KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kemarahan Tuan Manaf


__ADS_3

Keesokkan paginya di kediaman Darren dimana Darren saat ini berada di kamarnya Erica. Sejak pulang dari acara Pameran Lukisan, Erica tidak keluar kamar. Bahkan Erica tidak ikut makan malam bersama dengan anggota keluarga Smith.


Darren berusaha untuk mengajak putri angkatnya bicara. Namun hasilnya masih gagal.


"Ayolah, sayang! Ada apa, hum? Katakan pada Papa. Apa Erica udah tidak sayang sama Papa?"


"Hiks," isak Erica.


Mendengar isak tangis Erica. Darren langsung memeluk tubuh putri angkatnya itu.


"Papa disini, oke! Tenanglah."


"Papa... Hiks," ucap Erica sembari terisak.


"Ada apa, hum?"


"Apa Papi sama Mami nggak sayang lagi sama Erica?"


"Kenapa Erica bisa berpikir seperti itu?"


"Kata Bibi itu, Papi dan Mami pergi karena Erica anak nakal. Bahkan suster juga pergi."


Mendengar perkataan dari Erica membuat Darren marah. Dirinya tidak akan pernah memaafkan perempuan itu.


"Apa saja yang dikatakan Bibi itu ke Erica?"


"Bibi itu bilang katanya Papi sama Mami nggak pernah ajarin Erica yang baik-baik. Justru selalu ajarin Erica hal yang buruk."


"Kejadian kemarin dimana Erica nggak sengaja menabrak Bibi itu. Malahan Bibi itu bilang bahwa itu adalah ajarannya Mami sama Papi."


"Bibi itu juga bilang kalau Mami dan Papi adalah seorang penipu dengan memanfaatkan Erica agar bisa masuk ke acara Pameran Lukisannya Papa."


Mendengar rentetan aduan dari Erica membuat Darren dendam terhadap perempuan itu. Dirinya tidak terima atas semua perkataannya yang ditujukan kepada Erica.


"Papa," panggil Erica.


"Iya, sayang?"


"Apa ini alasan orang-orang itu membunuh Papi sama Mami."


Deg!


Darren terkejut ketika mendengar perkataan dari Darren.


"Apa Erica sempat melihat kejadian itu?" batin Darren.


Darren berlahan melepaskan pelukannya.


Setelah pelukannya terlepas, Darren menatap wajah putri angkatnya itu.


"Sekarang jujur pada Papa. Apa Erica melihat kejadian dimana Papi sama Mami dibunuh?" tanya Darren dengan menatap wajah Erica.


Erica tidak langsung menjawab pertanyaan dari ayah angkatnya. Seketika terdengar isak tangis Erica.


Darren menyentuh dagu Erica, lalu mengangkatnya ke atas agar dirinya bisa melihat wajah putrinya itu.


"Katakan pada Papa. Apa Erica melihat kejadian itu?"


"Erica."


Seketika Erica menganggukkan kepalanya dengan deraian air mata. Kejadian dimana kedua orang tuanya dibunuh berbutar-putar di kepalanya.


Darren kembali terkejut ketika mendapatkan jawaban dari putri angkatnya mengenai bahwa putrinya melihat kejadian naas itu.


"Apa Erica juga melihat wajah pelakunya?" tanya Darren.


Mendengar pertanyaan dari ayah angkatnya. Seketika mata Erica melotot. Kejadian dimana kedua orang tuanya dibunuh berputar sangat jelas di kepalanya.


Flashback On


"Pergilah kau ke neraka, Fransisko! Pergilah bersama istrimu."


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


Flashback Off


"Tidak! Papi... Mami!" teriak Erica tiba-tiba.


Grep!


Darren langsung memeluk tubuh putri angkatnya dengan erat. Hatinya benar-benar hancur melihat putrinya kembali teringat akan kedua orang tua kandungnya.


"Papi... Mami... Hiks."


Brak!


Pintu kamar Erica dibuka secara paksa oleh seseorang. Setelah itu, masuklah beberapa orang ke kamar Erica.


"Darren," panggil Erland.


Erland dan anggota keluarga lainnya sudah berada di samping tempat tidur Erica. Mereka semua menatap Darren dan Erica.


"Kenapa sayang? Ada apa?" tanya Agneta.


"Erica teringat kedua orang tua kandungnya," jawab Darren.

__ADS_1


"Oh, Tuhan!"


Agneta mengusap lembut kepala belakang Erica.


"Paman jahat...," ucap Erica.


Setelah itu, beberapa detik kemudian terdengar dengkuran halus dari bibir Erica.


"Seperti Erica sudah tertidur, Ren!" ucap Gilang.


"Sepertinya, kakak Gilang."


"Lebih baik baringkan Erica di tempat tidur agar tidurnya nyaman," ucap Carissa.


