KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Video


__ADS_3

Di perusahaan Noberto Grup terlihat seorang pria paruh baya sedang duduk di kursi kebesarannya. Pria itu adalah Ferdian Noberto.


Ferdian saat ini tengah menatap berkas kerja sama yang diterima dari asistennya. Dirinya berpikir kenapa perusahaan ABR'Ham Grup mengembalikan berkas kerja sama tersebut kepadanya. Bahkan pemilik perusahaan tersebut membatalkan kerja sama secara sepihak tanpa informasi apapun.


"Kenapa jadi begini? Seminggu yang lalu perusahaan ABR'Ham Grup telah menyetujui kerja sama ini. Dan awal bulan depan proyek tersebut akan dikerjakan. Tapi kenapa perusahaan tersebut membatalkan kerja sama ini secara sepihak? Apa yang terjadi?" Ferdian bertanya kepada dirinya sendiri tentang alasan perusahaan ABR'Ham Grup tiba-tiba membatalkan kerja samanya.


Ketika Ferdian sedang memikirkan kerja samanya yang batal, tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari luar.


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk!"


Cklek!


Pintu dibuka oleh seorang wanita. Wanita itu adalah Isabella Noberto, istrinya.


"Isabella."


Wanita itu melangkah menuju sofa dan langsung menghempaskan tubuhnya di sofa itu.


Melihat istrinya sudah duduk di sofa. Apalagi ketika meliha wajah lesu istrinya membuat Ferdian menghampiri istrinya itu.


Kini Ferdian sudah duduk di sofa. Tempatnya di samping istrinya. Ferdian menatap khawatir istrinya itu.


"Ada apa, sayang? Kenapa kamu lesu begitu?" tanya Ferdian.


"Dua butikku dalam masalah, sayang!"


Mendengar jawaban dari istrinya membuat Ferdian terkejut.


"Apa?"


"Bukan hanya dua butikku saja. Bahkan perusahaan Property ku juga dalam ambang kehancuran."


Mendengar ucapan dari istrinya membuat Ferdian benar-benar terkejut.


"Bagaimana bisa?"


"Aku juga tidak tahu sayang. Tiba-tiba aku mendapatkan surat pemberitahuan dan juga email yang isinya mengatakan bahwa semua orang-orang yang bekerja sama dengan perusahaan propertyku dan orang-orang yang sudah memesan banyak baju di butikku tiba-tiba membatalkan semuanya."


"Bahkan mereka minta uangnya dikembalikan."


"Kamu jangan mengembalikan uang itu. Anggap saja uang itu untuk ganti kerugian kamu yang sudah membeli bahan-bahan untuk membuat baju pesanan mereka," ucap Ferdian.

__ADS_1


"Aku sudah membahas masalah itu kepada mereka. Tapi mereka tetap ingin uangnya dikembalikan," jawab Isabella.


Mendengar jawaban sedih dari istrinya membuat Ferdian terdiam. Dirinya saat ini benar-benar bingung. Kenapa masalah datang bersamaan.


"Kenapa jadi seperti ini? Perusahaan ABR'Ham Grup tiba-tiba membatalkan kerja samanya dengan perusahaanku. Dan sekarang kejadian itu terjadi juga kepadamu," ucap Ferdian.


Isabella menatap wajah suaminya. Tatapannya begitu menyedihkan.


"Apa yang harus kita lakukan sayang?" tanya Isabella.


"Kau tenanglah, sayang. Perusahaanku masih dalam keadaan baik-baik saja. Perusahaanku beberapa hari yang lalu baru saja menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan yang berada di posisi nomor 10 di dunia. Semoga saja perusahaan itu tidak ikut membatalkan kerja samanya dengan perusahaanku."


"Semoga saja."


"Dan satu lagi. Perusahaanku juga menjalin kerja sama dengan perusahaan Accenture," ucap Ferdian.


"Bukankah perusahaan itu tempat Darren bekerja?" tanya Isabella.


"Benar. Jika terjadi sesuatu terhadap perusahaanku. Kita bisa manfaatkan Darren untuk membantu kita. Jika Darren tidak mau, kita bisa buat Darren dipecat dari perusahaan tersebut."


Mendengar ide dari suaminya membuat Isabella tersenyum.


"Aku setuju. Dan kita juga bisa membuat Darren menikah dengan putri kita."


"Itulah rencanaku."


***


Semua makanan telah tersaji di atas meja. Baik Darren maupun ketujuh sahabatnya memesan banyak makanan dan juga minuman.


Melihat begitu banyak makanan dan juga minuman di atas meja membuat para penghuni kantin melongo. Mereka semua berucap di dalam hati masing-masing 'Setan apa yang telah merasuki tubuh mereka sehingga memesan banyak makanan dan minuman'.


