KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Pertarungan


__ADS_3

Lino saat ini berada di ruang tengah rumahnya. Setelah kemarin bertemu dengan anak-anak Bruiser dan mendengar semua perkataan dan penjelasan dari ketua geng motor Bruiser itu membuat Lino berpikir jika kakak angkatnya meninggal karena penyebab lain. Lino juga berpikir bahwa anak-anak Bruiser tidak bersalah.


"Aku harus menyelidiki masalah ini. Aku harus membuktikan tentang kebenaran semua kejadian ini dan juga motif orang itu," ucap Lino.


Setelah berperang dengan pikirannya. Lino pun memutuskan untuk pergi ke kampus. Dua hari ini dirinya meliburkan diri dari kuliahnya.


***


Darren dan ketujuh sahabatnya sudah berada di kampus. Seperti biasa, mereka sekarang berada di kantin sebelum ke kelas.


"Ren," panggil Rehan.


Darren melirik sekilas kearah Rehan, lalu kembali menatap ponselnya.


"Ada apa?"


"Lo percaya jika Elzaro akan mempercayai perkataan kita kemarin?" tanya Rehan.


Mendapatkan pertanyaan dari Rehan. Darren menghentikan aktifitasnya menatap ponselnya.


Kini Darren tengah menatap wajah Rehan. Darren dapat melihat raut khawatir di manik hitam Rehan.


Seketika Darren tersenyum. "Kamu nggak perlu khawatir. Aku percaya sama Elzaro. Yang perlu kita khawatirkan adalah orang yang sudah mengadu domba kita dengan anak-anak Vagos."


"Bukankah kamu sendiri bilang jika bukan anak-anak Vagos yang mengeroyok kamu saat itu. Dan ditambah lagi kemarahan mereka, saat kita menuduh mereka telah mengeroyok kamu. Dari cara mereka marah dan juga dari tatapan mata mereka, itu sudah menandakan bahwa mereka nggak salah."


Mendengar perkataan dan penjelasan dari Darren membuat Rehan sedikit merasakan kelegaan. Begitu juga dengan yang lainnya.


Darren menatap sahabatnya yang lain. "Kalian juga. Jangan berpikir macam-macam. Apalagi tentang anak-anak Vagos. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana caranya untuk kita bisa mengetahui dalang dalam masalah ini. Orang itu yang sudah membuat masalah antara geng motor kita dengan geng motor Vagos. Yang perlu kalian lakukan saat ini dan seterusnya adalah hati-hati dan selalu waspada."


Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka seketika mengangguk mengerti. Di dalam hati mereka masing-masing menyetujui apa yang dikatakan oleh Darren barusan.


"Baiklah, Ren!" seru mereka bersamaan.


Ketika Darren dan ketujuh sahabatnya tengah menikmati sarapan paginya sembari mengobrol dan bermain ponsel. Seketika ponsel milik Qenan berbunyi.


Qenan yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Setelah ponselnya ada di tangannya, Qenan meliha nama 'Alvaro' wakil geng motor Bruiser di layar ponselnya.


"Alvaro," ucap Qenan.


Mendengar Qenan yang menyebut nama Alvaro. Seketika Darren, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel langsung melihat kearahnya.


"Buruan angkat!" seru Axel.


"Jangan lupa di loadspeaker panggilannya," ucpa Darel.


Setelah itu, Qenan langsung menjawab panggilan dari Alvaro. Dan tak lupa Qenan meloadspeaker panggilannya itu.


"Hallo, Alvaro."


"Hallo, Nan! Tolong gue."


"Ada apa? Lo kenapa?"


"Anak-anak dari kampus MifTa akan menyerang kampus HSBA."


"Kok bisa?"


"Nggak ada waktu buat ngejelasinnya. Mereka datang dengan jumlah anggota lumayan banyak. Dan lebih parahnya lagi mereka bawa senjata tajam. Gue takut mereka akan nyakitin teman-teman kampus gue yang lainnya."


"Lo udah kasih tahu semua teman-teman kampus lo?" tanya Darren.


"Sudah, Ren! Mereka semua ketakutan, kecuali gue sama anak-anak Bruiser."


"Bagaimana dengan rektor, dekan dan para dosen?" tanya Jerry.


"Mereka juga sudah tahu."


