
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel sudah berada di kampus. Saat ini mereka berada di lobi depan kampus. Begitu juga dengan para kekasih mereka masing-masing, termasuk Brenda.
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel sesekali melirik kearah Brenda. Mereka menatap wajah Brenda dengan tatapan sedih mereka masing-masing. Di dalam hati mereka saat ini memikirkan dan membayangkan bagaimana reaksi dan perasaan Brenda ketika melihat sosok Darren yang tak mengenalinya sama sekali. Mereka semua meyakini bahwa hati Brenda dua kali lipat merasakan terluka.
Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania, Felisa dan Elsa menatap wajah kekasih mereka masing-masing. Bahkan mereka juga melihat bagaimana para kekasih mereka menatap kearah Brenda.
"Kenapa Qenan, Willy, Axel Dylan Jerry Rehan, Darel menatap Brenda seperti itu ya?"
Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania, Felisa dan Elsa berucap di dalam hatinya masing-masing.
"Brenda," panggil Axel tiba-tiba.
Brenda yang tengah fokus dengan ponselnya langsung melihat kearah Axel.
"Ya, Xel. Ada apa?" tanya Brenda.
Axel yang melihat tatapan mata Brenda yang begitu cerah menjadi sedikit ragu untuk mengatakan tentang apa yang dia dan sahabatnya lihat dan alami beberapa jam yang lalu.
Axel menatap satu persatu wajah Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel lalu kembali menatap wajah Brenda.
"Ada apa, Xel? Kayaknya lo ingin mengatakan sesuatu," ucap Brenda.
"Ini hanya berandai-andai saja. Jadi jangan dimasukkan ke dalam hati," ucap Qenan.
"Apaan sih? Kalian kenapa? Dan lo, Xel! Kenapa?" tanya Brenda yang menatap bingung Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Qenan dan Willy.
"Gini Brenda. Seandainya jika lo lihat kedatangan Darren. Apa yang akan lo lakuin?" tanya Axel.
"Pertanyaan lo norak, Xel! Lo udah tahu pasti apa jawaban gue," jawab Brenda.
"Tapi gue dan sahabat-sahabat gue mau dengar langsung dari mulut lo," sahut Rehan.
"Jika gue lihat kedatangan Darren. Gue bakal lari memeluk dia. Gue udah kangen banget sama dia," jawab Brenda dengan senyuman manisnya.
Melihat senyuman yang tulus di bibir Brenda membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel merasakan sesak di dada masing-masing. Mereka ingin sekali mempertahankan senyuman itu, tapi mereka tidak bisa karena senyuman itu akan dengan sendirinya luntur ketika melihat dan mendengar sesuatu yang tak diharapkan.
"Kalau misalkan Darren tidak ingat sama lo, bagaimana?" tanya Dylan menatap lekat wajah Brenda.
Deg!
Brenda seketika terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Dylan yang mengatakan jika seandainya Darren melupakan dirinya.
Brenda tiba-tiba merasakan sesak luar biasa ketika mendengar pertanyaan dari Dylan. Dia berharap hal itu tidak terjadi.
"Lan, lo kenapa ngasih pertanyaan seperti itu kepada Brenda?" tanya Alice menatap kesal kearah Dylan.
Willy yang melihat kekasihnya itu kesal terhadap Dylan langsung menarik tangan Alice dan membawanya ke tempat lain.
"Aku tahu kamu kesal sama Dylan karena sudah memberikan pertanyaan kepada Brenda tentang Darren yang seandainya melupakan Brenda," ucap Willy.
"Iya, aku kesal sama Dylan. Nggak seharusnya......"
"Kita sudah bertemu dengan Darren!" Willy langsung mengatakan tentang pertemuannya dengan Darren.
Alice seketika membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan dari Willy yang mengatakan bahwa dia sudah bertemu dengan Darren.
"Jadi kamu dan yang lainnya...?" tanya Alice menatap wajah Willy.
"Iya. Aku dan yang lainnya sudah bertemu dengan Darren. Tapi Darren...."
Seketika air mata jatuh membasahi wajah tampannya. Willy menangis ketika mengingat Darren yang melupakan dirinya dan sahabat-sahabatnya yang lain.
