KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Rencana Jahat Helena


__ADS_3

Kini Darren sudah berada di ruang kerjanya bersama anggota keluarganya.


Saat ini Darren sudah kembali menjadi pemuda yang pada umumnya. Dapat terlihat dari wajahnya. Wajah polosnya, wajah lelahnya dan wajah imutnya. Tapi bagaimana pun mereka semua masih bisa melihat dari manik hitamnya. Ada kesedihan dan amarah disana.


"Sayang," ucap Erland sembari mencium kening putranya.


Darren berusaha tersenyum untuk menghilangkan rasa sedih dan amarahnya.


"Maaf jika kalian harus melihat dan menyaksikan kejadian barusan," ucap Darren lirih.


GREP!


Erland langsung memeluk erat putranya itu dan tangannya mengusap-usap lembut punggungnya.


"Tidak apa, sayang. Papa mengerti. Apa yang kamu lakukan itu hanya semata-mata untuk membela diri dan juga membalaskan rasa sakit karena telah dikhianati."


"Iya, Ren. Papa benar. Kamu jangan berpikir jika kami akan membenci kamu, menjauhi kamu. Itu tidak akan pernah terjadi. Kak Darka sangat menyayangi kamu. Selamanya!"


Darka berbicara lembut kepada adiknya sembari menghiburnya. Dan tak lupa Darka mengusap lembut punggung dan juga kepala belakang adiknya itu.


Erland melepaskan pelukannya, lalu Erland menatap wajah tampan putranya. "Apa pun yang terjadi. Apa pun yang kamu lakukan. Jika itu hal yang benar, Papa akan selalu mendukung kamu. Papa akan selalu ada di samping kamu. Papa tidak akan pernah meninggalkan kamu. Tidak akan pernah."


"Terima kasih, Pa. Terima kasih Papa sudah mau kembali padaku."


"Papa yang seharusnya berterima kasih Pada kamu karena kamu mau memaafkan kesalahan Papa. Kamu mau menerima Papa lagi di dalam hidup kamu. Terima kasih, sayang!"


Darren tersenyum. "Aku menyayangi, Papa."


"Papa lebih menyayangimu, nak!"


Carissa, Evan, ketiga putranya turut bahagia melihat Darren yang sudah mau memaafkan kesalahan Ayahnya. Inilah yang diinginkan oleh mereka.


"Kak Gilang juga akan selalu bersama kamu. Seperti yang Papa katakan barusan. Apa pun yang kamu lakukan, jika semua itu hal yang benar. Kakak Gilang akan selalu ada untuk kamu. Jika kamu butuh bantuan kakak. Kakak Gilang siap membantu kamu!" Gilang berbicara sembari memberikan semangat dan dukungan kepada adik kesayangannya.


"Kakak Darka juga. Kamu juga bisa minta bantuan dengan kakak Darka. Kakak siap kapan saja," sela Darka.


Darren tersenyum saat mendengar janji kedua kakak laki-lakinya. "Pasti. Aku akan menagih janji kak Darka dan kak Gilang. Jika kalian melanggar atau lupa, aku akan berikan hukuman. Dan hukumannya adalah aku akan mogok bicara dengan kalian selama dua bulan dan aku juga melarang kalian untuk datang ke rumahku," sahut Darren.


Mendengar adiknya mengatakan hukuman membuat Darka dan Gilang seketika membelalakkan matanya. "Dua bulan mogok bicara dan dilarang berkunjung ke rumahnya. Yang benar saja. Bisa hancur dunia ini," batin Darka dan Gilang.


Darren tersenyum lebar saat melihat wajah lucu kedua kakaknya itu.


"Kamu hanya bercandakan?" tanya Darka.

__ADS_1


"Aku bersungguh-sungguh dan tidak sedang bercanda."


"Hah!" Darka dan Gilang hanya bisa menghela nafasnya.


"Darren," panggil Davin dan Andra.


Darren yang dipanggil langsung menolehkan wajahnya melihat kearah Davin dan Andra dengan wajah dinginnya.


"Ada apa?"


"Kamu udah maafin Darka dan Gilang. Dan kamu juga sudah memaafkan Papa. Apa kamu tidak ingin memaafkan kesalahan kakak dan Andra?" ucap dan tanya Davin.


"Berikan aku satu alasan jika kalian berdua pantas untuk dimaafkan?" tanya Darren.


Darren mengalihkan pandangannya melihat kearah Agneta. "Anda juga, Nyonya Agneta."


Agneta terkejut saat mendengar ucapan dari Darren. Agneta merasakan sesak di dadanya.


