KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Flashback


__ADS_3

Di sebuah markas mafia yang berada dinomor enam di dunia dan di Jerman dimana beberapa anggota mafia tengah berkumpul di Aula lengkap dengan sang ketua.


Di Aula tersebut juga terlihat seorang pria paruh baya namun masih terlihat muda berada disana. Pria paruh baya itu menggunakan topeng karena pria itu tidak ingin orang luar tahu tentang pekerjaannya termasuk keluarga Mendez.


Kelompok mafia yang didatangi oleh salah satu anggota keluarga Mendez itu adalah bernama Mafia Kartel.


Pria itu mendatangi marka mafia Kartel karena para anggota mafia Kartel gagal membunuh Askara. Begitu juga dengan lima kelompok mafia lainnya seperti Kelompok Mafia Medelin, Kelompok Mafia Yardies, Kelompok Mafia Salvatrucha dan Kelompok Mafia Nostra.


Pria itu meminta ketua kelompok mafia Kartel untuk mengirim lebih banyak lagi anggotanya untuk menghabisi Askara. Bahkan pria itu memberikan bayaran empat kali lipat dari biasanya.


"Aku mau hari ini Askara mati. Bagaimana pun caranya."


"Baiklah."


Setelah selesai dengan urusannya, pria itu pun pergi meninggalkan markas Kartel untuk kembali ke kediaman Mendez.


***


Lidia saat ini berada di dalam kamarnya. Dia duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Pikirannya kini tertuju kepada Askara. Dia begitu mengkhawatirkan Askara.


Bagaimana tidak khawatir. Askara dalam keadaan sakit. Askara mengalami Amnesia. Dan Lidia tidak ingin hal yang buruk menimpa Askara.


"Askara, kamu dimana sekarang? Bibi begitu mengkhawatirkan kamu. Apa kamu baik-baik saja? Pulanglah, Askara. Bibi dan anggota keluarga lainnya sangat merindukan kamu. Sudah delapan hari kamu menghilang."


Lidia menangis memikirkan Askara. Dia seperti ini karena Askara adalah pemuda yang begitu baik padanya dan keluarganya. Dia berutang Budi terhadap Askara. Bagi Lidia, Askara adalah dewa penyelamat dirinya dan keluarganya.


"Tuhan! Aku mohon jaga Askara dimana pun dia berada. Jika Askara dalam kesulitan. Buatlah Askara langsung kembali pulang ke rumah ini. Dan jika seandainya keluarga kandungnya telah menemukannya dan membawanya pulang. Pertemukan saya dengan Askara dan keluarganya."


Lidia berucap sembari berdoa kepada Tuhan yang maha kuasa.


***


Di ruang rawat Darren tampak ramai dimana semua orang-orang yang menyayanginya berkumpul disana. Mereka semua datang ke rumah sakit ketika mendengar kabar Darren yang telah sadar dari koma.


Semuanya tampak bahagia. Mereka tiada hentinya mengucap syukur akan Darren yang sadar dari koma, terutama Erland dan anggota keluarga Smith lainnya. Bahkan Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Evan, Carissa, Daffa, Tristan dan Davian tak hentinya memberikan kecupan sayang di kening Darren.


Saat ini Darren dalam keadaan duduk dengan bersandar di kepala tempat tidurnya. Semua alat yang terpasang di tubuhnya sudah dilepas. Hanya infus yang masih menancap di tangan kirinya.

__ADS_1


Dan untuk kondisi tubuh Darren yang mengalami cedera parah yaitu bahu dan dada kirinya dibalut dengan perban gulung. Perban tersebut bersifat lentur dan memberikan tekanan di sekitar luka untuk mengurangi rasa sakit dan pembengkakan. Dan juga berguna untuk menutup luka dan menyangga cedera jaringan.


Darren tengah melamun saat ini. Dia sedang memikirkan sesuatu. Dari mulai dia pergi meninggalkan orang-orang terdekatnya, pertemuannya dengan seorang kakek dari keluarga Mendez dan berakhir masuk rumah sakit lalu Amnesia.


Melihat Darren yang hanya diam sejak 5 menit yang lalu membuat mereka semua menatap Darren khawatir. Bahkan dua diantara mereka sudah memanggilnya. Namun mereka tidak mendapatkan reaksi apapun dari Darren.


