KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Sumpah Dan Janji Agneta


__ADS_3

Kini semuanya sudah berada di ruang tengah. Darren menyandarkan tubuhnya di sofa dengan memejamkan matanya sejenak. Pikirannya melayang jauh. Terlalu banyak masalah yang mendatangi dirinya dan keluarganya.


Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan, Melvin, Evan, Carissa, Daffa, Tristan dan Davian menatap khawatir Darren.


Davin beranjak dari duduknya, lalu berpindah duduk di samping adiknya itu.


Davin mengusap lembut kepala adiknya sehingga membuat Darren yang tadinya memejamkan mata kini mata itu terbuka.


Darren melihat ke samping dan dapat dilihat olehnya kakak laki-laki tertuanya telah duduk di sampingnya sembari memberikan senyuman kepadanya.


"Kakak Davin," ucap Darren.


Davin tersenyum dengan tangannya masih bermain-main di kepalanya.


"Ada apa, hum? Apa ada yang sakit? Atau ada yang kamu pikirkan?"


"Kalau sakit nggak ada. Tapi kalau dibilang apa aku lagi memikirkan sesuatu. Ya! Aku memang sedang memikirkan sesuatu. Salah satunya adalah aku merindukan Papa. Sudah sebelas hari kejadian kecelakaan pesawat itu. Tapi sebelas hari juga tidak ada satu pun usaha yang kita lakukan membuahkan hasil. Semuanya gagal. Tidak ada satu pun yang mengetahui dimana lokasi jatuhnya pesawat yang ditumpangi Papa. Tidak ada yang mengetahui bagaimana kondisi Papa."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren membuat hati mereka semua sakit. Mereka semua membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren bahwa usaha mereka selama sebelas hari ini gagal. Sampai detik ini tidak ada satu dari tangan kanannya dan orang-orang yang mereka suruh untuk mencari keberadaan jatuhnya pesawat yang ditumpangi oleh Erland  memberikan informasi.


Setiap informasi yang diberikan jawabannya mengatakan bahwa mereka belum mengetahui dimana lokasi jatuhnya pesawat yang ditumpangi oleh Erland.


Davin menarik tubuh adiknya, lalu membawanya ke dalam pelukannya.


Seketika tangis Darren pecah di pelukan sang kakak laki-lakinya. Hatinya saat ini lemah.


"Kakak, aku merindukan Papa. Aku sangat merindukan Papa. Aku tidak mau kehilangan Papa. Aku masih ada di dunia ini karena Papa. Aku bertahan hidup karena janjiku kepada Papa. Aku semangat hidup demi Papa. Jika Papa belum pulang juga. Dan jika Papa dinyatakan meninggal dunia, aku tidak akan pernah bisa mengikhlaskan semua itu. Aku akan ikut Papa pergi."


Darren mengeluarkan semua keluh kesahnya, rasa rindunya, alasan dia bertahan hidup kepada Davin. Darren benar-benar hancur saat ini.


Sementara Davin bahkan yang lainnya langsung menangis ketika mendengar perkataan yang keluar dari mulut Darren.


Sekarang mereka semua sudah tahu apa alasan Darren kembali ketika koma beberapa hari di rumah sakit setelah peperangan melawan Samuel dan Gustavo beberapa bulan yang lalu. Kembalinya Darren karena menepati janjinya kepada sang ayah.


Davin makin mengeratkan pelukannya di tubuh adiknya. Hatinya hancur ketika mengetahui bahwa adiknya begitu sangat tertekan.


"Kakak, kenapa masalah selalu datang silih berganti? Kenapa keluarga kita terus menerus mendapatkan masalah. Belum selesai masalah satu. Justru masalah baru datang menghampiri kita. Apa kesalahan kita, kak Davin? Kenapa Tuhan bertubi-tubi memberikan cobaan pada kita?"

__ADS_1


Mereka kembali meneteskan air matanya kala mendengar pertanyaan Darren. Hati mereka benar-benar hancur saat ini.


