KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Hukuman Untuk Soviana


__ADS_3

Di sebuah mansion terlihat seorang pemuda yang sedang menatap sebuah foto dimana terlihat seorang anak perempuan yang berusia sekitar 5 tahun. Pemuda itu adalah Elzaro Adelino.


El mengusap lembut foto itu. "Kathleen, kamu ada dimana sekarang? Aku bertahun-tahun mencarimu. Apa kau tidak merindukan saudara kembarmu ini, hum?"


"Tuhan. Aku mohon pertemukan aku dengan saudari kembarku. Berikan petunjuk padaku agar aku bisa menemukannya," batin Lino berdoa.


Ketika Lino sedang bersedih sembari menatap foto saudari kembarnya, tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi.


Lino langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah ponselnya berada di tangannya, Lino melihat nomor tak dikenal di layar ponselnya.


Karena rasa penasarannya, Lino pun menjawab panggilan tersebut.


"Hallo," jawab Lino.


"Hallo, Elzaro Adelino!"


Deg!


Lino terkejut ketika mendengar orang tersebut menyebut nama lengkapnya.


"Siapa kau?"


"Kau lupa padaku? Bukankah kita sudah bertemu beberapa hari yang lalu."


Mendengar jawaban dari si penelpon membuat Lino langsung mengetahuinya.


"Mau apa kau menghubungiku?"


"Aku ingin kau datang Cafe terkenal di Jerman. Sekarang! Kau tahukan cafenya?"


"Seenaknya saja kau memerintahku! Kau pikir, kau itu siapa?!"


"Datang saja. Aku tunggu. Lagian ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu. Dan ini ada hubungannya dengan kakak angkatmu."


Setelah mengatakan itu, si penelpon tersebut langsung mematikan panggilannya.


"Siapa dia? Kenapa dia bisa tahu nama lengkapku dan juga mengetahui tentang kakak Gavin?" batin Lino.


***


Di perusahaan ER'Land, seorang gadis tengah berjalan menyusuri ruangan yang ada di perusahaan. Gadis itu tengah membawa beberapa berkas di tangannya untuk diberikan kepada bos besarnya yaitu Erland Faith Smith. Gadis itu adalah Kathleen Johnson.


"Semoga Bos Erland puas dengan tulisanku dan beliau tidak kecewa," ucap Kathleen sembari tersenyum.


Ketika Kathleen sedang melangkah menuju ruang kerja bos besarnya, tiba-tiba seseorang menghalanginya.


"Soviana," ucap Kathleen.


"Sudah berani melawan ternyata," ucap Soviana dengan menatap nyalang Kathleen.


"Apa maksud kamu? Aku benar-benar tidak mengerti," ucap Kathleen.


Plak!


"Aakkhh!" Kathleen meringis merasakan perih di wajahnya.


Soviana tanpa berperasaan memberikan tamparan keras di pipi Kathleen.


"Kenapa kau menamparku?! Memangnya salahku apa?" bentak Kathleen.


"Kau itu perempuan brengsek dan tidak tahu diri!" Soviana.


"Jaga ucapanmu. Kalau aku brengsek? Lalu kau pantasnya disebut apa? Sejak aku kerja di perusahaan ini, aku tidak pernah mencari masalah denganmu. Kau saja yang selalu memperlihatkan sikap tak sukamu padaku!" bentak Kathleen.


Mendapatkan bentakkan dari Kathleen membuat Soviana tak terima. Soviana menatap penuh amarah dan juga kebencian terhadap Kathleen.

__ADS_1


"Semenjak kau bekerja di perusahaan ini. Kau sudah merebut semua perhatian karyawan. Begitu juga dengan Bos besar Erland, Bos Davin dan Bos Andra!" bentak Soviana.


"Seharusnya kau intropeksi diri. Bukannya menyalahkanku," jawab Kathleen.


Mendengar jawaban dari Kathleen membuat Soviana semakin marah.


Soviana hendak memberikan tamparan kedua ke pipi Kathleen. Namun ketika Soviana hendak melayangkan tangannya, tiba-tiba seseorang menahan tangannya dari arah belakang.


Seketika Soviana terkejut ketika tangannya ditahan oleh seseorang. Soviana berlahan melihat ke belakang. Soviana melihat seorang pemuda kini tengah menatap tajam kepadanya.


