
Kathleen saat ini sudah berada di Apartemen miliknya. Apartemen yang dibeli dari hasil gaji dia bekerja di perusahaan yang terkenal nomor 2 di dunia dan di Jerman. Apalagi kalau bukan perusahaan Er'Land.
Kathleen kini tengah duduk di sofa ruang tengah. Dia tengah memikirkan bagaimana cara menemukan keberadaan keluarga kandungnya.
Kathleen sudah mengetahui perihal dirinya terpisah dari kedua orang tuanya dan saudara kembarnya.
Sejak Kathleen mengetahui hal itu, dia setiap malam berdoa agar dipertemukan kembali dengan keluarga kandungnya.
"Mami, Papi, Kakak Danesh, Kakak Nuel, Kakak Lino. Aku merindukan kalian. Kalian dimana?"
Setetes liquid bening jatuh membasahi wajah cantik Kathleen.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Waktu dimana anggota keluarga Smith akan melakukan makan siang bersama.
Kini semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan, kecuali Darren.
"Dzaky, Adnan!" Erland memanggil ketiga dan keempatnya.
"Iya, Papa."
"Bukankah kalian bersama dengan Darren ketika ke markas Noe? Kenapa justru kalian pulanh hanya berdua tanpa Darren?"
"Darren katanya mau pulang dulu ke rumahnya. Dia kesana mau ambil beberapa lukisannya," jawab Dzaky.
Prang!
Gilang tiba-tiba menjatuhkan sendok makannya sehingga menimbulkan bunyi yang kuat.
Erland, Agneta dan yang lainnya langsung melihat kearah Gilang. Mereka semua melihat wajah tegang Gilang.
"Gilang, kamu kenapa?" tanya Erland.
"Wajah kamu kok tegang gitu," ucap Andra.
Mereka menatap Gilang bingung dan penasaran.
"Mampus gue. Gadis itu ada di rumah Darren," gumam Gilang.
Dan gumamannya itu terdengar oleh anggota keluarganya.
"Gadis?" tanya mereka bersamaan.
"Gilang," panggil Davin.
Gilang tidak mendengar panggilan dari Davin. Pikirannya saat ini masih memikirkan Darren yang pulang ke rumahnya. Sementara di rumahnya itu ada seorang gadis yang ditolong oleh dirinya.
"Kalau Darren sampai bertemu dengan gadis itu. Wah! Bakal perang dunia ketiga nih. Mati gue! Gue bisa diamuk habis-habisan sama anak kelinci itu," ucap Gilang tanpa sadar.
Mereka yang mendengar ucapan dari Gilang membulatkan matanya. Mereka terkejut ketika mendengar Gilang yang mengatakan bahwa di rumah Darren ada seorang gadis.
"Gilang!" teriak Andra.
Dan teriakan Andra berhasil membuyarkan lamunan Gilang. Sementara yang lainnya langsung mengusap-bgusap telinga masing-masing akibat teriakan Andra.
"Siapa gadis itu?" tanya Davin.
"Ga-gadis? Maksud kakak Davin apa?" tanya Gilang balik.
__ADS_1
"Jangan pura-pura amnesia, Gilang! Barusan ini kamu mengatakan bahwa di rumah Darren ada seorang gadis. Apa maksud kamu?" tanya Andra.
"Ach. Mungkin Brenda. Iya, Brenda!" Gilang menjawab perkataan Davin dan Andra dengan gugup.
"Jika gadis itu Brenda. Kenapa kamu jadi gugup dan panik begini?" tanya Dzaky.
Mereka menatap Gilang penuh selidik. Gilang yang ditatap seperti itu oleh anggota keluarganya seketika menelan ludahnya kasar.
"Gilang!" seru Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Darka bersamaan.
"Hah!" Gilang seketika menghembuskan nafas kasarnya.
"Gadis yang ada di rumah Darren itu adalah gadis yang aku tolong kemarin. Aku ingin mengantarnya pulang, tapi aku tidak tahu alamatnya."
"Kenapa kamu tidak tanya sama gadis itu?" tanya Adnan.
"Bagaimana aku mau bertanya? Dianya aja dalam pengaruh alkohol. Bahkan saat aku menolongnya, dia mengatakan aku pria mesum."
Mendengar jawaban dari Gilang, mereka semua tersenyum.
"Bahkan gadis itu seperti dalam masalah. Ketika aku menolongnya, ada beberapa pria berpakaian hitam mengejarnya."
Mendengar ucapan dari Gilang membuat mereka seketika khawatir akan Gilang.
"Gilang, Papa jadi kepikiran sama gadis itu dan juga orang-orang yang mengejarnya. Papa takut nanti kamu terkena masalah, Nak!"
"Papa tidak perlu khawatir. Aku akan jaga diri baik-baik," ucap Gilang.
