
"Rehan!"
"Kakak Rehan!"
Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan yang lainnya berseru ketika melihat kedatangan Rehan yang hanya sendirian.
"Rehan, kenapa hanya kamu sendirian? Mana yang lainnya? Mana Darren?" tanya Gilang.
"Darren ada di rumah sakit ini juga," jawab Rehan.
"Kalau Darren ada disini, kenapa dia tidak langsung masuk? Dimana dia?" tanya Davin.
Davin berjalan menuju pintu keluar dan membuka pintu tersebut. Setelah terbuka, Davin langsung keluar untuk mencari keberadaan adik kesayangannya itu.
Namun ketika tiba di luar, Davin tidak menemukan keberadaan adik laki-lakinya itu.
Davin kembali masuk ke dalam. Hatinya merasakan kesedihan karena tidak menemukan keberadaan sang adik.
"Rehan. Katakan pada Paman, nak! Dimana Darren?"
"Aku akan katakan. Tapi aku minta kepada kalian untuk tidak panik. Apalagi kakak Darka. Aku tidak mau kondisi kakak Darka drop jika mendengar apa yang akan aku sampaikan," ucap Rehan.
Rehan menatap satu persatu anggota keluarga Smith dan berakhir menatap kearah Darka.
"Baik. Kami janji tidak akan panik," jawab mereka bersamaan.
"Sekarang katakan. Dimana Darren?" tanya Erland.
"Darren ada IGD," jawab Rehan.
"Apa?!"
Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka dan yang lainnya terkejut ketika mendengar jawaban dari Rehan.
"Apa yang terjadi Rehan? Kenapa Darren sampai ada disana?" tanya Davin.
"Apa jantungnya Darren kambuh lagi?" tanya Gilang.
Mereka semua terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Gilang. Mereka semua menatap Gilang.
"Gilang. Apa maksudmu, nak?" tanya Erland.
"Gilang!" seru Davin dan Andra.
"Kemarin malam ketika Darren yang tiba-tiba keluar meninggalkan ruang rawat Darka. Dan aku menyusulnya. Aku tidak langsung menghampirinya. Seperti yang dikatakan kakak Davin kalau aku harus memberikan sedikit waktu untuk Darren."
__ADS_1
"Setelah Darren puas mengeluarkan semua bebannya. Setelah Darren selesai berbicara dengan salah satu kakak Enzo, tiba-tiba Darren merasakan sakit di jantungnya. Melihat hal itu, aku langsung menghampiri Darren."
"Tapi kenapa malam itu kau tidak memberitahu kami, Gilang?" tanya Andra ketus.
"Apa kakak Andra pikir aku mau melakukan hal itu? Kalau bukan Darren yang meminta dan memohon padaku. Aku juga tidak akan merahasiakan masalah ini dari kalian. Kakak Andra tahu sendiri kan bagaimana sifat keras kepalanya Darren?" Gilang berbicara dengan nada kesalnya.
Mendengar perkataan dan juga nada kesal Gilang membuat Andra merasa bersalah.
"Sudah-Sudah! Kenapa jadi ribut begini? Lebih baik kita ke ruang IGD, sekarang!" seru Agneta.
Erland, Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang mengangguk.
"Aku ikut!" seru Darka tiba-tiba.
"Tapi Darka...." perkataan Dzaky terpotong.
"Pokoknya aku ikut," jawab Darka.
"Tapi sayang..."
"Aku ikut Papa!"
"Baiklah. Tunggu sebentar. Kakak akan ambilkan kursi roda dulu!" seru Adnan.
Adnan pun pergi meninggalkan ruang rawat Darka untuk mengambil kursi roda.
"Aku yakin Papa," jawab Darka.
"Tapi luka kamu, bagaimana?" tanya Erland khawatir.
"Papa tidak perlu khawatir. Aku janji sama Papa untuk tidak banyak bergerak. Aku hanya ingin melihat Darren, Papa!"
"Baiklah." Erland pun pasrah.
Ketika mereka akan pergi meninggalkan ruang rawat Darka hendak menuju ruang IGD, tiba-tiba ponsel milik Rehan berbunyi.
Rehan yang mendengar ponselnya berbunyi langsung mengambilnya di saku celananya.
