
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel sudah berada di kampus. Setelah meliburkan diri selama tiga hari. Hari keempat mereka memutuskan untuk kuliah.
Saat ini Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel berada di kantin. Mereka ditemanin dengan para kekasih masing-masing. Di kantin itu juga ada Brenda. Sementara Darren masih di rumahnya.
Baik Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel maupun Alice, Elsa, Tania, Felisa, Milly, Vania dan Lenny, mereka saling mengumbar kemesraan sembari suap-suapan.
Sedangkan Brenda yang tidak memiliki pasangan menatap sahabat-sahabatnya dan sahabat-sahabat Darren sedang bermesraan sambil suap-suapan hanya menghela nafasnya. Disini dirinya yang tidak punya pasangan.
Bukan tidak punya pasangan. Brenda punya pasangan. Hanya saja pasangannya itu masih di rumah dan belum berangkat ke kampus. Jadi Brenda saat ini terpaksa menjadi obat nyamuk diantara sahabat-sahabatnya dengan sahabat-sahabat Darren.
"Yak! Kalian ini punya perasaan tidak, hah?! Apa kalian sengaja memamerkan kemesraan kalian di depanku?!" teriak Brenda tanpa sadar.
Mendengar teriakan dari Brenda. Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan, Axel, Alice, Elsa, Tania, Felisa, Milly, Vania dan Lenny langsung melihat kearah Brenda yang mana Brenda tengah menatap mereka semua dengan tatapan kesal.
Brenda membuang wajahnya kearah lain. Dan detik kemudian, Brenda menghembuskan nafasnya kasar.
"Huff!"
Mendengar hembusan nafas kasar dari Brenda. Alice, Elsa, Tania, Felisa, Milly, Vania dan Lenny, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan, Axel menjadi tidak enak.
"Brenda, lo nggak apa-apa?" tanya Vania.
"Kita minta maaf ya udah abaikan lo," ucap Alice.
Brenda tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Alice dan Vania. Saat ini Brenda tengah memikirkan Darren. Sampai saat ini, Brenda masih mengingat kata-kata Darren saat di rooftop saat itu. Ketika mengingat itu, hati Brenda benar-benar sakit.
Brenda kadang-kadang berpikir, kenapa Tuhan tidak adil terhadap kekasihnya itu? Kenapa Tuhan memberikan begitu banyak rasa sakit kepada kekasihnya?Apa tidak cukup rasa sakit, kesedihan dan penderitaan Darren selama ini? Apakah kekasihnya itu tak berhak untuk hidup bahagia tanpa merasakan rasa sakit apapun?
"Ren, apapun yang terjadi dalam hidup kamu. Aku akan selalu ada di samping kamu. Semoga rasa sakit di kepala kamu yang kamu rasakan beberapa hari ini hilang dan tidak akan kembali lagi."
Brenda berbicara sembari memikirkan Darren. Dan tanpa Brenda sadari, ketujuh sahabat-sahabatnya Darren menatap wajah Brenda. Mereka menatap wajah Brenda dengan tatapan penuh selidik.
"Apa maksud Brenda barusan?" batin Qenan, Willy dan Axel.
"Kenapa Brenda berbicara seperti itu tentang Darren?" batin Dylan dan Darel.
"Apa yang telah disembunyikan Darren dan apa yang telah diketahui oleh Brenda?" batin Rehan dan Jerry.
"Brenda," panggil Qenan.
Brenda tidak mendengarkan panggilan dari Qenan. Brenda saat ini masih memikirkan Darren, terutama kesehatan Darren.
Puk!
Milly yang kebetulan duduk di samping Brenda langsung menepuk bahu Brenda sehingga membuat Brenda tersadar dari lamunannya.
Brenda menatap wajah Milly. Begitu juga dengan Milly dan yang lainnya.
"Ada apa?" tanya Milly.
"Tidak ada apa-apa," jawab Brenda.
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel menatap lekat wajah Brenda, tepatnya mereka menatap manik coklatnya Brenda.
"Brenda," kini Willy yang memanggil Brenda.
Brenda melihat kearah Willy. "Ada apa, Willy?"
"Apa yang kamu ketahui tentang Darren?" tanya Willy.
"Maksud kamu apa? Aku nggak ngerti," ucap dan tanya Brenda.
