
Dendra masih bertarung melawan orang-orang yang sudah berani menyakiti ibu dan sopir ibunya. Dendra benar-benar marah dan ingin menghabisi semuanya.
Dendra memberikan pukulan dan tendangannya ke wajah semua orang yang menyerangnya secara bersamaan. Dia tidak gentar dan takut sama sekali.
Bugh..
Duagh..
Kelima belas laki-laki berpakaian hitam meringis ketika merasakan sakit di tubuhnya akibat pukulan dan tendangan tak main-main dari Dendra.
"Sial. Ilmu bela diri pemuda itu ternyata hebat juga. Beberapa menit bertarung, pemuda itu hanya satu kali mendapatkan tendangan. Itu pun pemuda itu sedang lengah," batin laki-laki yang berstatus pemimpin.
"Bos, ternyata bela diri pemuda itu hebat juga. Dari kita semua belum ada yang berhasil meyentuhnya," ucap salah satu anak buahnya.
"Hanya satu tendangan saja yang diterima oleh pemuda itu dari Bos. Itu pun Bos melakukannya ketika pemuda itu sedang lengah," ucap laki-laki lain.
Melihat kelima belas laki-laki di hadapannya tiba-tiba berhenti menyerangnya, Dendra tersenyum menyeringai.
"Kenapa? Tidak bisa melawanku, hum? Atau kalian saat ini tengah memuji kemampuan bela diriku? Bagaimana menurut kalian? Ilmu bela diriku hebatkan?" tanya Dendra dengan senyuman mengejeknya.
Mendengar pertanyaan dari pemuda di depannya membuat pria itu dan anak buahnya marah. Mereka tidak terima akan pertanyaan dari pemuda tersebut.
"Brengsek! Jangan sombong kau. Lebih baik kau pergi dari sini. Dan serahkan perempuan itu!" bentak pria itu.
Mendengar ucapan dari pria itu, Dendra hanya tersenyum. "Apa kau berpikir aku akan mengabulkan permintaanmu untuk menyerahkan ibuku kepadamu dan anak buahmu?" ejek Dendra.
Mendengar ucapan dari pemuda itu membuat pria tersebut dan anak buahnya terkejut.
"Apa? Jadi perempuan itu ibunya?" batin pria itu.
"Bos, ternyata pemuda itu putra dari perempuan itu! Bagaimana ini Bos. Apa kita tetap melanjutkan tugas ini?"
Dendra menatap satu persatu laki-laki di hadapannya itu penuh. Dendra yakin kalau mereka ada orang-orang suruhan.
"Siapa kalian? Kenapa kalian mengincar ibuku?" tanya Dendra.
Para laki-laki itu menatap tajam Dendra. Mereka sama sekali tidak peduli dengan status Dendra. Mereka tetap pada keputusannya yaitu menyelesaikan pekerjaannya, lalu menerima sisa pembayaran dari seorang wanita.
"Kau tidak perlu tahu alasan kami. Yang jelas sekarang ini kami menginginkan perempuan itu. Serahkan perempuan itu sekarang juga pada kami!" teriak pria itu sambil menunjuk kearah Dendra.
"Kalahkan aku terlebih dahulu. Jika kalian berhasil. Kalian boleh membawa ibuku," ucap Dendra.
"Ayo, kemarilah! Lawan aku jika kalian masih sanggup?" Dendra berucap dengan memberikan gestur tubuhnya yang menantang untuk bertarung.
Mendengar dan melihat pemuda itu menantangnya membuat pria itu marah. Dan pada akhirnya pertarungan kembali berlanjut.
Pria itu bersama anak buahnya menyerang Dendra secara bersamaan.
Sementara Yocelyn yang melihat pertarungan itu kembali berlanjut seketika kembali ketakutan. Dia tidak ingin terjadi sesuatu terhadap putra sulungnya.
"Darren, Darel, Rehan. Kalian dimana sayang? Buruan datang. Bibi takut terjadi sesuatu terhadap Dendra," ucap Yocelyn.
Ketika Yocelyn tengah ketakutan sembari menyebut nama tiga sahabat dari putra bungsunya, seketika terkejut ketika mendengar suara seseorang.
Yocelyn langsung melihat keluar jendela. Detik kemudian, terukir senyuman di bibirnya ketika melihat tiga orang yang di tunggu sedari tadi.
"Darren, Rehan, Darel. Akhirnya kalian datang sayang!" Yocelyn menangis bahagia.