Darren menatap tajam Davin, Andra, Agneta dan kelima adik-adiknya. "Aku beri waktu kalian satu minggu untuk memberikan satu alasan jika kalian memang pantas untuk dimaafkan," sahut Darren.


Saat Agneta ingin berbicara, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi. Darren yang mendengar ponselnya berbunyi langsung mengambilnya di saku celananya. Tadinya ponselnya ada pada Dylan. Saat keluar dari rumah sakit, Dylan mengembalikan ponsel itu.


Darren melihat nama kontak 'Zee' salah satu tangan kanannya Enzo. Tanpa pikir panjang lagi, Darren langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, Kakak Zee."


"Aku di SHOOWROOM. Ada apa, kakak Zee?"


"Kau pasti sudah menebak siapa yang menjadi dalang sehingga kau dikhianati oleh karyawan-karyawanmu sendiri?"


"Iya. Aku sudah tahu siapa dalangnya."


"Apa kau tahu jika mantanmu itu juga terlibat. Baik mantanmu itu mau pun bajingan itu tahunya rencananya berhasil dan saat ini kau tengah bersedih atas kematian empat sahabatmu."


Mendengar ucapan dari Zee. Darren tersenyum di sudut bibirnya. Mereka yang melihat senyuman itu tahu arti senyuman tersebut.


"Biarkan mereka berpikir seperti itu, Kakak Zee! Hari ini aku akan memberikan sebuah kejutan besar untuk mereka, salah satunya wanita sialan itu."


"Eemm.. baiklah. Apa kau perlu bantuan?"


"Ya. Aku perlu bantuan kakak Zee dan anggota lainnya."


"Apa? Katakan!"

__ADS_1


"Serang Perusahaan milik Ramoz Orlando. Hancurkan Perusahaan itu dan buat Perusahaan itu tidak bisa bangkit lagi seperti sedia kala. Dan buat juga nama baik Perusahaan itu rusak didepan para pemegang saham dan pengusaha-pengusaha ternama di dunia."


"Siap. Dengan senang hati kakak dan anggota lainnya akan melakukannya. Jika mereka bisa bermain kotor, kita juga bisa bermain kotor seperti mereka."


"Iya, Kakak Zee. Oh iya! Aku mau tahu. Apa alasan wanita sialan itu ikut dalam rencana bajingan itu?"


"Informasi yang kakak dapatkan. Wanita itu ingin membalas dendam padamu atas apa yang kau lakukan pada Ayahnya."


"Sudah kuduga. Baiklah, kakak Zee."


"Baiklah, Ren. Kalau begitu kakak tutup teleponnya."


TUTT!


TUTT!


"Kau sudah berani bermain-main denganku, Helena Orlando. Tunggu saja kejutan apa yang akan mendatangimu. Aku akan membuatmu menangis dan memohon ampun di depanku," batin Darren.


***


[KEDIAMAN ORLANDO]


Keesokkan harinya, di sebuah kamar terlihat seorang wanita cantik yang sedang merias wajahnya. Wanita itu sudah kembali pulang ke rumah setelah setengah hari berada di Apartemen miliknya. Wanita itu adalah Helena Orlando.


Helena berencana pagi ini akan ke rumah sakit untuk membesuk Ayahnya masih koma akibat luka tusukkan.


Luka tusukkan itu sangat dalam dan mengenai organ dalamnya yaitu ginjal. Sementara sang Ayah memang sudah hidup dengan satu ginjal selama ini.


Setelah dari rumah sakit, Helena akan mendatangi Perusahaan Accenture milik Darren. Helena masih tetap dengan rencananya untuk mendekati Darren. Ditambah kali ini Helena ingin membalas dendam atas apa yang dilakukan oleh Darren terhadap Ayahnya.


Setelah selesai dengan penampilannya, Helena langsung bergegas untuk turun ke bawah.


^^^


Kini Helena sudah berada di meja makan dan dirinya sudah disambut oleh pelayan yang menyiapkan sarapan pagi untuknya.


Kali ini Helena sarapan pagi tanpa kedua orang tuanya. Ayahnya sakit. Sementara Ibunya menemani sang Ayah di rumah sakit.


"Ini nona sarapan pagi untuk Nyonya." Pelayan itu datang dengan membawa rantang di tangannya.


"Terima kasih, Bibi."


"Sama-sama, nona."

__ADS_1


Setelah itu, Helena memulai sarapan paginya. Helena menyantap sarapan pagi sembari memikirkan rencana yang akan dijalankannya ketika berhadapan dengan Darren. Dirinya sudah tidak sabaran untuk menjalankan rencananya itu.


"Darren, tunggu kejutan dariku." Helena berucap di dalam hatinya.


__ADS_2