__ADS_1
"Jangan pura-pura bego, Brenda Wilson!" seru Rehan dan Darel bersamaan.
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel menatap wajah Brenda lekat.
"Kami semua mendengar apa yang kamu ucapkan ketika sedang melamun barusan," sahut Jerry.
"Kamu mengatakan 'Semoga rasa sakit di kepala kamu yang kamu rasakan beberapa hari ini hilang dan tidak akan kembali lagi'. Itulah yang kamu katakan barusan," ujar Axel.
"Jadi tolong katakan pada kami apa maksud dari perkataan kamu itu," pungkas Dylan.
Brenda menatap satu persatu wajah ketujuh sahabat-sahabatnya Darren. Di dalam hatinya, Brenda mengutuk dirinya sendiri karena sudah berbicara tentang kondisi Darren tanpa melihat dan mengetahui bahwa ada ketujuh sahabat-sahabatnya Darren di sekitarnya.
"Brenda Wilson!" seru Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel bersamaan.
"Baiklah. Aku akan katakan. Tapi kalian semua harus berjanji padaku untuk merahasiakan hal ini dari Darren. Darren jangan sampai tahu," ucap Brenda.
Akhirnya Brenda pasrah dan terpaksa menceritakan apa yang didengar olehnya ketika di rooftop saat itu mengenai Darren.
"Kami janji," jawab Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel bersamaan.
Brenda menatap wajah ketujuh sahabat-sahabatnya.
Alice, Elsa, Tania, Felisa, Milly, Vania dan Lenny yang ditatap oleh Brenda dengan kompak menganggukkan kepalanya.
"Kami juga janji," jawab ketujuhnya bersamaan.
"Darren saat ini dalam kondisi yang tak baik-baik saja. Darren sedang sakit," ucap Brenda dengan suara lirihnya.
Mendengar penuturan dari Brenda yang mengatakan bahwa Darren dalam kondisi yang tak baik-baik saja membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel terkejut dan juga syok.
"Brenda, lo jangan asal bicara. Sahabat gue itu baik-baik saja. Dia tidak sedang sakit," ucap Axel yang sedikit membentak Brenda.
"Xel," ucap Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry dan Dylan bersamaan.
"Kenapa lo bilang jika Darren sedang sakit?" tanya Darel.
"Maaf jika kalian tidak terima dan marah atas perkataan gue barusan. Tapi sumpah, Darren sedang sakit. Darren dalam kondisi yang tak baik-baik saja," ucap Brenda dengan meneteskan air matanya.
"Brenda," lirih Alice, Elsa, Tania, Felisa, Milly, Vania dan Lenny.
Milly yang duduk di samping Brenda mengusap-ngusap lembut punggung Brenda.
"Aku saat itu ada di rooftop. Aku tidak mengikuti kelas karena aku lagi tidak ada semangat untuk masuk kelas. Beberapa menit aku di rooftop, tiba-tiba seseorang datang. Ketika aku melihat, orang itu adalah Darren. Aku langsung sembunyi. Jika Darren melihatku. Pasti Darren akan marah padaku. Dari situlah aku mendengar semua yang keluar dari mulut Darren. Bahkan aku juga mendengar isak tangisnya ketika mengatakan semua itu."
Brenda menangis kala mengingat kejadian dimana Darren yang menangis, berteriak sambil mengeluarkan rasa sedih dan rasa sakitnya.
"Apa yang dikatakan Darren?" tanya Willy.
"Darren bilang beberapa hari ini kepalanya selalu sakit. Dan rasa sakit itu udah kesekian kalinya datang menghampirinya. Bahkan Darren mengatakan kenapa disaat rasa sakit di jantungnya masih terasa sampai saat ini. Justru datang rasa sakit yang lainnya? Darren bahkan bertanya, kenapa Tuhan tak adil padanya? Orang-orang diluar sana diberikan kesehatan. Tapi dirinya tidak. Dirinya sudah sakit sejak dilahirkan ke dunia ini."
Brenda menatap satu persatu wajah ketujuh sahabat-sahabatnya Darren dengan air mata yang mengalir membasahi wajahnya.
"Kalian bakal hancur jika aku mengatakan hal ini kepada kalian," ucap Brenda.
"A-apa?" tanya Qenan, Willy, Rehan dan Darel.
"Katakan," ucap Axel, Dylan dan Jerry.
