
[KEDIAMAN KELUARGA SMITH]
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Saat ini anggota keluarga Smith sedang berkumpul di ruang tengah setelah setengah jam yang lalu melakukan makan malam bersama, kecuali Darren.
"Oh iya. Darren mana?" tanya Evan yang tidak melihat keberadaan Darren.
Evan memang belum tahu jika Darren belum pulang karena Evan pagi-pagi sekali sudah berangkat ke Perusahaannya.
"Kak Darren belum pulang, Paman!" jawab Adrian.
"Apa?" Evan terkejut mendengar jawaban dari Adrian. "Apa itu benar, kak Erland?" tanya Evan pada kakak iparnya.
"Iya, Evan."
"Darren sudah memberitahu kami. Ach, lebih tepatnya memberitahu Bibi Carissa." Andra menyela.
"Carissa."
"Iya, sayang! Darren bilang, dia akan pulang sekitar pukul 1 pagi karena harus menyelesaikan semua pekerjaannya. Ditambah lagi besok adalah hari pentingnya," kata Carissa.
"Hari penting?" ulang Evan.
"Besok ada acara Pameran Lelang Lukisan, Papa! Darren termasuk salah satunya dalam peserta pelelangan itu," kata Daffa.
Seketika wajah Evan berubah sendu. Melihat perubahan ekspresi wajah Evan membuat mereka semua bingung dan juga khawatir.
"Kenapa, sayang? Apa kau tidak senang dan bangga jika keponakan kesayanganmu itu ikut dalam acara tersebut? Bukankah kau selalu memberikan dukungan padanya," ucap dan tanya Carissa.
"Bukan begitu, Carissa."
"Lalu apa?"
"Aku hanya takut jika terjadi sesuatu pada Darren, Carissa!"
"Apa maksud, Paman? Kenapa Paman bicara seperti itu?" tanya Andra.
"Paman hanya takut jika Darren kembali jatuh sakit. Darren itu tidak boleh kelelahan dan juga banyak pikiran. Darren itu gampang sekali jatuh sakitnya, beda dengan kalian semua yang jarang sakit. Ditambah dengan sifat keras kepalanya. Jika Darren sudah berada kantornya dan bergelut dengan semua pekerjaannya, Darren itu akan lupa waktu. Bahkan Darren juga akan mengabaikan waktu makannya. Dan Paman juga memikirkan kondisi kesehatan..." ucapan Evan terpotong.
"Kesehatan jantungnya." Darka melanjutkan perkataan dari pamannya sembari menatap satu persatu wajah anggota keluarganya itu.
Mereka yang mendengar ucapan dari Darka langsung terdiam. Melihat keterdiaman anggota keluarganya, Darka tersenyum kecut.
"Kenapa? Baru sadar jika putra dan adik kalian dalam keadaan sakit, hum?" tanya Darka sinis dengan menatap wajah Ayahnya, Ibunya dan saudara-saudaranya, kecuali Gilang.
"Kenapa kau bicara seperti itu, Darka?" tanya Davin.
"Memangnya kenapa? Apa ucapanku salah? Memang benarkan jika kalian lagi-lagi melakukan kesalahan terhadap Darren. Kalian melupakan fakta bahwa Darren sedang sakit dan kondisi kesehatan Darren saat ini tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Apa kalian berniat ingin membunuhnya, hah?!" bentak Darka.
"Darka!" bentak Andra.
Darka tidak mempedulikan bentakkan dari Andra. Justru Darka menatap tajam ke arah Andra.
"Aku benar-benar muak melihat kalian. Lagi-lagi kalian menyakiti adikku. Lagi-lagi kalian membuat adikku menangis. Apa belum puas kalian menyakitinya dulu sehingga kalian kembali menyakitinya!" teriak Darka.
"Darka. Tidak ada yang menyakiti Darren disini. Kami semuanya menyayangi Darren," sela Dzaky.
"Kami memang pernah melakukan kesalahan pada Darren. Kami tahu akan hal itu, Darka! Tapi kami disini benar-benar menyesal atas apa yang kami lakukan dulu. Dan kami benar-benar tulus meminta maaf pada Darren," sahut Adnan.
"Jika kalian memang benar-benar menyesali perbuatan kalian itu. Jika kalian memang benar-benar tulus meminta maaf pada Darren dan ingin memperbaiki hubungan kalian dengannya. Tidak begini caranya. Kalian terlalu memaksakan kehendak kalian pada Darren sehingga kalian tanpa sadar telah menyakitinya. Kalian membuat Darren tertekan saat Darren kembali ke rumah ini. Kalianlah yang sudah membuat Darren kembali jatuh sakit." Darka berbicara sembari berlinang air mata. Darka menangis.
