
Chico dan kedua tangan kanannya saat ini berada di kediaman Antonius. Kedatangan Chico dan kedua tangan kanannya itu untuk membicarakan rencana pembalasan terhadap wanita yang sudah menjadi dalang dalam penculikan Yocelyn sehingga berakhir tragedi penembakan terhadap Darren.
Chico sudah memperlihatkan semua bukti tentang data-data perempuan yang menjadi dalang kejadian yang menimpa Yocelyn dan Darren kepada Eric selaku suami atau ayah dari Yocelyn, Dendra, Satria dan Jerry.
"Jadi Misca yang melakukan semua ini. Dan dia masih menyimpan rasa pada suamiku."
Yocelyn benar-benar terkejut ketika mengetahui dalang yang ingin mencelakainya dan Darren adalah Misca.
"Bukan hanya masih menyimpan rasa pada Paman Eric. Wanita itu juga iri akan kesuksesan yang Bibi raih selama ini. Dia merasa bahwa Bibi sengaja menyakitinya dengan cara selalu menggagalkan apa yang ingin dia lakukan." Chico menjelaskan secara detail tentang alasan Misca melakukan semua ini.
Mendengar penjelasan dan cerita dari Chico membuat Eric dan kedua putranya yaitu Dendra dan Satria marah.
"Papa! Kita tidak bisa diam saja. Kita harus balas perempuan sialan itu," ucap Satria.
"Apa yang dikatakan Satria benar, Pa! Saat kejadian itu aku dan Mama masih bisa selamat. Semua itu berkat bantuan Darren, Darel dan Rehan. Bahkan Darren mengorbankan dirinya untuk melindungiku," ucap Dendra penuh amarah.
Ingatan tentang kejadian itu kembali berputar di pikiran Dendra dimana ketika Darren yang menghadang peluru itu agar tidak mengenainya.
"Jangan sampai kejadian itu terulang lagi Pa! Dan jangan ada yang berkorban lagi," ucap Satria.
Mendengar perkataan dari Dendra dan Satria membuat Eric seketika mengepal kuat tangannya. Dia tidak menduga jika Misca nekat melakukan hal keji itu untuk memenuhi keinginannya dan rasa dirinya terhadap istrinya.
Setahu Eric, sebelum menikah dengan Yocelyn. Eric pernah mengatakan kepada Misca kalau cinta tidak bisa dipaksakan. Eric juga mengatakan kepada Misca bahwa dia sudah memiliki calon istri dan sebentar lagi akan menikah. Dia berbicara baik-baik kepada Misca. Dan tidak pernah bersikap kasar.
Dan yang membuat Eric lebih tak menyangka lagi akan perbuatan jahat Misca terhadap istrinya adalah Misca memiliki rasa iri terhadap istrinya. Bahkan Misca begitu dendam kepada istrinya.
"Chico," panggil Eric.
"Iya, Paman!"
"Hancurkan semua milik perempuan sialan itu sampai tak tersisa satu pun. Buat juga perempuan itu kehilangan semua pendukungnya. Buat semua orang yang selama ini dekat dengannya menjauhinya. Jangan ada satu pun dari mereka memberikan bantuan kepadanya."
Mendengar perkataan dari Eric membuat Chico dan kedua tangan kanannya yaitu Zidan dan Dirga tersenyum. Mereka benar-benar suka dengan ide licik Eric. Begitu juga dengan Dendra dan Satria.
"Baik, Paman! Aku, tangan kananku dan beberapa mafiosoku akan melakukan tugas ini sesuai rencana Paman," ucap Chico.
"Baiklah," balas Eric.
"Kau sudah berani mengusik keluargaku, Misca! Dan kau juga sudah melukai salah satu sahabat dari putra bungsuku. Tunggu apa yang sedang menantimu," batin Eric.
***
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry masih berada di rumah keluarga Darren. Mereka berada di rumah Darren sejak kemarin. Dengan kata lain, mereka semua menginap di rumah Darren.
"Apa kalian sudah mendapatkan kabar dari salah satu kakak-kakak mafia kita?" tanya Dylan.
"Masalah apa?" tanya Qenan dan Willy bersamaan.
"Masalah yang menimpa Bibi Yocelyn dan Kakak Dendra. Serta tertembaknya seekor anak kelinci yang gemas," jawab Dylan.
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel dan Jerry langsung tertawa keras ketika mendengar ucapan terakhir dari Dylan.
__ADS_1
"Hahahahaha."
Sedangkan Darren yang tadi fokus bermain game di ponselnya langsung memberikan tatapan tajam kearah Dylan.
Dylan yang mendapatkan tatapan tajam dari Darren bukannya takut. Namun justru Dylan tersenyum manis sembari jari-jarinya membentuk huruf V.
