KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Menolak Kerja Sama


__ADS_3

Darren, Qenan dan Willy sudah berada di depan cafe. Janji temu antara perusahaan Accenture dengan perusahaan dari tiga negara tersebut adalah di sebuah cafe terkenal di Jerman.


Ketika Darren, Qenan dan Willy ingin melangkah masuk ke dalam cafe. Willy tak sengaja melihat dan juga mendengar seseorang menyebut nama perusahaan Accenture.


Willy yang penasaran dan juga curiga, memutuskan untuk mengikuti kedua laki-laki itu.


Melihat Willy yang tiba-tiba pergi membuat Darren dan Qenan menatap bingung.


"Will, kamu mau kemana?" tanya Qenan.


"Aku mau melapor dulu," jawab Willy.


Mendengar jawaban dari Willy. Darren dan Qenan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aish," kesal Darren dan Qenan bersamaan.


Setelah itu, Darren dan Qenan melangkah masuk ke dalam cafe untuk menemui klien baru perusahaan mereka.


Willy saat ini tengah menguping pembicaraan dua laki-laki yang dicurigainya. Willy juga tak lupa memvideokan apa yang dilihat dan didengarnya agar bisa menjadi bukti jika keduanya tak mengaku. Begitu juga dengan kelompoknya.


"Bagaimana? Apa kau sudah mengurus tiga pria berbeda negara yang akan bekerja sama dengan perusahaan Accenture?"


"Sudah. Semuanya beres. Ketiga pria itu sekarang berada di markas milik kelompok mafia nomor 10 di dunia."


"Bagus. Katakan pada ketua kelompok mafia itu untuk menjaga ketiga pria itu. Kita masih membutuhkan ketiganya untuk melancarkan kerja sama perusahaan keluarga kita dengan perusahaan Accenture. Setelah perusahaan keluarga kita mendapatkan kontrak kerja sama. Dan setelah perusahaan Accenture berada di dalam genggaman kita. Barulah kita akan menyingkirkan ketiga pria itu."


"Rencana yang bagus. Baiklah."


"Kalau kita berhasil menjalin kerja sama dengan perusahaan Accenture, besar kemungkinan ke delapan perusahaan COMPANY terbesar di dunia bisa kita takhlukkan."


"Kok bisa begitu?"


"Pemilik dari kedelapan perusahaan COMPANY itu pasti memiliki putra, bukan?"


"Iya. Terus?"


"Aku tahu nama salah satu putra dari kedelapan perusahaan COMPANY?"


"Siapa?"


"Dia pemilik perusahaan Accenture. Dan kemungkinan besar dua sahabatnya itu juga termasuk."


"Wah! Benarkah?"


"Informasi itulah yang aku dapatkan dari anak buahku yang bekerja di bidang IT."


"Kalau kita bisa menaklukkan kesembilan perusahaan itu. Maka perusahaan dua keluarga kita akan menjadi penguasa bisnis terkenal dan juga tak terkalahkan."


Willy yang sedari mendengar perkataan kedua laki-laki itu sembari merekam pembicaraan keduanya menatap dengan penuh amarah.


"Kita lihat saja nanti apa yang akan mendatangi kalian setelah ini?" batin Willy dengan tersenyum di sudut bibirnya.


Setelah itu, Willy pun pergi meninggalkan kedua pria itu untuk menemui kedua sahabatnya.


^^^


Darren dan Qenan sudah berada bersama dengan klien yang datang dari tiga negara.

__ADS_1


"Maaf tuan Darren. Bisa kita mulai saja membahas kerja sama perusahaan kita?" tanya pemilik perusahaan dari negara Amerika.


"Tunggu sebentar lagi ya, tuan!" Darren masih mengulur waktu.


Darren berbisik ke telinga Qenan. "Qenan. Apa kamu udah ngirim pesan ke Willy?"


"Sudah," jawab Qenan.


"Tapi Willy nya mana? Kenapa belum muncul juga?" tanya Darren.


"Aku juga nggak tahu, Ren. Willy nggak biasanya seperti ini," jawab Qenan.


"Maaf, tuan Darren kalau saya lancang!" seru pemilik perusahaan dari negara Belanda.


"Iya, tuan. Kenapa?" tanya Darren.


"Begini. Bukankah anda yang sebagai pemilik perusahaan Accenture. Kenapa justru anda harus menunggu tuan Willy? Seharusnya kan anda bisa langsung memulainya," ucap pria itu.


Mendengar perkataan dari pria itu. Darren tidak menjawabnya. Justru Darren menatap pria itu dengan tatapan menusuk.


Melihat tatapan mata Darren yang benar-benar menusuk kearah pria itu membuat pria tersebut seketika menelan ludahnya kasar. Begitu juga dengan beberapa pria lainnya yang juga berada disana.


Ketika suasana di dalam cafe sedikit mencekam, tiba-tiba Willy pun datang.


"Maaf, saya terlambat!"


Mendengar suara Willy. Mereka semua melihat kearah Willy yang kini melangkahkan kakinya menuju kearah dimana Darren, Qenan dan yang lainnya berada.


Kini Willy sudah duduk di kursinya. Darren dan Qenan melihat kearah Willy dengan tatapan menyelidik.