"Darka." Gilang menarik tubuh Darka ke dalam pelukannya. Dan tangisan Darka pun pecah.
"Gil," isak Darka.
"Semua akan baik-baik saja, Darka!Tidak akan terjadi apa-apa terhadap Darren. Percayalah!" hibur Gilang.
"Aku takut, Gil! Aku takut. Mama sudah pergi meninggalkan kita. Aku... aku tidak ingin Darren juga pergi. Darren sakit, Gil! Sakitnya Darren bukan sakit biasa."
Mereka semua yang mendengar ucapan dari Darka menjadi sedih, terutama Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky dan Adnan. Di dalam hati mereka juga merasakan ketakutan akan kehilangan. Mereka tidak ingin kehilangan lagi untuk yang kedua kalinya.
"Iya, aku tahu. Justru itulah tugas kita. Kita akan menjaganya. Kita akan selalu ada untuknya. Kita akan membuat adik bungsu kita itu tersenyum kembali dan membuatnya bermanja-manja lagi dengan kita seperti dulu. Kau maukan membantuku?"
"Baiklah. Demi Darren aku akan melakukan apapun untuknya," jawab Darka mantap.
Gilang tersenyum, begitu juga dengan yang lainnya.
"Bibi akan menghubungi Darren. Bibi hanya ingin memastikan bahwa anak kelinci itu tidak melupakan waktu makannya dan juga istirahatnya," ucap Carissa.
Mendengar penuturan dari Carissa membuat Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka dan kelima adik-adik mereka mendengus kesal. Mereka tidak terima jika sang Bibi menyebut adik/kakak mereka dengan sebutan kelinci.
"Adikku itu manusia bukan kelinci," batin Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka.
"Dasar psikopat tua," batin Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
"Aish! Panggilanku dimatikan begitu saja oleh anak kelinci itu," kesal Carissa.
"Hahahaha." tawa Darka meledak seketika. "Mungkin Darren sudah tahu kalau Bibi Carissa berencana akan memberikan sebuah ceramah yang akan memakan waktu berjam-jam. Dari pada harus mendengar ceramah yang tak penting dari Bibi, makanya Darren langsung mematikan panggilannya," sahut Darka dengan lantangnya.
Setelah mengatakan hal itu, Darka langsung pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya. Sementara Carissa sudah kesal atas ucapan dari Darka.
"Dasar keponakan laknat."
__ADS_1
Mereka semua tersenyum melihat kekesalan Carissa.
"Ya, sudah! Kalau begitu kita istirahat saja. Bukankah besok kita semua juga akan datang keacara Pameran tersebut!" seru Evan.
Mereka semua pun mengangguk. Dan setelah itu mereka semua pergi ke kamar masing-masing.
***
[KEDIAMAN DARREN]
Keesokan paginya di kediaman mewah milik Darren dimana ketujuh sahabatnya berada di rumahnya saat ini. Setelah mereka semua menyelesaikan pekerjaan masing-masing, mereka memutuskan untuk datang ke rumahnya dan menginap disana sembari menemani Darren.
Saat ini Axel, Jerry, Dylan, Qenan, Willy, Rehan dan Darel berada di ruang tengah. Sementara Darren masih di dalam kamarnya.
Willy juga sudah menceritakan semuanya pada sahabat-sahabatnya tentang kondisi terakhir Darren.
"Jadi bagaimana?" tanya Willy.
"Aku sih setuju-setuju saja. Asal Darren bahagia, aku tidak keberatan dengan rencana ini. Tapi kalau boleh jujur, aku tidak tega melihat Paman Erland yang harus menjauh dari Darren," ucap Dylan.
"Kalau dibilang tidak tega. Aku juga tidak tega harus menjauhkan Darren dari keluarganya. Apalagi Paman Erland. Tapi mau bagaimana lagi. Ini demi kesehatan Darren," sela Willy.
"Aku setuju dengan Willy. Coba kalian pikir. Selama 6 Bulan lebih Darren meninggalkan keluarganya. Hidup Darren baik-baik saja. Darren selalu happy. Kita tidak pernah melihat Darren bersedih atau pun menangis. Walau pun kita pernah melihat Darren pingsan, itu karena Darren terlalu memforsir tenaganya setiap kali dia bekerja. Dan masalah jantungnya. Darren selalu baik-baik saja dan jantungnya tidak pernah kambuh," tutur Qenan.
