
Darren bersama ketujuh sahabatnya yaitu Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel saat ini berada di lapangan kampus. Begitu juga dengan Brenda dan ketujuh sahabatnya.
Mereka saat ini tengah mengobrol sekaligus membahas rencana untuk menyambut weekend mereka di hari sabtu dan minggu. Mereka berniat untuk melakukan kencan massal.
Ide tersebut keluar dari mulutnya Milly. Mereka yang mendengar ide dari Milly langsung setuju. Menurut mereka, kapan lagi melakukan kencan secara bersama-sama.
Ketika Darren, Brenda beserta ketujuh sahabat-sahabatnya tengah mengobrol sembari bersenda gurau, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara-suara dari teman-teman kampusnya.
"Ada apa disana?" tanya Lenny yang melihat teman-teman kampusnya berlari menuju lobi depan kampus.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Felisa.
Mendengar pertanyaan dari Felisa. Mereka dengan kompak mengangkat bahunya, termasuk Darren.
Dan setelah itu, mereka kembali ke dunia mereka dan melanjutkan obrolan mereka yang sempat terhenti.
Namun lagi-lagi obrolan mereka kembali terhenti, karena panggilan seseorang.
"Darren," panggil salah satu mahasiswa.
Mendengar panggilan itu. Darren dan yang lainnya langsung melihat ke asal suara.
Dapat dilihat oleh Darren, Brenda dan para sahabatnya, beberapa mahasiswa dan mahasiswi berjalan mendekat.
"Ada apa?" tanya Darren kepada mantan anggota organisasinya.
"Itu, Ren. Ada wanita paruh baya bersama seorang anak perempuan. Dia katanya mau bertemu dengan kamu," jawab mahasiswa itu.
"Awalnya kami curiga jika dia orang jahat yang sedang menyamar. Lalu tiba-tiba wanita paruh baya itu mengeluarkan tiga kartu, lalu memberikan kepada kami. Salah satu kartu itu adalah kartu mahasiswa kamu. Dan dari situlah kami percaya bahwa wanita itu orang baik," ucap Lisa mantan anggota organisasi Darren.
Lisa langsung memberikan ketiga kartu nama tersebut kepada Darren.
Darren menerima tiga kartu itu. Matanya menatap dengan lekat tiga kartu tersebut. Dua diantaranya adalah kartu miliknya. Dan yang satunya, Darren berusaha mengingat siapa pemilik dari kartu nama itu.
FLASHBACK
Darren saat ini sedang dalam perjalanan menuju pulang ke rumah. Dirinya baru saja menyelesaikan proyek besar dengan dua perusahaan yang berada diurutan nomor 10 dan urutan nomor 11 di dunia dan di Jerman.
Ketika Darren tengah fokus menyetir, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Darren melihat ke samping dimana ponsel berada di kursi samping.
Darren mengambil ponsel tersebut dengan tatapan tetap menatap ke depan.
Dikarenakan tangannya tidak juga berhasil menyentuh ponsel tersebut. Berakhir Darren melihat ke samping agar bisa mengambil ponselnya.
Namun ketika ponsel sudah di tangannya. Dan ketika Darren ingin menjawabnya, tiba-tiba Darren terkejut dengan bunyi klason.
Dan otomatis Darren membanting stir ke kiri dan berakhir menabrak tiang listrik. Darren seketika tak sadarkan diri.
Beberapa detik kemudian, datang sebuah mobil yang kebetulan lewat. Pemilik mobil beserta sopirnya keluar dan membantu Darren.
***
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya seorang pria sembari menatap khawatir Darren.
"Hasil dari pemeriksaan saya untuk saat ini. Keadaan pemuda ini baik-baik saja. Untuk lebih jelasnya. Pemuda ini harus melakukan CT-scan."
"Baiklah, Dokter. Nanti saya akan sampaikan jika tuan Darren sadar."
"Jadi tuan mengenalnya?" tanya Dokter itu.
"Pemuda ini adalah rekan kerja saya. Beberapa jam yang lalu kami habis melakukan proyek besar bersama dengan perusahaan lainnya."
"Baiklah kalau begitu. Ini ada beberapa obat untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya. Dari pemeriksaan saya tadi ada luka memar di kepalanya. Dan kemungkinan besar tuan Darren akan merasakan sakit luar biasa akibat luka memar di kepalanya itu." Dokter itu berbicara sambil memberikan beberapa obat kepada pria yang telah menolong Darren.
"Terima kasih, Dokter."
"Sama-sama, tuan. Kalau begitu saya permisi dulu."
Setelah kepergian Dokter itu, pria itu menghampiri Darren. Pria tersebut menatap khawatir kearah Darren yang berstatus rekan kerjanya.
Cklek!
Pintu dibuka. Dan masuk seorang wanita paru baya yang masih terlihat masih muda dan cantik.
Wanita itu berjalan mendekati suaminya.
"Bagaimana, sayang? Apa kata Dokter?"
"Hasil untuk saat ini, tuan Darren baik-baik saja. Tapi Dokter itu meminta untuk tuan Darren melakukan CT-scan di rumah sakit agar tahu apakah ada benturan keras di dalam atau tidak. Hanya untuk memastikan saja."
