
[MARKAS THE CRIPS]
Saat ini Enzo selaku ketua dari kelompok mafia Almighty Black sedang berada di markas milik Ziggy.
Di markas itu juga ada Chico ketua dari kelompok mafia Area Boy, Noe ketua kelompok mafia Black Guerrilla dan Devian ketua kelompok mafia Latin Kings.
Mereka memang sengaja berkumpul di markas The Crips milik Ziggy karena sedang membahas rencana untuk menghancurkan dan menggagalkan rencana Samuel Frederick.
"Kerja sama besar-besaran dan juga sebuah proyek besar yang akan dikerjakan oleh sepuluh Perusahaan terbesar terkenal di Jerman tinggal dua hari lagi," ucap Ziggy.
"Ada 15 Perusahaan besar yang ikut dalam kerja sama dan pengerjaan proyek tersebut," kata Enzo.
"8 Perusahaan dari 15 Perusahaan itu adalah Perusahaan milik orang tua dari adik-adik kita. Jangan sampai 8 Perusahaan itu hancur karena ulah bajingan sialan itu," sela Devian.
"Aku dapat informasi bahwa Perusahaan GT Company yang sebagai tuan rumah dalam kegiatan itu bekerja sama dengan Perusahaan SF CORP. Mereka berniat untuk menghancurkan ke 15 Perusahaan tersebut," ujar Chico.
"Wah! Benar-benar, ya mereka. Berarti musuh kita ada dua sekarang!" seru Noe.
"Berarti kita harus membasmi keduanya," sahut Ziggy
Saat mereka tengah fokus dengan rencana mereka, tiba-tiba ponsel milik Enzo berbunyi. Mendengar bunyi ponselnya, Enzo mengambil ponselnya. Dan dapat dilihat olehnya nama Justin wakilnya tertera di layar ponsel miliknya.
Tanpa pikir panjang lagi, Enzo langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Justin. Ada apa?"
"Hallo, Bos. Aku ingin memberitahumu bahwa Darren masuk ke rumah sakit. Dia ada di rumah sakit Pladys Hospital."
"Kenapa bisa?"
"Seperti biasa, Bos. Saat diacara Pameran, Ayah dari Helena mencari masalah dengan keluarga Smith. Bahkan Pria itu menghina ibu kandung dari Darren."
"Lalu apa yang terjadi?"
"Darren langsung bertindak. Dia melukai pria itu dengan cara menusuk perutnya. Saat Darren ingin pulang, Darren dicegat dan ditahan oleh tuan Davin. Tuan Davin memaksanya untuk pulang ke rumah keluarga Smith sehingga berakhir jantungnya kambuh."
"Baiklah."
Setelah mengatakan hal itu, Enzo langsung mematikan panggilan tersebut.
"Ada apa?" tanya Noe.
"Darren masuk ke rumah sakit," jawab Enzo.
"Apa yang terjadi?" tanya Ziggy.
"Biasalah. Keegoisan dari kakak pertama dan kakak keduanya Darren sehingga membuat jantungnya kembali kambuh," jawab Enzo.
"Kalau aku tidak memikirkan perasaan Darren sudah dari dulu aku buat mereka jadi bubur sumsum," kesal Devian.
Mendengar perkataan Devian membuat Noe, Ziggy, Enzo, dan Chico tersenyum.
"Ya, sudah. Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang!" seru Ziggy.
"Jangan lupa bawa amplop itu untuk kita berikan pada mereka," ujar Ziggy lagi.
Mereka pun mengangguk lalu bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.
***
[RUMAH SAKIT]
__ADS_1
Dua puluh menit yang lalu Darka sudah sadar dari pingsannya. Kini Darka berada di ruang rawatnya. Darka harus istirahat selama satu hari penuh di rumah sakit. Dan kondisinya pun sudah tidak apa-apa hanya syok mengingat adiknya koma.
Darka saat ini duduk di atas tempat tidur dengan tangan yang terpasang infus. Sementara Darren sudah di pindahkan ke ruang VVIP.
Erland mengusap lembut rambut putra bungsu keduanya itu lalu kemudian mencium keningnya. Saat Erland ingin memeluk putranya itu, tiba-tiba Darka mendorongnya. Dan hal itu sukses membuat Erland dan yang lainnya terkejut.
"Darka," lirih Erland
Darka menangis. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Darren adiknya. Darka mulai menyalahkan dirinya saat ini. Bahkan Darka mulai memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dipikiran olehnya.
Seandainya 6 bulan lalu yang terluka hanya Melvin pasti dirinya akan melakukan hal yang sama seperti saudara-saudaranya dan kedua orang tuanya yaitu menyakiti adiknya. Tapi detik kemudian, Darka pun sadar. Dirinya bersyukur 6 bulan lalu dirinya ikut terluka bersama Melvin. Jika tidak, mungkin dirinya akan ikut melakukan dosa bersama kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya dalam menyakiti adik manisnya.