Flashback On


Darren saat ini tengah mengendarai mobil mewahnya dengan kecepatan sedang. Tatapan matanya menatap ke depan namun pikirannya sedikit tidak fokus.


Darren masih memikirkan kondisi kesehatan yang semakin hari semakin memburuk. Satu penyakit belum sembuh. Justru datang penyakit baru. Dan yang membuatnya semakin tertekan adalah dia sudah tahu penyebab dari rasa sakit yang dirasakan olehnya di bagian kepalanya. Dan mengharuskan dirinya untuk segera operasi.


"Kenapa aku tidak mati saja ketika koma setelah pertarungan besar-besaran melawan Samuel dan Gustavo enam bulan yang lalu. Jika aku mati, maka aku tidak akan merasakan sakit seperti sekarang ini." Darren berbicara di dalam hatinya sembari fokus menatap ke jalanan.


Seketika Darren menginjak rem mobilnya ketika matanya tak sengaja melihat sebuah mobil yang digedor-gedor oleh lima preman.


Melihat hal itu, Darren langsung keluar dan melangkah menghampiri kelima preman itu.


"Menjauhlah dari mobil itu!"


Mendengar suara seseorang membuka kelima preman itu langsung melihat kearah suara tersebut.


"Aku tidak bermaksud untuk ikut campur. Hanya saja aku paling tidak suka melihat ada orang yang suka menghadang sebuah mobil. Jika kalian ingin uang. Maka bekerjalah!"


Mendengar ucapan dari pemuda yang ada di hadapannya membuat kelima preman itu marah.


"Brengsek! Beraninya kau menasehati kami, hah?!"


"Bukan menasehati. Tapi lebih tepatnya menyuruh kalian bekerja agar mendapatkan uang sehingga kalian tidak memalak orang lagi," jawab Darren.


"Brengsek! Serang!"


Dan pada akhirnya terjadilah perkelahian tak seimbang dimana satu melawan lima orang.


Sedangkan dua orang yang berada di dalam mobil itu menatap khawatir kearah pemuda yang telah membantu mereka.


Duagh!

__ADS_1


Dengan sekali tendangan secara bersamaan membuat kelima preman itu langsung tersungkur di tanah dengan tidak elitnya.


Darren menatap tajam kearah kelima preman itu sehingga membuat kelima preman itu ciut.


"Lebih baik kalian pergi dari sini!" bentak Darren.


Seketika kelima preman itu berlari pergi meninggalkan mobil yang mereka palaki.


Setelah memastikan kelima preman itu pergi. Darren pun melihat kearah mobil lalu berjalan mendekati.


Ketika Darren hendak mengetuk pintu mobil itu. Sipemilik mobil tersebut sudah terlebih dulu membuka pintu mobilnya dan langsung keluar dan diikuti oleh sopir pribadinya.


"Tuan tidak apa-apa?"


Mendengar pertanyaan dari pemuda yang berdiri di hadapannya membuat pria paruh baya itu tersenyum. Seharusnya dia yang bertanya seperti itu. Justru pemuda itu yang menanyakan hal itu padanya.


"Terima kasih karena kamu sudah menolong saya."


"Sama-sama, tuan! Saya kebetulan lewat dan saya tidak sengaja melihat lima preman yang mengedor-ngedor kaca mobil tuan."


"Jangan panggil, tuan! Panggil saya kakek Reymond."


"Ach, baiklah!"


"Bagaimana kalau kamu temani kakek makan siang di restoran favorit kakek? Anggap saja sebagai ucapan terima kasih Kakek karena kamu sudah menolong kakek dan sopir kakek."


Mendengar ajakan dan melihat wajah memohon dari pria paruh baya yang ada di hadapannya membuat Darren tidak tega untuk menolaknya.


"Baiklah."


Mendengar jawaban dari pemuda itu membuat Reymond tersenyum bahagia.


"Kakek kembali ke dalam mobil. Dan aku akan pergi menuju mobilku. Mobilku ada disana."


Darren berucap sambil menunjuk kearah dimana mobilnya dia tinggalkan.


"Baiklah. Kamu ikuti mobil kakek."

__ADS_1


"Hm.'


Setelah itu, mobil Reymond pun pergi meninggalkan lokasi dan diikuti oleh mobil milik Darren di belakang.


__ADS_2