Setelah itu, Darren pun membaringkan tubuh putri angkatnya di kasur dan dibantu oleh Agneta.


Setelah tubuh Erica tertidur di tempat tidur, Agneta menyelimuti tubuhnya dan tak lupa menghapus sisa air mata di pipi Erica.


"Ya, sudah! Kita biarkan Erica istirahat. Lebih baik kita keluar," ucap Evan.


"Hm." mereka semua mengangguk.


***


Di perusahaan AR'CHEY terlihat seorang pria paruh baya tengah memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di atas mejanya. Semua berkas itu adalah berkas laporan dari karyawannya.


Ada sekitar 15 berkas. Dan baru 5 berkas yang selesai dicek, dibaca dan ditanda tangan olehnya. Tersisa 10 berkas lagi. Pria paruh baya itu adalah Manaf Gustav Archey.


Ketika Manaf tengah berperang dengan berkas-berkas laporannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk!" teriak Manaf dari dalam.


Cklek!


Pintu dibuka dan masuklah seorang laki-laki yang tak lain adalah asisten dari Manaf.


"Maaf, tuan!"


Manaf langsung berhenti dari pekerjaannya dan menatap wajah asistennya itu.


"Duduklah, Radit."


"Terima kasih, tuan!


Setelah itu, Radit pun menduduki pantatnya di kursi di depan meja kerja tuannya.


"Ada apa?" tanya Manaf lembut.


Manaf menatap dengan penuh penasaran asistennya.


"Apa? Katakan."


"Begini, tuan. Perusahaan Micro Sinopec membatalkan semua perjanjian kerjasama dengan perusahaan kita, tuan!"


Mendengar perkataan dari asistennya. Seketika Manaf terkejut dan juga syok. Dirinya tidak menyangka jika perusahaan Micro Sinopec tiba-tiba membatalkan semua perjanjian kerjasama dengan perusahaan miliknya.


"Kenapa? Bukankah selaman tiga tahun ini bekerja sama dengan perusahaan itu. Kita tidak membuat masalah. Bahkan aku tidak melakukan kecurangan apapun."


"Iya, tuan. Saya tahu."


"Apa alasan dari pemilik perusahaan Micro Sinopec itu tiba-tiba membatalkan kerjasama ini?" tanya Manaf dengan menatap wajah asistennya.


"Maaf sebelumnya, tuan!"


"Ada apa? Katakan saja."


"Ini... Ini ada hubungannya dengan nona muda, tuan!"


"Lusiana? Aprilia?" tanya Manaf.


"Nona Lusiana, tuan."


"Kali ini apa yang sudah diperbuat olehnya?"


"Lebih baik tuan lihat ini. Dengan begitu tuan bisa tahu awal kejadiannya," ucap asisten itu sembari memperlihatkan sebuah video yang ada di ponselnya kepada atasannya.


Manaf langsung mengambil ponsel dari asistennya itu, lalu melihat sebuah video.


Detik kemudian...


"Brengsek! Dasar anak tidak tahu diri."


Manaf terlihat marah terhadap putrinya. Dirinya benar-benar malu memiliki putri yang tidak memiliki sopan santun dan tutur kata yang tak baik sama sekali.


"Kirim video itu ke ponselku."


"Baik, tuan."


Setelah itu, Manaf pergi meninggalkan ruang kerjanya. Dirinya ingin segera pulang ke rumah untuk memberikan pelajaran dan juga hukuman untuk putrinya.


***


"Mama tidak tega melihat Erica yang saat ini," ucap Agneta.


"Aku juga nggak tega lihat Erica," sela Carissa.

__ADS_1


"Darren," panggi Erland.


Darren tidak mendengar panggilan dari ayahnya. Pikirannya saat ini tengah berperang memikirkan Erica. Apalagi ketika mendengar perkataan dari Erica yang mengatakan bahwa putri angkatnya itu melihat kejadian pembunuhan kedua orang tua kandungnya.


Melihat keterdiaman Darren membuat Erland dan yang lainnya menjadi khawatir. Mereka tidak ingin Darren kembali jatuh sakit hanya karena memikirkan masalah Erica.


"Darren, sayang." Erland kembali memanggil putranya itu.


Dan kali ini panggilannya membuahkan hasil. Putranya itu langsung melihat kearah dirinya.


"Papa memanggilku?" tanya Darren.


Erland tersenyum mendengar pertanyaan dari putranya. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Ada apa, hum? Papa sudah 100 kali memanggil kamu. Tapi kamu nya nggak dengar," ucap dan tanya Erland sembari menjahili putranya itu.


"Hah!" Darren seketika melotot dengan bibir yang berbentuk o ketika mendengar perkataan ayahnya.


Melihat reaksi dari Darren. Seketika mereka semua tersenyum gemas.


