KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Tatapan Curiga Darren


__ADS_3

Darren saat ini tengah diperiksa oleh Celsea ibunya Axel. Beberapa menit yang lalu setelah selesai melakukan tugasnya yaitu membasmi para musuh-musuhnya yang masih tersisa. Dan lima menit kepergian Ziggy dan kakak laki-lakinya yaitu Farraz Chaim meninggalkan ruang rawat Darren. Melvin tiba-tiba berteriak ketika melihat noda darah merembes dari sela baju rumah sakit yang dikenakan oleh Darren. Noda darah dari luka tembak di pinggang Darren.


Mendengar teriakan dari Melvin membuat anggota keluarganya, Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya terkejut. Bahkan mereka menatap khawatir Darren ketika melihat noda darah di baju Darren.


"Kamu ini habis ngapain sih? Kok bisa seperti ini lukanya?" tanya Celsea sembari mengobati luka di pinggang Darren.


"Aku nggak ngapa-ngapain," jawab Darren.


"Kalau nggak ngapa-ngapain. Kenapa bisa lepas gini jahitannya?" tanya Celsea.


"Mana aku tahu. Bibi tanyakan saja sama lukanya. Kenapa nanya padaku?" jawab Darren dengan entengnya.


Mendengar jawaban demi jawaban yang keluar dari mulut Darren membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut hanya bisa menghela nafas dan juga geleng-geleng kepala. Begitu juga dengan Celsea.


"Bibi Celsea," panggil Darren.


"Ada apa?" tanya Celsea dengan nada ketus.


Celsea sengaja mengeluarkan nada kesal hanya untuk menjahili sahabat dari putra bungsunya.


"Yaelah. Ketus amat sih jawabnya," ucap Darren dengan mempoutkan bibirnya.


Mereka semua tersenyum mendengar perkataan dan wajah manyun Darren.


"Nggak usah protes. Ada apa manggil-manggil?" jawab dan tanya Celsea yang masih fokus mengobati luka di pinggang Darren.


"Nggak jadi deh," sahut Darren.


Celsea seketika tersenyum mendengar perkataan dari Darren. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Selesai!" seru Celsea yang telah selesai mengobati luka di pinggang Darren dengan menjahitnya kembali.


Celsea menatap wajah Darren yang saat ini tengah cemberut.


"Kenapa?" tanya Celsea.


"Nggak kenapa-kenapa," jawab Darren.


"Kalau nggak kenapa-kenapa. Kenapa tuh muka ditekuk gitu," ucap Celsea.


"Yeeeyy! Suka-sukaku dong," jawab Darren.


"Yaelah, Ren! Lo bukan anak kecil lagi yang pake acara merajuk segala. Kayak cewek aja lo," ejek Dylan.


Mendengar perkataan dari Dylan. Darren langsung menatap tajam kearah Dylan.


"Diem lo. Gue nggak ngomong sama manusia kurus kayak lo," sahut Darren.


"Hahahahaha."


Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry dan Axel tertawa nista ketika mendengar perkataan kejam dari Darren. Sementara Dylan menatap Darren dengan mulut yang berkomat-kamit mengeluarkan sumpah serapah.


"Oke, oke! Sekarang bibi serius. Ada apa tadi manggil Bibi?"

__ADS_1


Darren menatap wajah Celsea ibunya Axel. "Pulang," ucap Darren.


"Apa? Pulang? Kondisi kamu masih seperti ini mau pulang? Nggak!"


Darren membulatkan matanya ketika mendengar penolakan dari ibunya Axel.


"Mau sampai kapan aku ditahan disini. Aku sudah tidur selama dua hari. Setelah aku bangun, aku dirawat selama tiga hari. Jadi sudah lima hari aku di rumah sakit." Darren berbicara dengan memperlihatkan wajah kesalnya.


"Salah kamu sendiri. Kalau kamu nggak banyak bergerak sehingga membuat luka kamu kembali terbuka. Pasti kamu sudah diperbolehkan pulang," jawab Celsea yanh memang sengaja menjahili Darren.


Darren menatap tak percaya Celsea saat Celsea mengatakan jika dirinya tidak banyak bergerak, maka lukanya tidak akan terbuka.


"Yak, Bibi Celsea? Kenapa Bibi menyalahkanku? Aku seperti ini juga karena keluarga sampah itu. Dan lagian ini bukan sepenuhnya kesalahanku. Mereka juga bersalah disini!" seru Darren sambil menunjuk kearah ketujuh sahabat-sahabatnya.


Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel sontak membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan dari Darren.


"Yak, Darren! Kenapa menyalahkan kami!" seru Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel bersamaan.


"Memang salah kalian. Coba saja kalian datangnya tepat waktu. Maka aku tidak akan buang-buang tenagaku untuk menghajar pria sialan itu. Jika kalian datangnya tepat waktu dan nggak terlambat, maka aku akan tetap tidur dengan nyenyak. Dan hari ini atau besok. Aku sudah diperbolehkan pulang," jawab Darren dengan wajah kesalnya.