Mereka semua mengangguk dan membenarkan ucapan Qenan.
"Hm! Kau benar, Qenan. Semenjak Darren kembali pulang ke rumah keluarganya dan tinggal beberapa hari disana. Justru Darren sering jatuh sakit. Dan jantungnya sering kambuh. Pertama jantungnya kambuh saat Darren jatuh dari motornya karena menghindari kak Darka," sahut Darel.
"Kedua saat di Shoowroom. Saat itu aku dan Darren sedang mengecek mobil-mobil yang akan diuji coba, lalu Darren mendapatkan telepon dari salah satu kakaknya. Setelah itu, Darren tiba-tiba merasakan sakit di bagian dadanya," jelas Axel.
"Dan yang ketiga disini, di rumah ini. Saat Bibi Celsea membantu Darren untuk menuju ke kamarnya. Tiba-tiba Darren merasakan sakit di dadanya dan berakhir tak sadarkan diri," tambah Willy.
"Berarti deal? Untuk sementara ini kita menjauhkan Darren dari keluarganya, kecuali Bibi Carissa, Paman Evan, kak Daffa, kak Tristan dan kak Davian," ujar Rehan.
"Deal!" seru mereka semua.
"Ya, sudah! Lebih baik kita bersiap-siap untuk ke acara Pameran Lelang Lukisan!" seru Axel.
"Kalau begitu aku dan Rehan akan pergi terlebih dahulu ke lokasi!" seru Darel.
"Hm." Axel, Qenan, Willy, Dylan dan Jerry menjawabnya dengan deheman dan anggukkan kepala.
"Aku akan ke kamar Darren dan kalian bersiap-siaplah," ucap Qenan.
Setelah mengatakan hal itu, Qenan langsung pergi menuju kamar Darren di lantai dua.
^^^
Qenan sudah berada di depan pintu kamar Darren. Qenan pun mengetuk pintu itu sebelum membukanya.
TOK!
"Ren. Ini aku Qenan. Aku masuk ya!"
"Masuklah, Qenan!"
CKLEK!
Qenan pun membuka pintu itu. Pintu kamar itu pun terbuka dan Qenan langsung melangkah masuk ke dalam.
Saat Qenan masuk ke dalam kamar Darren. Qenan melihat Darren sedang duduk di sofa sembari memangku laptop miliknya. Kemudian Qenan pun menghampiri Darren.
"Kau sedang apa, Ren?" tanya Qenan. Qenan pun langsung duduk di samping Darren.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Qenan. Darren memperlihatkan laptop miliknya pada Qenan. Qenan pun langsung melihat ke layar laptop milik Darren.
Beberapa detik kemudian, Qenan membelalakkan matanya saat melihat dan membaca beberapa berkas dilaptop milik Darren.
"Ren... Ini!"
"Iya. Bajingan itu sudah mulai bertindak. Ini adalah rencana keduanya."
"Rencana kedua? Maksudmu?"
"Rencana pertamanya adalah untuk masuk ke dalam Perusahaan Accenture. Karena rencananya gagal. Bajingan itu melakukan rencana kedua."
"Bagaimana ini, Ren? Jangan sampai bajingan itu berhasil merebut Perusahaan Ayah-ayah kita."
"Tenanglah, Nan! Bajingan itu tidak akan pernah berhasil merebut apa yang sudah ditakdirkan menjadi milik kita. Kita ikuti saja permainan bajingan itu. Sampai dimana bajingan itu mampu melakukannya. Kau tidak lupakan kalau kita memiliki lima kakak dari kelompok-kelompok mafia?"
"Tentu saja aku tidak lupa dengan mereka. Jangan bilang kalau me..."
"Iya." Darren langsung menjawabnya disaat Qenan sudah menyadarinya. Qenan tersenyum bahagia ketika menyadari hal itu.
"Kau tahu alasan Helena kembali?" tanya Darren menatap wajah Qenan.
"Yang jelas dia kembali hanya untuk memanfaatkan kekayaanmu lagi seperti dulu," jawab Qenan.
Darren tersenyum mendengar jawaban dari Qenan. "Itu salah satunya. Namun yang paling utama adalah dia bekerja sama dengan Samuel Frederick!"
"Cih! Dasar menjijikkan," kesal Qenan. "Apa yang akan kau lakukan pada wanita gila itu?"
__ADS_1
"Hm!! Kita lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan padanya. Yang pastinya baik kau dan yang lainnya pasti akan sangat puas dan bahagia."