Pemuda itu melirik sekilas kearah Kathleen. "Kamu tidak apa-apa?"


"Aku baik-baik saja. Terima kasih," jawab Kathleen.


Pemuda itu tersenyum. Kemudian tatapan matanya kembali menatap Soviana.


"Kau itu berstatus sebagai karyawan disini bukan Bos. Jadi jaga sikapku," ucap pemuda itu.


Mendengar perkataan dari pemuda yang ada di hadapannya membuat Soviana marah.


Detik kemudian, Soviana menarik tangannya. Setelah itu. Soviana berbicara kasar bahkan menghina pemuda tersebut.


"Memangnya kau itu siapa, hah?! Jangan sok jadi pahlawan kesiangan. Apalagi menjadi pahlawan untuk perempuan murahan ini!" bentak Soviana dengan menunjuk kearah Kathleen.


Mendengar perkataan dari Soviana membuat pemuda itu menggelengkan kepalanya


"Hatimu terbuat dari apa? Dan otakmu kau isi dengan apa, hah?! Kenapa cara bicaramu dan kelakuanmu tak mencerminkan sebagai manusia. Kau itu tak layak disebut manusia. Kau lebih layak disebut sebagai iblis," sahut pemuda itu dengan tatapan amarahnya. Dan jangan lupa suaranya yang sampai terdengar dengan karyawan lainnya.


"Brengsek! Jaga ucapanmu itu!" bentak Soviana.


"Kenapa? Kau tak terima dikatakan seperti iblis? Kau lucu sekali ya. Menghina orang boleh. Tapi giliran dihina tak terima," ucap pemuda itu.


Semua karyawan melihat dan mendengar ucapan demi ucapan dari Soviana dan pemuda itu. Baik Soviana maupun semua karyawan belum mengetahui siapa pemuda itu, kecuali Kathleen. Hanya Kathleen yang sudah tahu siapa pemuda yang telah menolongnya.


Pemuda itu menatap salah satu karyawan laki-laki yang berdiri tak jauh darinya, lalu pemuda itu memanggil karyawan tersebut.


Karyawan laki-laki itu langsung melangkah mendekati pemuda itu, Soviana dan Kathleen.


"Iya, tuan!"


"Boleh aku minta tolong?"


"Silahkan, tuan!"


"Tolong panggilkan Bos Davin dan Bos Andra kemari."


"Baik, tuan."


Setelah itu, karyawan laki-laki itu pergi meninggal pemuda itu untuk menemui kedua Bosnya.


Beberapa menit kemudian, karyawan laki-laki itu datang bersama Davin dan Andra.


"Darka," panggil Davin dan Andra bersamaan.


Pemuda yang sedang bertengkar dan pemuda yang telah menolong Kathleen adalah Lian Darka Smith, adik laki-laki dari Davin Aldan Smith dan Diandra Smith.


"Sejak kapan kamu ada disini? Dan kenapa nggak langsung ke ruangan Papa atau ke ruangan kita berdua?" tanya Davin.


Mendengar pertanyaan dari salah satu Bosnya membuat Soviana menatap kearah Davin. Dirinya terkejut ketika mendengar ucapan Bosnya itu.


"Nanyanya nanti saja. Aku minta sama kakak Davin dan kakak Andra untuk menyelesaikan masalah yang sudah diperbuat oleh perempuan ini," ucap Darka dengan menunjuk tepat di wajah Soviana.


Davin dan Andra dengan kompaknya langsung melihat kearah Soviana.


"Kali ini apa yang kau perbuat?" tanya Andra dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Saya... Saya tidak....," perkataan Soviana terpotong karena Darka sudah terlebih dahulu bersuara.


"Perempuan ini sudah bersikap buruk terhadap karyawan yang bernama Kathleen. Dia juga sudah berani main tangan. Bahkan perempuan ini ingin melakukannya lagi. Tapi untung aku cepat menahannya."


Mendengar perkataan dari Darka. Seketika Davin dan Andra menatap wajah Soviana.