Davin mendekati ranjang Darka. Dirinya ingin meminta maaf pada adiknya.
"Darka," ucap Davin sembari tangannya menyentuh tangan Darka yang terbebas infus.
Darka yang merasakan sentuhan dari Davin langsung menepisnya, lalu Darka menatap tajam ke arah Davin.
"Kenapa? Kenapa kau dan saudara-saudaramu tega melakukan hal itu pada Darren? Apa kesalahan Dareen padamu!" teriak Darka.
"Darka," lirih Andra.
"Diam!" bentak Darka. Dan hal itu sukses membuat Andra terkejut.
Darka menatap tajam ke arah Andra, kakak keduanya itu.
"Kau juga sama seperti dia," ucap Darka sembari menunjuk kearah Davin. "Kalian berdua itu sama-sama iblis. Bahkan kalian juga," tunjuk Darka ke arah Erland, Agneta, Dzaky, Adnan dan Gilang. "Aku sudah cukup sabar dan selalu menutup mulutku atas apa yang kalian lakukan pada Darren 6 bulan yang lalu. Jangan kalian pikir aku tidak mengetahui apa yang sudah kalian lakukan pada Darren hanya karena aku Koma. Aku tahu semuanya, walau kalian sudah cerita padaku alasan Darren pergi dari rumah, tapi kalian tidak menceritakan semuanya. Ada beberapa bagian yang kalian sembunyikan dariku," ucap Darka penuh emosi.
"Kalian memukuli Darren. Kalian memakinya, kalian menyebutnya seorang pembunuh dan juga seorang monster. Kalian menuduhnya dan tidak mempercayainya. Kalian lebih percaya dengan video murahan itu. Bahkan kalian tidak memberikan kesempatannya untuk menjelaskan kronologi kejadiannya. Kalian menyebutnya anak yang tidak tahu diri!" teriak Darka dengan menatap tajam ke arah kedua orang tuanya dan kelima kakaknya.
Mereka yang mendengar ucapan dari Darka benar-benar terkejut. Mereka semua tidak menyangka jika Darka mengetahui kejadian itu. Mereka juga berpikir dari mana Darka mengetahui semua ini.
Saat itu Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang hanya mengatakan pada Darka bahwa mereka telah memarahi, membentak dan menuduh Darren atas apa yang terjadi padanya dan Melvin. Dan mereka juga mengatakan bahwa mereka lebih percaya video itu dari pada Darren. Dan karena itulah membuat Darren marah dan tidak terima. Dan berakhir Darren pergi dari rumah.
Melihat Ayahnya, Ibunya dan kakaknya yang kebingungan dan juga penasaran dari mana dirinya mengetahui semua itu, Darka tersenyum meremehkan.
"Kenapa? Pasti saat ini kalian sedang berpikir dari mana aku mengetahui semuanya? Apa aku Benar?"
Lagi-lagi mereka terkejut dengan apa yang diucapkan Darka.
Darka menatap Andra. "Bahkan kau saudara Diandra Smith. Kau dengan teganya mengatakan hal buruk pada adikku. Dimana saat itu adikku mati-matian berusaha membawaku dan Melvin ke rumah sakit agar kami segera mendapatkan pertolongan, namun kau menuduhnya dan mengatakan bahwa adikku memanipulasi semuanya," ucap Darka dengan menatap tajam ke arah Andra.
Andra benar-benar terkejut mendengar penuturan dari Darka, Andra menundukkan kepalanya. Dirinya sudah tidak sanggup melihat tatapan amarah yang diberikan oleh adiknya itu.
FINAL! Andra benar-benar menyesal atas apa yang telah dilakukan olehnya terhadap adik bungsunya 6 bulan lalu. Dirinya belum berdamai dengan adik bungsunya itu dan sekarang Darka, adik bungsu keduanya itu ikut membencinya juga.
"Darka," panggil Dzaky.
Darka melihat ke arah Dzaky dengan sirat kekecewaan dan kemarahannya.
"Apa?"
"Dari mana kau mengetahui semua ini. Si-siapa yang memberitahumu?" tanya Dzaky gugup.
"Memangnya kenapa? Apa aku bukan bagian dari keluarga kalian sehingga kalian merahasiakan semua ini dariku?" tanya Darka balik.
"Bu-bukan begitu, Darja. Tapi...."
"Tapi apa? Nyatanya aku tahu semuanya. Kalian semua benar-benar menjijikkan. Aku tidak menyangka kalian tega membohongiku agar aku tidak membenci kalian seperti Darren membenci kalian," sahut Darka.