"Baiklah. Aku akan menunggu hal itu. Ya, sudah! Bersiap-siaplah. Kau tidak lupakan hari ini adalah acara Pameran Lelang Lukisan?"
"Baiklah."
"Kalau begitu aku keluar."
"Hm."
***
[KEDIAMAN KELUARGA SMITH]
Kini seluruh anggota keluarga Smith akan bersiap-siap untuk sarapan pagi. Mereka semua telah berada di meja makan.
"Kalian makanlah dulu. Aku akan membangunkan Darren," ucap Darka.
Setelah mengatakan hal itu, Darka langsung pergi meninggalkan ruang makan untuk menuju kamar Darka.
"Semoga saja kak Darka berhasil membujuk kak Darren untuk sarapan pagi bersama dengan kita!" seru Melvin.
"Ya, semoga saja." para kakak-kakaknya menjawab.
^^^
Darka sudah di depan pintu kamar Darren, lalu kemudian tangannya langsung membuka pintu kamar Darren.
CKLEK!
Pintu pun terbuka, Darka langsung melangkah masuk.
"Darren, kakak....." ucapan Darka terhenti karena dirinya tidak menemukan keberadaan adiknya. "Darren dimana?" batin Darka. "Ach, mungkin Darren di kamar mandi," ucap Darka.
Darka pun pergi menuju kamar mandi untuk mengeceknya.
TOK!
"Darren. Apa kamu di dalam?"
Dikarenakan tidak sautan dari adiknya, Darka akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu itu.
CKLEK!
"Tidak dikunci," batin Darka. "Sepertinya Darren tidak ada di kamar mandi. Apa Darren tidak pulang semalam?" gumam Darka.
Darka akhirnya kembali ke bawah dikarenakan tidak menemukan adiknya.
^^^
Kini Darka sudah berada di ruang makan. Anggota keluarganya yang melihat kedatangannya tanpa Darren membuat mereka khawatir.
"Darka. Bagaimana?" tanya Gilang.
"Apa Darren mengusirmu dari kamarnya?" tanya Andra.
"Apa Darr....." ucapan Davin terpotong.
"Darren tidak ada di kamarnya," sahut Darka yang memotong ucapan Davin.
"Apa? Darren tidak ada di kamarnya?" tanya mereka semua kompak.
"Berarti Darren tidak pulang semalam," sela Davian.
"Jangan-jangan Darren tidak ingin kembali ke rumah ini lagi," ujar Adnan.
"Pasti saat ini kakak Darren ada di rumahnya," ucap Ivan.
Melihat kedua orang tuanya, kakak-kakaknya dan kelima adik laki-lakinya, Darka menanggapinya dengan tersenyum.
"Kalau memang Darren kembali pulang ke rumahnya sendiri. Aku sebagai kakaknya mendukung," pungkas Darka.
"Darka," ucap para kakak-kakaknya tak terima, kecuali Gilang.
"Aku setuju dengan Darka. Jika Darren di rumah ini, maka Darren akan merasa tertekan. Aku tidak akan membiarkan Darren tertekan hingga berujung jatuh sakit," ujar Gilang.
"Kenapa kalian jadi seperti ini?" tanya Davin.
"Kami melakukan hal ini semata-mata hanya untuk kebahagiaan Darren," jawab Darka.
"Kami tidak ingin melihat Darren kembali tersakiti. Cukup Darren tersakiti akan ulah kita dulu. Setidaknya aku melakukan ini sebagai penebus kesalahanku," ucap Gilang.
"Tidak ada yang ingin menyakiti Darren. Kita semua menyayangi Darren," sahut Andra.
"Kalian memang tidak menyakiti Darren secara langsung. Dengan sikap kalian terhadap Darren, itu sudah menunjukkan bahwa kalian menyakiti Darren. Seperti yang dilakukan oleh kak Davin kemarin," balas Darka.
"Jika kalian menyayangi Darren. Kalian pasti tahu apa yang diinginkan Darren saat ini. Keinginan Darren adalah KEBEBASAN. Biarkan Darren menentukan jalannya sendiri. Kita cukup mengawasinya dan menjaganya dari jauh," pungkas Gilang.
"Ya, sudah! Lebih baik kita sarapan dulu. Bukankah kita akan pergi ke acara Pameran Lelang Lukisan itu. Masalah Darren nanti kita bicarakan lagi!" seru Evan.
Akhirnya mereka semua pun memutuskan untuk memulai sarapan paginya. Setelah itu mereka semua akan pergi keacara Pameran Lelang Lukisan tersebut.
__ADS_1