KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kedatangan Agra Benjamin


__ADS_3

"Kakak Darren, terima kasih ya. Berkat kakak Darren masalah ini selesai," ucap Mathew yang saat ini memeluk tubuh Darren.


"Kakak Darren yang terbaik. Kami bangga memiliki kakak seperti kakak Darren. Kelak di masa depan dimana kakak Darren nggak mampu lagi untuk bekerja dan nggak mampu lagi untuk melindungi kami dan keluarga kita. Maka aku akan menggantikan kakak Darren. Aku akan melanjutkan apa yang sudah kakak Darren lakukan selama ini. Aku akan melindungi Kakak Darren dan keluarga kakak Darren."


Adrian berucap dengan kesungguhan hatinya dengan tangannya makin mengeratkan pelukannya di pinggang Darren. Dirinya benar-benar bangga akan kakak kesayangannya. 


"Kelak di masa depan aku, kakak Adrian, Nathan, Ivan dan Melvin akan menjadi pelindung kalian semua. Kami akan menjaga dan melindungi Papa, Mama, kakak Davin, kakak Andra, kakak Dzaky, kakak Adnan, kakak Gilang, kakak Darka, kakak Darren dan juga Paman Evan, Bibi Carissa, kakak Daffa, kakak laki-lakinya dan kakak Davian."


"Hm!" Nathan, Ivan dan Melvin bergumam sembari menganggukkan kepalanya tanda setuju akan perkataan Mathew.


Mendengar ucapan dan janji dari Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin membuat Erland, Agneta dan anggota keluarga Smith lainnya tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Darren.


Darren melepaskan pelukan Adrian dan Mathew. Setelah itu, Darren menatap lekat wajah kedua adik laki-lakinya itu.


"Kelak kakak akan mempercayakan semuanya kepada kalian berdua. Dan kalian berdua harus siap jika waktu itu tiba," ucap Darren.


"Kami siap kapan pun, kakak Darren! Kami akan melakukan yang terbaik. Dan kami tidak akan mengecewakan kakak Darren," ucap Adrian.


Darren tersenyum mendengar perkataan dan janji Adrian dan keempat adik laki-lakinya yang lain. Darren percaya akan perkataan dan semangat kelima adik laki-lakinya itu.


"Kakak percaya."


Darren menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya yang saat ini duduk di sofa.


"Masalah belum selesai. Masih ada satu masalah lagi," ucap Darren.


Darren menatap kearah dinding sebelah kiri lalu melihat kearah dimana jam dinding tergantung.


"Pukul 12 siang. Sebentar lagi dalang itu akan datang menemui kita semua, terutama untuk menemui keluarga Mendez dan aku!"


Mendengar ucapan dari Darren membuat mereka semua terkejut, terutama anggota keluarga Mendez.


"Ren," panggil Jerry.


"Iya, Jer!"


"Apa kau memang sudah tahu jika dalang itu akan datang kesini?" tanya Jerry.


"Andrean."


"Jadi tujuan Andrean menghubungimu beberapa jam yang lalu hanya ingin memberitahu tentang dalang itu?" tanya Darel.


"Hm."


"Jangan bilang kalau Andrean juga yang memberitahumu kalau ada chip yang tertanam di pergelangan tangan kiri Rafif?" tanya Rehan.


"Iya, itu benar. Andrean yang memberitahuku. Maka dari itu kenapa aku turun ke bawah lalu langsung ke dapur sehingga terjadi sedikit keributan di dapur atas ulahku," jawab Darren.


"Apa lagi yang diketahui oleh Andrean?" tanya Axel.


"Banyak. Salah satunya kejadian-kejadian yang menimpa keluarga Mendez," jawab Darren.


Darren menatap satu persatu anggota keluarga Mendez secara intens, terutama Livia.


"Aku minta kepada kalian semua, terutama Bibi Livia. Jika nanti kalian bertemu dengan orang itu. Tetaplah di tempat kalian. Jangan beranjak dari posisi kalian." Darren berbicara dengan penuh penekanan disetiap katanya.


"Baik, Darren!" jawab semua anggota keluarga Mendez.


