KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Rasa Malu Talia


__ADS_3

Davin seketika terkejut ketika melihat orang yang sama sekali tidak ingin dilihat lagi seumur hidupnya. Bahkan tatapan mata Davin menunjukkan tatapan penuh kebencian dan juga dendam yang begitu besar terhadap orang itu.


"Wah! Kita memang berjodoh ya!"


Sementara Davin hanya acuh dan sibuk dengan ponselnya. Davin sama sekali tidak mempedulikan kehadiran gadis itu.


Gadis itu adalah Talia, mantan tunangannya dulu.


Talia kembali mengejar cintanya Davin ketika dia tahu bahwa mantannya itu ternyata putra sulung dari keluarga Smith.


Baik Talia maupun seluruh keluarga besarnya tahu siapa itu keluarga Smith. Keluarga Smith adalah keluarga yang sangat kaya dan terkenal nomor satu di dunia dan di Jerman.


Talia saat ini sudah duduk di salah satu kursi kosong yang ada di hadapan Davin.


Setelah menduduki pantatnya di kursi, Talia menatap wajah tampan Davin, mantan tunangannya itu.


"Kita bertemu lagi, Davin. Ini adalah pertemuan kedua kita. Dan untuk pertemuan pertama kita tiga hari yang lalu aku anggap tak terjadi apa-apa."


Davin hanya diam dan tak berniat untuk menjawab atau sekedar melayani obrolannya.


"Davin, kamu tahu tidak. Sampai detik ini, aku masih mencintai kamu. Aku sadar bahwa aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Ketika kamu pergi meninggalkan aku. Duniaku benar-benar hancur."


"Davin, aku....."


"Lebih baik kau pergi dari sini. Aku sudah sangat jijik melihat wajahmu." Davin berucap begitu kejam tanpa melihat wajah Talia.


Sementara Talia seketika terkejut ketika mendengar perkataan dari Davin.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu kepadaku, Davin? Tidak bisakah kau berbicara lembut sedikit terhadapku?" tanya Talia.


"Wanita sepertimu tidak bisa diajak bicara baik-baik," jawab Davin.


Mendengar perkataan kejam dari Davin membuat hati Talia sakit.


Sejujurnya, sejak pertemuan pertama Talia dengan Davin. Sejak itulah hati Talia seketika merasakan getaran. Apa yang dirasakan oleh Talia sekarang ini beda dengan perasaannya dulu.


Perasaan Talia ketika bertemu kembali dengan Davin adalah perasaan cinta yang sesungguhnya. Hatinya mengatakan bahwa dia benar-benar jatuh cinta terhadap Davin.


Talia sadar bahwa dulu dia dan seluruh anggota keluarganya telah menipunya. Bahkan dia dan seluruh anggota keluarganya telah memanfaatkannya.


Sekarang ini Talia benar telah jatuh cinta. Cinta yang sesungguhnya terhadap Davin.


Namun sayangnya, rasa cinta Talia tidak akan pernah lagi bisa membuka hati seorang Davin yang sudah lama terkunci rapat. Sekali pun nanti hati itu bisa terbuka kembali. Yang jelas wanita itu bukanlah Talia. Justru wanita lain.


"Davin, aku...."

__ADS_1


Brak..


Davin tiba-tiba bangkit dari duduknya bersamaan dengan gebrakan meja yang cukup keras sehingga membuat Talia dan para pengunjung yang ada di cafe itu terkejut.


Davin menatap tajam wajah Talia sehingga membuat wanita itu ketakutan.


"Sudah berapa kali aku bilang kepadamu. Aku sudah tidak ingin memiliki hubungan apa-apa lagi denganmu! Aku sudah tidak sudi memiliki hubungan denganmu! Aku bahkan jijik menatap wajahmu!" teriak Davin di hadapan Talia sembari jari telunjuknya menunjuk kearah Talia.


Para pengunjung cafe terkejut ketika mendengar perkataan kejam dari Davin. Mereka semua tidak menyangka jika Davin akan berbicara seperti itu terhadap seorang perempuan.


"Hei, tuan! Tidak sepantasnya anda berbicara seperti itu terhadap seorang perempuan. Bagaimana pun anda terlahir dari rahim seorang perempuan," tegur seorang wanita paruh baya.


Sebagai pengunjung cafe itu menatap jijik kearah Davin. Dan menatap simpati kearah Talia.


Mendengar perkataan dan teguran dari dari seorang wanita yang bisa Davin lihat bahwa wanita itu seusia dengan ibunya.


"Anda tidak tahu apa-apa. Jadi, jangan ikut campur dalam masalah ini." Davin membalas perkataan wanita itu.


"Memang saya tidak tahu permasalahan anda dan perempuan itu. Bahkan pengunjung yang lain juga sama seperti saya. Tapi setidaknya, berbicaralah dengan baik-baik. Tidak seperti tadi."


Davin tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar perkataan dan nasehat dari wanita itu.


"Anda lucu sekali nyonya. Anda bukan siapa-siapa saya. Tapi sudah berani mengatur saya." Davin menatap remeh wanita itu.


Davin berbicara dengan kejamnya dan dengan suara yang sedikit keras. Serta dengan tatapan matanya yang menatap tajam orang-orang yang ada di dalam cafe.


Sementara orang-orang yang ada di dalam cafe terkejut ketika mendengar perkataan kejam dari Davin.


"Aku beritahu kepada kalian semua, terutama anda nyonya! Ibu saya selalu mengajarkan saya untuk bersikap baik kepada siapa pun. Salah satunya adalah kepada perempuan. Jika perempuan itu semena-mena terhadap kita pihak laki-laki. Apa kami sebagai pihak laki-laki tidak memiliki hak untuk membalasnya?"