"Yey! Kita mana tahu kalau bakal gini jadinya," ucap Qenan.


"Kita dapat informasinya dari tangan kanannya Samuel juga dadakan," ucap Willy.


"Coba Samuel nya tepat waktu ngasih informasinya. Kita-kita nggak akan bakal datang terlambat," sahut Jerry.


"Jadi kalian nyalahin tangan kanannya Samuel, gitu?" tanya Darren.


"Nggak tahu terima kasih," ucap Darren.


Mendengar ucapan Darren membuat Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel saling lirik.


Setelah itu, mereka kembali menatap kearah Darren yang kini bersikap acuh dan juga santai.


"Nah, ini nih! Ciri-ciri sahabat yang nggak ngerasa bersalah sama sekali," sahut Willy.


"Seenaknya ngomong dan ngatain kita nggak tahu terima kasih," kata Darel.


"Dan lihatlah tuh wajah songongnya sekarang. Sok ketampanan!" seru Rehan


"Nggak tahu terima kasih!" Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan, Jerry dan Axel bersamaan.


Kini berbalik, Darren membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban kompak dari ketujuh sahabat-sahabatnya.


Darren menatap ketujuh sahabat-sahabatnya itu dengan mata yang di besar-besaran.


"Ngapain liatin kita kayak gitu?" tanya Axel, Dylan dan Jerry bersamaan.


"Kita nggak takut sama orang songong kayak lu," ujar Qenan, Willy, Rehan dan Darel kompak.


Erland, Agneta, Celsea, Carissa, Evan dan putra-putranya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat dan mendengar adu mulut Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


Sementara Brenda sedari tadi hanya diam. Dirinya tidak ikut masuk dalam perang mulut antara Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.

__ADS_1


"Ya, sudah. Bibi kembali ke ruangan bibi. Kamu istirahat. Jangan sampai terbuka lagi jahitannya," ucap Celsea.


"Terus aku pulangnya kapan?' tanya Darren.


"Tunggu luka kamu yang di pinggang sama yang di lengan sembuh," jawab Celsea.


"Tapi itu...." perkataan Darren terpotong.


"Bawel."


Setelah mengatakan itu, Celsea pun pergi meninggalkan ruang rawat Darren dengan senyuman mengembang di bibirnya.


Setelah kepergian Celsea. Darren menatap kearah Axel. Darren berniat melimpah kekesalannya terhadap Celsea melalui Axel.


"Axel, ibu kamu benar-benar menyebalkan!" seru Darren.


"Kenapa situ kesal sama saya. Kenapa situ nggak langsung semprot orangnya?" tanya Axel.


"Auh ach," jawab Darren.


"Nggak anak, nggak ibu sama saja. Sama-sama menyebalkan," ucap Darren pelan.


Axel yang mendengar ucapan pelan Darren hanya tersenyum. Dirinya benar-benar puas melihat wajah kesal Darren.


Hening..


Semuanya tampak diam. Tidak ada satu pun yang bersuara. Baik Erland, Agneta, Carissa dan putra-putra maupun Evan, Carissa dan ketiga putranya. Serta ketujuh sahabat-sahabatnya Darren. Bahkan Brenda sekali pun. Mereka semua menatap wajah Darren yang kini tampak berbeda dari sebelumnya.


Dan detik kemudian...


"Brenda," panggil Darren.


"Iya, Ren!" Brenda menjawab panggilan dari Darren.


Darren menatap wajah Darren. Begitu juga dengan Brenda. Tatapan keduanya saling bertemu.


"Kenapa Darren menatap wajah Brenda seperti itu?" batin ketujuh sahabat-sahabatnya Darren ketika melihat cara Darren yang menatap Brenda.


"Kenapa Darren menatapku seperti itu? Apa aku ada salah?" tanya di dalam hatinya.


"Kamu memiliki hutang padaku. Dan aku mau hari ini juga kamu melunasinya, Brenda Wison!"


Mendengar pertanyaan Darren kepada Brenda membuat ketujuh sahabat-sahabatnya dan juga keluarganya terkejut. Mereka tidak mengerti. Hutang apa yang dimaksud oleh Darren.


"Hu-hutang apa, Ren? Aku sepertinya tidak berhutang apapun padamu," ucap Brenda.


Darren menatap lekat wajah Brenda sehingga membuat Brenda gugup. Apalagi tatapan mata Darren.


"Bisa jelaskan padaku. Sudah berapa lama kamu bergabung menjadi tangan kanannya kakak Ziggy?" tanya Darren dengan tatapan matanya masih menatap wajah Brenda.


DEG!


Brenda terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Darren. Dirinya tidak menyangka jika Darren mengetahui bahwa dirinya salah satu tangan kanannya Ziggy.

__ADS_1


__ADS_2