"Itu dikarenakan Tuhan sangat sayang dengan kita. Tuhan ingin melihat sejauh mana kita bisa menghadapi setiap cobaan yang diberikan oleh-Nya untuk kita. Dan kakak sangat yakin jika Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang indah untuk kita semua, termasuk untuk kamu."


Davin berusaha untuk memberikan semangat dan kekuatan kepada adiknya. Dia tahu diantara dia dan saudara-saudaranya yang lain, Darren lah yang paling tertekan akan setiap masalah yang datang. Dia juga tahu Darren lah yang sangat amat terpukul akan kecelakaan pesawat yang menimpa sang ayah.


Davin sangat tahu akan perasaan dan kondisi adiknya. Dari kecil adiknya itu tidak mendapatkan pelukan, kasih sayang dan ciuman dari ibu kandungnya. Dari kecil adiknya itu telah ditinggal mati oleh ibu kandungnya. Sejak kecil hanya Agneta yang diketahui oleh adiknya itu sebagai ibu kandungnya.


Sejak adiknya itu mengetahui kebenaran tentang ibu kandungnya dan Agneta. Sejak itulah kondisi Darren tak baik-baik saja. Darren gampang emosi, gampang tersinggung, sering jatuh sakit. Dan lebih parahnya lagi, rasa takut dalam dirinya sering kali muncul.


"Kakak Davin, aku ingin Papa pulang. Aku tidak ingin Papa pergi," ucap Darren dengan tangannya memeluk erat pinggang Davin.


Davin menangis. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Papa pasti akan pulang. Kakak Davin percaya kalau Papa baik-baik saja diluar sana. Papa sudah berjanji pada kita semua kalau Papa akan pulang."


Agneta berdiri dari duduknya. Dia sudah tidak kuat mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut putra bungsu dari kakak perempuannya. Hatinya hancur setiap kali mendengar perkataan dari Darren.


Agneta melangkah menghampiri Davin dan Darren. Setelah berada didekat kedua putranya itu, Agneta duduk di sebelahnya.


Darren yang mendengar ucapan lembut dari ibunya langsung melepaskan pelukannya, lalu melihat kearah ibunya yang sudah duduk di sampingnya.


"Ma-mama." Darren berucap lirih.


Agneta langsung menarik tubuh Darren dan membawanya ke dalam pelukannya. Agneta menangis kala memeluk tubuh putranya itu. Seketika ingat dan wajah sang kakak perempuan berputar-putar di kepalanya.


Setiap Agneta memeluk tubuh Darren, wajah kakak perempuannya itu selalu terlihat jelas di pikirannya. Kakak perempuannya itu tersenyum hangat kepadanya. Bahkan kakak perempuannya itu berulang kali mengumandangkan kata terima kasih kepadanya yang sudah menjaga ketujuh putra-putranya dengan sangat baik.


"Mama ada disini untuk kamu, untuk kakak-kakak kamu. Mama tidak akan pernah meninggalkan kamu maupun kakak-kakak kamu. Status kamu dan keenam kakak-kakak kamu sama seperti status kelima adik laki-laki kamu. Kalian semua adalah putra-putra Mama. Jadi jangan pernah merasa sendiri. Dan jangan jauhi Mama hanya karena kamu terlalu merindukan Papa. Berbagilah dengan Mama. Carilah Mama jika kamu butuh sesuatu."


"Mama," Darren terisak di pelukan Agneta. "Maafkan aku jika selama ini aku selalu buat Mama sedih dan juga khawatir. Dan maafkan aku jika aku tidak terbuka kepada Mama "


Agneta tersenyum mendengar perkataan maaf dari Darren. Begitu juga Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Evan, Carissa, Daffa, Tristan, Davian dan kelima adik laki-lakinya.


"Mama tidak marah sama kamu. Setiap orang punya hak untuk tidak melibatkan orang lain dalam setiap masalah. Setiap orang berhak memilih kepada siapa dia akan terbuka dan bercerita. Apapun itu, kamu adalah putra Mama. Selamanya akan menjadi putra Mama." Agneta mengeratkan pelukannya dan memberikan kecupan sayang di pucuk kepala putranya itu.