Setelah melihat Darren dan ketujuh sahabatnya, penghuni kantin pun kembali ke dunia mereka masing-masing.


"Oh iya, Ren! Aku mendapatkan informasi dari salah satu mahasiswa," sahut Rehan.


"Informasi apa?" tanya Darren sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Ini, lihatlah sendiri!"


Rehan memberikan ponselnya kepada Darren. Darren yang melihat ponsel Rehan di atas meja yang mengarah padanya langsung mengambilnya.


Darren melihat di layar ponsel tersebut sebuah video. Dan tanpa menunggu lagi, Darren menekan tanda segitiga putih yang ada di layar ponsel itu.


Setelah itu, video itu pun tayang. Melihat Darren yang menonton sebuah video di ponselnya Rehan. Sahabatnya yang lain pun ikut melihat video itu.


Dan detik kemudian...

__ADS_1


"Apa-apaan mereka? Bisa-bisanya mereka punya pikiran seperti itu!" teriak Jerry.


Mendengar teriakan Jerry membuat semua penghuni kantin terkejut.


"Kenapa harus pake teriak sih?" tanya Darel kesal.


"Biarkan saja. Biar semua orang yang ada di kantin ini bisa mendengarnya," jawab Jerry dengan suaranya yang sengaja dibesarkan.


"Benar-benar ya mereka. Bisa-bisanya mereka mengatakan bahwa kita memakan uang sumbangan dari mereka buat beli mobil dan motor mewah," sahut Axel tak terima dituduh seperti itu.


"Bukan itu saja. Mereka juga menuduh kita telah memakan uang yang diberikan oleh Rektor untuk kita foya-foya bersama kekasih kita," sela Dylan.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Seenaknya saja mereka berbicara seperti itu. Memangnya berapa sih uang yang mereka sumbangkan? Apa mereka nggak nyadar bahwa uang sumbangan mereka itu sama sekali nggak cukup untuk semua jenis kegiatan di kampus ini. Malah justru kita menutupinya pake uang kita sendiri." Qenan berbicara dengan wajah dinginnya dan dengan suara dikeraskan.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren dan ketujuh sahabatnya membuat penghuni kantin seketika merasakan hawa tak enak. Mereka semua berpikir akan terjadi sesuatu di kampus.


Brak!


"Aku tidak terima mereka berbicara seperti itu. Aku akan membalas mereka semua," sahut Willy sembari menggebrak meja.


Mendengar perkataan dan melihat amarah dari sorot mata ketujuh sahabatnya membuat Darren juga merasakan hal yang sama. Darren juga tidak terima jika teman-teman kampusnya menuduh dirinya dan ketujuh sahabatnya korupsi.


"Kalian tenanglah. Kita akan membalas mereka yang telah menuduh kita yang tidak-tidak. Kita biarkan saja dulu untuk mereka terus memfitnah kita. Setelah itu, baru kita memberikan hukuman kepada mereka."


Mendengar penuturan dari Darren. Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Jerry dan Dylan mengangguk setuju.


Setelah itu, Darren dan ketujuh sahabatnya kembali menikmati makan siangnya dengan tenang.


^^^


Brenda bersama dengan para sahabatnya tengah duduk santai di bawah rindangnya pohon mangga yang ada di lapangan.


Brenda dan ketujuh sahabatnya tengah menunggu disana untuk materi kuliah selanjutnya.


Ketika Brenda dan ketujuh sahabatnya tengah mengobrol dan bercerita, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara perempuan yang sedang memanggil seseorang dengan suara manjanya.


Brenda dan ketujuh sahabatnya langsung melihat ke asal suara. Begitu juga dengan para mahasiswa dan mahasiswi yang memang ada di lapangan itu.


Ketika Brenda dan ketujuh sahabatnya melihat kearah seseorang tersebut. Seketika Brenda membulatkan matanya. Begitu juga dengan ketujuh sahabatnya.


Mereka melihat Connie yang sedang menggelayut manja di tangan Darren. Bahkan mereka bisa melihat bahwa Darren berusaha untuk melepaskannya.


"Wah, Brenda! Lo harus segera menyelamatkan milik lo. Jangan sampai milik lo direbut sama cewek gila itu," sahut Tania.


"Iya, Tania benar. Lo harus bertindak, Brenda!" seru Vania.


"Hm." Alice, Elsa, Milly, Lenny dan Felisa mengangguk setuju.

__ADS_1


Brenda melihat kearah Connie dengan tatapan marahnya dan juga tangannya yang mengepal kuat.


Brenda berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri kekasihnya yang saat ini tengah diganggu dan diikuti oleh ketujuh sahabatnya di belakang.


__ADS_2