"Langsung saja ya, tuan-tuan. Saya Willy Anse Dominic selaku penanggung jawab di perusahaan Accenture. Bisa dibilang juga saya berstatus sebagai Direktur. Saya memutuskan untuk menolak kerja sama ini."


Willy berbicara dengan sangat lantang, berwibawa dan dengan wajah serta tatapan dinginnya.


Mendengar perkataan dari Willy. Orang-orang yang ada di dalam cafe tersebut terkejut. Tak terkecuali Darren dan Qenan.


"Will!" seru Darren dan Qenan bersamaan.


Willy tak menghiraukan seruan dari Darren dan Qenan. Willy berdiri dari duduknya. Begitu juga dengan Darren dan Qenan.


Willy menatap tajam orang-orang yang ada di hadapannya. Melihat tatapan mata Willy membuat Darren dan Qenan mengaitkan kedua alisnya.


"Kami tidak sudi menjalin kerja sama dengan orang-orang menjijikkan seperti kalian. Kalau kalian ingin menipu. Cari perusahaan lain saja. Jangan perusahaan kami atau pun perusahaan keluarga kami." Willy berbicara dengan raut penuh amarah.


"Dikarenakan kalian sudah berani bermain curang diawal, maka bersiap-siaplah untuk mendapatkan kejutan dari kami."


Setelah mengatakan itu, Willy langsung pergi meninggalkan cafe tersebut. Dan disusul oleh Darren dan Qenan.


"Willy," panggil Darren dan Qenan.


***


Darren, Qenan dan Willy sudah berada di Kampus. Setelah memutuskan menolak kerja sama dengan tiga klien palsu. Willy memutuskan untuk masuk kuliah.


Saat ini Darren bersama ketujuh sahabatnya yaitu Qenan, Willy, Jerry, Dylan, Axel, Darel dan Rehan berada di kantin. Begitu juga dengan Brenda dan ketujuh sahabatnya.


"Sekarang ceritakan padaku. Kenapa kau memutuskan kerja sama perusahaan kita dengan perusahaan dari tiga negara itu?" tanya Darren dengan menatap wajah Willy yang saat ini menikmati makan siangnya.

__ADS_1


"Nanti saja membahas itu. Aku masih lapar. Biarkan aku menghabiskan semua makanan yang ada di atas meja ini," sahut Willy.


Mereka semua membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan dari Willy. Mereka menatap heran Willy.


"Kamu sehatkan, Will?" tanya Axel.


"Sangat," jawab Willy.


"Kamu kayak nggak makan dua hari aja, Will!" ucap Darel.


"Sejak kapan seorang Willy jadi rakus begini," ucap Dylan.


"Sejak hari ini," jawab Willy.


Mereka yang melihat Willy yang makan begitu banyak hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dan pada akhirnya, mereka semua memutuskan untuk menyaksikan Willy sampai selesai. Jika mereka terus mengajak Willy bicara, maka Willy tidak akan selesai dari acara makannya.


Beberapa detik kemudian...


"Bagaimana? Udah? Apa mau nambah lagi?" tanya Darren.


Mendengar pertanyaan dari Darren. Willy langsung menatap wajah Darren. Dan detik kemudian, terukir senyuman manis di bibirnya.


Ketika Willy ingin membuka mulutnya, Darren sudah terlebih dahulu memberikan tinjuan ke udara.


"Mau ini?"


Seketika Willy menelan kasar air ludahnya. Sedangkan yang lainnya tersenyum melihat wajah takut Willy.


"Sekarang ceritakan padaku kenapa kau menolak kerja sama itu. Jangan mencari alasan lagi," sahut Darren dengan menatap tajam Willy.


"Hah!" Willy menghela nafasnya ketika mendengar pertanyaan dan wajah tak mengenakkan yang diberikan oleh Darren.


Willy mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Kini ponselnya sudah berada di tangannya. Willy kemudian membuka galeri fotonya dan memilih satu video. Setelah itu, Willy menyerahkan ponselnya itu kepada Darren.


"Ini lihatlah sendiri."


Darren mengambil ponselnya Willy, lalu melihat apa yang ditunjukkan oleh Willy padanya. Begitu juga dengan Qenan dan yang lainnya.


Ketika mereka melihat video itu membuat mereka semua marah, terutama Darren.


Dan detik kemudian...


PLAKK!


Darren memukul kepala belakang Willy.


"Yak, Ren! Kenapa memukul kepalaku?"  protes Willy.


"Udah salah nggak mau ngaku salah lagi. Aku dan Qenan sedari bertanya padamu. Tapi kamu nggak jawab dan berakhir kamu makan kayak orang kerasukan setan. Sementara kami semua kayak orang bego ngeliatin kamu makan!"


"Seharusnya lo perlihatkan video itu dari tadi ke kita sehingga kita nggak kayak orang bego ngeliatin lo makan," sungut Qenan.


Darren, Qenan dan yang lainnya menatap kesal Willy.


"Hehehe. Maaf, aku lupa! Makhlumlah saat kalian berdua bertanya, perutku memang benar-benar lapar. Jadi harus segera diisi. Aku butuh energi banyak untuk bicara dan berpikir."


Mendengar jawaban dari Willy, lagi-lagi mereka hanya bisa menghela nafas dan geleng-geleng kepala.

__ADS_1


__ADS_2