"Dasar kecebong busuk," ucap Darren.
Mendengar perkataan dari Darren membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel dan Jerry kembali tertawa.
Setelah mengatakan itu, Darren kembali menatap ke layar ponselnya. Dan melanjutkan permainan game nya.
Baru beberapa detik Darren fokus pada permainan game nya, tiba-tiba terdengar panggilan masuk dari ponselnya sehingga permainan gamenya terganggu.
Dan parahnya Game yang seharusnya dimenangkan oleh Darren seketika Game Over.
"Sialan! Kampret! Wakil Rektor bodoh! Mati saja kau!"
Darren seketika mengumpat dan menyumpahi Wakil Rektor nya itu. Dia benar-benar kesal.
Sementara Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry yang mendengar umpatan dan sumpah serapah yang keluar dari mulut Darren langsung menatap kearah Darren dengan mata yayang terbelalak.
"Lo kenapa, Ren?" tanya Darel.
"Diam lo. Gue matiin juga lo bareng si tua itu," jawab Darren asal.
Seketika Darel membelalak ketika mendengar ucapan dari Darren. Matanya menatap syok Darren.
"Kalau lo matiin gue. Lo bakal kehilangan sahabat yang paling tampan seperti gue ini," sahut Darel.
"Tampan gue lagi dari pada lo. Ketampanan gue nggak ada yang nandingin. Bahkan kalian aja kalah tampan sama gue," ucap Darren.
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry terkejut ketika mendengar ucapan Darren yang memamerkan ketampanannya. Mereka menatap syok Darren. Di dalam hati mereka masing-masing 'Bisa-bisanya anak kelinci ini membanggakan ketampanannya'.
Dan detik kemudian...
Bugh!
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry secara bersamaan melempi Darren dengan bantal sofa. Dan lemparan mereka tepat sasaran yaitu wajah tampan Darren.
Darren yang mendapatkan lemparan bantal sofa dari ketujuh sahabatnya mendengus.
Dikarenakan diabaikan oleh Darren. Panggilan dari wakil rektor itu terputus. Hal itu justru membuat Darren bahagia. Darren memang tidak berniat untuk menjawab panggilan dari wakil rektornya itu.
"Ren," panggil Willy.
"Apa?" Darren menjawab panggilan dari Willy dengan ketus.
"Yaelah, Ren! Ketus amat jawabnya," ucap Willy sembari mengelus dada.
"Terus lo maunya gue jawabnya kayak apa?" tanya Darren dengan tatapan matanya menatap Willy.
__ADS_1
"Yang lembutlah. Nggak ketus kayak tadi," jawab Willy.
"Lembut?" tanya Darren dengan menatap wajah Willy dengan kedua matanya kadang-kadang memicing dan kadang-kadang membesar.
Qenan, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry melihat cara Darren menatap wajah Willy menatap penuh curiga. Terutama Willy.
Ketika melihat Darren yang ingin mengatakan sesuatu. Willy langsung menghentikannya.
"Cukup sampai disini saja," sahut Willy.
Sedangkan Darren langsung merengut kesal karena aksinya dihentikan.
Ponsel Darren kembali berbunyi. Darren yang mendengar itu langsung melihat ke layar ponselnya. Tertera nama 'Elzaro' disana.
"Elzaro! Ngapain dia menghubungi gue?" batin Darren.
Darren langsung menjawab panggilan dari Elzaro tersebut.
Sementara Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry menatap kearah Darren sembari memasang pendengaran mereka.
"Hallo, El! Ada apa?"
"Lo dimana?"
"Di rumah. Kenapa? Jangan bilang kalau lo kangen sama gue."
"Siapa yang kangen sama bocah ingusan kayak lo. Jijik gue."
Mata Darren membelalak ketika mendengar ucapan dari Elzaro.
"Kalau lo nggak kangen sama gue. Terus ngapain lo nelpon gue? Asal lo tahu aja. Dari tadi gue lagi nungguin telepon dari bidadari gue. Mendengar ponsel gue bunyi. Awalnya gue udah senang. Gue pikir bidadari gue yang menelpon. Lah gue lihat ternyata patung pajangan."
Mendengar perkataan dari Darren membuat Elzaro mendengus kesal di seberang telepon.
Sementara Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Axel, Dylan dan Jerry menatap heran Darren. Sejak tadi ucapan dari sahabatnya itu tidak ada yang benar.
"Gue serius, Darrendra Smith!"
"Baiklah, Elzaro Adelino! Sekarang katakan!"
"Lo ada waktu nanti sore?"
"Ngapain lo nanya waktu gue? Oh, jangan-jangan benar nih!"
"Benar apa?"
"Kangen sama gue."
"Lama-lama gue tenggelamin juga lo ke laut, Ren!"
__ADS_1
"Hahahahaha."