Ketika ponselnya sudah berada di tangannya, Rehan melihat nama 'Darel' di layar ponselnya.
Tanpa berpikir panjang lagi, Rehan langsung menjawab panggilan dari Darel.
"Iya, Rel! Ada apa?"
"Apa lo masih berada di ruang rawatnya kakak Darka?"
__ADS_1
"Iya. Gue masih disini. Kenapa?"
"Nggak usah kesini."
"Lah, kenapa?"
"Bibi Celsea bilang kalau Darren harus dirawat beberapa hari di rumah sakit. Darren butuh perawatan intensif di rumah sakit. Mendengar hal itu, Axel langsung mengusulkan agar Darren dirawat di ruang yang sama dengan kakak Darka. Tujuannya agar keluarga Darren tidak bolak balik dari ruangan satu ke ruangan lainnya."
"Ach, baiklah kalau begitu. Aku akan sampaikan kepada Paman Erland."
Setelah mengatakan itu, Rehan langsung mematikan panggilannya.
"Maaf, Paman Erland! Kita nggak jadi ke IGD," ucap Rehan.
"Kenapa, Nak?"
"Kondisi Darren tidak memungkinkan untuk pulang hari ini. Bibi Celsea memutuskan untuk Darren dirawat beberapa hari di rumah sakit. Axel langsung memberikan usul untuk Darren dirawat di ruang yang sama dengan kakak Darka agar Paman dan yang lainnya bisa menjaga kakak Darka dan Darren secara bersamaan."
Mendengar penjelasan dari Rehan membuat hati Erland, Agneta dan anak-anaknya sedih. Mereka sedih harus kembali melihat Darren dirawat di rumah sakit lagi. Dan leganya salah satu sahabat Darren langsung memberikan solusi untuk Darren dirawat di ruang yang sama dengan Darka agar mereka tidak bersusah payah bolak balik dari ruangan yang satu ke ruangan yang lainnya.
"Baiklah." mereka menjawab dengan kompak.
Cklek!
Pintu dibuka oleh Adnan dengan mendorong kursi roda.
"Adnan, kita tidak jadi melihat Darren disana!" seru Davin.
"Kenapa kakak Davin?" tanya Adnan bingung.
"Darren akan dirawat disini bersama Darka," jawab Davin.
"Ach, baiklah!"
Adnan mendorong kursi roda tersebut ke sudut ruangan.
Beberapa menit kemudian, mereka mendengar suara derap langkah kaki beberapa orang dan juga suara benda yang didorong dari luar ruang rawat Darka.
Dan masuklah dua sahabat Darren yaitu Qenan dan Axel dan disusul oleh perawat yang mendorong sebuah brangkar yang diatasnya terbaring lemah seorang pemuda tampan yang tak lain adalah Darrendra Smith. Serta diikuti oleh seorang Dokter cantik yaitu Celsea dan di belakangnya empat sahabat Darren lainnya yaitu Willy, Darel, Jerry dan Dylan.
"Darren," lirih Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka ketika melihat kondisi Darren yang di tubuhnya di tempeli beberapa alat medis.
"Kakak Darren... Hiks," isak Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin ketika melihat kakak laki-laki kesayangannya terbaring tak berdaya di atas tempat tidur dengan beberapa alat medis di tubuhnya.
Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin menangis melihat kondisi Darren saat ini. Hati mereka benar-benar hancur.
__ADS_1
Tak jauh beda dengan anggota keluarga Darren. Kathleen, Elzaro dan kelima sahabatnya juga ikut menangis ketika melihat kondisi Darren. Inilah pertama kalinya bagi mereka melihat seorang Darren yang terbaring di atas tempat tidur lengkap dengan beberapa alat medis di tubuhnya.
"Ren, gue Elzaro. Gue janji pada diri gue sendiri. Gue bakal ada untuk lo. Bukan hanya ketujuh sahabat-sahabat lo aja yang akan selalu ada buat lo. Gue juga bakal selalu ada buat lo. Sahabat-sahabat lo adalah sahabat-sahabat gue. Begitu juga sebaliknya, sahabat-sahabat gue sahabat-sahabat lo juga." Elzaro berbicara di dalam hatinya sembari matanya menatap wajah pucat Darren.