"Willy, ada apa? Apa ini ada hubungannya dengan pertanyaan dari Dylan?" tanya Alice dengan menatap sedih Willy.
Willy tidak menjawab pertanyaan dari Alice. Justru air mata Willy makin deras mengalir membasahi wajahnya.
"Darren... Darren tidak mengingat kami sama sekali, Alice! Dia menganggap kami orang asing. Bahkan dia menyebut namanya sebagai Askara Eleon Mendez."
Alice seketika menutup mulutnya saking terkejutnya ketika mendengar penuturan dari Willy.
Alice berpikir, Willy saja sudah seperti ini hancurnya karena dilupakan oleh sahabat terbaiknya. Lalu bagaimana dengan sahabatnya Brenda? Bagaimana reaksi dari sahabatnya itu ketika mengetahui bahwa kekasihnya tidak ingat dengannya?
Alice memeluk tubuh bergetar Willy hanya sekedar untuk memberikan ketenangan kepada kekasihnya.
"Bagaimana Brenda? Apa reaksi lo jika seandainya Darren tidak ingat sama lo?" tanya Dylan lagi.
Brenda menatap intens wajah Dylan. Dia juga menatap kearah Qenan, Axel, Jerry, Rehan dan Darel.
"Kenapa lo maksa banget buat gue jawab pertanyaan lo itu, Lan? Sebenarnya ada apa sih? Dan gue yakin bahwa Darren baik-baik saja," ucap dan tanya Brenda.
"Brenda! Kita nggak ada yang tahu apa yang terjadi dengan Darren diluar sana setelah kecelakaan itu. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia hanya mengalami luka ringan atau justru luka parah? Nggak ada yang tahu hal itu," sahut Jerry.
"Gue berharap Darren baik-baik saja. Dan gue juga berharap apa yang menjadi ketakutan kalian itu tidak terjadi," ucap Brenda.
__ADS_1
"Awalnya kami yakin jika Darren baik-baik saja. Tapi setelah kami bertemu dengannya. Hati kami benar-benar hancur."
Qenan, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel berucap di dalam hatinya masing-masing. Mereka berusaha untuk tidak menangis.
"Seharusnya kalian yakin terhadap Darren, karena kalian adalah sahabat terbaiknya." Brenda kembali berucap.
Willy dan Alice telah kembali. Willy kembali bergabung dengan sahabatnya. Begitu juga dengan Alice.
Lenny yang melihat Alice berdiri di sampingnya seketika melihat kearah Alice. Dapat Lenny lihat bahwa mata Alice yang merah seperti habis menangis.
Lenny mengalihkan perhatiannya menatap kearah Willy. Sama halnya seperti Alice. Willy juga terlihat habis menangis.
"Ada apa dengan Willy dan Alice?" tanya Lenny di dalam hatinya.
Ketika Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Brenda, Alice, Vania, Elsa, Lenny, Tania, Felisa dan Milly tengah membahas masalah Darren. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara seseorang yang mengarah kearah mereka.
"Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel." orang itu memanggil satu persatu nama ketujuh sahabat Darren.
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel dengan kompak langsung melihat kearah dimana seorang mahasiswi yang berjalan kearahnya.
"Iya," jawab Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.
"Itu, Darren!" mahasiswi tersebut menjawab sembari menunjuk kearah dimana keberadaan Darren.
Mendengar nama Darren disebut membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel saling memberikan tatapan.
Sementara Brenda langsung berdiri dari duduknya dan berlari menghampiri kekasihnya.
"Brenda!"
Alice langsung mengejar Brenda. Dia tidak ingin sahabatnya itu hancur ketika kekasihnya tak mengingatnya.
Melihat kedua sahabatnya pergi. Hal itu membuat Vania, Milly, Lenny, Tania, Felisa dan Elsa langsung menyusul keduanya.
Setelah itu barulah Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel pergi menyusul Brenda dan para kekasihnya.
^^^
Kini Brenda sudah berdiri di halaman besar kampus. Dan ditemani dengan ketujuh sahabatnya. Dia sudah tidak sabar untuk melihat wajah dan memeluk tubuh kekasihnya itu.