"Eeuugghh!"
Darren berlahan membuka kedua matanya. Setelah matanya terbuka sempurna, Darren melihat sepasang manusia berdiri di hadapannya.
Darren menatap lekat kearah pria yang juga tengah menatapnya. Dan seketika Darren pun mengenal pria itu.
"Tuan Fransisko," ucap Darren.
Pria yang bernama Fransisko itu tersenyum ketika mendengar rekan kerjanya menyebut namanya. Begitu juga dengan istrinya.
"Bagaimana keadaan anda, tuan Darren?"
"Apa yang terjadi?" tanya Darren balik.
"Anda mengalami kecelakaan. Dan kebetulan saya lewat di jalan itu dan melihat mobil tuan Darren. Saya dan sopir saya langsung menolong tuan."
"Karena rumah sakit terlalu jauh dari lokasi kejadian. Makanya saya membawa tuan Darren ke rumah saya. Setelah tiba di rumah saya. Saya meminta istri saya menghubungi Dokter pribadi keluarga kami."
"Terima kasih, tuan Fransisko." Darren berucap sembari tersenyum.
Darren bangun dari posisi tidurnya. Setelah dirinya dalam keadaan duduk, Darren mengeluarkan dompetnya. Tangannya mengambil dua kartu. Satu kartu namanya dan yang satu kartu mahasiswanya.
Setelah mendapatkan dua kartu itu, Darren langsung memberikannya kepada pria yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Ini dua kartu pentingku. Jika ada apa-apa. Atau tuan Fransisko dan keluarga dalam masalah. Hubungilah salah satu alamat di kartu itu," ucap Darren.
Fransisko menerima dua kartu itu. Dan ketika Fransisko beserta istrinya melihat, keduanya terkejut.
Baik Fransisko maupun istrinya menatap wajah Darren.
"Tuan Darren. Inikan kartu mahasiswa anda. Kenapa anda memberikannya kepada kami?" tanya istri dari Fransisko.
Mendengar pertanyaan dari istri dari Fransisko. Darren hanya tersenyum menanggapinya.
"Nyonya tidak perlu khawatir tentang kartu mahasiswa saya itu. Saya bisa buat yang baru. Saya adalah ketua organisasi di kampus. Semua kegiatan, pengurusan dan masalah kampus. Semua adalah tanggung jawab saya. Rektor telah mempercayakan kepada saya."
Mendengar jawaban dari Darren membuat wanita itu tersenyum. Begitu juga dengan suaminya.
FLASHBACK OFF
Darren langsung berdiri dari duduknya setelah mengingat tentang salah satu kartu yang dipegangnya.
Melihat Darren yang tiba-tiba berdiri. Brenda dan para sahabat-sahabatnya juga ikut berdiri.
"Sekarang wanita itu dan anak perempuannya dimana?" tanya Darren.
"Beberapa mahasiswi membawanya ke lobi. Kami memintanya menunggu disana," jawab Sinta.
Darren langsung berlari menuju lobi untuk menemui wanita dan anak kecil itu dan diikuti oleh ketujuh sahabat-sahabatnya, Brenda beserta ketujuh sahabat-sahabatnya.
Darren berpikir jika telah terjadi sesuatu pada keluarga dari wanita itu.
^^^
"Nyo... Nya," perkataan Darren memelan diakhir ketika dilihat bukanlah istri dari rekan kerjanya yaitu Fransisko. Melainkan pengasuh dari anak perempuan dari rekan kerjanya itu.
Wanita itu melihat kedatangan Darren langsung menangis. Tangis wanita itu pecah di hadapan Darren dan semua yang ada di lobi itu.
"Tuan... Hiks," isak wanita itu.
Darren melangkah mendekati wanita tersebut, lalu menduduki pantatnya di sofa dan berhadapan dengan wanita tersebut.
"Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa anda datang kesini dengan membawa majikan kecil anda?" tanya Darren.
"Tuan, tolong lindungi nona muda. Jangan biarkan mereka menyakiti nona muda juga," ucap wanita itu terisak.
Baik Darren maupun yang lainnya terkejut mendengar perkataan dari wanita itu.
"Apa maksud anda?" tanya Darren.
"Tuan Fransisko dan Nyonya Melinda telah meninggal, tuan! Mereka dibunuh oleh beberapa orang yang datang menyerang kediaman Mondella semalam."
"Apa?" Darren terkejut ketika mendengar perkataan dari pengasuh putri dari rekan kerjanya.
"Bahkan sebelum Nyonya meninggal. Nyonya menyuruh saya pergi membawa nona muda melewati pintu rahasia dengan dibekali tiga kartu itu kepada saya. Dan Nyonya juga yang meminta saya untuk menemui tuan dan meminta pertolongan kepada tuan."
__ADS_1
Mendengar cerita dari pengasuh dari rekan kerjanya membuat Darren benar-benar terkejut. Begitu juga dengan yang lainnya. Bahkan mereka yang paling terkejut.