"Apa kami harus diam saja ketika kami disakiti?"


Davin memberikan pertanyaan kepada para pengunjung cafe dengan menatap tajam semuanya.


"Tidak."


Seorang pengunjung laki-laki langsung menjawab pertanyaan dari Davin.


Davin dan pengunjung cafe lainnya, termasuk Talia melihat kearah laki-laki itu.


"Kita sebagai laki-laki jangan mau diinjak-injak harga dirinya oleh seorang perempuan. Jika perempuan tersebut sudah semena-mena terhadap kita, maka kita punya hak untuk membalasnya. Pembalasan dilakukan dengan dua cara. Pertama dengan kita memberikan tamparan di wajahnya. Dan kedua dengan ucapan."


Mendengar jawaban yang memuaskan dari laki-laki itu membuat Davin tersenyum bahagia.


"Berarti saya tidak salah atas apa yang barusan saya lakukan terhadap perempuan ini?" tanya Davin sembari menunjuk kearah Talia.

__ADS_1


"Sebelum saya menjawab pertanyaan anda. Apa saya boleh tahu kesalahan perempuan itu?"


Davin tersenyum. "Tentu. Perempuan ini adalah mantan tunanganku. Nama perempuan ini adalah Talia Arie Norin. Saya berpacaran dengan perempuan ini sejak kuliah dulu. Satu tahun pacaran. Aku dan perempuan ini memutuskan untuk bertunangan. Namun diam-diam di belakangku, perempuan murahan ini bermain dengan laki-laki lain yang lebih kaya dibandingkan diriku."


"Jadi maksud anda bahwa dulu anda hanya pemuda biasa sehingga membuat perempuan itu bosan dan mencari pengganti anda yang lebih dari anda. Begitu?"


"Tepat sekali," jawab Davin.


Semua pengunjung cafe itu terkejut. Mereka tidak menyangka akan mendapatkan jawaban tersebut dari Davin.


"Sekali pun dulu saya hanya pemuda biasa. Tapi perempuan ini bahkan keluarganya sudah banyak menikmati uang pemberian dari saya. Justru sayalah yang banyak membantu perempuan ini dan semua anggota keluarganya disaat mereka mendapatkan masalah. Kalau saya hitung-hitung jumlah uang yang saya keluarkan untuk perempuan ini dan juga untuk keluarganya itu bisa membeli tiga unit mobil dan dua unit rumah mewah."


Seketika semua pengunjung cafe itu terkejut ketika mendengar perkataan dari Davin. Mereka syok ketika mengetahui jumlah uang yang dikeluarkan oleh Davin untuk membantu Talia dan keluarganya.


"Tapi sayangnya, kebaikan dan ketulusan saya dikhianati oleh perempuan ini. Begitu juga dengan keluarganya. Di hari dimana aku ingin memperkenalkan perempuan ini kepada keluarga besarku ternyata sudah terlebih dahulu memperkenalkan pacar barunya kepadaku. Dengan bangganya perempuan ini mengatakan bahwa laki-laki itu adalah calon suaminya."


Lagi-lagi para pengunjung cafe terkejut dibuatnya. Pengakuan Davin benar-benar membuat mereka terkejut.


"Dan kalian mau tahu tujuan perempuan ini kembali lagi kepadaku?"


"Apa? Katakan kepadaku dan kami semua," ucap laki-laki yang membela Davin.


"Karena perempuan ini telah mengetahui bahwa aku adalah putra sulung dari Erland Faith Smith!"


Laki-laki itu terkejut ketika mendengar nama belakang yang disebutkan oleh Davin. Begitu juga dengan para pengunjung cafe lainnya.


Mereka semua tahu siapa itu keluarga Smith. Bahkan mereka semua juga tahu, selain keluarga Smith. Ada tujuh keluarga lainnya yang setara dengan keluarga Smith.


"Jadi anda...."


"Iya. Saya adalah Davin Aldan Smith, putra sulung dari Erland Faith Smith. Dulu ketika saya kuliah, saya tidak menggunakan marga Smith. Saya juga tidak tinggal bersama keluarga saya. Saya tinggal di sebuah kontrakan bersama adik laki-laki kedua saya yaitu Andra."


"Alasan saya hanya satu. Saya ingin mencari pasangan yang benar-benar mau menerima saya apa adanya. Ketika saya bertemu dengan perempuan ini, awalnya saya berpikir dia perempuan baik-baik. Ternyata saya salah. Dia ternyata perempuan murahan yang pekerjaannya selalu menggoda dan merayu laki-laki yang kaya raya."


Mendengar perkataan dari Davin membuat para pengunjung cafe menatap jijik kearah Talia.


Sementara Talia tidak bisa berkutik sama sekali saat ini. Dia benar-benar malu karena Davin membongkar aibnya.


"Aku peringatkan kepada kalian. Berhati-hatilah terhadap perempuan ini dan juga keluarganya. Bukan hanya perempuan ini saja. Keluarganya juga melakukan hal yang sama dengan perempuan ini. Karena itu memang pekerjaan sehari-hari mereka. Mereka mendapatkan uang dengan cara merayu dan menggoda laki-laki atau perempuan yang kaya raya. Keluarga perempuan ini adalah keluarga Norin dan untuk keluarga dari pihak ibunya adalah keluarga Aldama."


Davin menatap wajah Talia yang saat ini benar-benar malu atas ulah Davin.


"Inilah akibatnya jika kau masih terus menggangguku dan mencoba merayuku. Setelah ini aku berharap kau pergi jauh dari kehidupanku."


Setelah mengatakan kata itu, Davin pun memutuskan pergi meninggalkan cafe tersebut.

__ADS_1


__ADS_2