Sedangkan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel berdiri sedikit jauh dari Brenda dan ketujuh sahabatnya.
"Darren," ucap Brenda ketika melihat sosok kekasihnya yang dia rindukan satu bulan ini.
Brenda seketika berlari menghampiri Darren. Setelah berada di hadapan Darren, Brenda langsung memeluk tubuh Darren untuk melenyapkan rasa rindunya.
"Darren, aku merindukan kamu!"
Mendapatkan pelukan dari seorang gadis yang sama sekali tidak dikenalinya membuat Askara terkejut.
Askara tidak menyangka jika dirinya tiba-tiba dipeluk oleh orang-orang yang sama sekali tidak dia kenal.
"Ach, maaf!"
Askara langsung melepaskan pelukan Brenda dengan cara mendorong tubuh Brenda. Dia benar-benar risih dipeluk oleh seorang gadis. Apalagi di depan umum.
"Kamu siapa? Kenapa kamu tiba-tiba memelukku?" tanya Askara dengan matanya menatap wajah gadis di hadapannya.
Deg!
Brenda seketika terhuyung ke belakang ketika mendengar pertanyaan dari Darren. Matanya menatap tak percaya kearah Darren.
[Kalau misalkan Darren tidak ingat sama lo, bagaimana?]
"Tidak! Ini tidak mungkin!"
Seketika air mata Brenda jatuh membasahi wajah cantiknya ketika mengetahui fakta tentang kekasihnya.
"Brenda," ucap Alice sambil tangannya mengusap-usap lembut punggung Brenda.
"Darren, lo nggak ingat sama kita-kita?" tanya Vania.
"Aku tidak kenal kalian," jawab ketus Askara dengan menatap dingin Vania dan yang lainnya.
Mendengar jawaban dari Darren membuat hati mereka terluka. Yang lebih terluka adalah Brenda.
"Darren, kamu benar tidak ingat sama aku? Aku Brenda, kekasih kamu."
"Maaf, aku tidak kenal sama kamu. Dan masalah kekasih. Aku belum kepikiran sampai kesana. Aku masih ingin sendiri," jawab Askara dengan tatapan dinginnya.
Air mata Brenda makin deras mengalir membasahi wajahnya ketika mendengar perkataan dari Darren. Hatinya sakit mendengar perkataan tersebut.
^^^
__ADS_1
Brak!
Pintu kelas komputer dibuka secara paksa oleh seseorang. Dan orang itu seorang mahasiswa sekaligus teman satu jurusan Gilang dan Darka.
"Gilang, Darka! Di halaman kampus ada Darren!"
Mendengar ucapan dari teman sekelasnya membuat Gilang dan Darka saling memberikan tatapannya. Setelah itu, Gilang dan Darka kembali menatap wajah teman sekelasnya itu.
"Apa itu benar?" tanya Gilang dan Darka bersamaan.
"Kalau kalian nggak percaya. Lihat saja sendiri," sahut mahasiswa itu.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Gilang dan Darka langsung berlari keluar untuk menuju halaman kampus. Mereka berdua tidak sabar untuk melihat dan memeluk adik laki-laki kesayangannya itu.
^^^
"Sudah ya. Aku mau ke kelas."
Setelah mengatakan itu, Askara langsung pergi meninggalkan Brenda dan ketujuh sahabatnya.
Namun Brenda langsung mencekal tangan kekasihnya. Dia tidak akan membiarkan kekasihnya itu pergi.
Askara yang melihat tindakan gadis yang tidak dikenalnya itu memegang tangannya menatap marah kearah gadis tersebut.
"Tolong lepaskan tangan saya," ucap Askara.
"Ren, ini aku Brenda! Aku... Aku tahu kamu pasti pura-pura lupa sama aku. Kamu melakukan hal itu semata-mata hanya ingin mengerjaiku saja, kan? Kamu nggak benaran melupakan aku."
Brenda menangis ketika mengatakan hal itu di hadapan kekasihnya. Hatinya saat ini tidak rela kalau kekasihnya melupakan dirinya.
"Brenda," ucap Alice dan Elsa. Keduanya sudah menangis melihat Brenda yang tidak terima dengan keadaan saat ini.