"Darren mengatakan bahwa dia menyesal kembali ke dunia ini. Bahkan Darren mengatakan jika dia ikut bersama ibunya saat dia koma, maka dia tidak akan merasakan sakit lagi."
Mendengar penuturan dari Brenda tentang kondisi sahabat terbaik mereka. Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel seketika menangis. Hati mereka benar-benar hancur.
__ADS_1
"Jadi apa yang gue dengar kemarin, benar!"
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Axel dan Jerry membatin di dalam hati masing-masing ketika mengingat perkataan dari Darren yang sadar dari pingsan saat itu.
^^^
Darren saat ini ada di halaman kampus bersama kakaknya yaitu Darka. Sementara Gilang pergi mengantar seorang gadis yang selalu menempeli kakaknya itu pulang ke rumahnya.
Darren dan Darka sedang menunggu kedatangan Gilang yang katanya sebentar lagi tiba di kampus.
"Aish! Kenapa lama sekali sih?" kesal Darren.
Mendengar ucapan dan nada kesal Darren membuat Darka tersenyum.
"Sabar. Orang sabar diputusin pacar," ucap Darka menjahili adiknya.
Mendengar ucapan dari kakaknya itu. Darren seketika menatap dengan wajah super kesal kearah kakaknya itu.
Darka yang ditatap oleh adiknya itu makin tersenyum lebar. "Wajah kamu itu lucu kayak anak usia 4 tahun kalau lagi kesal gini."
Darren langsung membuang wajahnya kearah lain. Dirinya benar-benar kesal akan ulah kakaknya itu.
"Udah lama nunggu ya?" tanya Gilang yang datang sembari berlari kecil kearah Darren dan Darka.
Darren menatap dengan wajah super kesalnya kearah Gilang. Sementara Gilang menatap bingung adiknya itu.
Gilang melihat kearah Darka bermaksud ingin bertanya padanya. Namun Darka langsung memberikan jawaban dengan mengangkat kedua bahunya.
"Kakak Gilang kemana aja dulu? Bukannya kakak Gilang bilang hanya sebentar."
Mendapatkan pertanyaan dari adiknya membuat Gilang menjadi kelabakan.
"Kakak Gilang lupa ya sama janjinya? Kakak bilang kita bertiga bakal pergi ke kampus barengan. Bahkan kakak Gilang juga bilang bakal langsung pulang setelah mengantar gadis itu pulang ke rumahnya. Tapi mana? Kakak Gilang nggak pulang sehingga aku sama kakak Darka pergi ke kampus berdua."
Gadis yang menyukai Gilang datang menemui Gilang ke rumah Darren. Alasan gadis itu datang menemui Gilang adalah ingin membicarakan sesuatu kepada Gilang.
Awalnya Darren tidak mengizinkan gadis itu masuk. Dikarenakan bujukan maut dari Gilang. Akhirnya gadis itu diperbolehkan masuk ke dalam rumahnya.
Setelah beberapa menit berada di rumah Darren. Gadis itu pun akhirnya pamit pulang dan Gilang menawarkan diri untuk mengantarnya.
Mendengar pertanyaan dan perkataan dari adiknya membuat Gilang menjadi kelabakan.
"Kakak Gilang harus dihukum. Mulai hari ini sampai akhir bulan. Aku nggak akan mau ngomong sama kakak Gilang," ucap Darren.
Setelah mengatakan itu, Darren pun pergi meninggalkan kedua kakaknya itu untuk menemui ketujuh sahabat-sahabatnya dan juga kekasihnya.
Sementara Gilang dibuat terkejut akan ucapan dari adiknya itu. Gilang benar-benar syok atas apa yang diucapkan oleh adiknya itu.
Sedangkan Darka tersenyum evil ketika melihat wajah syok Gilang.
Puk!
Darka menepuk bahu Gilang dengan senyuman manisnya.
"Sabar dan iklas menerima hukuman dari anak kelinci itu," ucap Darka.
Setelah mengatakan itu, Darka pergi meninggalkan Gilang dengan tersenyum penuh kebahagiaan.
Mendengar ucapan dan ejekan dari Darka membuat Gilang mengumpat kesal.
"Dasar alien sialan," umpat Gilang.
__ADS_1
Gilang melangkahkan kakinya menuju kelasnya yang juga kelasnya Darka.