"Sekarang dengarkan gue. Bawa mereka ke tempat dimana tidak ada satu pun orang bisa menemukannya. Jadi dengan kata lain jangan ada kerumunan dan keramaian."


"Baik, Ren!"


"Lo dan anak-anak Bruiser lainnya ada senjata kan?"


"Ada, Ren. Malah justru kami memiliki senjata lengkap."


"Baguslah kalau begitu. Cobalah sebisa mungkin untuk tidak melakukan perlawanan sampai kami datang. Jika terdesak, barulah kalian menyerang."


"Baik."


Setelah itu, Alvaro dan Qenan sama-sama mematikan panggilannya.


"Ya, sudah! Buruan kita ke kampus HSBA!" seru Darren dan diangguki oleh yang lainnya.

__ADS_1


Mereka berdiri dari duduknya, lalu pergi meninggalkan kantin.


Sebelum pergi, Axel menatap semua penghuni kantin.


"Hei, kalian semua! Jika ada yang sekelas denganku dan ketujuh sahabatku, tolong izin kami. Jam pertama kami tidak masuk. Jika dosen bertanya, katakan bahwa kami ada urusan. Dan urusan kami itu tidak bisa ditunda!"


Mendengar perkataan dan teriakan dari Axel. Para penghuni kantin langsung menjawabnya.


"Baik!"


***


Seperti yang dikatakan oleh Darren di telepon. Kini Alvaro dan anak-anak Bruiser tengah berada di halaman kampus lengkap dengan senjata di tangan.


Dan beberapa menit kemudian, Darren dan anak-anak Bruiser telah sampai di kampus HSBA.


"Lebih baik kita berdiri di depan gerbang kampus agar mereka tidak menyerang di dalam kampus," ucap Darren.


Alvaro dan yang lainnya langsung mengangguk.


Setelah itu, mereka semua keluar dan meninggalkan halaman kampus.


^^^


Darren, ketujuh sahabatnya dan anak-anak Bruiser sudah berkumpul di lapangan yang tak jauh dari kampus HSBA.


Ketika Darren dan yang lain keluar dari halaman kampus, mereka melihat kedatangan mahasiswa MifTa yang ketuai oleh Sean.


Kini kedua kelompok saling berhadapan dan saling memberikan tatapan mematikan.


Sean berjalan maju dari tempatnya untuk lebih dekat dengan ketua Bruiser siapa lagi kalau bukan Darren.


"Gimana udah siap kalah Darrendra Smith?" tanya Sean dengan sombongnya.


Sementara Darren hanya diam tidak menjawab pertanyaan Sean sama sekali. Darren sudah sangat muak dengan sosok di depannya ini.


"Hei, kutu kupret. Lo tuh yang udah berapa ratus kali kalah dari Darren dan kita? Nggak nyadar atau lo butuh kaca, hah?!" bentak Dylan karena jengkel dengan Sean yang tidak ada kapok-kapoknya.


Dulu ketika Darren dan ketujuh sahabatnya masih semester 1. Sean dan kelompoknya pernah menyerang kampusnya sehingga menewaskan sepuluh teman-teman kampusnya. Enam mahasiswa dan empat mahasiswi.


Dari kejadian itu, para keluarga korban meminta melaporkan masalah tersebut ke pihak yang berwajib agar Sean dan kelompoknya di penjara seumur hidup atau hukuman mati.


Ketika pihak kepolisian ingin membawa Sean dan kelompoknya, para orang tua mereka masing-masing tak terima. Mereka mengajukan protes. Dari situlah Darren dan ketujuh sahabatnya masuk dan membantu para keluarga korban.


Darren bahkan memberikan ancaman kepada keluarga Sean dan keluarga dari kelompok yang dibawa oleh Sean.


Mendengar perkataan dan ancaman tersebut seketika para keluarga dari Sean dan kelompoknya langsung diam seketika. Bahkan mereka lebih terkejut lagi ketika mendengar nama asli dan marga dari Darren dan ketujuh sahabatnya.


Dan pada akhirnya, keluarga dari Sean dan kelompoknya tidak berkutik dan mengajukan protes. Dan dengan tidak relanya mereka harus melihat anak-anak mereka digeret ke kantor polisi.


"Diem lo. Gue ngomong sama anak manja ini, bukan sama lo!" bentak Sean dengan sengit.


