KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Di Dunia Lain


__ADS_3

DRRTT!


DRRTT!


Terdengar suara dering ponselnya yang ada di saku celananya. Samuel langsung mengambil ponselnya itu.


Ponsel yang ada pada Samuel saat ini adalah ponsel baru. Ponsel lama milik Samuel hilang ntah kemana. Samuel baru menyadarinya ketika setelah berada di rumah sakit.


Disaat Samuel sadar bahwa ponselnya tidak ada padanya padahal Samuel sangat butuh ponselnya itu. Jadi dengan terpaksa Samuel meminta tangan kanannya untuk membelikan ponsel baru lengkap dengan nomor baru.


Samuel melihat nama tangan kanannya 'Morris' di layar ponselnya. Dan tanpa membuang waktu lagi, Samuel langsung menjawab panggilan dari tangan kanannya itu.


"Hallo, Morris. Ada apa?"


"...."


"Apa? Kamu yakin?"


"...."


"Kapan dia akan melakukannya?"


"...."


"Baiklah. Apa kau menyimpan nomor salah satu sahabat Darren?"


"...."


"Bagus. Kau hubungi dia setelah kau berbicara denganku. Dan kau ceritakan semua padanya apa yang kau dengar itu."


"...."


Setelah berbicara dengan Morris, tangan kanannya. Samuel langsung mematikan panggilannya.


"Selamat menikmati hidup barumu," batin Samuel.


***


Darren saat ini berada di sebuah taman yang luas dan juga indah. Di sekelilingnya di tumbuhi bunga-bunga yang sangat cantik.


Darren berada di tengah-tengah bunga-bunga indah itu. Seulas senyuman tercetak di bibir cantiknya.


"Taman ini adalah tempat aku bertemu Mama untuk pertama kalinya. Semoga kali ini aku bertemu Mama lagi," ucap Darren.


Darren melangkahkan kakinya menyusuri taman itu sembari menikmati indahnya bunga-bunga yang ada di sekitarnya.


Ketika Darren tengah asyik dengan dunianya, tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan panggilan seseorang.


"Darren sayang."


Darren langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar suara yang begitu lembut dan suara yang merdu memanggilnya.


Darren berlahan membalikkan badannya untuk melihat wajah orang yang memanggilnya itu. Darren tahu siapa orang itu.


Senyuman Darren makin lebar ketika tatapan matanya berpapasan dengan tatapan mata orang yang ada di hadapannya.


"Mama," panggil Darren.


Orang itu adalah Belva, wanita yang telah melahirkan Darren. Perempuan yang selama ini dirindukan oleh Darren.


Belva merentangkan kedua tangannya bermaksud agar putranya berlari dan memeluknya.

__ADS_1


Darren yang memang begitu sangat merindukan ibunya tidak membuang kesempatan itu. Darren langsung berlari ke dalam pelukan ibunya.


Belva tersenyum bahagia bisa bertemu lagi dengan putra bungsunya.


"Aku kangen Mama," ucap Darren di dalam pelukan ibunya.


"Mama juga kangen kamu, sayang." Belva membalas perkataan dari putranya sembari mencium pucuk kepala putranya itu.


"Mama."


"Ada apa, hum?"


"Boleh aku tinggal bersama Mama di sini?"


DEG!


Mendengar pertanyaan dari putranya membuat Belva terkejut. Dirinya tidak menyangka jika putranya akan bertanya hal itu padanya.


Tidak mendapatkan jawaban dari ibunya. Darren pun melepaskan pelukannya. Setelah pelukan terlepas, Darren menatap wajah cantik ibunya.


"Mama," panggil Darren.


Belva mengusap lembut ke dua pipi putih putranya, lalu menciuminya dengan sayang.


"Sebelum Mama menjawab pertanyaan kamu tadi. Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu, hum?"


"Eeemmm.... Baiklah!"


Setelah itu, Belva dan Darren pun pergi meninggalkan tempat tersebut untuk melihat keindahan taman yang ada di sekitar mereka.


Baik Belva maupun Darren. Keduanya saling berpegangan tangan layaknya orang pacaran, terutama Darren. Darren menggenggam jemari ibunya erat seakan-akan tidak ingin melepaskannya.


Semuanya telah berkumpul di ruang rawat Darren. Mereka adalah anggota keluarga Smith, ketujuh sahabat Darren dan kelima kakak-kakak mafianya.


Sementara untuk anggota keluarga dari ketujuh sahabat Darren sudah pulang setengah jam yang lalu.


Mereka semua memutuskan menginap di rumah sakit untuk menemani Darren sekalian membantu keluarga Smith di rumah sakit sewaktu ada masalah.


"Kangen sama teriakan anak kelinci itu!" seru Dylan.