"Kamu sama sekali tidak menghargai saya dan juga mematuhi perintah saya, Soviana! Bukankah saya sudah mengatakan padamu sebelumnya. Saya meminta padamu untuk tidak bersikap buruk terhadap karyawan lain. Dan saya juga meminta padamu untuk mengurusi pekerjaanmu bukan mengurusi orang lain." Andra berbicara dengan menatap marah Soviana.


Davin menatap kearah Kathleen. Dirinya ingin bertanya kejadian yang sebenarnya.


"Kathleen, apa yang terjadi?" tanya Davin.


Darka menatap wajah cantik Kathleen. "Katakan saja yang sebenarnya pada Bosmu. Kau tidak perlu takut. Jika perempuan itu menyentuhmu, maka hidup akan segera berakhir."


Deg!


Mendengar perkataan dari Darka membuat Soviana terkejut dan juga ketakutan.


"Baiklah. Aku akan katakan. Tapi aku hanya mengatakan pada Bos Davin alasan Soviana menyerangku. Selebihnya, aku tidak akan mengatakan apapun."


"Tidak masalah," sahut Darka.


Kathleen menatap wajah kedua Bosnya secara bergantian.


"Soviana tiba-tiba menghadang jalan saya saat saya ingin ke ruangan Bos Davin. Ketika saya memintanya untuk minggir, tiba-tiba Soviana membentak saya dan mengatakan kalau saya sudah berani melawannya."


Mendengar penuturan dari Kathleen membuat Davin, Andra dan Darka langsung menatap wajah Soviana, terutama Andra.


"Apa kamu menuduh Kathleen yang telah mengadu tentang perlakuan kasar kamu kepada saya?" tanya Andra yang langsung mengerti arah dari ucapan Kathleen.


Seketika Soviana terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Bosnya itu.


"Kamu marah terhadap Kathleen karena kamu berpikir bahwa Kathleen yang telah melaporkan kelakuan kamu kepada saya."


"Sekarang saya katakan kepada kamu, saudari Soviana! Kathleen sama sekali tidak memberitahu saya atas apa yang kamu lakukan padanya. Saya tahu dari rekaman sebuah kamera pengintai yang terpasang di setiap sudut, koridor dan ruangan yang ada di perusahaan ini. Semua gerak-gerik karyawan-karyawan di perusahaan ini sudah terekam. Baik di dalam maupun di luar perusahaan."


Mendengar perkataan dan penjelasan dari Andra. Seketika tubuh Soviana menegang. Dirinya benar-benar terkejut atas perkataan Bosnya barusan.


"Kathleen, kamu ikut saya ke ruangan. Kamu juga Darka!"


"Baik," jawab Darka dan Kathleen bersamaan.


"Dan kamu Andra. Selesaikan masalah perempuan itu!"


"Baik, Kakak Davin."


Setelah itu, Davin pun pergi meninggalkan Andra dan Soviana. Dan diikuti oleh Darka dan Kathleen di belakang.


"Kesalahan kamu sudah sangat besar. Pertama, kamu tidak menghormati perintah saya dan tidak menghargai saya. Kedua, kamu sudah bersikap buruk terhadap terhadap karyawan yang posisinya dibawah kamu. Ketiga, kamu sudah berani main fisik. Jadi keputusan saya adalah.....," Andra sengaja menghentikan perkataannya sejenak. Matanya menatap tajam kearah Soviana.


"Kamu saya pecat dari perusahaan ini. Perusahaan ini sudah tidak membutuhkan karyawan seperti kamu. Sekarang kemasi semua barang-barangmu. Dan tinggalkan perusahaan ini."


"Satu lagi, jangan pernah mengusik Kathleen jika kau bertemu dengannya di jalan. Atau kau berniat untuk balas dendam. Jika aku mendapatkan informasi tentang kau yang masih mengusik Kathleen, maka hidupmu dan hidup keluargamu akan berakhir."


Mendengar perkataan dan juga ancaman dari Andra membuat Soviana benar-benar ketakutan.


"Kalian," panggil Andra kepada dua security.


Dua security itu pun langsung menghampiri Andra.


"Ada apa, Bos?"


"Bantu perempuan ini membereskan semua barang-barangnya. Dan pastikan perempuan ini benar-benar pergi dari perusahaan ini."


"Baik, Bos."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Andra pergi untuk menemui kedua saudaranya.


__ADS_2