"Seorang pemenang bukan banyak omongan. Tapi langsung pembuktian," sarkas Darren dengan nada dinginnya tak lupa tatapan tajamnya.


Sean yang mendengar omongan Darren pun tersulut emosi dengan di awali satu tonjokan yang di layangkan ke Darren perkelahian pun di mulai.


Bagh! Bagh!


Bugh! Duagh!


Duagh! Duagh!


Bagh!


Suara pukulan demi pukulan. Begitu juga suara tendangan memenuhi lapangan. Baik Bruiser maupun anak-anak kampus MifTa tidak ada yang mau mengalah, walaupun banyak anak-anak MifTa yang sudah tumbang. Tapi sebelum ada arahan dari sang ketua MifTa, mereka tidak akan pernah mundur.


Sean yang melihat teman-temannya banyak yang sudah tumbang merasa kesal karena lagi-lagi dia pasti akan kalah dengan seorang Darrendra Smith.


Sean mengedarkan pandangan ke area lapangan matanya menyipit melihat sosok perempuan yang tengah mamatung melihat tawuran yang membuat Sean tertarik karena seragam kampus yang di gunakan sama perempuan itu adalah seragam UNIVERSITY NASIONAL JERMAN, jadi Sean bisa memanfaatkan perempuan itu agar Darren bertekuk lutut di bawahnya.


Sean melihat situasi yang aman langsung segera berlari menepi dari tawuran untuk menghampiri mahasiswi itu.


"Halo, cantik. Kenapa disini sendirian?" tanya Sean dengan seringainya.


Perempuan yang melihat tawuran itu adalah Brenda Wilson yang tak lain adalah kekasih dari Darren.


Brenda mengetahui kalau Darren dan ketujuh sahabatnya akan pergi meninggalkan kampus. Bahkan Brenda menyakini bahwa telah terjadi sesuatu sehingga membuat Darren dan ketujuh sahabatnya pergi. Jadi Brenda pun memutuskan untuk mengikutinya.


Brenda yang mendengar suara asing itu segera menoleh dan betapa terkejutnya dirinya di depannya sudah berdiri pemuda asing yang jika Brenda lihat dari tampilannya orang yang di depannya ini pasti ikut perkelahian di sana.


"Maaf siapa ya?" tanya Brenda sedikit takut karena melihat smrik dari orang tersebut.


"Lo diem. Sekarang ikut gue. Dengan gue sandra lo mungkin Darren bisa bertekuk lutut di bawah gue," ucap orang itu dengan smriknya.


Brenda yang mendengar nama Darren membuat dirinya terkejut. Sekarang Brenda sudah tahu apa yang membuat Darren dan ketujuh sahabatnya pergi meninggalkan kampus.

__ADS_1


"Nggak akan. Gua mau pulang sekarang," ucap Brenda.


Brenda pun segera pergi dari hadapan Sean. Tapi Brenda kalah cepat karena Sean sudah menarik tangannya. Bahkan sangat kuat. Brenda yakin pasti tangannya sebentar lagi akan membiru.


Brenda yang di seret paksa oleh Sean terus memberontak sampai dimana Sean muak dengan tingkah Brenda langsung menampar keras wajah Brenda yang menyebabkan sudut bibir Brenda mengeluarkan darah.


Plak!


"Diem lo kalau nggak mau mati," kata Sean dengan nada mengancam.


Mendengar ucapan dan ancaman Sean membuat Brenda hanya menurut sambil menangis karena takut dengan terus mengikuti langkah Sean.


Darren yang sedang menghajar anak- anak-anak MifTa merasa heran karena menghilangnya Sean di tengah pertempuran kali ini, karena tidak biasanya sean menghilang dari area pertempuran, sampai dimana sebuah suara mengalihkan semua orang yang sedang bertarung itu.


"Berhenti!" teriak Sean dengan lantang.


Semua orang di lapangan menghentikan aksinya dan berbalik menatap Sean.


Sampai dimana anak-anak Bruiser di buat terkejut dengan Sean yang membawa salah satu mahasiswi dari University National Jerman. Dan yang paling membuat seorang Darren terkejut lagi, karena orang yang di bawa Sean adalah tak lain kekasihnya.


"Brenda!"


Darren dan ketujuh sahabatnya secara bersamaan berteriak memanggil nama Brenda.