Agneta menatap Dzaky dan Adnan. Dia masih kepikiran dengan putranya yang lain yaitu Darren.
"Dzaky, Adnan."
"Apa Darren ada bilang sama kalian kalau dia akan pulang kesini?" tanya Angneta.
"Iya, Mama. Darren katanya akan pulang kesini setelah mengambil lukisannya," jawab Adnan.
"Darren hanya singgah sebentar saja ke rumahnya," ucap Adnan.
"Ach, syukurlah!" Agneta akhirnya bisa bernafas lega.
"Dan nanti kita semua akan menyaksikan perang dunia ketiga antara kakak Darren melawan kakak Gilang!" seru Adrian, Mathew bersamaan.
"Aku akan mendukung kakak Darren. Dan akan memberikan semangat untuk kakak Darren!" seru Melvin.
"Kami juga!" Adrian, Mathew, Nathan dan Ivan bersamaan.
"Bagaimana ya reaksi kakak Gilang ketika melihat kakak Darren yang marah kalau di rumahnya ada cewek lain selain kakak Brenda?" tanya Ivan dengan menatap wajah Gilang dengan senyuman manisnya.
Mendengar ucapan dan perkataan dari kelima adik laki-lakinya membuat Gilang mendengus dan menatap horor kelimanya.
Sementara Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Darka tersenyum melihat wajah kusut Gilang akan kelakuan kelima adik laki-lakinya.
***
Darren baru tiba di depan halaman rumahnya. Ketika Darren keluar dari dalam mobilnya, Fito sang tangan kanannnya datang menghampirinya.
"Selamat siang, Bos!"
"Siang juga Fito."
__ADS_1
"Bos."
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?"
"Di dalam ada seorang gadis Bos!"
"Gadis? Apa Brenda?"
"Bukan Bos. Saya juga tidak mengenalinya."
"Kenapa dia ada di rumah ini? Dan kapan dia ada disini?"
"Saya juga tidak tahu Bos kapan gadis itu datang. Saya tahunya beberapa jam lalu karena mendengar suara keributan dari dalam rumah."
"Ya, sudah. Aku masuk dulu. Kau pantau terus keadaan rumah ini dan sekitar tempat tinggal yang ada di sekitar sini."
"Baik Bos."
Setelah itu, Darren melangkah memasuki rumahnya.
Darren berjalan menyusuri setiap sudut rumahnya untuk menuju ruang penyimpanan lukisan-lukisannya.
Ketika Darren tiba di ruang tengah, Darren melihat seorang gadis menuruni anak tangga dalam keadaan baru bangun tidur.
"Siapa kau?!" bentak Darren ketika gadis itu sudah tiba dibawah.
Gadis itu seketika terkejut ketika mendengar suara seorang laki-laki. Apalagi dengan nada suara yang membentak.
Gadis itu kemudian melihat ke asal suara. Dan dapat dilihat olehnya, seorang pemuda yang tengah menatapnya dengan tatapan dingin dan tajam.
"Sekali lagi aku bertanya padamu. Siapa kau?!"
"Kau sendiri siapa?" gadis itu bertanya dengan melangkah menghampiri pemuda yang ada di hadapannya itu.
"Aku pemilik rumah ini. Kenapa kau ada di rumahku? Siapa yang membawamu kemari?"
Gadis itu menatap Darren dari atas sampai bawah. Setelah itu kembali menatap wajah Darren.
"Jangan ngaku sebagai pemilik rumah ini. Pasti kamu suruhan dari salah satu pasangan suami istri brengsek itu kan?" ucap dan tanya gadis itu.
"Apa maksudmu, hah?! Rumah ini adalah rumahku. Lebih baik kau pergi dari sini!" bentak Darren.
"Beginilah caramu memperlakukan seorang gadis?"
"Aku tidak peduli. Yang aku inginkan saat ini adalah kau pergi dari sini. Tinggalkan rumah ini!" bentak Darren.
"Tidak. Aku tidak akan pergi dari sini sebelum bertemu dengan orang yang sudah membawaku kemari," jawab gadis itu.
"Apa maksudmu, hah?!" bentak Darren.
"Aku bisa berada disini karena seorang pemuda yang telah telah membawaku ke rumah ini," ucap gadis itu.
"Pemuda siapa yang kau maksud?" tanya Darren.
"Aku tidak tahu. Tapi pelayan disini bilang kalau pemuda itu bernama Gilang," jawab gadis itu.
Mendengar nama kakak laki-laki yang keluar dari mulut gadis itu membuat Darren seketika mengeluarkan sumpah serapahnya. Bahkan semua penghuni kebun binatang di absen satu persatu untuk sang kakak.
"Dasar kakak Gilang bantet, sialan, bodoh, pendek, monyet, jelek, bau. Beraninya bawa-bawa anak gadis orang ke rumahku," ucap Darren di dalam hatinya.
__ADS_1