mahasiswa dan mahasiswi. Begitu juga dengan semua data yang telah kita susun selama ini. Ternyata ada beberapa buku catatan yang lupa kami bawa ke kampus. Buku catatan itu ketinggalan di rumah." seorang mahasiswa yang berada di tim Qenan yang bernama Didi menjawabnya.


"Kebetulan saat itu materi kuliahku banyak. Dan aku tidak sempat membawa buku keanggotaan kita. Makanya aku memilih meninggalkannya di rumah," jawab mahasiswi dari timnya Willy bernama Saskia.


"Pas kejadian dimana Darren menyuruh kita membakar semua data-data itu. Aku, Didi, Saskia dan Lia sempat takut karena catatan pentingnya tidak kami bawa. Jadi kami terpaksa berbohong dan mengatakan bahwa semuanya sudah terbakar," ucap Leo.


"Setiba kami di rumah. Kami langsung mengecek buku catatan itu. Niatnya kami ingin membakarnya. Tapi nggak jadi," kata Lia.


"Kenapa nggak jadi?" tanya Willy.


"Karena kami berpikir pasti Darren akan kembali menjabat posisi itu lagi."


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" tanya Darren.


"Aku, Didi, Saskia dan Leo melihat dari cara Rektor yang tiba-tiba mencabut posisi kamu dari ketua Organisasi. Padahal selama ini Rektor begitu mempercayai kamu. Begitu juga dengan sahabat-sahabat kamu. Bahkan rektor memberikan hak penuh masalah urusan kampus ke kamu dan sahabat-sahabat kamu. Jadi aku heran dan juga curiga kepada Rektor saat itu."

__ADS_1


"Setelah kita yakin. Kita memutuskan untuk menyimpan buku catatan itu. Kita akan membakarnya jika kamu benar-benar tidak ingin kembali lagi menjabat posisi itu."


Mendengar penjelasan dari Didi, Lia, Saskia dan Leo membuat Darren tersenyum bangga. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Kalian sudah melakukan yang benar. Terima kasih," ucap Darren.


Mendengar ucapan dari Darren membuat Didi, Lia, Saskia dan Leo akhirnya bisa bernafas lega. Awalnya mereka berpikir jika Darren akan marah kepadanya. Ternyata dugaan mereka salah.


"Baiklah. Dengan adanya data-data ini kita tidak perlu repot-repot lagi membuat ulang data-data mahasiswa dan mahasiswi. Kita tinggal membuat ulang sedikit kegiatan kita, terutama kegiatan diluar kampus," sahut Darren.


"Sebelum aku berangkat ke kampus. Aku dan kedua kakakku juga sudah menyelesaikan beberapa data tentang kegiatan baru kita. Kegiatan itu akan kita lakukan setelah aku dan ketujuh sahabat-sahabatku menyelesaikan tugas pribadi kami."


"Kalau kami boleh tahu. Tugas apa yang kalian maksud? Mungkin kami bisa ikut membantu?" tanya Dicky, timnya Gilang.


Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya saling memberikan tatapan. Setelah itu, mereka kembali menatap para anggotanya.


"Sebenarnya kami memiliki beberapa usaha di luar kampus. Tapi maaf, kami tidak bisa memberitahu kalian apa nama usahanya. Nah, untuk pekerjaan kami yang satu ini. Kami akan memberitahu kalian!"


"Apa itu, Ren?" tanya Ardy timnya Axel.


"Kami mengadakan pasar murah. Acaranya diadakan hari sabtu dan minggu." Axel yang menjawabnya.


"Kapan acaranya, Xel?"


"Lusa," jawab Axel.


"Acara pasar murah itu, kami menggunakan uang pribadi kami. Kami membelikan bermacam-macam barang, lalu kami menjualnya kembali dengan harga murah." Qenan berucap.


"Wah! Seru tuh. Boleh kami ikutan?!"


"Kami ikut!" seru para anggota tim.


Gilang, Darka, Darren, Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya tersenyum melihat semangat para anggota timnya.


***


Di kediaman Noberto dimana sepasang suami istri saat ini terlihat marah kepada orang yang telah menyakiti putri kesayangannya.


Connie sudah mengadukan perihal dirinya yang ditendang oleh Brenda ketika di mini market sekita pukul 10 pagi.


"Berani sekali wanita murahan itu menyakiti putriku," ucap Isabella marah.


"Aku juga sayang. Aku benar-benar tidak terima wanita murahan itu menyakiti Connie," sela Ferdian.


"Kita harus melakukan sesuatu, sayang. Kita tidak bisa membiarkan wanita murahan itu merajalela terhadap putri kita. Wanita tak tahu malu itu sudah merebut calon menantu kita. Dan sekarang dia berani menyakiti putri kita." Isabella berbicara dengan penuh amarah.


"Kau tenang saja sayang. Aku sudah menyuruh orang-orangku untuk menyelidiki latar belakang wanita murahan itu. Setelah kita mendapatkannya. Kita akan membuat perhitungan dengan keluarganya." Ferdian berbicara dengan wajah sombong dan arogannya.


"Kau yang mengurus keluarganya. Sementara aku akan mengurus wanita murahan itu," ucap Isabella.


"Baiklah, sayang."


"Awas kau, sialan!" Isabella berbicara di dalam hatinya.