"Darrendra Smith, ketua Bruiser kalau lo mau gadis ini selamat. Sekarang juga lo sujud di depan gue dengan begitu lo mengakui kalo Bruiser udah kalah di tangan anak-anak MifTa," ucap Sean dengan smirknya


Darren yang mendengar itu hanya diam. Tanganya terkepal kuat, nafasnya memburu, rahangnya yang mengeras menandakan bahwa Darren sedang menahan emosi sangat kuat apalagi melihat kondisi Brenda yang tidak bisa di katakan baik-baik saja dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah. Serta yang membuat Darren murka adalah Brenda yang menangis entah kenapa Darren benci melihat itu.


"Ren, tolongin gue. Gue... Gue minta maaf," ucap Brenda dengan suara lirihnya. Dan jangan lupa air matanya yang mengalir membasahi wajah cantiknya.


"Lepas," ucap Darren dingin serta tatapannya yang dingin mampu membuat nyali Sean menciut.


Sean tau kalau Darren sedang menahan emosinya saat ini.


"Eh, Sean! Lo kalau mau nyulik anak orang. Culik yang lain saja. Jangan gadis itu. Lo nggak tahu siapa gadis yang lo sandera itu. Jadi mendingan lo lepasin dia," ucap Jerry.


Darren berjalan mendekat ke arah Sean. Darren mendudukan badannya.


Semua orang yang melihat aksi Darren pun terkejut bukan main. Mereka tidak menyangka bahwa Darren mau menuruti omongan Sean.


"Darren, lo apa-apaan, berhenti!" teriak Axel dan Dylan.


"Darren, berhenti!" teriak Qenan, Willy, Rehan, Darel dan Jerry bersamaan


Darren tetap melanjutkan aksinya. Ketika badannya hampir mendunduk penuh, kakinya langsung menendang kuat tulang kering Sean sampai membuat Sean meringis sehingga membuat cekalan di tangannya pun lepas.


Darren langsung menarik Brenda dan menyembunyikan Brenda di belakang punggungnya.


Darren menghampiri Sean dengan langkah tegasnya yang membuat semua bergidik ngeri.


Sean salah karena sudah membangunkan amarah dan sisi lain dari seorang Darren.


Bugh! Bugh!


Bugh! Bugh!


Darren terus memukuli Sean tanpa ampun. Sahabat-sahabatnya dan anak-anak Bruiser yang melihat itu pun langsung menghampiri Darren dan mencoba untuk memisahkannya kalau tidak Sean bisa mati.


"Ren, udah! Lepasin Sean," cegah Willy dan Qenan.


"Ren, berhenti. Sean bisa mati kalau lo terus memukulnya," ucap Axel.


"Darren....," perkataan Dylan terhenti kala mendengar suara orang terjatuh.


Bruk!


Brenda tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri ketika melihat Darren yang mengamuk dan ditambah lagi kepalanya yang pusing karena terlalu lama menangis.


"Brenda!" teriak ketujuh sahabatnya Darren.


Darren yang mendengar teriakan dari ketujuh sahabatnya langsung menghentikan aksinya memukul Sean.


Darren kemudian membalikkan badannya untuk melihat apa yang terjadi.


Dan alangkah terkejutnua ketika dirinya melihat kekasihnya yang sudah tak sadarkan di tengah lapangan.


Darren langsung menghampiri Brenda. Tapi sebelumnya, Darren mengatakan sesuatu kepada Sean.


"Jangan pernah lo sentuh cewek gue. Jika lo masih berani nyentuh dia. Lo bakal mati di tangan gue," ucap Darren dengan penuh penekanan dan ancaman.


Setelah itu, Darren pergi meninggalkan Sean yang tengah kesakitan.


Darren langsung menghampiri Brenda yang pingsan. Darren kemudian menggendong tubuh Brenda ala brydal  menuju mobil miliknya.


Darren saat ini benar-benar khawatir akan Brenda. Sesekali matanya menatap wajah Brenda.

__ADS_1


"Lo ngapai ada disini. Kalau lo nggak datang kesini. Lo pasti akan baik-baik saja," ucap Darren pelan.


Melihat kepergian Darren. Ketujuh sahabatnya juga ikut menyusul Darren. Mereka juga khawatir akan Brenda. Begitu juga dengan anak-anak Bruiser.


__ADS_2