Bukan hanya Brenda, ketujuh sahabatnya dan ketujuh sahabatnya Darren yang menangis melihat kondisi Brenda dan melihat Darren yang melupakan mereka. Semua mahasiswa dan mahasiswi yang menyaksikan kejadian tersebut juga ikut menangis.
"Darren!"
Gilang dan Darka tiba-tiba datang dan langsung berteriak memanggil nama adik laki-lakinya.
Aksara langsung melihat kearah dua pemuda yang kini melangkahkan kakinya menghampiri dirinya.
"Siapa lagi mereka?" tanya Askara di dalam hatinya.
"Ada berapa orang lagi yang memanggilku dengan sebutan Darren? Memangnya Darren itu siapa? Kenapa semua orang memanggilku dengan nama itu?" ucap Askara dengan suara yang keras.
"Aku katakan kepada kalian semua. Aku bukan Darren. Namaku adalah Askara Eleon Mendez!"
Gilang dan Darka seketika membeku di tempat ketika mendengar perkataan dari adik laki-lakinya. Tatapan mata keduanya menatap tak percaya kearah adik laki-lakinya itu.
Setelah mengatakan itu, Askara menarik tangannya dari pegangan tangan Brenda lalu pergi meninggalkan semuanya.
Melihat kepergian adik laki-lakinya membuat hati Gilang dan Darka hancur. Seketika air matanya mengalir membasahi wajahnya. Gilang dan Darka menangis terisak ketika melihat adik laki-laki kesayangannya tidak mengenali dirinya.
"Darren," isak Gilang dan Darka bersamaan dengan tatapan matanya masih menatap kepergian adik laki-lakinya.
Brukk!
Brenda jatuh terduduk di tanah. Hatinya benar-benar hancur melihat kekasihnya yang tidak mengingat sama sekali.
Alice, Elsa, Vania, Milly, Lenny, Tania dan Felisa langsung memeluk tubuh Brenda. Mereka berusaha untuk memberikan ketenangan kepada sahabatnya itu.
Axel, Jerry dan Dylan menghampiri Gilang dan Darka. Ketiganya berusaha untuk menenangkan Gilang dan Darka.
Sedangkan Qenan, Willy, Rehan dan Darel menghampiri Brenda. Mereka juga berusaha untuk memberikan ketenangan kepada Brenda.
"Sekarang lo udah tahu, kan?" tanya Qenan.
"Itulah alasan kita kenapa ngasih pertanyaan yang begitu sulit buat lo jawab. Setidaknya dengan lo jawab pertanyaan dari kita. Lo bisa antisipasi dengan keadaan yang sebenarnya. Dengan begitu, lo tidak terlalu terluka." Willy berbicara sembari menatap wajah sedih dan terlukanya Brenda.
Brenda menatap wajah Qenan, Willy, Rehan dan Darel secara bergantian. "Sejak kapan kalian bertemu dengan Darren. Dan sejak kapan kalian mengetahui kondisinya?"
"Sejak tadi pagi ketika kita dalam perjalanan ke kampus," jawab Darel.
"Kita habis nolongin orang yang dikeroyok oleh beberapa orang. Dan kita nggak tahu siapa orang yang kita tolong itu, karena orang itu masih menggunakan helm nya," sahut Rehan.
"Cara orang itu bertarung sama persis dengan cara Darren bertarung," ujar Willy.
"Setelah kami berhasil mengalahkan orang-orang itu. Orang yang kami tolong tersebut seketika membuka helmnya. Dan dari situlah kami semua terkejut. Orang yang kami tolong adalah sahabat kami sendiri." Qenan berbicara dengan mimik wajah yang kentara dengan kesedihan.
"Kalian pasti sudah bisa menebak apa yang akan kami lakukan ketika bertemu dengan Darren? Dan bagaimana penolakannya," ucap Qenan lagi.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Qenan, Willy, Rehan dan Darel membuat Alice, Vania, Milly, Felisa, Vania, Elsa dan Lenny hanya diam.
Namun di hati mereka masing-masing membayangkan bagaimana sedih dan hancurnya para kekasih mereka ketika mengetahui fakta bahwa sahabat tak mengenalinya.
__ADS_1