"Aku sayang Mama."

__ADS_1


"Mama juga. Bahkan rasa sayang Mama lebih besar dari pada kamu."


Mendengar jawaban yang tak mengenakkan dari ibunya. Seketika Darren langsung melepaskan pelukannya. Darren menatap wajah ibunya itu tak suka.


Sementara Agneta serta anggota keluarga lainnya tersenyum gemas melihat wajah tak suka Darren. Wajah Darren berubah seperti anak kecil berusia 5 tahun. Benar-benar menggemaskan. Itu menurut mereka semua.


"Mana bisa begitu. Kasih sayang aku yang lebih besar. Kenapa Mama nggak mau mengalah saja sih?"


"Kan memang seperti itu kenyataannya. Mama inikan seorang ibu. Jadi tugas Mama itu adalah memberikan kasih sayang, memberikan perhatian, peduli terhadap anak-anaknya, menyiapkan semua kebutuhan anak-anaknya, mengkhawatirkan anak-anaknya, mendoakan anak-anaknya ketika berada diluar rumah, mendoakan kesembuhan anak-anaknya jika anak-anaknya sakit, dan......."


"Cukup!" Darren langsung memotong perkataan ibunya dengan telapak tangan sudah berada di depan wajah ibunya.


Agneta seketika tersenyum melihat kelakuan putranya itu. Dia yakin jika putranya saat ini kesal akan ulahnya. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Nggak usah diteruskan. Lagian aku sudah tahu tugas seorang ibu itu apa saja. Dan aku juga tahu jika menjadi ibu itu tugas yang sangat berat. Apalagi memiliki anak yang begitu banyak. Pasti sangat melelahkan."


Agneta membelai lembut kepala Darren. Dan jangan lupakan senyuman manisnya yang tercetak di bibirnya.


"Bagi Mama itu tidak melelahkan karena Mama melakukan tugas-tugas Mama dengan ikhlas. Jika kita melakukan sesuatu dengan keikhlasan, maka semua yang kita kerjakan itu menjadi terasa ringan."


"Terima kasih atas kasih sayang, perhatian dan kepedulian Mama selama ini untukku. Mama menggantikan posisi Mama Belva untukku. Apa yang tidak aku dapatkan dari Mama Belva. Justru Mama memberikan semua itu untukku. Berjanjilah padaku. Mama jangan pernah pergi meninggalkanku. Tetaplah di sampingku. Tetaplah terus menyayangiku. Selamanya!"


Agneta meletakkan tangannya di atas kepala putranya lalu berkata, "Selama Mama masih ada di dunia ini. Selama Mama masih bisa bernafas dengan baik. Selama Mama dalam kondisi baik-baik saja maka selama itu pula Mama akan selalu menyayangimu, akan selalu ada untukmu, akan selalu ada untuk menghapus air mata kamu, akan selalu ada untuk memeluk kamu. Begitu juga untuk keenam kakak-kakak kamu dan kelima adik laki-laki kamu."


"Terima kasih, Mama!"


"Tapi kamu harus tahu satu hal. Dan kamu harus bisa menerimanya," ucap Agneta.


"Aku tahu. Kita tidak selamanya hidup di dunia ini. Dan kita semua akan kembali kepada sang pencipta," ucap Darren yang mengerti akan maksud dari perkataan ibunya itu.


"Seperti yang sudah Mama katakan padamu. Selama Mama baik-baik saja dan selama Mama masih bernafas, Mama akan selalu ada untuk kamu, untuk kakak-kakak kamu dan untuk adik laki-laki kamu."


Darren tersenyum lembut ketika mendengar janji tulus dari Agneta. Darren menatap wajah cantik ibunya.


"I Love You, Mama!"


"I Love You To, sayang!"

__ADS_1


__ADS_2