
Zeroun mendapatkan pesan dari Darren yang isinya mengatakan bahwa membiarkan keluarga Richter dan keluarga Schiffer melakukan apa yang ingin mereka lakukan terhadap Adrian dan Mathew. Darren juga menuliskan di pesan itu untuk membiarkan kedua keluarga itu mendatangi rumah keluarganya dengan membawa para anggota polisi untuk menangkap Adrian dan Mathew.
Mendengar cerita ayahnya serta isi pesan dari Darren membuat Farraz pun akhirnya menyetujui usulan dan rencana Darren tersebut. Dia akan datang ke kediaman keluarga Smith dan melakukan tugasnya jika Darren menghubunginya.
Ayah Norris dan ayahnya Torry langsung memberikan perintah kepada polisi-polisi tersebut untuk membawa Adrian dan Mathew ke kantor polisi.
"Kalian, bawa kedua anak sialan itu! Jangan pedulikan keluarganya!"
"Bagaimana pun mereka berdua sudah membuat anak-anak kami meninggal!"
Empat polisi itu langsung melangkah menghampiri Adrian dan Mathew yang saat ini duduk di sofa dengan didampingi oleh Daffa, Tristan dan Davian.
Erland, Davin dan Andra langsung menghadang empat polisi itu, namun gagal karena polisi mengeluarkan senjata.
"Jangan halangi tugas kami, tuan!"
Sementara dua pasangan suami istri itu tersenyum penuh kemenangan ketika melihat keluarga Smith tak berkutik.
"Apa?! Kau ingin membunuh kami! Silahkan, lakukan!" tantang Davin.
"Berani kalian melukai kami, maka bersiaplah kehilangan pekerjaan kalian," ucap Andra.
Mendengar ucapan dari Davin dan Andra. Polisi yang tadinya menodongkan senjata kearah Erland, Davin dan Andra langsung menurunkan senjatanya dan memasukkan kembali ke sarangnya.
"Kami peringkatkan sekali lagi. Jangan halangi tugas kami."
Setelah itu, polisi-polisi itu mendorong tubuh Erland, Davin dan Andra sehingga ketiganya terhuyung ke belakang. Lalu polisi-polisi itu melangkah mendekati Adrian dan Mathew.
Ketika hampir mendekati, tiba-tiba Darren bersuara sehingga membuat langkah polisi-polisi itu terhenti.
"Berhenti disitu. Jika kalian masih saja terus mendekati kedua adik laki-lakiku, maka aku pastikan kalian akan tinggal nama."
Mendengar ucapan dan ancaman dari Darren membuat empat polisi itu berhenti sejenak. Sementara dua pasangan suami istri seketika menatap tajam kearah Darren.
"Lakukan sekarang!" teriak ibunya Torry.
"Jangan dengarkan bajingan itu. Lakukan tugas kalian!" teriak ibunya Norris.
Mendengar ucapan dan teriakan dari ibunya Torry dan ibunya Norris membuat empat polisi itu kembali melangkah. Sedangkan Darren seketika tersenyum di sudut bibirnya.
"Kalian menantangku ternyata. Baiklah," gumam Darren.
Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, ketujuh sahabatnya Darren, Brenda dan ketujuh sahabat Brenda terkejut ketika mendengar gumaman dari Darren.
__ADS_1
Disaat dua polisi yang berjalan di depan sedikit lagi mendapat Adrian dan Mathew, namun tiba-tiba sesuatu terjadi sehingga membuat semua yang ada di ruang tengah tersebut terkejut dan juga syok.
Dor!
Dor!
Bruk!
Kedua polisi itu seketika ambruk di lantai dengan kepala yang berlubang.
Mereka semua menatap dengan tatapan sulit diartikan. Mereka berpikir dari mana asal suara tembakan itu berasal.
Darren tersenyum menyeringai menatap dua jasad polisi itu. Sedangkan Adrian dan Mathew, keduanya tampak syok dengan tubuh bergetarnya. Dan untungnya, Daffa dan Tristan sudah memberikan pelukannya sehingga tidak membuat keduanya ketakutan.
"Kakak Daffa, kakak Tristan. Bawa Adrian dan Mathew ke kamar."
"Baik, Ren!"
Setelah itu, Daffa dan Tristan membawa Adrian dan Mathew ke kamar.
Dan untuk orang tua dari Torry dan orang tua Norris terkejut dan syok di tempat ketika melihat apa yang telah terjadi di depan matanya.
Lalu bagaimana dengan dua polisi ada di belakang dua polisi yang sudah tak bernyawa? Sama halnya seperti dua pasangan suami istri itu. Dua polisi itu juga terkejut atas kejadian tiba-tiba di depan matanya. Begitu juga dengan dua polisi lainnya yang berdiri di samping dua pasangan suami istri itu.
"Lebih baik kalian pergi dari sini. Sebelum kalian bernasib sama seperti dua polisi itu," sahut Darren yang saat ini masih duduk di sofa dengan ditemani oleh Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, ketujuh sahabatnya beserta para kekasihnya.