"Kakak Davin, kakak Andra, kakak Dzaky, kakak Adnan, kakak Gilang, kakak Darka."


"Iya, Ren!" Davin, Andra Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka menjawab bersamaan.

__ADS_1


"Jaga dan awasi Emily, Renata, Rafif, Daisy, Monica dan Mehdy."


"Baik, Ren!"


"Papa, Mama, Paman Evan, Bibi Carissa!"


"Iya, sayang!" Erland, Agneta, Evan dan Carissa menjawab panggilan dari Darren secara bersamaan.


"Kalian jaga dan awasi Daddy Baren, Daddy Yufal, Mommy Nuria, Mommy Soraya, Paman Khary dan kakek Reymond."


"Baik, sayang."


"Apapun yang terjadi nanti. Jangan buat mereka lepas dari pengawasan kalian."


"Baik, Ren."


"Baik, sayang."


"Dan untuk kalian." Darren menatap wajah-wajah anggota keluarga Mendez. "Kalian datang ke rumahku untuk meminta bantuanku, bukan?"


"Iya, Darren/Askara!"


Semua anggota keluarga Mendez menjawab pertanyaan dari Darren secara serempak.


"Kalian harus mendengarkan semua kata-kataku, walau menurut kalian apa yang aku katakan tak masuk akal. Apapun itu, aku tidak mau kalian membantahnya. Aku melakukan ini bukan untukku pribadi. Justru itu untuk kalian semua. Disini dan di rumah ini, nyawa kita semua dipertaruhkan. Jika kalian melakukan sedikit saja kesalahan, maka salah satu dari orang-orang terdekatku akan terluka."


"Baik, Darren/Askara. Kami berjanji akan mendengar setiap perkataanmu dan orang-orang terdekatmu," jawab Yufal dan Baren sebagai perwakilan keluarganya.


"Hm." Anggota keluarga Mendez lainnya sembari menganggukkan kepalanya.


Qenan dan Axel yang sejak tadi memperhatikan jari manis tangan kiri Darren yang terdapat sebuah cincin. Keduanya penasaran akan cincin tersebut.


Baik Axel maupun Qenan ketahui, selama bersahabat dengan Darren. Mereka tidak pernah melihat Darren yang memakai cincin, karena Darren orangnya paling tidak suka pakai aksesoris. Lain halnya jika itu cincin pertunangan atau pernikahan. Selain kedua itu, Darren tidak suka memakai aksesoris apapun di tangannya, kecuali jam tangan. Itu hal yang memang dibutuhkan.


Darren yang mendengar dirinya dipanggil oleh Axel langsung melihat kearah sahabatnya itu.


"Iya, Xel! Ada apa?" tanya Darren.


"Gue penasaran sama cincin di jari manis lo itu," jawab Axel sembari menunjuk kearah cincin yang terpasang di jari manis sebelah kiri Darren dengan dagunya.


Semua yang ada di ruang tengah langsung melihat kearah jari manis sebelah kiri Darren. Dan benar, ada sebuah cincin disana.


Brenda langsung menatap tajam kearah Darren ketika melihat cincin di jari manis kekasihnya.


Sedangkan Darren yang melihat wajah kesal dan cemburu Brenda, tiba-tiba tersenyum evil.


"Cincin siapa itu, Ren?" tanya Brenda dengan melototkan matanya.


"Ini cincin tunanganku, sayang!" Darren menjawab pertanyaan Brenda dengan santainya.


Brenda melotot ketika mendengar jawaban dari Darren yang mengatakan bahwa cincin itu adalah cincin tunangannya.


"Kamu... Kamu sudah tunangan? Sama siapa? Kamu....." seketika air mata Brenda jatuh membasahi wajah cantiknya.


Melihat Brenda yang menangis, seketika terukir senyuman manis di bibir Darren.


Sementara anggota keluarganya, anggota keluarga Mendez, ketujuh sahabatnya Darren, ketujuh sahabat Brenda, Elzaro dan kelima sahabatnya tersenyum gemas melihat Brenda yang menangis akibat ulah Darren dan melihat kejahilan Darren terhadap Brenda.