"Iya, nih! Aku juga kangen sama kejahilan Darren," sahut Darel.


"Darren betah banget tidurnya. Kalau malam ini Darren gak bangun juga. Berarti besok masuk tiga hari Darren koma," tutur Qenan.


Mereka saat duduk di sofa yang ada di ruang rawat Darren. Dan sebagiannya duduk di bawah dengan beralaskan karpet bulu.


Sementara untuk Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Mereka duduk kursi samping ranjang Darren.


Adrian dan Nathan di sebelah kanan ranjang Darren. Sedangkan Mathew, Ivan dan Melvin di sebelah kiri ranjang Darren. Mereka sedari tadi mengajak Darren mengobrol.


Ketika mereka semua tengah membahas Darren, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.


"Kakak Darren!"


Mendengar teriakan dari Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Mereka semua beranjak dari duduknya dan berhamburan mendekati ranjang Darren.


"Anak-anak, ada apa sayang?" tanya Erland.


"Itu, Papa. Lihatlah! Kakak Darren menangis," jawab Adrian sembari menunjuk ke arah Darren.


Mereka semua melihat kearah Darren. Dan mereka dapat melihat air mata Darren yang mengalir dari sudut matanya.

__ADS_1


"Darren," lirih Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka. Mereka semua menangis ketika melihat adiknya menangis.


"Sayang." Erland mengusap lembut pucuk kepala Darren dan memberikan ciuman di keningnya.


Erland, Agneta, dan putra-putranya, Evan, Carissa dan ketiga putranya, ketujuh sahabatnya dan kelima kakak-kakak mafianya menangis melihat Darren yang menangis dalam keadaannya yang sedang koma.


Sedangkan Darren yang saat ini masih berada di alam bawa sadarnya kini tengah menangis di pelukan ibunya.


Darren berulang kali memohon pada ibunya agar dirinya diizinkan untuk tinggal bersama ibunya. Darren tidak ingin kembali lagi ke tempat asalnya.


Namun berulang kali pula keinginannya itu ditolak mentah-mentah oleh ibunya. Ibunya ingin dirinya kembali pulang.


"Darren, sayang. Ini Papa, Nak! Kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Erland khawatir dan juga ketakutan.


"Darren."


"Sayang."


"Kakak Darren."


"Ren."


Erland, Agneta, putra-putranya, Carissa, Evan dan ketiga putranya, ketujuh sahabat-sahabatnya Darren dan kelima kakak-kakak mafia Darren menangis melihat kondisi Darren yang saat ini tengah menangis.


Dan detik kemudian, Axel langsung berlari keluar dengan tujuan untuk memanggil ibunya. Dirinya saat ini benar-benar takut melihat Darren yang tiba-tiba menangis.


"Ren, kamu kenapa? Jangan buat Papa khawatir, sayang! Buka matamu, Nak!" Erland menangis melihat putranya masih meneteskan air mata dari sudut matanya. Tangannya tak henti-hentinya membelai pucuk kepalanya.


"Darren, sayang. Kamu dengar Mama, Nak!" Agneta juga tak kalah terisak melihat putranya meneteskan air mata dari sudut matanya. Sementara putranya itu masih setia memejamkan kedua matanya.


Tak jauh beda dengan keenam kakak-kakaknya, kelima adiknya, Paman dan Bibinya, ketiga kakak sepupunya, keenam sahabat-sahabatnya dan kelima kakak-kakak mafianya. Mereka juga terisak ketika melihat Darren yang meneteskan air matanya dengan mata yang masih terpejam.


"Ren! Ada apa denganmu?" tanya Qenan dengan suara lirihnya.


"Ren! Kami mohon bertahanlah demi kami," ucap Jerry.


"Jangan menyerah," ucap Dylan.


"Ren, jangan tinggalkan kami!" Rehan, Willy, Darel berucap di dalam hati masing-masing.


"Darren, bertahanlah!" batin Noe dan Enzo.


"Kau kuat, Darren! Dan kakak yakin hari ini kau akan segera membuka matamu," ucap Ziggy dengan menatap lekat tepat di mata Darren.


"Darren! Kami semua menunggumu bangun. Jadi kami mohon. Jangan menyerah," ucap Chico.


"Jangan nyerah, Darren!" batin Devian.


Ketika mereka semua bersedih menatap Darren, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara monitor EKG.


Mereka semua melihat keĀ  layar monitor EKG terlihat oleh mereka garis yang menunjukkan garis lurus.


Melihat hal itu, mereka semua berteriak histeris sembari memanggil nama Darren.


"Tidak!"


"Darren!"


"Darren!"


"Kakak Darren!"

__ADS_1


__ADS_2