"Kau pikir kami akan langsung pergi setelah apa yang terjadi barusan. Dan apa kau pikir kami akan mendengar perkataan murahan darimu itu, hah?!" bentak ayahnya Torry.
"Kau pernah berhasil mengusir kami beberapa bulan yang lalu. Tapi untuk sekarang, kau tidak akan pernah bisa mengusir kami sebelum kami berhasil membawa kedua anak sialan itu. Apalagi membuat kami takut setelah kejadian barusan!" bentak ayahnya Norris.
Mendengar ucapan dari dua pria itu membuat semuanya tampak marah. Begitu juga dengan Darren. Mereka semua tak habis pikir dengan jalan pikiran dua pasangan suami istri itu.
Darren seketika langsung berdiri dengan tatapan matanya menatap tajam kearah kedua keluarga itu.
Melihat Darren yang tiba-tiba berdiri membuat anggota keluarga Smith sedikit ketakutan. Mereka tidak ingin sosok itu keluar dan mengambil alih tubuh Darren.
"Ren," ucap Darka.
Mendengar nada lirih sang kakak laki-lakinya, seketika Darren langsung melihat kearah wajah kakak laki-lakinya itu.
Darren melihat tatapan khawatir di mata kakak laki-lakinya. Dan Darren seketika paham akan hal itu.
Darren tersenyum. "Kakak Darka tidak perlu khawatir. Aku janji, sosok itu tidak akan keluar. Dia akan keluar jika memang keadaan sudah mendesak. Dan ditambah lagi jika yang dihadapi adalah seorang penjahat. Bukan seperti mereka," ucap Darren dengan mengalihkan perhatiannya menatap kearah dua keluarga itu.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari Darren membuat Darka tersenyum lega. Rasa khawatirnya seketika hilang. Begitu juga dengan anggota keluarga Smith lainnya, ketujuh sahabatnya, kekasihnya dan para kekasih dari sahabat-sahabatnya.
Darren kemudian melangkah menghampiri ayah dan kedua kakak laki-lakinya. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Aku ulangi sekali lagi kepada kalian. Pergi dari rumah keluargaku. Urungkan semua niat kalian itu," ucap Darren.
"Tidak akan. Seperti yang sudah kami katakan sejak awal kedatangan kami kemari. Kami akan membawa kedua anak sialan itu ke kantor polisi!" bentak ibunya Norris.
"Apa alasan kalian ingin membawa kedua adik laki-lakiku, hum?"
"Kedua adik laki-laki kamu itu sudah membunuh kedua anak-anak kami!" bentak Ibunya Torry.
"Apa kalian yakin jika kedua adik laki-lakiku yang telah membunuh anak-anak kalian?"
"Sangat yakin," jawab kompak kedua Ibu dari Torry dan Norris.
"Dan apa kalian yakin jika anak-anak kalian sudah meninggal dalam kecelakaan mobil itu?"
"Jadi kau tidak mempercayai kami, hah!" bentak ayahnya Torry.
"Jawab saja pertanyaan dari adik laki-lakiku, sialan!" bentak Andra balik.
"Iya. Putraku meninggal karena ditabrak oleh adik laki-laki kamu itu!" teriak ayahnya Torry.
"Mereka meninggal dalam keadaan yang benar-benar mengenaskan," ucap ayahnya Norris.
"Adik laki-laki kamu itu harus bertanggung jawab atas perbuatannya!" bentak ibunya Norris dan ibunya Torry.
Darren seketika tertawa keras ketika mendengar ucapan demi ucapan dari kedua orang tua dari kedua teman sekolahnya Adrian dan Mathew.
"Wah! Drama yang penuh haru dan air mata. Aku dan keluargaku turut berduka cita atas kematian kedua anak-anak kalian. Namun sayangnya, rasa haru dan rasa sedihku hanya beberapa saat saja, karena aku tidak mudah kalian tipu!"
"Sekarang dengarkan saya tuan, nyonya! Lebih baik kalian pergi dari sini. Dan bawa sisa polisi-polisi ini bersama kalian. Apapun yang terjadi, kami tidak akan pernah menyerahkan kedua anak kami kepada kalian. Jika kedua anak kami bersalah, maka kami sendiri yang akan membawa mereka ke kantor polisi." Agneta berbicara lembut sembari menatap satu persatu wajah orang tua dari teman sekolah kedua putranya.
"Dasar wanita sialan. Berani sekali kau...."
Duagh!
"Aakkhhh!"
Darren seketika memberikan tendangan kuatnya tepat di perut ayahnya Torry setelah pria itu menghina ibunya sehingga membuat tubuh pria itu langsung tersungkur di lantai.
"Sayang!" teriak istrinya.
__ADS_1
"Itu akibatnya karena sudah berani menghina ibuku," ucap Darren.
Darren menatap nyalang kearah ayahnya Torry. Begitu juga dengan ibunya Torry.