Grep!


Darren langsung menarik tubuh Brenda dan membawanya ke dalam pelukan hangatnya.

__ADS_1


"Kamu cemburu ya?" tanya Darren tersenyum.


"Siapa yang nggak cemburu jika kekasihnya bertunangan dengan wanita lain," jawab Brenda.


Darren semakin tersenyum lebar ketika mendengar jawaban dari Brenda.


"Pacarannya denganku, tapi tunangannya dengan perempuan lain. Kamu pikir aku perempuan apaan?"


"Terus aku harus bagaimana? Aku sudah tunangan dengan wanita itu. Bahkan satu minggu lagi aku dan wanita itu akan menikah. Wanita itu memaksaku untuk menikahinya. Jadi mau tidak mau, aku pun mengabulkannya."


Mendengar ucapan dari Darren membuat Brenda langsung melepaskan pelukan Darren. Setelah itu, Brenda menatap wajah Darren. Dan dapat dilihat oleh Brenda ekspresi wajah Darren saat ini terlihat sedih, tertekan, terpaksa dan tidak ada pilihan sama sekali.


"Kamu tega sama aku, Ren!"


Setelah mengatakan itu, Brenda langsung berdiri dari duduknya. Dia berencana untuk pulang ke rumah.


Ketika Brenda hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba terdengar suara tawa yang cukup keras. Siapa lagi kalau bukan Darren pelakunya.


"Hahahaha."


Brenda yang mendengar suara tawa yang keras dari Darren langsung membalikkan badannya untuk melihat keasal suara tersebut.


Dan seketika, Brenda menatap tajam Darren dengan kedua tangannya dilipat di dada.


"Kau lucu sekali ketika lagi cemburu, sayang!" seru Darren.


"Ini tidak lucu, Darren!" Brenda berucap dengan memasang wajah marahnya.


Sementara Erland, Agneta, keenam kakak laki-lakinya, ketiga saudara sepupunya, Paman dan Bibinya, ketujuh sahabatnya, ketujuh sahabat Brenda, Elzaro, kelima sahabat Elzaro dan anggota keluarga Mendez hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan jahil Darren.


"Sini duduk," ucap Darren sembari menepuk sofa di sampingnya.


"Nggak," jawab Brenda.


Darren melotot ketika mendengar jawaban dari Brenda. Namun detik kemudian, Darren mendapatkan ide untuk membuat Brenda mau duduk di sampingnya.


"Oh, baiklah! Berarti kamu benar-benar ingin aku bertunangan dengan wanita lain. Oke!"


Seketika Brenda membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan dari Darren. Namun detik kemudian, Brenda langsung menduduki pantatnya di samping Darren.


"Kamu benar-benar menyebalkan, Ren!" ucap Brenda.


"Aku juga mencintaimu, Brenda!" jawab Darren.


Brenda mendengus kesal akan jawaban dari Darren. Lain yang dia ucapkan, justru lain jawaban yang diberikan oleh kekasihnya itu.


Namun Brenda tidak bisa membohongi hal itu. Di dalam hatinya saat ini tengah tersenyum senang ketika mendengar jawaban tulus dari Darren. Dia benar-benar bahagia dan bersyukur memiliki Darren dalam hidupnya.


Sedangkan anggota keluarganya, anggota keluarga Mendez, ketujuh sahabatnya, ketujuh sahabat Brenda, Elzaro dan kelima sahabatnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Darren.


Ketika mereka semua tengah sedikit bersantai menghilangkan ketegangan masing-masing di tubuhnya, tiba-tiba terdengar keributan dan beberapa barang-barang pecah di depan, lebih tepatnya ruang tamu.


"Tuan, nyonya!"


Jonathan datang memberikan laporan kepada semua anggota keluarga Smith yang berada di ruang tengah.


"Ada apa, Jonathan?" tanya Erland.


"Itu ada keributan diluar dan....."


Perkataan Jonathan terhenti ketika mendengar suara seseorang memasuki ruang tengah.

__ADS_1


"Selamat siang Darrendra Smith!"


__ADS_2