Darren, Rehan dan Darel datang tepat waktu ke lokasi yang dikirimkan oleh Yocelyn.
Ketika Darren, Darel dan Rehan sampai di lokasi. Ketiganya melihat Dendra tengah bertarung melawan lima belas laki-laki berpakaian hitam sendirian.
Darren, Darel dan Rehan keluar dari dalam mobil. Setelah itu, ketiganya langsung berlari kearah dimana Dendra yang sedang bertarung dan menghajar secara brutal kelima belas laki-laki itu tanpa belas kasihan.
__ADS_1
Dendra yang melihat kedatangan Darren, Darel dan Rehan tersenyum. Dendra berpikir jika ibunya yang telah menghubungi ketiga sahabat dari adik bungsunya.
"Kakak Dendra nggak kenapa-kenapa?" tanya Rehan.
"Kakak baik-baik saja. Terima kasih sudah datang," jawab Dendra.
"Kalau bukan Bibi Yocelyn yang menghubungiku. Aku, Rehan dan Darel nggak akan tahu kejadian ini," sahut Darren.
"Benar dugaanku. Mama yang sudah menghubungi mereka bertiga," batin Dendra.
Setelah itu, mereka kembali bertarung melawan laki-laki yang mereka anggap laki-laki brengsek.
Dendra, Darren, Rehan dan Darel bertarung secara brutal. Mereka menghajar kelima belas laki-laki itu dengan pukulan dan tendangan kuat mereka masing-masing. Bagi mereka, bela diri kelima belas laki-laki itu tak sebanding dengan ilmu bela diri yang mereka miliki. Kalau menurut Darren pribadi, ilmu bela diri mereka masih amatiran.
Tak butuh waktu lama, baik Dendra maupun Darren, Darel dan Rehan berhasil mengalahkan dan melumpuhkan kelima belas laki-laki berpakaian hitam itu.
Kelima belas laki-laki itu tersungkur di tanah dengan mengalami luka pukulan dan tendangan. Bahkan luka akibat senjata mereka sendiri.
Dendra, Darren, Darel dan Rehan menatap tajam kearah kelima belas laki-laki itu, lalu tatapan mata mereka mengarah kesatu pria yang berstatus sebagai pemimpin.
"Dendra," panggil Yocelyn.
Dendra langsung melihat kearah ibunya yang berada di dalam mobil yang saat ini kaca mobilnya terbuka.
"Dendra, tolong Pandy, Nak! Mama benar-benar mengkhawatirkan Pandy!"
Mendengar ucapan dari Yocelyn membuat Darren, Darel dan Rehan paham. Pandy yang dimaksud adalah sopir dari Yocelyn.
"Bibi, dimana Paman Pandy? tanya Rehan.
"Disana, Nak!" Yocelyn menunjuk kearah jalan berbelok yang berada di seberang.
Rehan langsung melihat arah tunjuk Yocelyn. Begitu juga dengan Darel dan Darren.
"Aku saja yang kesana untuk menyelamatkan Paman Pandy," ucap Rehan.
Ketika mereka tengah membahas masalah Pandy. Tanpa disadari oleh Dendra, Yocelyn, Darren dan Darel.
Pria yang berstatus pemimpin diam-diam mengeluarkan sebuah senjata api dari balik bajunya.
Tujuan pria itu membawa pistol tersebut adalah untuk menakut-nakuti targetnya. Dengan pistol itu, pria itu bisa membuat targetnya tak berkutik dan tidak akan berani melawan.
Ditambah lagi, orang yang sudah memberikan perintah padanya sudah memberikan peringatan untuk tidak menyakiti targetnya. Orang itu meminta kepada pria itu untuk membawa targetnya dalam keadaan baik-baik saja.
Pria itu kemudian mengarahkan pistolnya kearah pemuda yang berstatus putra dari perempuan yang menjadi targetnya dan anak buahnya.
Saat ini Dendra tengah menenangkan ibunya akan kekhawatiran ibunya padanya dan juga Pandy.
Darren seketika mengalihkan perhatiannya melihat kearah pria yang berstatus sebagai pemimpin.
Seketika mata Darren membelalak ketika melihat pria itu mengarahkan senjata apinya kearah Dendra.
"Tidak! Kakak Dendra!" teriak Darren.
Dor..