***

__ADS_1


Di perusahaan milik Erland tampakĀ  hening. Bagaimana tidak? Semua karyawan bekerja dengan fokusnya.


Seorang gadis cantik yang kini tengah duduk cantik di kursi kerjanya. Sudah dua minggu gadis itu menjabat sebagai Manager Keuangan.


Sejak gadis itu bekerja di perusahaan ER Perusahaan milik Erland semenjak itulah perusahaan milik Erland semakin baik.


Kathleen Johnson yang menjabat sebagai Manager Keuangan sangat-sangat teliti dan hati-hati ketika melakukan pekerjaannya. Selama dirinya bekerja, tidak ada kesalahan sama sekali.


Kathleen selalu mendapatkan pujian dari Erland akan ketelitiannya, kerapiannya dan keuletannya dalam melakukan pekerjaannya. Bahkan karyawan yang lainnya juga ikut memuji Kathleen.


Dulu ketika di tangan Manager Keuangan yang lama. Banyak masalah yang terjadi. Salah satunya adalah pemasukkan yang tak seimbang dengan pengeluaran. Lebih besar pengeluaran dari pada pemasukkan sehingga membuat perusahaan EL mengalami kerugian.


Dan untunglah sang pemilik perusahaan yaitu Erland Faith Smith dan kedua putranya yaitu Davin Aldan Smith dan Diandra Smith bisa mengatasinya sehingga perusahaan kembali mendapatkan keuntungan.


Satu minggu kemudian, Davin mendapatkan kabar dari bagian personalia kalau Manager Keuangan memutuskan untuk Resign dengan alasan agar bisa fokus mengurus anak-anaknya.


Ketika Kathleen sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba datang satu karyawan wanita. Wanita itu terlihat tak suka dengan Kathleen.


Sejak kedatangan Kathleen. Karyawan wanita itu sudah menunjukkan rasa tak sukanya terhadap Kathleen. Dan ditambah lagi sekarang dimana Kathleen menjadi pusat perhatian dan mendapatkan pujian dari semua karyawan dan juga ketiga atasannya.


"Sebenarnya kau itu siapa, hah?!" bentak karyawan wanita itu tiba-tiba.


Kathleen yang sedang fokus dengan pekerjaannya seketika terkejut.


"Apa maksud kamu?" tanya Kathleen.


"Jangan pura-pura bodoh kamu. Kamu bekerja disini hanya untuk mendapatkan perhatian Bos kan?"


"Jangan asal bicara ya. Saya datang ke perusahaan ini benar-benar untuk bekerja. Bukan melakukan hal yang kamu tuduhkan itu," jawab Kathleen.


"Alah! Jangan sok polos deh. Luar aja yang polos. Tapi dalamnya kotor."


"Jaga ucapan kamu itu. Jangan sembarangan menilai orang. Kamu nggak tahu siapa saya. Jadi jangan sok tahu seakan-akan kamu tahu segalanya tentang saya."


Kathleen tak terima dirinya dikatakan sok polos atau jahat. Dirinya benar-benar ingin bekerja agar dirinya tak selalu disalahkan oleh Bibi dan kedua sepupunya yang hanya numpang makan dan tidur di rumah mereka.


"Udahlah. Jangan sok marah-marah seperti ini. Cukup kamu ngaku saja alasan kamu bekerja disini. Aku nggak akan buka mulut kok," ucap karyawan wanita itu dengan menatap remeh Kathleen.


"Percuma bicara sama orang yang otaknya hanya dipake buat berpikir buruk terhadap orang lain. Guna otak itu untuk berpikir bagaimana dengan pekerjaan selanjutnya. Ini malah dipake buat menghina orang."


Karyawan wanita itu seketika marah mendengar ucapan dari Kathleen. Matanya menatap tajam Kathleen.


"Berani kamu sama saya? Kamu pikir kamu itu siapa? Jabatan kamu itu masih dibawa saya. Jadi jangan beraninya kamu melawan saya."


"Saya nggak takut sama kamu. Saya akui jabatan saya dibawa kamu. Tapi jangan lupakan satu hal. Kamu bisa saja kehilangan jabatan kamu itu jika kamu tidak menunjukkan sikap baik selama di perusahaan ini."


"Yang saya tahu satu hal tentang peraturan di perusahaan ini adalah saling menghormati dan menghargai sesama karyawan. Tak terkecuali karyawan itu hanya karyawan biasa."


Mendengar ucapan dari Kathleen membuat karyawan wanita itu mengepalkan kedua tangannya.


"Kalau saya menjadi anda. Maka saya akan bekerja dengan baik. Dan saya tidak akan ikut campur masalah pekerjaan orang lain," ucap Kathleen lagi.


Setelah mengatakan itu, Kathleen pergi meninggalkan ruang kerjanya untuk menuju ruang kerja atasannya yaitu Davin Aldan Smith untuk memberikan laporan keuangan bulan ini.


Tanpa diketahui oleh Kathleen dan karyawan wanita itu, pembicaraan mereka telah didengar dan ditonton oleh salah satu dari tiga atasannya.

__ADS_1


Seperti yang dikatakan oleh Kathleen, jika karyawan wanita itu tidak berhati-hati dan selalu saja bersikap tak baik dengan karyawan lainnya. Bisa dipastikan perkataan Kathleen tersebut akan menjadi kenyataan.


__ADS_2