Darka menatap satu persatu anggota keluarganya. "Baiklah. Jika kalian ingin tahu dari mana aku mengetahui rahasia kalian itu. Aku mengetahuinya dari kamera yang terpasang di setiap sudut rumah kita. Mulai dari luar hingga dalam rumah. Semuanya terpasang dengan sangat apik. Kamera-kamera itu dipasang oleh Darren dan aku ikut membantunya. Hanya di dalam kamar saja yang tidak dipasang kamera."
__ADS_1
Mereka terkejut mendengar ucapan dari Darka. Mereka tidak menyangka jika putra/adik bungsunya melakukan semua ini.
Darka kembali menatap wajah Davin dan Andra. "Jika terjadi sesuatu pada adikku. Jika adikku tidak bangun dalam waktu satu minggu, aku Lian Darka Smith tidak akan pernah memaafkan kalian berdua. Dan aku tidak akan menganggap kalian sebagai kakakku lagi," ucap Darka dengan penuh penekanan dan juga ancaman.
"Darka," lirih Davin dan Andra sembari menggeleng-gelengkan kepala mereka.
Setelah mengatakan hal itu, Darka membaringkan tubuhnya lalu membelakangi mereka semua.
^^^
Disisi lain dimana ketujuh sahabatnya berada di ruangan Darren. Mereka menangis saat melihat kondisi Darren yang terbaring di tempat tidur. Yang membuat mereka makin sedih lagi adalah saat melihat banyak alat yang terpasang di tubuhnya.
"Ren. Kenapa jadi begini? Kenapa kau lagi-lagi harus terbaring seperti ini?" tanya Rehan sembari menggenggam tangan Darren.
"Ren. Aku mohon bukalah matamu. Sudah lima jam kau menutup matamu," ucap Darel.
"Ren. Dua hari lagi kita akan menguji coba mobil-mobil yang sudah kita buat di sirkuit sebelum kita serah terima dengan Perusahaan RVN dan Perusahaan SHN. Bukankah kau akan ikut dalam pengujian mobil-mobil itu. Jadi aku mohon bangunlah," lirih Axel.
"Iya, Ren. Kita akan bersama-sama menguji mobil-mobil itu. Sekalian kita balapan," sela Dylan.
Sementara Willy, Qenan dan Jerry tidak mengatakan apapun. Mereka menatap wajah pucat Darren dengan air mata yang membasahi wajah tampan mereka. Begitu juga dengan anggota keluarga mereka. Mereka semua menatap Darren sendu.
Saat mereka semua sedang dalam keadaan bersedih, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara ponsel milik Qenan.
Qenan yang mendengar suara ponselnya langsung mengambil ponselnya di saku celananya.
Dan saat ponsel itu sudah di tangannya, terlihat nama 'Kak Ziggy' di layar ponsel miliknya itu. Qenan pun segera menjawabnya.
"Hallo, Kakak Ziggy."
"Hallo, Qenan. Kakak, Devian, Noe, Chico, Enzo. Kami semua di rumah sakit. Ruangan Darren dimana?"
"Ach, kalian ada di rumah sakit! Langsung ke lantai dua saja, kak. Darren di ruangan VVIP."
"Baiklah!"
Setelah mengatakan hal itu, baik Qenan maupun Ziggy langsung menutup teleponnya.
"Siapa, Nan?" tanya Willy.
"Kakak Ziggy. Mereka semua menuju kesini." mereka pun mengangguk mengerti.
CKLEK!
Pintu dibuka oleh seseorang. Mereka semua pun mengalihkan pandangannya melihat ke arah pintu.
"Erland!" seru Para sahabatnya.
"Paman," sapa ketujuh sahabat Darren.
Erland tersenyum sembari melangkah menuju ranjang putra bungsunya. Diikuti oleh Agneta, Carissa dan Evan.
"Bagaimana?" tanya Erland.
Mereka semua menggelengkan kepalanya.
Erland menatap wajah pucat putra bungsunya. Tanpa diminta air matanya pun mengalir membasahi wajahnya. Tangannya mengusap lembut rambut putra bungsunya lalu kemudian memberikan kecupan sayang di keningnya.
"Darren sayang.. maafkan Papa, Nak! Lagi-lagi Papa memberikan rasa sakit padamu. Bangunlah dan bukalah matamu sayang."
"Darren, ini Bibi Carissa. Apa kamu marah sama Bibi? Bangun dong, sayang." Carissa menangis melihat kondisi Darren saat ini.
__ADS_1
"Hei, tampan. Paman juga disini. Jangan lama-lama tidurnya," lirih Evan.
Evan menangis melihat kondisi keponakan kesayangannya.