Bagaimana tidak gemas. Wajah Darren saat ini seperti anak kecil yang berusia 5 tahun. Bahkan kegemasan wajah Darren mengalahkan wajahnya Erica.


"Biasa aja kali wajahnya. Jelek tahu," ucap Erland.


Mendengar perkataan dari ayahnya. Seketika Darren langsung memanyunkan bibirnya


"Aish!"


"Sekarang katakan pada Papa. Ada apa? Apa terjadi sesuatu terhadap Erica? Kenapa Erica berteriak tadi?" tanya Erland.


Darren menatap wajah ayahnya dan wajah semua anggota keluarganya satu persatu.


"Erica teringat akan kedua orang tua kandungnya. Dan.....," Darren terhenti.


"Dan apa, Ren?" tanya Tristan.


"Erica sempat melihat kejadian dimana kedua orang tua kandungnya dibunuh," jawab Darren.


"Apa?"


Mereka semua terkejut dan juga syok ketika mendengar jawaban dari Darren. Mereka semua tidak menyangka jika Erica melihat kejadian naas itu.


"Ini semua gara-gara perempuan sialan itu," ucap Darren.


"Jadi Erica sudah cerita ke kamu?" tanya Darka.


"Sudah, kakak Darka."


"Apa? Katakan," ucap Davin.


"Intinya, Erica bilang jika perempuan itu menyebut kedua orang tuanya itu orang tua yang buruk. Orang tuanya selalu mengajarkan hal-hal buruk terhadap Erica. Bahkan lebih parahnya lagi, perempuan itu mengatakan Erica bisa berada di acara Pameran Lukisan kemarin itu karena paksaan dari kedua orang tuanya agar mendapatkan makanan yang enak."


Lagi-lagi Erland dan anggota keluarga lainnya terkejut mendengar perkataan dari Darren. Mereka tidak menyangka jika perempuan itu bisa berbicara seperti itu kepada Erica.


"Benar-benar tuh perempuan. Apa sih yang ada di otaknya sehingga bisa berbicara seperti itu terhadap anak kecil," ucap Davian.


"Oh iya, Ren! Ini kakak Gilang yang salah dengar atau bagaimana," ucap Gilang.


"Ada apa, kakak Gilang?" tanya Darren.


"Ketika kita di kamar Erica. Kakak sempat dengar perkataan Erica sebelum Erica tertidur."


"Apa kakak Gilang mendengar jika Erica menyebut Paman jahat?" tanya Darren yang tahu maksud dari perkataan kakaknya itu.


"Iya, Ren!" Gilang langsung mengiyakan pertanyaan dari adik laki-lakinya itu.


"Kakak Davin juga dengar, Ren!" sela Davin.


"Kami juga dengar," sahut semua anggota keluarganya.


"Aku akan menyelidiki masalah ini. Dan aku akan meminta bantuan dengan kakak Enzo," ucap Darren.


Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.


Melihat tatapan mata Darren yang menatap mereka satu persatu membuat mereka semua paham.


"Ada apa, sayang? Katakanlah," ucap dan tanya Erland yang mengerti.


"Aku minta tolong kepada kalian untuk lebih memperhatikan Erica untuk beberapa hari ke depan. Aku sangat yakin jika Erica masih teringat dengan kedua orang tua kandungnya. Dan juga aku mungkin sedikit sibuk untuk satu bulan ini sehingga tidak ada waktu untuk Erica."


"Kalau Papa boleh tahu. Apa yang sedang kamu kerjakan?" tanya Erland.


"Aku dan ketujuh sahabatku sudah mulai untuk menyelesaikan pekerjaan kami masing-masing. Dan untuk besok kami akan menguji coba mobil BMWX di serkuit."


Mendengar perkataan dari Darren. Seketika mereka semua menatap Darren. Tatapan mata mereka tersirat kekhawatiran.


"Kalian tidak perlu khawatir. Kali ini aku tidak akan ikut dalam uji coba itu. Begitu juga dengan sahabat-sahabatku."


Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua bingung.


Melihat wajah bingung dari anggota keluarganya. Seketika Darren tersenyum.


"Maksud dari perkataanku tadi adalah bahwa uji coba kali ini kami menggunakan komputer. Jadi dengan menggunakan sistem komputer, mobil-mobil itu bisa jalan sendiri."


Mereka semua terkejut, syok dan juga tertegung ketika mendengar jawaban dari Darren yang mengatakan bahwa mobil-mobil itu bergerak dan jalan menggunakan sistem komputer.


"Wah, Ren! Kamu benar-benar hebat. Kakak Daffa bangga sama kamu," puji Daffa.


"Biasa aja kali," jawab Darren merendah.


"Kamu bisa saja merendah. Tapi kakak Daffa benar-benar bangga sama kamu."

__ADS_1


"Terima kasih."


__ADS_2