***
Di kediaman Smith, semua anggota keluarga telah berkumpul. Baik itu Erland, Agneta dan semua putra-putranya. Begitu juga dengan Carissa, Evan, Daffa, Tristan dan Davian. Termasuk Erica.
Carissa, Evan, Erika dan ketiga putranya sudah kembali dari Amerika. Kepulangan mereka menjadi hadiah dan kejutan untuk Erland dan yang lainnya dimana mereka semua sangat merindukan kepulangan mereka.
"Erica kangen sama opa dan oma!" seru Erica yang sudah duduk cantik di antara Erland dan Agneta.
__ADS_1
Erland dan Agneta memberikan ciuman kangen di pipi Erica secara bersamaan.
"Opa dan Oma juga kangen Erica," jawab keduanya kompak.
Setelah berpelukan dan melepaskan rindu dengan oma, opa dan semua paman-pamannya. Erica pun mencari keberadaan ayah angkatnya itu. Sedari tadi Erica tidak melihat keberadaan ayah angkatnya itu.
"Opa, Oma! Papa mana? Kenapa Papa nggak ada?"
"Papa masih di kampus, sayang. Pulangnya mungkin sore. Inikan baru pukul 12 siang. Masih lama," jawab Agneta.
"Tapi kenapa Paman Gilang dan Paman Darka sudah di rumah. Bukankah Paman Gilang dan Paman Darka satu kampus dengan Papa."
Mereka tersenyum mendengar pertanyaan dari Erica.
"Memang kita berdua satu kampus dengan Papanya Erica. Tapikan kita beda kelas dan beda jurusan. Bahkan kita juga beda semester," jawab Gilang lembut.
"Paman Gilang dan Paman Darka udah semester akhir. Sementara Papanya Erica masih semester dua. Jam pulang berbeda sayang," ucap Darka.
Mendengar penjelasan dari Gilang dan Darka membuat Erica langsung paham dan mengerti.
Ketika mereka tengah membahas Darren, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan jatuhnya foto Darren ke lantai.
Prang..
Mereka semua langsung melihat kearah foto Darren yang terjatuh.
Agneta seketika berdiri dari duduknya dan diikuti oleh yang lainnya. Mereka menghampiri foto Darren yang tergeletak di lantai.
"Kenapa foto Darren bisa jatuh? Padahalkan foto Darren letaknya di tengah," ucap Darka yang seketika langsung kepikiran Darren.
"Apa terjadi sesuatu terhadap kakak Darren?" Melvin seketika bersuara.
"Aku akan menghubungi Darren," ucap Andra dan langsung mengambil ponselnya.
Beberapa detik kemudian...
"Nomornya tersambung, tapi tidak diangkat oleh Darren," ucap Andra.
"Coba hubungi salah satu sahabatnya Darren!" seru Evan.
"Jika Darren tidak menjawab panggilan dari kakak Andra. Sudah pasti jelas, sahabat-sahabatnya Darren juga tidak akan menjawab panggilan dari kakak Andra." Gilang berbicara.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu Gilang?" tanya Erland.
"Kemungkinan saja saat ini Darren dan sahabat-sahabatnya itu berada di kelas. Dan sudah pastinya, ponselnya mereka berada dalam mode hening."
Mendengar ucapan dari Gilang, mereka semua langsung menganggukkan kepalanya. Mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Gilang.
"Darren! Semoga kamu baik-baik saja, sayang!" Erland membatin.
"Darren, Mama berharap kamu baik-baik saja diluar sana. Semoga kamu tidak terjadi sesuatu padamu," batin Agneta.
"Kakak Darren! Semoga kakak baik-baik saja," batin Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
"Ren," lirih Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka.
"Semoga kamu tidak kenapa-kenapa, Ren?" batin Carissa dan Evan.
"Tuhan, lindungi saudara sepupuku." Daffa, Tristan dan Davian berdoa.
Erica mengambil foto ayah angkatnya, lalu membersihkan dari pecahan kaca.
"Papa, semoga Papa baik-baik saja.
__ADS_1
"Tuhan, Erica mohon. Jaga Papa... Lindung Papa. Jangan ambil Papa dari sisi Erica. Erica sudah kehilangan Mami dan Papi. Jangan buat Erika kehilangan lagi, Tuhan!"
Mendengar ucapan dan doa tulus dari Erica membuat Erland, Agneta dan yang lainnya menangis. Mereka semua juga berharap tidak terjadi sesuatu terhadap Darren.